Ranita dan Teka-Teki Hati

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Oktober 2017
Ranita dan Teka-Teki Hati

Beberapa hari kemudian, aku kembali berurusan dengan bu Nung. Untuk kesekian kalinya aku merasa menjadi makanan. Jika sebelumnya aku menjadi tempe penyet, ayam gerek, dan ayam tulang lunak, maka kali ini aku merasa menjadi bandeng presto. Tempat ini semakin lama semakin mirip panci presto! Panas dan bertekanan tinggi!

“Surat undangan untuk sesepuh sudah diantar semua?” tanya bu Nung dengan nada yang mulai meninggi. Kenapa tiba-tiba bu Nung menanyakan surat undangan untuk sesepuh? Aku mulai waspada.

“Sudah, bu. Tapi ada beberapa yang tidak delivered karena alamatnya tidak ketemu. Mas Ahmad kemarin sudah mengantar ke kantor sesepuh, tapi kata satpam, sesepuh sudah pensiun, bu. Bahkan ada yang sudah pensiun sejak lima tahun yang lalu.”

“Ya jelas sudah pensiun, lah. Namanya juga sesepuh.” Bu Nung mondar-mandir di hadapanku. “Pokoknya surat undangan harus delivered. Pak Bambang confirm mau datang, katanya mau reuni. Kasihan kalau tidak ada sesepuh yang datang. Coba kamu tanya ke Alfa!”

“mbak Tia sudah tanya mas Alfa sejak hari Jumat kemarin, bu. Sampai hari ini mas Alfa belum kasih kabar." Mbak Tia sudah jungkir balik cari alamat sesepuh di internet, tapi tidak ketemu.

“Saya barusan ngontak Alfa. Sekarang kamu turun ke lantai 2, tanya Alfa!”

Kulirik beberapa teman yang ada di sini, sepertinya tidak ada yang bisa menolongku. Rama hari ini izin tidak datang ke kantor. Mas Pram sedang sibuk dengan data di Excel, Ainun sedang belanja properti untuk hari H, Anita dan Sofi sedang membantu bu Wima di bagian keuangan. Fine, sepertinya memang aku yang harus ke ruangan mas Alfa. Bu Nung kenapa harus menyuruhku sih? Kenapa tidak menyuruh salah seorang dari timnya saja? Aku ini sejak tadi mengerjakan buku panduan dan follow up moderator, belum selesai-selesai. Kemudian masih perlu mencetak beberapa berkas yang filenya belum aku temukan.

Dengan modal selembar kertas dan pulpen akhirnya aku berangkat ke ruangan mas Alfa.

“Ranita mau ke mana?” Pak Arya yang akan pergi ke kamar mandi masih sempat menyapaku, padahal aku ingin menyapanya duluan.

“Ini, pak, mau ketemu mas Alfa. Diminta bu Nung untuk tanya alamat sesepuh.”

“Oh, I see. Sini, Ra, saya antar.” Pak Arya kemudian mengantarku sampai masuk ke ruangan mas Alfa. Mas Alfa tampak sedang sibuk. Sambil berbicara dengan ponsel di telinganya, mas Alfa masih bisa mengetik sesuatu di laptopnya. Aku menunggu sampai mas Alfa selesai dengan panggilannya. Dia melihatku dan memberi isyarat supaya aku menunggu sebentar. Aku menggangguk.

“Disuruh bu Nung cari alamat sesepuh ya, Ra?”

“Iya mas. Hehe...” aku meringis.

“Sebentar ya. Saya masih belum dapat alamatnya. Ini baru dapat nomor telepon, baru beberapa.”

“Iya mas, nggak apa-apa. Take your time. Nggak apa-apa lama, asal saya dapat sesuatu yang bisa dibawa ke lantai 3, daripada saya nggak bawa apa-apa, nanti kena semprot lagi.” Mas Alfa terkekeh. Sejujurnya aku memang ingin berlama-lama di ruangan mas Alfa, dengan harapan sangking lamanya aku di sini sampai-sampai bu Nung keburu pulang. Tapi ternyata bu Nung belum juga pulang hingga aku kembali ke ruangan lantai 3 karena di luar sana sedang hujan.  Di ruangan mas Alfa ini ada pak Arya dan mbak Tia juga. Kami berdiskusi tentang persiapan seminar. Ketika kami sedang berdiskusi, aku mendapat pesan dari bu Dita.

Bu Dita:

Ra, surat undangan yang belum terkirim kamu bawa ke sini sekarang.

Ranita:

Tapi saya belum dapat alamat sesepuh, bu.

Bu Dita:

Iya nggak apa-apa. Sekarang pokoknya kamu balik dulu ke lantai 3.

Sebelum aku kembali ke lantai 3, aku mencatat beberapa nomor sesepuh yang didapat kak Alfa.

“Ranitaaa! Kamu ke mana saja sih? Kok lama banget?”

“Saya kan, dari ruangan mas Alfa, bu. Ini dapat no...“ belum selesai aku bicara, bu Nung sudah menyahut lagi.

“Ini kamu sangking lamanya, sampai-sampai alamat sesepuh sudah ketemu semua. Tinggal kirim undangan untuk pak Wijaya saja!”

