Kata-Kata yang Menjadi Nyata

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 September 2017
Kata-Kata yang Menjadi Nyata

Kalau kuceritakan kepadamu, mungkin kamu tidak akan percaya. Aku pun awalnya tidak percaya, tapi hal itu benar-benar terjadi. Beberapa waktu lalu aku membaca sebuah comment  seorang teman di Whatsapp grup bahwa kamu akan kuliah ke luar negeri. Tadinya kukira yang dia bicarakan adalah kamu yang bercita-cita untuk kuliah pascasarjana di luar negeri—seperti yang kamu katakan bahwa kamu ingin kuliah di Rusia, tapi aku baru sadar bahwa kamu benar-benar akan keluar negeri untuk kuliah dalam waktu dekat setelah melihat sebuah foto yang kamu unggah di Facebook. Dalam foto itu ada kamu bersama dengan seorang perempuan yang mungkin berkaitan dengan urusan kuliah pascasarjanamu. Kamu tampak bahagia dengan senyum tersungging.

Akhirnya aku mengirim pesan via whatsapp pada malam hari, kebetulan kamu sedang Online. Kuminta kamu bercerita. Ternyata kamu akan pergi ke Polandia untuk tiga tahun ke depan. Tentang bagaimana kamu menunggu masa depan—apakah akan bekerja atau lanjut kuliah, kamu yang pulang ke Yogya untuk refreshing sekaligus menenangkan diri, hingga kamu mendapat email di pagi hari dengan mengandalkan sinyal yang seadanya.

Beberapa hari sebelum aku mengetahui kamu akan pergi ke Polandia, aku membuat sebuah cerpen untuk sebuah lomba. Di dalam cerita itu aku memasukkan beberapa potongan kisah yang diadaptasi dari apa-apa yang kita lewati semasa kuliah, dengan tokoh utama bernama Mira dan Andi. Mulai dari awal berkenalan dalam sebuah praktikum, tugas kuliah, tugas akhir, hingga wisuda. Itu adalah kisah nyata yang kutulis dalam cerpen. Selanjutnya kutulis cerita yang mana kamu mendapat beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Kutulis Jepang sebagai negara tujuanmu. Ternyata kamu justru akan pergi ke Polandia. Ini adalah satu hal luar biasa bagiku. Ketika aku menulis kisah yang kukira hanya khayalan, ternyata malah menjadi kenyataan meskipun tidak tepat sama.

Aku tahu, bukan aku yang mendahului nasib. Aku yakin aku pun bukan cenayang. Sebenarnya Allah lah yang menakdirkan kamu untuk bisa kuliah di luar negeri dan memberi ide kepadaku untuk menulis cerita seperti itu.

Cerita selanjutnya hingga akhir semata-mata adalah imajinasiku, di mana dua tokoh utama mengalami kisah hidup yang agak rumit. Beberapa tahun kemudian keduanya bertemu lagi dengan cara yang mengejutkan.

Aku berharap bisa menang dalam lomba cerpen tersebut. Namun jika menang, cerpen tersebut akan dipublikasikan. Entah, apakah cerita tersebut akan sampai kepadamu satu hari nanti. Mungkin jika kelak aku tahu bahwa kamu mengetahui cerita itu dan menyadari siapa yang ada di dalamnya, aku akan sangat malu. Tapi sekali lagi kukatakan, aku ingin bisa memenangkan lomba tersebut. Bukan hanya menang, tapi juga mengenang masa-masa kita dulu. Entah bagaimana masa depan kita kelak.

Wish all The Best for you.  




sumber gambar: https://www.123rf.com/photo_43340033_illustration-of-cute-girl-thinking-while-working-on-her-school-project.html

  • view 13