Ranita dan Teka-Teki Hati

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Oktober 2017
Ranita dan Teka-Teki Hati

Pagi ini ketika aku sedang khusyuk memandangi foto-foto seorang teman di Facebook, sebuah suara menginterupsiku.

“Ra! Ngapain? Serius amat mandangin laptop.”

“Eh mas Pram. Kok ada di sini?”

“Saya diminta bos kamu untuk bantu kamu di sini. Katanya kasihan Ranita, kerjaan makin banyak sedangkan badan tambah kecil. Jadinya saya di sini deh. Nanti ada Rama juga.”

“Serius, mas? Asik! Berarti nanti jadi ramai dong. Aku nggak sendirian lagi. Hehehe...”

“Mana yang bisa saya bantu kerjakan?”

“Ini, mas...” kemudian aku menjelaskan beberapa hal kepada mas Pram. Mas Pram ini adalah seniorku saat kuliah dulu dan kami pernah tergabung dalam satu kelompok praktikum selama satu semester, makanya aku bisa akrab dengan mas Pram. Sedangkan Rama adalah teman seangkatan dan berada di jurusan yang sama saat kuliah. Senang sekali sekarang ada Rama dan mas Pram. Mereka ini sering bertengkar untuk hal-hal sepele, membuat orang-orang yang melihat pertengkaran mereka tertawa. Beberapa Minggu yang lalu ketika aku masih menjadi single fighter di bagian sekretariat, aku pernah hampir stres. Mendapat tugas dan tekanan dari banyak orang, sedangkan aku hanya mengerjakan semuanya sendirian. Pernah aku coba pulang ke rumah orang tua saat weekend, yang ada aku malah mendapat telepon hampir setiap jam karena si bos ingin tahu progres pekerjaanku.

Setelah Rama dan mas Pram bergabung, terbukti pekerjaanku menjadi lebih ringan. Namun karena mas Pram adalah seniorku, jadi aku agak sungkan untuk memberi tugas kepada mas Pram. Biasanya aku berbagi tugas dengan Rama dengan Rama yang mengambil porsi lebih besar, dan Rama akan membagi lagi tugasnya dengan mas Pram. Kecuali jika mas Pram yang bertanya apa lagi tugas yang bisa dikerjakannya, barulah aku berani memberinya tugas lain.

Hari-hari setelahnya berlalu dengan baik. Meskipun tugas tidak berkurang, setidaknya ada Rama dan mas Pram yang bisa aku jadikan tempat berbagi; berbagi tugas, berbagi keluh kesah, berbagi cerita, dan berbagi makanan. Pagi ini aku kebagian membuat surat para pembicara seminar, sedangkan Rama dan mas Pram mendapat tugas untuk mengurus daftar peserta yang selalu bertambah. Entah kenapa, sejak tadi ada kesalahan yang aku lakukan dalam membuat surat. Hingga masuk makan siang surat belum selesai dan hal ini membuatku kesal. Makan siangku tersela beberapa kali karena berbagai urusan. Akhirnya aku tidak menghabiskan makan siang karena rasanya sudah kurang enak, padahal aku masih lapar. Ketika aku sedang mengirimi email untuk para pembicara seminar, bu Nung sempat melihat layar laptopku. Seketika suaranya melengking.

“Ini kok badan email begini? Nggak begini. Salah, terlalu panjang! Ulang!” ucapnya dengan nada tinggi sambil menunjuk-nunjuk layar laptopku. Aku yang sedang mengetik tiba-tiba menjadi kaku, tidak bisa merespon kata-kata bu Nung karena terlalu kaget dengan suaranya dan kata-kata yang diucapkannya. Aku yang sudah menahan kesal sejak pagi malah jadi semakin kesal, terutama dengan ucapannya yang menyuruhku mengulang. Kulihat sekilas orang-orang di sekitarku, mereka semua memasang wajah kasihan, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena ini memang bukan bagian mereka. Ini adalah jatahku.

