Ranita dan Teka-Teki Hati

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Oktober 2017
Ranita dan Teka-Teki Hati

–Setelah Rama tidak masuk kerja kemarin, hari ini giliran mas Pram yang tidak hadir. Hari ini Rama menculikku ke sebuah tempat makan.

“Ram, kita ngapain di sini? Kerjaan di kantor belum selesai nih. Nanti dicariin bu Nung dan bu Yayu...”

“Ssssst. Diam dulu deh, Ra. Kita mau meeting di sini. Gue sih sebenarnya yang ada urusan.”

“Lah terus aku ngapain dong di sini? Jadi obat nyamuk bakar gitu?!”

“Ya nggak dong Ra. Kamu kan bisa jadi asisten gue nanti. Bantu buat notulensi. Bawa laptop, kan?”

“Ya... Bawa sih.”

“Ya sudah. Keluarin laptop lu.” Kemudian aku mengeluarkan laptop dan meletakkannnya di atas meja.

“Kok tumben ngajak aku, Ram?”

“Kalau bukan karena perintah mas Pram, gue nggak bakal ngajak lu, Ra.”

“Hah? Maksudnya?”

“Harusnya kan mas Pram yang ketemu klien sekarang, bukan gue. Tapi karena mas Pram ada urusan, jadi dia minta gue gantiin dia. Terus kata mas Pram, gue harus ajak lu ke sini. Katanya dia kasihan lihat lu kemarin. Kayak orang stres kurang piknik. Terlalu lama di penjara, ya? Hahaha...”

“Proyek ini tuh kayak jebakan betmen, Ram. Once you in, you in. Nggak bakal bisa keluar lagi. aku nggak bisa ke mana-mana kalau sudah duduk di depan laptop. Mau ke kamar mandi saja mesti ditanya dulu oleh bu Yayu, ‘Ranita mau ke mana?’ atau ‘dari mana, Ra?’ gitu coba.”

Hahaha... bu Yayu takut lu kabur. Data-data paling banyak kan ada di lu.”

“Nggak ada untungnya juga buatku kalau kabur bawa data ini. Nggak bisa dijual.”

“Oh iya ya. Bener juga. Hahaha...”

Tak lama kemudian klien kami datang. Aku berusaha menjadi partner yang baik bagi Rama di depan klien kami dengan duduk manis sambil mengetik apapun yang keduanya bicarakan. Sampai di ujung pertemuan, klien kami bertanya, “ini pacarnya mas Rama?”

Aku dan Rama saling lirik, kemudian serempak berkata “bukan, pak!”

“Ini calonnya mas Pram, pak.” Ucap Rama kalem. What the?! Ini anak ternyata lebih ngaco kalau di luar kantor karena nggak ada pawangnya.

“Aduh, maaf ya pak. Teman saya ini memang senang bercanda. Hihihi...” kataku sambil tertawa garing.

“Kalau betulan juga nggak apa-apa, mbak. Mas Pram kan baik. Cakep juga.”

“Hihihi...” aku tertawa lagi, masih sama garingnya. Bapak ini nggak tahu ya bahwa mas Pram sudah punya pacar?

“Ya sudah, mas, mbak. Saya duluan, ya. Terima kasih, nanti kita bahas lebih lanjut,” bapak klien kami kemudian benar-benar pergi. Setelah bapak klien pergi, aku dan Rama memesan makanan.

“Makanannya enak banget, Ra? Atau lu lapar banget?” tanya Rama sambil menyindir. Mungkin karena dia melihat gaya makanku kali ini tidak kalem seperti biasanya.

“Dua-duanya, Ram. Aku udah lama nggak menghayati makanan begini. Di kantor mana bisa makan banyak. Baru makan sedikit, adaaaa aja gangguan. Minta tolong ngeprint lah, nyari berkas lah, beli makanan buat bos lah. Terus makananku jadi nggak enak karena kelamaan ditinggal. Aku males lanjut makan.”

“Kasihan amat lu. Hahaha...”

“Kok tumben ya orang-orang nggak nyari aku. Nggak ada yang ngehubungin loh.”

“Lu pengen banget dicariin?” tanya Rama sarkas.

“Ya nggak juga. Tapi kan biasanya aku pergi sebentar aja, nanti ada telepon, nanya aku lagi di mana...”

“Bos-bos lagi nggak di kantor. Terus sudah ada yang back up lu.”

“Siapa?”

“Mas Pram. Barusan dia ngabarin gue. Katanya urusan dia sudah selesai, jadi bisa ke kantor. Dia juga yang kasih tau gue bahwa bos lagi nggak di kantor.”

