Ranita dan Teka-Teki Hati

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Oktober 2017
Ranita dan Teka-Teki Hati

Meski agak ketar-ketir karena beberapa properti seminar ada yang terkena banjir, akhirnya kami putuskan bahwa semua properti dapat digunakan. Aku yang sejak awal berada di divisi sekretariat, bolak-balik berfikir kira-kira apa lagi yang perlu disiapkan, apa yang kira-kira masih kurang, dan lain-lain. Setelah merasa sudah melengkapi semua properti yang diperlukan, aku kemudian menjadi yang paling terakhir berangkat dari kantor menuju venue untuk gladi resik.

Acara seminar hari pertama berjalan lancar, alhamdulillah. Pada hari H, aku ditempatkan di bagian sekretariat (urusan cetak-mencetak, print, atau pengadaan segala kebutuhan yang bersifat dadakan) bersama Rama, sedangkan mas Pram mendapat bagian untuk menerima file dari peserta seminar. Aku dan Rama ada di bagian belakang, sedangkan mas Pram ada di bagian depan karena berhadapan langsung dengan peserta di sekitar meja registrasi. Tadinya aku ingin request ke mbak Tia supaya aku bersama mas Pram saja di bagian sekretariat karena mas Pram lebih paham tentang database peserta dan lebih kreatif dalam pengadaan segala kebutuhan yang bersifat dadakan. Tapi khawatir dikira tidak profesional atau karena ada sesuatu dengan mas Pram, akhirnya aku mengiyakan saja ketika mbak Tia menempatkan aku bersama dengan Rama. Toh Rama tidak kalah kreatif dari mas Pram.

Tidak bersama mas Pram di sekretariat pun ternyata menjadi masalah, karena mas Eki (teknisi kantor) sepertinya salah paham kepada aku dan Rama. Mas Eki yang sering mendapati aku sedang bersama Rama malah jadi menduga bahwa ada sesuatu di antara kami. Dia selalu tersenyum aneh ketika melihat kami berdua sedang bersama dan beberapa kali mengambil foto kami berdua. Sekarang aku paham kenapa perempuan single tidak boleh sendirian atau bersama dengan laki-laki lain yang bukan mahrom, karena dapat menimbulkan fitnah, guys!

Acara sudah selesai sejak pukul 5 sore, tapi beberapa panitia masih berada di sekitar venue. Aku yang sebenarnya sedang tidak mengerjakan apa pun malah kebingungan. Terbiasa punya banyak kerjaan dan kemudian tidak ada yang perlu dikerjakan malah membuatku bingung. Akhirnya aku memutuskan untuk nongkrong di ruang pameran poster. Di sana beberapa rekan sesama junior sedang merapihkan poster yang dipasang hari ini dan menyiapkan poster yang akan dipasang besok. Di sana ada mas Pram yang sedang membantu tim poster. Rama pergi sejak jam 4 sore tadi karena pergi mengajar. Dia akan kembali selepas maghrib, katanya. Aku memilih duduk di dekat mas Pram dan mengistirahatkan pundak dengan meletakkan tasku yang sangat berat.

“Dari mana, Ra?”

“Nggak dari mana-mana, mas.”

“Kok lesu gitu?”

“Bingung aja, mas. Nggak ada kerjaan.”

“Aneh kamu. Orang tuh senang kalau nggak ada kerjaan. Kamu malah bingung.”

“Hehehe...” Sebelum aku bicara lagi kepada mas Pram, aku mendapat pesan dari bu Wima.

“Nah, baru diomongin, dapet job deh langsung,”

“Dari siapa?”

“Bu Wima, mas.”

“Mau sayu bantu?” Mas Pram sudah bersiap-siap berdiri dan meninggalkan poster-poster yang tadi sedang dirapihkannya.

“Eh, jangan mas. Nggak usah. Soalnya ini urusan ibu-ibu. Hehe...”

“Oke. Kalau butuh bantuan, bilang saja ya.”

“Sip, mas.” Aku segera pergi untuk mengerjakan sesuatu.

