Menjadi Penulis di Media Massa

Hilman Kamilatu
Karya Hilman Kamilatu Kategori Motivasi
dipublikasikan 27 Januari 2016
Menjadi Penulis di Media Massa

Menjadi Penulis di Media Massa

Oleh: Hilman Taufik

Menurut kamus besar bahasa Indonesia kata menulis berasal dari kata tu-lis yang memiliki arti ada huruf (angka dsb) yang dibuat (digurat dsb) dengan pena (pensil, cat dsb).?? Sebetulnya banyak pengertian tantang apa itu menulis yang dikemukakan oleh para ahli. Widyamartaya (1992:4) mengemukakan bahwa menulis dapat dipahami sebagai keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami tepat seperti yang dimaksud oleh pengarang. Pada dasarnya menulis itu adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu naskah atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara dengan ?memadupadankan beberapa kata.

Profesi penulis sering dikaitkan dengan kemewahan popularitas, maka tak jarang orientasi setiap orang dalam menulis itu tak sama. Popularitas yang disandang oleh Andrea Hirata penulis ?internasional best seller? melalui karya fenomenalnya Laskar Pelangi sudah diterbitkan di 79 negara (2013) dan angka itu tidak menutup kemungkinan untuk bertambah. Dengan pencapaiannya itu dapat dibayangkan berapa milyar keuntungan yang didapat dari dari royalti.

Namun untuk menyandang sebagai penulis best seller dengan beberapa kali cetak ulang apalagi di negara orang sangatlah sulit, banyak aral yang siap menerjang. Salah satunya dari masalah naskah yang tidak laik diterbitkan tapi juga adanya kebijakan penerbit dalam menerbitkan buku kita. Sama halnya seperti pekerjaan lain, diperlukan karekter disiplin dan ulet untuk menjadi seorang penulis. Penulis yang terkenal hebat ?best seller? hari ini merupakan akumulasi yang mereka ciptakan terhadap diri mereka kemarin secara intens dengan melakukan latihan yang super disiplin.

Ketika sebuah pertanyaan dilontarkan kepada Kuntowijoyo mengenai apa syarat untuk menjadi penulis, beliau mengungkapkan ?syarat untuk menjadi penulis ada tiga, yaitu menulis, menulis, menulis?. Produktifitas menulis juga tidak selamanya berbanding lurus dengan kualitas isi naskah karenanya diperlukan proses dalam menghasilkan tulisan yang bagus. Nikmati prosesnya dan buatlah tulisan anda berkesan. Andreas Harsono dalam buku ?Agama saya adalah jurnalisme? menceritakan bagaimana mempersiapkan suatu tulisan untuk dijadikan naskah. Menulis apapun termasuk didalamnya bernuansa jurnalistik, sastra ataupun penggabungan dari keduanya, diibaratkan membangun rumah.

Ada rumah bambu, dibuat sehari selesai, ada rumah yang dibuat dari batu bata dan genteng, mungkin perlu waktu sebulan. Ada juga rumah bertingkat dari beton, butuh waktu setahun. Naskah mana yang hendak anda bangun? Naskah rumah bambu? Naskah rumah beton? Atau naskah gedung pencakar langit? Banyak naskah yang hanya memerlukan satu, atau dua jam. Sekarang, lewat Blackberry, seorang reporter mengetik naskah dan mengirimkan ke ruang redaksi ketika peristiwa sedang berlangsung. Dan lima menit kemudian sudah online. Namun, ada juga naskah yang perlu waktu lama.

Wartawan Neil Shenan menulis buku A Bright Shining Lie: John Paul Vann and America in Vietnam (1998) selama 16 tahun (Harsono: 2010). Setiap penulis ?sudah menjadi penulis? ataupun pemula, pasti membutuhkan waktu yang relatif, sehingga ukurannya bervariatif ?dan tergantung apa yang akan ditulis. Seperti halnya dimedia massa, berita straight news cukup dibuat menjadi tulisan oleh seorang reporter hanya dengan waktu 10 menit kemudian di publish. Pertanyaannya terletak pada bukan seberapa lama tulisan dibuat namun, seberapa membekaskah tulisan kita bagi kebanyakan orang sehingga tulisan itu menjadi bahan pertimbangan bagi mereka dalam memutuskan arah hidupannya.

Dalam buku yang ditulis oleh oleh Savitri Schere berjudul ?Pramoedya Ananta Toer Luruh Dalam Ideologi?. Alasan utama Pram memutuskan menjadi seorang penulis professional adalah sebab dari krisis ekonomi yang melanda keluarganya sehingga ia harus diusir oleh istrinya karena tidak lagi mampu memberikan nafkah. Namun tidak jauh kalah penting dari hanya sekedar itu, menurut Pram menulis adalah bekerja untuk keabadian. Penulis-penulis terkenal tempo lalu seperti Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin, Baharuddin, Basuki Resobowo, W.S Rendra, Sutardji C.B dan Henk Ngantung mereka semua akan? tetap terus hidup bersama ideologi dalam setiap tulisan-tulisannya.

Meskipun mereka semua sudah mati. Setiap tulisan memiliki makna untuk dipikirkan dan setiap penulis harus memiliki pemikiran yang radikal serta cerdas dalam menguraikan gagasan-gagasan agungnya untuk ditulis. Puisi milik Sutardji menjadi puisi fenomenal dalam dunia sastra di Indonesia. Puisi yang berjudul luka hanya berisikan dua kata saja ?ha ha? dan langsung memancing ketertarikan dari berbagai kalangan terutama kritikus sastra. Dan untuk menghasilkan tulisan yang memuat ide gagasan yang hebat diperlukan penggalian informasi yang dalam dengan lebih gitat lagi membaca.

Ibarat poci kosong tanpa air didalamnya akan menuangkan air kedalam gelas, sama halnya seperti penulis jika tidak dibekali dengan wawasan yang luas, mampuslah tulisannya. Terjadinya stagsinasi ketika membuat tulisan itu disebabkan penulis tersebut kurang memahami masalah yang ditulisnya dan kurangnya bahan untuk diolah menjadi tulisan utuh. Dalam mendapatkan informasi yang akan ditulisnya, seorang penulis seyogyanya harus tahu banyak berbagai informasi, menguasai literatur yang dapat menunjang ia untuk menulis setidaknya tema yang akan dituliskan.

Selain itu, bersikaplah lebih peka terhadap fenomena yang sedang berlangsung dihadapan kita dan buatlah sedikit analaisis. Tulisan yang baik adalah tulisan yang dibaca sehingga mampu menyusun dan merancang opini publik dalam merepresentasikan suatu masalah dan berhasil mengubah opini dunia. Maka oleh sebab itu, buku dengan hasil menulis merupakan kartu nama terbaik, terkeren dan paling kredibel, sumber penghasilan, passive income yang mengalir, jalan untuk traveling ke banyak tempat secara gratis, warisan sejarah yang akan terus ada, dan masih banyak lagi keuntungan dari menulis. Tunggu apa lagi, Just Do It!

  • view 310