“Baik, bu,” akhirnya aku mengiyakan perintah bu Nung. Tak lama setelah itu bu Nung pamit pulang. Aku pergi ke luar ruangan tanpa pamit kepada Rama dan mas Pram. Aku ke kamar mandi dan menangis di sana selama beberapa menit. Rasanya kekesalanku kepada bu Nung yang sudah menggunung telah melewati ambang batas dan perlu dikeluarkan. Bu Nung ini bukan bosku langsung karena dia membawahi divisi lain. Dia punya tim sendiri tapi entah kenapa malah sering minta tolong kepadaku. Bukannya aku tidak ingin dimintai tolong oleh bu Nung, tapi kadang dia ini kalau sudah memberi tugas, nggak kira-kira. Aku masih mengerjakan tugas A dari bu Yayu (bosku), bu Nung akan memberikan tugas B. tugas B belum selesai, dia akan memberi tugas C, begitu terus sampai tugas E. Dan ketika aku masih mengerjakan tugas E, dia akan menanyakan kembali tugas B darinya yang mana belum selesai kukerjakan karena malah mengerjakan tugas E. Di situ lah aku akan mendapati bu Nung berbicara lebih banyak dengan nada yang lebih tinggi dari biasanya.

Selain itu, bu Nung sering memberi tugas dengan instruksi yang kurang jelas. Aku dan Rama pernah mengalaminya. Sekitar pukul 9 pagi bu Nung menghampiri aku dan Rama yang sedang mengerjakan tugas kami masing-masing.

“Ranita sedang mengerjakan apa?”

“Sedang merapihkan abstrak untuk buku panduan, bu.” See? Aku mengerjakan tugas timnya bu Nung. Entah timnya sedang mengerjakan apa, yang pasti mereka tidak mengerjakan tugasku.

“Kalau Rama sedang mengerjakan apa?”

“merapihkan database peserta, bu. Ini tugas dari bu Yayu.”

“Ya sudah, Rama kerjakan ini dulu,” bu Nung menyodorkan sebuah flashdrive. Mungkin tugas yang dimaksud ada di dalam sana. Aku mengerjakan tugasku sambil sesekali mendengarkan bu Nung yang sedang memberi instruksi kepada Rama. Setelah memberi instruksi, bu Nung pergi entah ke mana.

“Ra, ini bagaimana mengerjakannya?” tanya Rama sambil menunjukkan tabel yang begitu panjang di laptopnya.

“Waduh, gimana itu ya? Tadi bu Nung bilangnya gimana?”

“Bu Nung nggak jelas kasih instruksi.”

“Hahaha... Kenapa kamu nggak tanya lagi?”

“Nanti lama nggak pergi-pergi kalau aku tanya lagi.”

“Ya ini mah sebentar lagi juga bu Nung balik ke sini lagi.”

Panjang umur, bu Nung. Baru saja aku sebut namanya, dia langsung muncul. “Gimana, Ram? Sudah selesai?” Aku yang mendengarnya saja kesal, apa lagi Rama. Baru ditinggal 10 menit, jelas saja tugasnya belum selesai. Bu Nung kemudian mengecek sesuatu di laptop Rama.

“Bukan begini. Kamu harus rapihkan dulu tabelnya.” Bu Nung kemudian mengambil alih laptop dan tetikus Rama. Lumayan lama waktu yang dibutuhkan bu Nung di depan laptop Rama. Aku bertanya tanpa suara kepada Rama di belakang punggung bu Nung, “gimana, bisa?” Rama kemudian menjawab tanpa suara juga, “belum.”

Setelah mengotak-atik cukup lama, nampak ada kemajuan. Bu Nung mundur sedikit dari depan laptop, mengembalikan singgasana milik Rama.

“Nih, kamu nanti tinggal memindahkan data ini ke file satunya. Ada jadwalnya. Bisa, Rama?”