Lah, bu Nung ini bagaimana sih? Sementara aku hanya dapat nomor telepon sesepuh dari mas Alfa, kenapa bu Nung nggak cari sendiri saja kalau dia bisa dapat lebih dari sekadar nomor telepon? Dia bahkan dapat alamat rumah para sesepuh! Hari sudah hampir magrib dan pekerjaanku masih belum selesai karena urusan yang sebenarnya bisa dia kerjakan sendiri (lagi). Semua ini gara-gara bu Nung dan sifat tidak sabarannya. Kalau dia tidak menyuruhku ke ruangan mas Alfa, pasti kerjaanku hari ini sudah selesai.

Aku hanya bisa duduk sambil mengatur pernafasan demi jiwa yang lebih tenang. Aku kemudian minum air putih yang selalu setia di dekatku.

“Ra, nanti kamu update moderator yang bisa hadir di hari H ya.”

“Saya cek tadi pagi jam 10-an, pak Bambang bisa hadir...”

Belum selesai ucapanku, bu Nung sudah menyambar lagi, “Nggak, ada banyak, kok. Iya kan, Yu?” bu Nung mencari pembenaran dengan bertanya kepada bu Yayu.

“Iya, ada banyak kok. Ada bu Hepi, terus ada siapa lagi itu. Nanti kamu cek email saja.”

“Oke,” kataku singkat, padat, dan jelas. Setelah bu Nung dan bu Yayu pulang, aku mengecek email untuk mengecek kebenaran ucapan dua bos. Dan setelahnya aku terkejut! Memang ada banyak email yang masuk, tapi email yang berkaitan dengan konfirmasi moderator hanya satu! Ya bu Hepi itu yang baru masuk, karena email bu Hepi tepat di atas email masuk dari pak Bambang! ‘Banyak’ dari Hongkong!

Setelah update data moderator dan mengirimkan laporan via email, aku duduk di lantai, bersandar pada meja, kaki diselonjorkan, tangan di atas perut. Aku memejamkan mata, mencoba beristirahat. Sebenarnya ingin tiduran, tapi segan karena masih ada mas Pram. Ketika aku hampir tertidur, ada sesuatu yang dingin menyentuh tanganku.

“Ra, jangan tidur di sini. Pulang saja yuk.” Mas Pram mengajakku pulang tapi kemudian malah memberiku sebotol minuman dingin. Dia ikutan duduk di lantai berhadapan denganku.

Thanks, mas.”

“Capek banget, ya, Ra? Kamu sakit?”

“Nggak tau, mas. Kayak masuk angin gitu sih. Terus beberapa hari ini setiap bangun pagi, aku ngerasa masih capek, padahal malam sudah lama tidur.”

“Harus banyak makan, Ra. Supaya nggak masuk angin gini.”

“Yah gimana dong, mas. Mau makan aja kayaknya susah banget kalau udah di sini. Tadi tuh aku sengaja lama di ruangan mas Alfa, biar nggak kena semprot bu Nung. Eh ternyata itu nggak lebih baik daripada stay di sini. Sama saja, kena semprot juga.”

“Hahaha... Ibu-ibu itu nggak tenang kalau nggak lihat kamu. Mereka maunya kamu duduk di sini terus, stand by, siaga kalau ada apa-apa karena kamu yang paling mengerti semua urusan sekretariat. Secara, kamu yang terlibat dari awal.”

“Kalau gitu mah, nggak mesti orang yang terlibat dari awal, semua orang sekretariat juga dicariin keleus mas. Mas Pram, Rama, bu Wima, bu Dita, bahkan pak Arya, pasti bakal ditanya satu-satu kalau nggak kelihatan.” Mas Pram terkekeh

“Ya sudah. Pulang ya sekarang. Kerjaan kamu sudah selesai, kan hari ini?”

“Sudah mas.”

Ketika aku akan berdiri, mas Pram sudah lebih dulu menarik tanganku untuk membantuku berdiri. Sepertinya dia tidak sadar dengan yang dilakukannya tadi karena di detik berikutnya dia minta maaf karena  menyentuh tanganku, walaupun secara tidak sengaja karena refleks.

“Ra, jangan lupa makan malam ya. Setelah itu istirahat,” ucap mas Pram ketika kami di depan kantor dan akan pulang ke rumah masing-masing.

“Iya mas. Mas juga, makan dan istirahat yang baik.”

“Sip. Hati-hati di jalan, ya, Ra,” mas Rama memandangku sambil tersenyum. Aku jadi gugup melihat senyumannya yang jarang dia tunjukkan.

“Iya, mas. Mas Pram juga TTDJ ya.”

Sebelum aku naik kendaraan umum di depan kantor (karena kantorku di pinggir jalan besar), aku sempat menengok ke arah kantor dan ternyata mas Pram sedang berdiri di samping motornya, mengamatiku. Dia kembali tersenyum sambil melambaikan tangan sekilas. Mas Pram kok aneh?

~~~~~~~~~~

sumber gambar: http://resephariini.com/resep-ikan-bandeng-presto-rumahan/

  • view 54