RENATA

RENATA

Hilma YR
Karya Hilma YR  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Mei 2018
RENATA

22:30 WIB. 3 April 2018.
Hawa panas tengah menguasai malam ini. Mataku masih enggan terpejam. Aku duduk di atas tempat tidur dengan laptop yang menyala di pangkuan, kursor berkedip-kedip menunggu lanjutan kata dari apa yang telah ditulis sebelumnya. Terdengar dengkuran halus dari sisi ranjang yang lain, seseorang telah tertidur pulas, malam sedang berusaha menghilangkan lelahnya sisa tadi siang. Pikiran menerawang, mereka ulang kisah beberapa hari lalu.

20:05 WIB. 27 Maret 2018.
Aku masih sibuk membaca kata-kata yang tertulis dalam lembaran-lembaran putih itu, Puisi Untuk Meis  Ishadi SK memberi judul bukunya. Di dalamnya kurang lebih terdapat 60 buah puisi yang ia tulis sendiri, puisi-puisi bertemakan cinta.
Di atas nakas handphone bergetar, ada pesan masuk.
Bismillah, adinda perkenalkan saya Faishal. Saya bermaksud menjadikan adinda istri saya, setelah beberapa lama ini saya sudah mencari informasi tentang adinda.  Dan sepengetahuan saya, berdasarkan informasi tersebut bahwa adinda belum memiliki seseorang yang mengikat. Jika memang demikian dan adinda berkenan bolehkah saya mengunjungi kediaman adinda sebagai bukti bahwa saya benar-benar menginginkan adinda sebagai pendamping?. Besok. terimakasih”
Aku terkejut dengan pesan yang baru saja dibaca. Entah mengapa jari ini membalasnya.
“saya belum ada yang mengikat memang benar adanya. Silakan datang saja ke rumah jika memang berniat demikian, bawa seseorang bersamamu untuk menjaga agar tidak terjadi fitnah”.
Tidak ada pesan balasan setelah dengan perasaan gusar aku menunggunya, sampai rasa ngantuk menghinggapi mata, lalu tertidur.

15:30 WIB, 28 Maret 2018.
Dua orang laki-laki datang mengetuk pintu. Faishal dia benar-benar datang, bersama ayahnya seseorang yang aku minta untuk membersamai.
Faishal adalah teman seangkatan sewaktu kuliah, berbeda jurusan denganku. Siapa yang tak tahu dia, seorang aktivis kampus penyuara hak-hak keadilan rakyat, sangorator ulung di depan gedung-gedung pemerintahan. Aku pun tahu dia, tapi tak begitu mengenalnya.
Faishal dan ayahnya duduk mengobrol dengan paman, karena sedari kecil aku memang tinggal di rumah paman dan bibi, paman adalah adik dari Ibuku, Ibu yang telah lama meninggal dunia. Bahkan aku tak pernah ingat wajahnya, tak pernah melihat secara langsung, dia syahid ketika melahirkanku.
Setelah lama mengobrol, timbullah kesepakatan antara paman dan ayah Faishal bahwa Faishal akan menikahiku lima hari lagi.
“Ya Allah begitu cepat, aku yakin rencanamu akan indah”.
Pama duduk di sampingku, tangannya ia arahkan untuk mengelus kepalaku, dia memang sudah menganggap aku seperti anaknya sendiri.
“Renata anakku, ternyata kau sudah dewasa nak, seorang laki-laki telah memintamu dariku. Untuk menjadikanmu sebagai istrinya”.
Aku kelu, air mata sudah tak bisa terbendung, mengalir membasahi pundak paman yang kupeluk dengan erat.
Paman berbicara lagi.
“Renata, aku tak bisa menikahkanmu. Aku bukan walimu, kau harus mencari ayahmu untuk menjadi wali nikahmu sayang”.
Tangisku mulai besuara, mengingat bahwa akupun benar-benar belum pernah tahu bagaimana rupa ayah, sama halnya seperti ketidak tahuan tentang rupa ibu.
“Biar besok aku coba cari lagi paman”. Kupaksakan berbicara. Aku pernah mencarinya, ah bukan pernah tapi aku selalu mencarinya tanpa sepengetahuan paman, akan tetapi informasi mengenai ayah tak pernah berujung titik terang.
“Baiklah, biar besok paman bantu cari”.
Kejadian ini membuatku benar-benar merasa bahagia dan sedih dalam waktu yang bersamaan. Bahagia karena sebentar lagi separuh dari agamaku akan lengkap, sedih karena wali yang harusnya menikahkanku, menjabat tangan calon suamiku, aku tak pernah mengetahuinya apalagi mengenalnya.
Dari cerita paman kepadaku, yang ia tahu dari ibu bahwa ayah pergi berlayar dan tak pernah kembali, waktu itu ibu sedang mengandungku sembilan bulan. Ibu pulang ke rumah nenek di desa sendirian dengan perut buncitnya. Paman tak tahu ibu berbohong, atau memang keadaannya seperti itu.
Ibu menikah dengan ayah tak pernah disetujui oleh keluarganya. Mereka beralasan ayah adalah orang tak baik, seorang preman yang baru saja insyaf akan tetapi ibu memaksa, memberi penjelasan bahwa ayah akan menjadi orang baik. Dengan begitu kakekpun terpaksa menikahkannya. Setelah ijab qabul selesai ibu langsung dibawa ayah ke tempat perantauannya, dan tak pernah ada kabar. Sampai ibu kembali dengan keadaan hamil.