“Saya coba kerjakan dulu, bu.” Bu Nung kemudian masuk ke ruangannya.

“Eh, Ra, tahu nggak. Bu Nung kayak yang gregetan banget, nggak sabar nunggu gue kerjain tugas ini, sampai dia turun langsung rapihin sendiri data-data. Tahu gitu mah padahal dia kerjakan dulu saja ya di laptopnya. Kalau sudah final, baru dioper ke gue. Kalau ini caranya, kerjaan gue kan, jadi nggak beres-beres. Huh!”

“Ahahaha... Sabar, Ram. Aku turut prihatin.”

Thanks, Ra. Tapi kalau prihatin doang, gue nggak butuh!”

“Hahahaha...” senang rasanya melihat Rama yang kesal di pagi hari. Wajahnya lucu.

Setelah merasa cukup menangis di kamar mandi, aku pergi ke luar kantor menuju toko kecil di seberang jalan yang menjual es krim. Masa bodoh jika orang-orang di ruangan mencariku. Biar saja! Setelah membeli es krim, aku bertemu Dimas di depan toko. Dimas adalah karyawan baru kantorku. Usianya lebih muda dariku. Aku segera menghampiri Dimas.

“Dimas, lagi ngapain?”

“Habis jajan, mbak. Hehe...”

“Kamu jangan pergi dulu, ya. Tunggu saya makan es krim dulu di sini.”

“Oke. Kenapa mbak? Kok wajahnya cemberut begitu?”

“Lagi kesal, Dim.” Akhirnya aku makan es krim ditemani seorang berondong, sambil sedikit bercerita perihal kekesalanku hari ini. Setelah menghabiskan es krim, aku merasa sedikit lebih baik. Aku berterima kasih kepada Dimas yang mau menemaniku makan es krim. Kami sama-sama kembali ke kantor. Sesampainya di ruangan di lantai 3, orang-orang segera mengamatiku. Aku duduk di depan laptop. Ternyata rasa kesal itu masih ada. Rama yang baru dari kamar mandi segera menghampiriku dan duduk di sampingku.

“Kamu kenapa, Ra?” ditanya seperti ini aku malah jadi ingin menangis lagi. Ainun dengan sigap memberiku beberapa lembar tisu. “Sabar ya, Ra. Bu Nung memang begitu. Ngomongnya nggak bisa santai. Mana kerjaan kamu? Sini aku bantu.” Aku mengatur nafas beberapa kali sebelum berbicara kepada Rama. Akhirnya aku berbagi tugas dengan Rama. Mas Pram yang sejak awal menyaksikan interaksiku dengan bu Nung hanya memandangiku beberapa kali, mondar-mandir-mandir di depan dan di belakangku, tapi tidak mengucapkan apa-apa. Mungkin dia kasihan tapi bingung mau berbuat apa. Aku pun sedang tidak ingin banyak bicara. Aku hanya ingin semua ini segera berakhir.

Keesokan harinya barulah aku bisa bercerita kepada Rama, mas Pram, dan mbak Tia tentang aku yang menghilang entah ke mana sore kemarin.

“Bu Wima sampai nyariin kamu loh, Ra. ‘Rara ke mana ya?’ itu kata bu Wima. Terus saya bilang ‘mungkin sedang menenangkan diri, bu.’ Kamu kemarin pergi ke mana, Ra?”

“Aku beli es krim di toko depan kantor, mbak. Bodo amat sama surat-surat yang belum dikirim. aku terlanjur kesal ke bu Nung kemarin.”

“Ya sudah, nggak apa-apa. Sabar ya, Ra. Sebentar lagi selesai kok.”

Rama dan mas Pram tidak berkomentar apapun, tapi sejak hari itu, mereka berdua jadi semakin baik kepadaku dan semakin sering bertanya apa yang bisa mereka bantu.

–—~~~~~~

sumber gambar: https://www.lazada.co.id/

  • view 22