Setelah maghrib, aku mendapat pesan dari mbak Tia untuk membantunya dan mas Alfa untuk mencetak sertifikat. Sebenarnya ini adalah tugas mas Alfa, bukan tugasku. Tapi mas Alfa sedang mendapat tugas yang lain dan tidak enak untuk minta tolong kepadaku, Rama, ataupun mas Pram sehingga mbak Tia yang menyampaikan kepadaku. Aku mengiyakan untuk membantu mas Alfa. Lagi pula hari masih sore. Aku segera menghampiri mas Pram.

“Mas, kita print sertifikat untuk peserta, yuk.”

“Ayok.” Mas Pram mengiyakan ajakanku tanpa bertanya ini itu. Luar biasa sekali mas Pram ini.

“Mas Alfa sedang bertugas di kongres, mas. Kata mbak Tia, dia mau minta tolong ke kita tapi nggak enak untuk bilang. Jadi barusan mbak Tia yang bilang ke aku.”

“Iya nggak apa-apa. Mumpung saya masih di sini jadi bisa kita kerjakan bersama.”

Aku dan mas Pram berjalan menuju ruang penyimpanan properti. Mas Pram membawa printer dan aku membawa sertifikat kosong. Kami kemudian menuju ruang poster lagi. sepertinya kami akan ngeprint di ruang ini saja karena ramai.

“Kita tunggu mbak Tia dulu ya mas. Nanti mbak Tia yang kasih instruksi.”

“Sip.”

“Mas, tahu nggak...” aku berbicara sedikit pelan, ingin menceritakan sebuah rahasia.

“Apa?”

. “Aku tuh dari tadi pengin ke toilet, tapi nggak berani. Jam segini sudah nggak ada orang yang ke toilet.”

“Memang ada apa dengan toiletnya?”

“Seram, mas. Agak horor gitu.”

“Mau saya antar?” wajah mas Pram tampak serius, sepertinya dia tidak bercanda dengan tawarannya.

“Eh?” Aku bercerita hal ini tidak ada maksud apa-apa. aku tidak bermaksud untuk meminta mas Pram untuk menemaniku ke toilet. Sungguh! Aku benar-benar hanya ingin bercerita, tidak ada maksud apapun. Mungkin kkarena belakangan ini aku selalu bersama dengan kehadiran Rama dan mas Pram, aku jadi terbiasa bercerita dan berdiskusi tentang apapun kepada mereka. Dan karena Rama sedang tidak ada, maka aku bercerita kepada mas Pram.

Sorry, mas. Aku nggak bermaksud minta mas Pram antar aku ke toilet.”

“Iya, nggak apa-apa. Mau saya antar ke toilet nggak? Nanti saya tunggu di luar.”

“Jangan deh mas. Justru yang seram itu di dalam toilet, mas. Kalau mas Pram Cuma antar sampai depan toilet mah, mending nggak usah. Nanggung. Hehe...”

“Ra, ikut saya dulu yuk ke meeting room.” Mbak Tia muncul. Aku bisa minta tolong mbak Tia untuk mengantarku ke toilet.

“Iya, mbak. Mas Pram, saya tinggal sebentar ya.” Mas Pram mengangguk sambil tersenyum.

Sekembalinya aku dari urusan dengan mbak Tia dan toilet, aku menemukan mas Pram sudah dengan Rama. Oh, Rama sudah kembali dari urusan mengajarnya. Setelah mendapat instruksi dari mbak Tia, kami mulai mengerjakan urusan sertifikat ini. ada mas Mizan dan mas Rizqi yang ikut menemani kami bertiga. Sesekali mbak Tia mengecek pekerjaan kami.

Kami selesai sekitar pukul 10 malam. Aku dan mbak Tia menginap di hotel dekat venue, sedangkan para pria ini pulang ke rumah maupun kosan masing-masing.

“Mas-mas, saya pamit ke hotel duluan ya. Masnya ini hati-hati di jalan. Besok pagi lanjut dinas lagi.”

“Iya Ra. Tidur gih sana. Itu mata sudah kayak mata burung hantu.”

“Iya Ra. Selamat istirahat.”

Bye semua. Hati-hati di jalan ya.”

