Ranita dan Teka-Teki Hati

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Desember 2017
Ranita dan Teka-Teki Hati

Aku tidak tahu jeins hubungan apa yang kami jalani saat ini. berkali-kali aku mencoba untuk menjauh dari mas Pram, tapi selalu gagal. Suatu hari akhirnya mas Pram bercerita tentang hubungannya dengan sang pacar ketika aku sudah menyerah mencari tahu tentang pacarnya itu.

Mas Pram sudah menjalin hubungan dengan pacarnya sekitar tiga tahun, atau mungkin lebih. Menurut mas Pram, enam bulan belakangan ini hubungan keduanya sedang renggang. Mungkin sedang bosan. Selama tiga tahun menjalin hubungan, mereka sudah sering putus nyambung—seperti layangan, kata mas Pram. Mereka sering sekali bertengkar karena hal-hal sepele. Padahal menurutku bertengkar dalam menjalin sebuah hubungan adalah hal yang sangat biasa.

Aku jadi berpikir tentang banyak hal. Mas Pram mungkin sudah terlalu hafal dengan segala sifat pacarnya sehingga ketika mas Pram bertemu lagi denganku, dia seperti menemukan hal baru yang sebelumnya tidak dia temukan pada pacarnya, karena tentu saja sifatku dan sifat pacarnya mas Pram berbeda. Apakah mungkin selama ini mas Pram mendekatiku karena sedang bosan dengan pacarnya, dan ketika nanti dia bosan denganku, dia akan kembali dengan pacarnya? 

Aku tahu dari teman-teman kantor dan bahkan dari mas Pram sendiri bahwa mas Pram sudah ingin segera menikah. Apakah mas Pram saat ini sedang dalam rangka mencari calon istri, yang mana kalau dia putus suatu hari nanti dengan pacarnya, maka dia akan datang kepadaku? Tapi kok rasanya aku seperti cadangan saja ya? Memangnya aku ini perempuan apaan? Huh!

“Yoga!” aku memanggil Yoga, adik kelasku zaman masih kuliah beberapa tahun yang lalu. Kami tergabung dalam satu kementerian saat aktif di organisasi mahasiswa. Dia ini salah satu laki-laki yang paling peka dalam kaitannya dengan urusan perempuan. Dia ini yang paling memahami kami para perempuan satu kementerian saat itu. Seandainya Yoga ini perempuan, tentu sudah kupeluk dia.

“Kak Rara! Maaf ya kak, gue baru datang. Tadi habis ketemu teman.”

“It’s ok, Ga. Aku juga belum lama kok. Sini duduk.” Aku memberi syarat supaya Yoga duduk di depanku. Saat ini kami sedang berada di sebuah tempat makan. Janjian sengaja bertemu untuk memberikan hadiah untuk Yoga. Selain itu aku juga ingin bercerita tentang mas Pram.

“Kak Rara kenapa? Kok wajah lu kusut gitu kak?”

“Aku lagi pusing, Ga.”

“Kenapa?”

“Entah, Ga. Aku ingin cerita, tapi sulit untuk mulai. Rasanya seperti benang kusut.”

“It’s about love, isn’t it?”

Aku hanya bisa mengangguk.

“Ada yang lagi ngedeketin lu, kak?”

“Iya.”

“Wow... siapa tuh?”

“Hmmm... Jadi gini. Yoga ingat kan proyek yang pernah aku ceritakan soal seminar beberapa minggu yang lalu?”

“Iya...”

“Nah, orangnya tu yang bantu aku di proyek itu, Ga.” Lalu mengalirlah cerita mengenai mas Pram yang merupakan kakak kelas satu jurusan saat kuliah, mas Pram yang selalu menawarkan bantuan, mas Pram yang sering membelikan ini-itu, mas Pram yang sangat perhatian, hingga garis besar hubungan rumit mas Pram dengan pacarnya. Aku pernah menceritakan hal ini kepada Vina dan Desi, sahabatku sejak masih kuliah hingga kini meskipun kami sudah jarang bertemu karena kesibukan kami masing-masing. Aku paling tidak bisa menahan diri untuk tidak bercerita kepada mereka berdua, ya kecuali apa yang belakangan ini terjadi kepadaku. Yang tidak aku ceritakan kepada Vina dan Desi adalah, bahwa mungkin saat ini aku mulai merasakan sesuatu kepada mas Pram, yang notabene masih mempunyai pacar.

