Lolipop dan Perpustakaan Sekolah

Hilma Alya Anbar
Karya Hilma Alya Anbar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Maret 2016
Lolipop dan Perpustakaan Sekolah

Suara ayam berkokok terdengar jelas oleh Nina,?gadis berusia 16 tahun yang duduk di bangku kelas 1 SMA. Ia langsung bangun ketikasuaraayam itu terdengar. Jam dindingnya masih berputar dan menunjukkan tepat pukul 05.00 WIB. Matanya masih menutup ketika badannyasudah dalam posisi duduk. Rasa kantuk dan lelah terlihat jelas dalam diri Nina. Ia selalu tidur tengah malam setiap harinya. Selain mengerjakan tugas dan mengurusi berbagai macam hal dalam organisasi, ia juga tak pernah lupa untuk mengisi blognya dengan cerpen, puisi dan hal yang lainnya.

?Nina, cepat siap ? siap pergi ke sekolah! Sudah sholat subuh belum? Tugas kamu yang kemarin sudah diselesaikan?? tanya Bunda ketika memasuki kamar gadis berusia 16 tahun itu.
?? ???Iya, Bunda. Sudah kok, barusan. Hmm... tugas hanya tinggal beberapa nomer lagi dan...? ucap Nina sambil memikirkan apa yang dikerjakannya kemarin malam, ?Astagfirullah! Bunda, aku lupa! Hari ini ulangan matematika dan sejarah.? lanjut Nina kaget dan dengan wajah paniknya ia malah ditertawai oleh Bunda.
??? ?Tuh kan, sudah sekarang kamu cepat siap ? siap, ya! Biar belajar di kelas saja.? ucap Bunda.
Nina tak begitu mendengarkan Bunda, ia segera berlari dan membereskan buku ? buku pelajarannya. Selesainya ia berseragam, ia langsung menuruni tangga dan tanpa mengambil jatah sarapannya, ia langsung berpamitan walaupun mendapat omelan dari Bundanya.

Jalanan masih sepi, menunjukkan orang ? orang di sana belum melakukan banyak aktivitas. Nina berlari secepat mungkin menuju halte bis di depan gang rumahnya. Untunglah, ia tidak terlambat. Bis sudah ada sekitar lima menit yang lalu dan seperti biasa bis itu menunggu para penumpang berdatangan ke halte untuk menaikinya. Sekolah Nina cukup jauh dari rumahnya. Jika uang jatah jajannya habis, terpaksa ia akan mengayuh sepeda ke sekolahnya.

Tak sampai setengah jam ia menaiki bis tersebut, akhirnya ia sampai di depan gerbang sekolahnya. Sudah banyak teman sekolahnya yang berdatangan. Ia bukan termasuk golongan anak yang rajin. Namun, datang sebelum waktu masuk pun sudah amat ia syukuri dibandingkan dengan dikunci di gerbang oleh Pak Robi.

Nina berlari ? lari menyusuri koridor sekolah menuju kelasnya. Tak peduli banyak orang yang menyapanya. Namun, ia tetap berlari karena mengingat dirinya belum menghafal untuk ulangan pagi ini.

Tak lama kemudian, bel tanda masuk pun berbunyi. Semua siswa SMA Harapan Bangsa segera memasuki kelasnya masing ? masing. Nina merasa sangat panik. Baru saja ia sampai, bel tersebut langsung berbunyi. Rasa takut mulai menjalari tubuhnya. Hatinya kini merasa tak tenang. Semua temannya terlihat tenang ? tenang saja. Suara langkah kaki terdengar jelas di telinganya. Itu suara kaki Bu Erna, guru matematika di sekolahnya.

Kreeeek...
???? Pintu kelas pun terbuka. Lina, ketua murid kelasnya langsung memimpin untuk memberi salam kepada Bu Erna. ?Ya, selamat pagi juga anak ? anak.? balas Bu Erna ramah. Sebenarnya, Bu Erna ini termasuk guru perempuan tercantik di sekolahnya, namun sayangnya ia mudah marah jika ada murid yang bermasalah dengannya.
???? ?Baik anak ? anak, silakan keluarkan kertas dua lembar dan masukkan buku ? buku kalian ke dalam tas kalian.? ucap Bu Erna. Ucapan ini merupakan awal untuk mengerjakan soal ulangan. Mau bagaimana lagi? Nina terpaksa mengikuti ulangan hari ini meskipun dirinya belum mempersiapkan diri.

Tak sampai satu jam mereka mengerjakan soal ulangan. Sony, teman sekelas Nina adalah orang pertama yang dapat menyelesaikan 25 soal matematika tersebut. Dia adalah salah satu laki ? laki yang disukai banyak murid di sekolahnya. Selain pintar di dalam pelajaran, ia memiliki paras yang menawan dan salah satu anggota klub basket di sekolahnya. Banyak orang yang kagum padanya. Termasuk Nina.

Bel pelajaran kedua pun berbunyi. Kini, otak Nina dipaksa berputar lagi demi mengerjakan soal ulangan sejarah yang tak lain terdiri dari 30 soal pilihan ganda dan 5 soal isian. Ya, tentu saja dirinya belum sama sekali menghafal, namun ia memkasakan diri untuk mengisi ulangan tersebut.