“Oooo... Eh, mau aku ceritakan sesuatu nggak?”

“Cerita apaan?”

Sebelum Rama dan mas Pram bergabung denganku di sekretariat, aku mengerjakan tugas sendirian. Di suatu siang, entah bagaimana, di ruangan hari itu hanya ada bu Yayu dan aku. Sebelum masuk waktu istirahat, bu Yayu bertanya kepadaku apakah akan membeli makanan untuk lunch. Kujawab iya. Aku membeli makanan untukku dan bu Yayu. Tadinya aku akan makan setelah bu Yayu selesai makan. Aku baru saja mengetik beberapa kata di laptop untuk mengirim email, tapi kemudian terdengar suara bu Yayu yang mengajakku untuk makan bersama dengannya. Akhirnya kami makan siang sambil duduk bersisian. Bu Yayu makan begitu cepat. Ketika aku masih makan, bu Yayu berkata “Ranita, semua notifikasi ini harus segera dikirim kepada seluruh peserta. Orang-orang sudah banyak yang bertanya ke saya.”

Bagiku kata-kata bu Yayu bukan sekedar pengingat, melainkan secara tidak langsung bu Yayu ingin menyampaikan bahwa aku harus mengirim notifikasi sekarang juga! Aku kemudian meninggalkan makananku yang baru sedikit aku makan. Aku kemudian melanjutkan mengetik email. Ketika aku sedang berkutat dengan laptop, suara bu Yayu terdengar lagi, “Ra, kamu selesaikan saja dulu makannya, nanti baru lanjut lagi kirim email.” Baiklah, aku kemudian melanjutkan kegiatan yang tertunda. Ketika aku sedang berusaha untuk menghabiskan makan siang sesegera mungkin, bu Yayu berbicara lagi, “Ra, notifikasi ini harus segera dikirim ya.”

Aku kesal! Bagaimana bisa, saat aku sedang mengerjakan tugas, aku disuruh makan dan ketika aku sedang makan, aku disuruh mengerjakan tugas?! Aku kemudian meninggalkan makananku lagi yang masih tersisa sedikit dan kembali berhadapan dengan laptop.

“Ra, kok makannya nggak diselesaikan?” tanya bu Yayu polos.

“Sudah kenyang, bu. Saya kerjakan ini saja dulu, supaya ibu nggak diteror orang-orang.”

Entah kenapa saat itu aku bisa berucap seperti itu kepada bu Yayu, padahal tidak berniat sedikit pun untuk berkata sinis. Selain itu, sebenarnya aku bukan tipe orang yang sering menyisakan makanan. Biasanya aku selalu menghabiskan makananku, tapi rupanya rasa kesal sudah berhasil menggantikan rasa lapar yang sebelumnya sangat jelas.

Mendengar ceritaku, Rama tertawa keras. “Hahahahahahaha... sabar, ya Ra. Sayangnya waktu itu gue dan mas Pram belum gabung. Kasihan amat sih lu.”

“Aku kuat kok, Ram. Cuma belakangan ini gampang kepancing aja. Jadi mudah kesal.”

I see. Sekarang kan ada gue dan mas Pram.” Entah kenapa tiba-tiba aku terharu mendengar ucapan Rama.

“Jangan sok melow, Ram. Aku ngeri kamu kesambet.”

“Kampret!”

–—~~~~~~~~~~

H-1 kami panitia akan mengadakan gladi resik. Beberapa panitia ada yang berkumpul di kantor sebelum menuju venue untuk mengangkut beberapa barang. Kami berencana berkumpul di kantor pukul 4 sore, sedangkan aku sendiri berencana pergi ke kantor pukul setengah satu siang karena perlu mencetak beberapa berkas. Pukul 11 siang aku mendapat pesan singkat.

Sofi:

Mbak Ranitaaaa! Ruanganmu kebanjiran. Sepertinya semalam ada yang buka keran tapi tidak ditutup lagi.

Ranita:

Gimana Sofi??? Bisa difoto nggak? Parah banget?

Sofi:

Mbak ke sini mbaaak. Saya bingung. Parah banget, mbaaaak.

Ranita:

Kamu sama siapa? Saya hubungin Rama dan mas Pram. Kamu minta tolong yang lain juga ya.

Sofi:

Saya senidirian. Iya mbak.

Aku segera menghubungi Rama. Ketika kuhubungi, Rama ternyata sedang jauh dari kantor karena sedang mengajar. Akhirnya aku menghubungi mas Pram.