“Harusnya setelah proyek itu kami kembali ke keadaan semula, Ga. Tapi entah kenapa malah berlanjut. Mulai dari chatting dengan bahasan yang nggak penting sampai tengah malam. Belakangan ini dia malah berani nelepon aku, Ga. Mulai dari pertanyaan urusan kantor yang Cuma 1-2 menit, kemudain sampai hampir satu jam untuk hal-hal yang sama sekali nggak ada urusannya dengan kantor. Dia selalu mulai dengan pertanyaan, yang mana membuatku harus balas pesannya atau bicara dengannya via telepon lebih lama dari yang seharusnya.”

“Huh, pinter banget dia pakai strategi kayak gitu. Apa lagi kalau sudah menawarjan bantuan ke lu, kak. Gue akui dia pinter. Terus perasaan lu ke dia gimana, kak?”

“Aku nggak tau, Ga, kenapa mas Pram bisa sebaik itu ke aku. Dia bahkan sering menggodaku dengan bilang ‘bisa aja jodohku itu kamu, Ra. Bisa aja tahun depan kita nikah,’ gitu Ga. Awalnya aku nggak tanggapin, tapi lama-lama dia makin sering ngomong gitu.  Kayaknya ‘peletnya dia mulai bekerja deh.”

“Hah? Pelet? Apaan tuh maksudnya?”

“Jadi, setiap kali dia ngasih makanan untuk aku, dia selalu bilang makanannya pakai pelet supaya aku suka sama dia. I know, dia pasti bercanda. Tapi rasanya sekarang malah aku yang beneran kena pelet.”

“Kak, lu harus tau. Laki-laki baik tuh bukan sekedar karena dia memang baik, tapi biasanya karena ada maunya. Apalagi tadi lu bilang, belakangan ini hubungan dia sama pacarnya lagi nggak baik. Bisa aja dia lagi bosan dengan pacarnya, kemudian secara nggak sengaja ketemu lu yang baiknya kayak ibu peri. Setelah sekian tahun dia pacaran, terus dia ketemu lu dan menemukan hal-hal baru yang nggak ada di pacarnya, misalnya sifat lu yang pacarnya nggak punya. Jadi bisa aja sebenarnya dia Cuma penasaran sama lu, kayak anak kecil yang dapat mainan baru.”

Ini adalah hal lain yang aku suka dari Yoga. Ketika aku bercerita kepada Yoga, aku bisa mendapat pandangan baru dari sisi laki-laki, yang tidak akan aku dapatkan jika aku bercerita kepada Vina dan Desi.

“Aku tuh bukannya nggak pernah mencoba untuk menjauh dari dia, Ga. Sudah berkali-kali, tapi nggak pernah berhasil. Aku sering sengaja lama membalas pesannya. Aku bisa saja pakai alasan sedang sibuk dengan urusan kantor. Eh kemudian dia malah datang ke ruanganku dan bilang akan bantu, padahal saat itu aku lagi nggak sibuk. Aku berusaha untuk menjadikan dia opsi terkahir ketika minta bantuan, tapi ternyata dia selalu jadi orang yang pertama kasih respon ketika orang pertama yang aku mintai tolong bahkan belum balas pesanku. Beberapa hari yang lalu aku kebingungan mencari alat keperluan kantor, aku tanya orang-orang, ada yang nggak tahu, ada yang nggak punya, ada yang nggak ngasih respon. Akhirnya aku coba untuk menghubungi dia, dan dia bilang akan bantu cari. kemudian aku tahu bahwa dia sedang bersama dengan pacarnya.”

Yoga masih menjadi pendengar yang baik.

“Yang aku sadar kemudian adalah, ada yang kecubit di sini, Ga,” kataku sambil menunjuk pelan dadaku, “ada yang kecubit setiap kali aku tahu dia sedang bersama pacarnya ataupun setiap lihat foto dia dan pacarnya di medsos.”

My God!” Yoga berseru pelan. “Kak, saran gue, lu harus berhenti. Jangan nunggu dia yang mengakhiri ini dengan cara yang nggak baik. Gue nggak mau lu sakit hati nanti. Sebelum perasaan lu terlalu jauh buat dia, lu harus ambil keputusan. Lu yang harus mengakhiri. Jangan sampai lu jadi seperti dicampakkan oleh dia.”

“Iya, Ga. Aku juga maunya kayak gitu. Aku juga ngebayangin gimana kalau aku ada di posisi pacarnya, dan menemukan bahwa pacarku akrab banget sama perempuan lain ketika hubungan kami sedang renggang. Nggak seharusnya aku masuk di tengah-tengah hubungan mas Pram dengan pacarnya. Aku malah jadi kelihatan seperti memanfaatkan keadaan. Jahat banget aku.”