Aku berjalan menuju hotel yang letaknya di samping venue dan terkoneksi oleh sebuah lorong. Sebelum benar-benar masuk ke bangunan hotel, aku menoleh ke belakang di mana para pria tadi berdiri saat aku pamit. Aku lihat mas Pram ternyata sedang melihat ke arahku—lagi, sambil tersenyum, persis ketika menungguiku naik kendaraan di depan kantor sore itu.

~~~~~~~~~~

Keesokan harinya, aku bangun dengan bagian bawah mata yang menghitam. Ah, jelek sekali! Butuh waktu untuk sedikit menghilangkan mata panda ini. kami para panitia bersiap lagi di venue dengan jatah tugas seperti kemarin. Hari ini aku dan Rama pindah ‘kantor’. Jika kemarin kami berkantor di bagian belakang venue yang sepi dan sempit, maka hari ini kami berkantor di satu sudut ruang pameran dengan standing banner sebagai sekat. Mas Pram dari tadi bolak-balik saja sambil bertingkah aneh. Entah itu bertanya hal-hal yang tidak penting, meminta tolong ini-itu, mengerjakan hal-hal konyol di sekitar ‘kantor’ku dan Rama.

“Mas Pram ini kenapa sih? Pagi-pagi sudah mondar-mandir seperti setrikaan.”

“Hahaha... Saya senang lihat wajah kamu kalau sedang kesal. Lucu!”

“Apaan sih, mas Pram?! Pagi-pagi sudah kumat alaynya.”

“Hahaha...” Belakangan ini mas Pram jadi lebih ceria. Mudah sekali tersenyum dan tertawa. Hobi barunya adalah mengejekku. Seperti yang baru saja dia lakukan, memancing emosiku.

“Ra, ada yang perlu saya bantu, nggak?” akhirnya dia kembali ke mode normal.

“Nggak, mas. Ini sudah banyak yang bantu. Ada Rama, mas Alfa, mbak Tia.”

“Nanti kalau butuh bantuan, langsung bilang saja ya ke saya.”

“Siap, mas.”

Acara hari kedua berlangsung dengan baik dan lancar. Banyak peserta yang mengucapkan selamat kepada kami selaku panitia. Bu Yayu dan bu Nung bahkan sampai memberikan ciuman di pipi kiri dan kananku sebagai ucapan terima kasih atas bantuanku selama ini. Padahal meskipun acara sudah selesai, tapi masih ada beberapa hal yang perlu aku selesaikan hingga beberapa minggu ke depan.

Setelah merapihkan beberapa properti yang akan dibawa pulang ke kantor, aku bergegas ke kamar mandi. Sekembalinya aku dari kamar mandi, aku melihat orang—orang sedang berfoto. Mereka memanggilku untuk segera berlari.

“Ra, ayo cepat sini!” mereka semua memanggilku. Kemudian beberapa orang bergeser supaya aku dapat masuk di tengah-tengah mereka. Mas Pram ternyata berada di sampingku. Jarak kami dekat sekali karena kami foto grup dengan jumlah orang yang banyak.

“Dari mana tadi?” tanya mas Pram kepadaku di sela-sela sesi foto yang ricuh.

“Toilet.”

“Berani?”

“Ih apaan sih mas Pram. Mulai deh ngeledek lagi. Kok lama-lama jadi nyebelin ya?”

Mas Pram terkekeh, “loh, saya kan Cuma tanya.” Dia terkekeh lagi. tawanya renyah.

Anyway, selamat ya Ra.”

“Selamat dalam rangka apa, mas?”

“Selamat, acaranya sukses. Dua hari ini nggak banyak permintaan dadakan. Artinya kamu sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik. Mulai dari berkas-berkas sampai batu baterai. Congratulation.” Mas Pram tersenyum hangat kepadaku. Aku yang ditatap sedemikian rupa malah jadi gugup. Payah! Di tengah sesi foto seperti ini aku malah salah tingkah di hadapan mas Pram.

“Eh, i-iya mas. Terima kasih loh. Tapi aku kan dibantu mas Pram dan Rama dan teman-teman yang lain.”

Cekrek!

Dan sebuah gambar diambil ketika aku dan mas Pram sedang saling bertatapan.

“Hayoooh! Kalian ngapain? Kok saling tatapan begitu? Sudah jadian ya?”

What?! “Ramaaaa!” dia berhasil mengambil foto kami berdua. Kampret!






sumber gambar: https://www.123rf.com/stock-photo/staring_into_eyes.html?mediapopup=15234469

  • view 34