06:00 WIB., 29 Maret 2018
Pagi-pagi aku dan paman bergegas menuju sebuah pelabuhan tempat ayah dan ibu tinggal dulu, bermaksud mencari informasi kembali mengenai keadaan ayah. Dulu, paman pernah mencarinya tapi nihil tak dapatkan apa-apa yang menjurus pada titik terang keberadaan ayah, untuk dimintai pertanggung jawabannya atas ibu dan aku. Sekarang aku akan mencoba kembali mencari jejaknya.
Lima jam perjalanan, akhirnya sampai pada tempat yang di maksud. Sebuah pelabuhan besar dengan hiruk pikuk kegiatan mengangkut dan menurunkan barang, dari kapal-kapal besar sebuah armada penghubung antar pulau,  para penumpang masing-masing sibuk dengan barang bawaannya.
“Renata, mari kita tanyakan pada pegawai yang dulu pernah bekerja dengan ayahmu, siapa tau masih ada”.
Paman membimbing tanganku.
Kami bertanya pada seorang laki-laki paruh baya berseragam awak kapal, dia sedang duduk di kursi dekat pusat informasi. Sedang istirahat mungkin.
Setelah aku tanyakan dan berbicara panjang lebar, dia mengenal ayahku. Katanya dulu pernah bertugas bersama dalam satu kapal, dia bercerita bahwa ayahku orang yang baik, ramah, murah senyum selalu bekerja dengan maksimal.
Suatu waktu ayah ditugaskan untuk menjadi awak ketika kapal berlayar menuju pulau sebrang. Ketika kapal berlabuh katanya sudah dipastikan aman untuk berlayar, namun ditengah perjalanan tiba-tiba kapal tak bisa berjalan, ada salah satu mesin yang rusak. Para awak kapal sudah mencoba untuk memperbaiki kerusakan tersebut tapi tak bisa. Dan tiba-tiba angina bertiup kencang, awan menghitam padahal sebelumnya cuaca diperkirakan akan cerah. Kapal sudah mulai sulit untuk dikendalikan terbawa angin dan gelombang, terseok-seok, dan pada akhirnya sebuah gelombang besar menerjang kapal, sebagian penumpang kapal terhempas ke lautan, hanya sebagian kecil yang selamat dan masih berada di dalam kapal, pak Imron lelaki paruh baya ini salah satunya.
Ayah menjadi salah satu korban dari pristiwa tersebut. Setelah kejadian tersebut petugas berusaha untuk mencari jenazah korban, hanya dua jenazah yang diketemukan dan ayah termasuk pada korban yang tak diketemukan jenazahnya. Peristiwa itu pun sengaja ditutup rapat, Perusahaan tidak menginginkan kerugian atas kecelakaan mengizinkan kapal yang mesinnya tidak terkontrol, makanya selama ini sangat sulit mencari informasi mengenai korban-korban kecelakaan kapal tersebut.
Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun”. Aku bergetar, menangis sejadi-jadinya menyadari bahwa aku benar-benar telah menjadi seorang yatim piatu tanpa pernah tahu rupa ayah dan ibuku, mereka sebagai pelantara aku hidup di dunia.
“Sabar nak”. Paman memelukku.
Pak Imron ikut menegarkan hatiku.
“Nak Renata, Allah sayang ayahmu. Dia merindukannya, maka dengan cepat Dia memanggilnya”.
Setelah mendapatkan informasi bahwa ayah memang benar-benar sudah tiada, aku dan paman pulang.
Malam sudah sangat larut ketika kami sampain di rumah. Aku benar-benar lelah.