“Lu nggak salah, kak, hanya saja lu yang nggak berpengalaman dengan urusan romance kayak gini kena jebakannya si Pram. Kalau kata lu tadi kena peletnya dia. Urusan perasaan memang selalu nggak mudah. Jika nanti dia putus dari pacarnya, itu harusnya bukan karena elu. Seandainya suatu hari nanti lu beneran nikah sama dia, gue harap itu terjadi dengan cara yang baik dan benar, lu bukan sekedar pelarian dia ataupun bahan eksperimen karena dia penasaran sama lu.”

“Sip. Aku paham banget maksud kamu, Ga. Aku juga masih waras untuk masuk beneran ke tengah hubungan orang lain. yang single aja masih banyak, kenapa harus nyari yang sudah double. Iya nggak?”

“Nah, ini nih kakak gue banget. Kakak gue yang selalu bisa berpikir dan bersikap dengan tenang di saat orang lain udah kocar-kacir panik, kayak si gendut Rio waktu jadi ketua panitia ISEE dulu. Hahaha... “

“Makasih banget ya, Ga, sudah mau dengerin ceritaku. Teman-temanku beberapa memang ada yang tahu soal ini, tapi nggak sebanyak kamu tahu. Aku nggak bisa cerita sebanyak ini ke mereka. Aku percaya sama Yoga.”

“Wow, gue terharu berat, kak. Really. Good luck ya kak. Gue harap kakak gue ini dapat pendamping hidup terbaik.”

Ah, lagi-lagi aku ingin memeluk Yoga. Dia sudah seperti adik kandungku sendiri.

***

Keesokan harinya setelah bertemu dengan Yoga, aku bertemu mas Pram di ruangan divisiku. Mas Pram sedang ada urusan dengan Rama, katanya. Lama sekali mas Pram berada di ruangan divisiku. Bahkan ketika aku sudah akan pulang karena jam kantor sudah selesai, mas Pram masih berdiskusi dengan Rama, mas Ahmad, pak Arya, dan mas Rizki. Aku pamit untuk pulang duluan. Ketika aku berjalan keluar ruangan, mas Pram ikut keluar.

“Eh, mas Pram mau ke mana?”

“Mau ke bawah sebentar.”

“Oh...”

Aku berjalan pelan, tadinya kubiarkan supaya mas Pram jalan duluan di depanku, tapi yang ada malah mas Pram berjalan di sampingku. Beberapa kali lengan atau telapak kami bersentuhan secara tidak sengaja. Sampai di depan resepsionis, mas Pram masih berjalan di sampingku.

“Mas Pram mau ke mana sih?”

“Mau ke depan, keluar,” ucapnya kalem. Dia masih mengikutiku (kalau aku boleh sedikit GR) sampai depan gerbang kantor.

“Mas Pram pulang jam berapa?” tanyaku basa-basi.

“Mungkin nanti malam, Ra. Kami masih ada yang perlu dibahas.”

“Oh, oke.” Mas Pram menungguiku hingga aku mendapat kendaraan umum untuk pulang.

“Aku pulang duluan ya mas,” ucapku sebelum naik kendaraan umum.

“Iya. Hati-hati di jalan ya Ra.” Setelah kendaraan umum yang aku naiki berjalan beberapa meter, kulihat tubuh mas Pram yang mulai berbalik dan berjalan menuju kantor lagi. jadi dia meninggalkan rapat dan turun ke bawah hanya demi mengantar aku pulang? Lagi-lagi, di saat aku ingin menjauh darinya, dia yang malah membawa segala perhatian untukku. Bolehkah aku merasa stress sekarang?

***

Hari ini hari Minggu. Terhitung sudah enam hari sejak terakhir kali dia mengantarku pulang hingga depan kantor Senin lalu, mas Pram tidak menghubungiku. Di kantor kami hanya saling sapa, tidak ada obrolan tidak penting seperti yang lalu-lalu. Mas Pram juga tidak lagi membelikan makanan ataupun minuman untukku. Sejujurnya ini agak berat untukku. Aku sudah terbiasa dengan kehadirannya, perhatiannya, dan segala chat unfaedah kami, dan sekarang hampir seminggu aku tidak mendapati itu semua. Tapi ini jauh lebih baik daripada nanti ketika aku sudah jatuh begitu dalam untuknya, dia malah meninggalkanku seorang diri. Ya, lebih baik begini.

Aku sudah akan tidur namun kemudian ponselku berbunyi. Ada satu pesan. Mas Pram!

Pramudia:

Ra, sepertinya kali ini aku dan dia benar-benar sudah selesai.

What the?! Berita macam apa ini? setelah hampir seminggu dia menghilang, kenapa tiba-tiba dia muncul dengan pesan seperti ini? Apa maksudnya?




******



sumber gambar: http://update.ahloo.com/2016/05/13/jangan-ucapkan-6-kata-ini-saat-kencan-pertama

  • view 191