Ranita:

Mas

Bisa ke kantor sekarang? Kata Sofi, ruangan kita kena banjir parah.

 

Tanpa perlu menunggu lama, mas Pram segera membalas pesanku.

Mas Pram:

Oke, wait.

Tak berapa lama, aku mendapat pesan dari Ainun yang isinya juga mengabarkan bahwa ruanganku kena banjir. Oh my Rabb, kenapa ini terjadi? Aku kaget tentu saja. Bagaimana bisa sehari sebelum acara, kami malah terkena ‘bencana alam’? belakangan ini air di kantor memang sering mati jika sudah lewat pukul 6 sore sehingga jika kita membuka keran dan lupa menutupnya kembali lewat pukul 6 sore maka kita tidak akan tahu apakah keran itu sudah tertutup atau belum. Padahal semalam aku, Rama, dan Ainun adalah orang yang paling terakhir meninggalkan ruangan, yaitu pukul sembilan malam. Aku yakin sekali rasanya tidak membuka keran yang ada di dapur di ruanganku karena bahkan aku tidak berjalan ke sana kemarin. Sebenarnya aku sangat penasaran siapakah tersangka kejadian ini, tapi sekarang sudah tidak penting lagi. yang terpenting adalah mengamankan ruangan. Bu Yayu, bu Nung, dan senior lainnya tidak boleh tahu.

Pukul setengah satu siang aku tiba di kantor. Aku segera menuju lantai 3. Kulihat beberapa rekan laki-laki sedang memegang gagang pel yang digunakan untuk menguras ruangan. kulihat mas Pram masih menggunakan kaos dengan celana denim yang digulung hingga betis. Mungkin mas Pram terburu-buru hingga tidak sempat memakai baju yang lebih rapih. Aku sempat gagal fokus demi melihat penampilan mas Pram karena biasanya dia memakai pakaian formal ke kantor.

"Sofi gimana tadi waktu kamu masuk ke sini?" Aku menemukan Sofi sedang menganginkan barang-barang yang sempat terendam air.

"Parah banget, mbaaak. Sumveh! airnya sampai semata kaki loh."

"Hah? Serius?"

"Serius, mbak. Airnya tuh sampai keluar lewat bawah pintu. untungnya keluar langsung ke lewat pipa air AC, jadinya nggak kena ruangan lain, mbak."

"Alhamdulilah... Ya sudah kalau begitu. Thanks ya, Sofi."

"Iya, mbak. Sama-sama."

Aku cek beberapa barang yang akan digunakan besok dan lusa, ternyata beberapa yang kena air banjir. Buku panduan, plakat, nametag, dan beberapa malai sorgum yang ada di lantai terkena basah. Kudengar seseorang nyeletuk, “Eh ini sorgumnya mas Wibi kerendam, ya. Ditinggal dua hari pasti berkecambah deh. Ahahahah...”

Aku senang karena dengan rekan kerjaku kali ini—yang kebanyakan adalah laki-laki, semua pekerjaan bisa dikerjakan sambil tertawa. Mereka tidak memusingkan apa pun. Termasuk bencana alam kali ini, mereka membersihkan ruangan sambil bercanda. Pukul dua siang akhirnya ruangan selesai dibersihkan. Memang masih ada bekas-bekas bencana alam, tapi tidak terlalu kentara jika dibandingkan dengan sebelumnya. Lantai masih sedikit basah, beberapa barang masih dikeringanginkan. Aku menceritakan hal ini kepada bu Wima. Aku hanya percaya kepada bu Wima untuk urusan seperti ini karena dia adalah tipe orang yang tenang dalam menghadapi segala sesuatu.

“Kok ada-ada saja ya? Besok hari H, loh, dan kita malah kena bencana alam begini. Jangan-jangan ini sejenis penebusan dosa gitu kali ya?” wajah bu Wima tampak serius dan hal ini malah membuatku tertawa.

“Hihihi... Bu Wima ada-ada saja.”

“Mudah-mudahan besok lancar ya, karena semua yang jelek-jelek sudah terjadi sebelum hari H.”

“Aamiin. Iya bu. Semoga besok dan lusa acara kita lancar.”
~~~~~~~~~~

sumber gambar: https://www.google.com/search?q=ruangan+banjir&client=firefox-b-ab&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwj7-sfxrPXWAhXFPo8KHdAQBLgQ_AUICigB&biw=1525&bih=710#imgrc=JC_NGU2JU1_24M:

  • view 100