09.00 WIB. 30 Maret 2018.
Matahari telah melewati separuh dhuha, hari cerah. Aku masih meratapi nasib, mengurung diri di dalam kamar, ketika pintu diketuk dari luar.
“Renata, sayang. Buka pintunya nak, kamu belum sarapan, bahkan belum malakan dari kemarin nak”. Panggil bibi dari luar.
Aku beranjak membuka pintu, terlihat bibi dengan membawa nampan di tangan, berisi segelas air putih dan sepiring nasi bersama lauk-pauknya.
“Makan dulu sayang”. Menyodorkan nampan tersebut, yang langsung berpindah tangan kini ada dalam genggamanku.
Dengan enggan aku memakan apa yang diberikan bibi, sebenarnya aku sangat tak berselera untuk makan. Ketika sedang makan bibi memberi penguatan kepadaku, tepatnya mengingatkan aku bahwa Allah tak akan menimpakan sebuah cobaan pada umatnya jika umatnya tak akan mampu menjalaninya. “Kamu mampu Renata”.
            Hari pernikahanku adalah besok, hari yang akan sangat bersejarah dalam hidup. Sebentar lagi bakti pertamaku akan berpindah, syurgaku akan berpindah. Aku akan menjadi seorang istri dan memiliki suami.
Sesuai kesepakatan, maka wali dalam pernikahanku akan diwakilkan kepada pihak pencatat pernikahan, katena tak satupun keluarga dari ayahku dapat dihubungi.

08:00 WIB. 31 Maret 2018.
“Saya nikahkan Renata Agnia binti Zakariya yang walinya diwakilkan kepada saya dengan maskawin Emas 50 gram, kontan”. Suara wakil terdengar jelas olehku dari dalam kamar.
“Saya terima nikahnya Renata binti Zakariya bengan maskawin tersebut, kontan”. Suara Faisha, laki-laki yang telah sah menjadi suamiku menimpali dengan cepat.
Air mata bahagia sudah tak dapat dibendung lagi. Aku menjadi seorang istri.
Dalam hati aku berteriak “Ayah, Ibu kalian pasti menyaksikan. Aku anakmu telah menjadi milik seseorang bernama Faishal, suamiku”.
Hari ini 3 hari aku menjadi istri, disampingku tertidur suami yang amat menyayangiku Faishal, tertidur dengan sangat pulas. Besok kami berencana untuk berlibur ke pantai, dan aku teringat pada ayahku. Aku akan mengirimkannya sebuah surat untuknya biar botol menjadi penyampai ku layarkan pada lautan, tempat ayah berpulang.
 

03 April 2018

Teruntuk yang tercinta

Ayah

Selamat malam ayah, salam rindu.
Ayah aku tahu kabarmu pasti baik-baik saja,dan akan selalu baik-baik saja.
Ayah ini aku Renata Agnia, anakmu. Anak yang tak sempat kau ketahu rupanya, kini sudah besar bahkan seseorang telah menjadikanku istrinya. Faishal Abdullah laki-laki bersahaja yang telah mengambilku darimu. Ah bukan mengammbil dengan merampas, dia mengambilku dengan meminta dan aku bersedia dimilikinya.
Ayah aku tak pernah mendengar suaramu, seperti orang lain yang ketika lahir suara yang didengar adalah suara ayahnya.
Aku tak pernah merasakan sentuhan kulitmu seperti orang lain ketika menangis peluk lembut ayahnya menenangkan dan meredakan tangis.
Ayah aku tak pernah merasakan itu semua, tapi aku tahu satu, tanpa itu semua ayah selalu menyayangiku.
Ayah selalu mencintaiku.
Ayah selalu mendoakanku ketika aku masih dalam perut Ibu.
Kini giliranku ayah,
Giliran aku mendoakanmu.
Semoga Allah mengampuni dosamu, diberikan tempat terbaik di sisi-Nya.
Aku mencintaimu.
Ayah kini aku sangat bersyukur, aku memiliki pengantimu. Bukan pengganti lantas kau dihilangkan, akan tetapi pengganti agar kau disimpan rapi tetap dimiliki tetap dirawat, dan aku menyimpanmu dalam hati, merawatmu lewat doa-doa. Aku memiliki suami yang sangat pantas aku taati, syurgaku ada padanya.Ayah, Aku sangat bersyukur kepada Allah aku memilikinya dan dimilikinya. Seperti potongan puisi Ishadi SK untuk Meis, dengan judul “Meis”.
Pada hari ini aku bersyukur diantara kehidupan
yang telah kau berikan, ku diberi seseorang
pendamping yang melengkapi. Tegar dalam
kesukaran, bertafakur dalam kebahagiaan,
hangat dalam lingkugan semesta yang dingin,
sejuk ditengah cuaca kering.
Pendaming yang setia – yang telah pemperpanjang
nafas kehidupanku. Yang telah memperkuat
roh jiwaku. Yang telah memberi semangat
perjalananku – dengan sabar –tanpa lelah
terlihat sedikit pun diwajahnya yang gagah.
Yang telah memanjatkan doa disetiap sholatnya
yang membangunkanku diketika nyenyak tidurku
telah melewati waktu. Yang memejamkan mata
dan pikiran batinku tatkala istirahat tiba.
           
Ayah, yang melakukan itu semua adalah Faishal, suamiku.
Ayah surat ini aku cukupkan sampai di sini, sungguh ayah aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu.
 
Salam rindu

Renata Agnia

anakmu.





sumber Gambar

  • view 51