Sampai akhirnya bel istirahat pun berbunyi. ?Baik anak ? anak, silakan kumpulkan kertas ulangan kalian!? ucap Pak Ramdan, guru sejarah di sekolahnya. Dengan lemas dan wajah pucat pasi Nina maju ke depan, mengumpulkan kertas ulangannya yang tak tahu apa yang ia tuliskannya.

Setelah itu, Nina langsung keluar kelas dan langsung pergi menuju perpustakaan sekolah. Ketika ia sedang merasa seperti ini, perpustakaanlah yang mengerti bagaimana dirinya. Banyak buku novel yang ia sukai di tempat itu. Buku novel baru ialah incaran dirinya yang selalu ia cari setiap harinya. Ia pun kini mulai menelusuri tiap lorong yang berisi banyak rak buku. Pada bagian rak novel ia berhenti. Terlihat buku novel besar berwarna kuning di sana. Sepertinya itu adalah buku yang ia cari. Namun ketika ia akan meraihnya, tiba ? tiba dari arah kanannya ada tangan lain yang sama ? sama ingin mengambil buku tersebut. Alangkah kagetnya Nina, orang yang berada di sampingnya sekarang adalah orang yang selalu ia kagumi. Pandangan Nina terpaku pada sorot matanya. Tersadar akan hal itu, ia langsung mengalihkan pandangannya. ?Hmm..., Nina mau ngambil novel itu juga?? tanya Sony sambil menunjuk ke arah novel berwarna kuning tersebut.
???? ?Enggak, kok. Sony saja yang bawa, aku cari yang lain.? ucapnya dengan pipi merah merona.
???? ?Kenapa kita tidak duduk dan membaca novel ini bersama saja?? ucap Sony. Nina terbelak kaget.
???? ?Hah? Kita?? ucapnya salah tingkah. Menyadari akan hal itu, Nina langsung membalikan badannya membelakangi Sony dan membalikan lagi mengahadap Sony. Dalam hatinya ia sangat senang dan tak mungkin ia akan menolak tentang hal ini.
?Hmm..., oke!? ucapnya dengan gugup.

Mereka pun jalan bersama menuju kursi kosong yang ada di pojok perpustakaan. Namun, ketika Nina akan membuka novel tersebut, Sony menahannya. ?Jangan baca dulu! kita ngobrol dulu aja.? Ucapnya sambil menatap mata Nina yang tak bisa menahan rasa malu dan senangnya itu.
???? ?Mau ngobrolin apa?? tanya Nina tak percaya dirinya kini berbicara dengan laki ? laki yang banyak dikagumi oleh kalangan murid disekolahnya.
???? ?Bagaimana dengan ulangannya tadi? Ku lihat anak ? anak sekelas seperti tak bersemangat mengerjakannya dan termasuk kamu.?
???? ?Hmm..., aku tak sempat belajar kemarin, aku tidur jam dua belas malam setelah mengisi blogku dan mengerjakan tugas B.Inggris.? jelas Nina.
???? ?Hmm, pantas saja! Makannya nanti jangan tidur larut malam lagi! Selain bangun di pagi hari enggak semangat, menghafal untuk ulangan pun enggak keburu.?
???? ?Iya, Sony, dan bagaimana denganmu??
???? ?Hmm..., kalau aku...?
Mereka pun larut dalam perbincagan singkat di perpustakaan itu. Tanpa mereka sadari bel tanda masuk pun akhirnya berbunyi. Tak ada yang bisa menyangka kini Nina, murid biasa ? biasa saja di sekolahnya dapat mengenali Sony, murid yang banyak dikagumi oleh banyak orang di sekolahnya.

Sebelum mereka berpisah di pertigaan koridor sekolah, Sony memberikan permen lolipop kepada Nina. ?Ini untuk kamu, terimakasih telah menemaniku siang ini. Maaf aku gak bawa apa ? apa lagi. Jadi, mohon untuk diterima, ya! Besok aku tunggu di perpus lagi, ya! Setelah bel istirahat berbunyi.? Ucap Sony kepada Nina sambil menyodorkan permen lolipop tersebut. Nina tak dapat mempercayainya. Ia diberi lolipop oleh teman laki ? lakinya itu? Nina pun menerima lolipop itu dari tangan Sony dengan senyuman merona di wajahnya.
???? ?Terimakasih juga, Sony untuk lolipopnya.?
???? ?Oke! Aku sepertinya ada urusan dulu, jadi kamu ke kelas duluan saja! Bye!? ucap Sony sambil pergi menjauh dari Nina dan tak lupa melambaikan tangan dengan senyuman di bibirnya yang dapat meluluhkan hati setiap orang yang melihatnya.

Nina pun segera berjalan ke kelasnya dengan hati riang. Tak menyangka, di tengah kepenatannya ini selalu ada kebahagian kecil yang menghampiri dirinya. Mungkin, lolipop ini akan mengantarkan dirinya kepada diri Sony lebih dalamnya. Entahlah, mungkin ini yang namanya awal perkenalan. Lolipop ini akan menjadi sejarah betapa senangnya Nina ketika dapat mengenali Sony, laki ? laki yang ia kagumi. Tak terlupa, perpustakaan juga yang selalu membuat dirinya terkejut akan hal ? hal yang tak terduga di dalamnya. Seperti hari ini.(hilma)