#Cerita6 Penggemar yang Realistis

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Juli 2017
#Cerita6 Penggemar yang Realistis

Dulu kukira dia adalah seorang mahasiswa pascasarjana yang sedang membantu dosennya mengawas ujian. Tapi hari-hari berikutnya ternyata dia selalu hadir di praktikum-praktikum kami. Rupanya dia dosen muda di program studi di mana aku belajar. Aku memanggilnya pak Fikri, tapi Desi—temanku memanggilnya mas Fikri. Huh, sebal sekali rasanya. Entah kenapa aku merasa cemburu setiap temanku itu bercerita tentang pak Fikri.

Aku ingat ketika dulu dia mengawas di ruangan tempatku ujian. Aku dan Rani nyaris telat ikut ujian. Bangku-bangku sudah hampir penuh dan yang tersisa tinggal bangku di barisan paling depan. Aku dan Rani duduk di barisan paling depan. Sebelum ujian dimulai, biasanya dosen atau asisten praktikum yang mengawas ujian akan menyampaikan peraturan ketika sedang melaksanakan ujian. Dan saat itulah aku menyadari sosoknya.

“Sebelum mengerjakan soal ujian, silahkan berdoa terlebih dahulu...” Suaranya agak berat. “Iya, selamat mengerjakan soal ujian.” Dan setelah itu aku tidak pernah melupakannya.

Pak Fikri ini rupanya memang alumni dari program studi yang sama denganku, tapi jauh di atasku. Dia tujuh tahun di atasku. Pak Fikri ini menjadi asisten praktikum di dua mata kuliah yang aku ikuti. Menurut kabar angin, dia sudah menyelesaikan studi S2-nya di Amerika dan sekarang sedang mempersiapkan diri untuk studi S3. Sambil menunggu, dia diminta pihak program studi untuk membantu mengajar dan berbagai penelitian di kampus.

Pada praktikum suatu mata kuliah, pak Fikri mengajari kami hitung-hitungan kimia tentang pupuk. Itu adalah salah satu awal ‘pertemuan’  kami. Aku kebetulan duduk paling depan. Aku yang dulu menyukai pelajaran kimia mudah saja menangkap apa-apa yang pak Fikri sampaikan. Kuperhatikan tulisannya. Untuk kategori tulisan laki-laki, tulisannya cukup rapih menurutku. Ah, otakku jadi liar. Aku membayangkan punya pasangan yang pintar seperti pak Fikri. Pasti akan menyenangkan. Dia cukup sabar mengajar di kelasku kala itu. sejak saat itu aku menjadi penggemarnya.

Dalam praktikum mata kuliah yang lain, pak Fikri menjadi penanggungjawab praktikum di kelasku juga. Kami selaku praktikan dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 7-8 orang. Pada lima sesi terakhir praktikum, akan akan ada dua kelompok yang melakukan presentasi atas tugas yang diberikan. Pak Fikri menjadi reviewer untuk seluruh kelompok yang melakukan presentasi. Setelah dilakukan pembagian tugas, aku mendapat jatah sebagai moderator.

Hari H presentasi...

Sebagai tim penampil, aku dan teman-teman sekelompok masuk ruangan dan berdiri di depan kelas. Aku yang masuk ruangan kelas lebih dahulu berdiri dekat kursi pak Ramdhan. Pak Ramdhan bergabung dengan teman-teman lain (yang berperan sebagai audiens) di barisan paling depan, dan paling pojok dekat tembok. Aku membawa satu buah melon utuh sebagai display produk kelompok kami. Temanku yang masuk paling terakhir membawa buah melon yang sudah dipotong. Potongan buah melon ini akan dibagikan ke beberapa teman sebagai taster, dan pak Fikri tentu saja salah satu yang akan kami beri potongan melon tersebut. Reviewer memang selalu diberi sampel produk oleh semua kelompok.

Melihatku yang membawa buah melon utuh, pak Fikri nampak penasaran. “Ini buah melon buat saya? Buat saya jangan terlalu besar. Saya sedang batuk.”

Aku gelapan mendengar ocehan pak Fikri. Antara geli dan gugup, sebenarnya. “Eh, anu, itu pak... Yang ini bukan untuk bapak.” Maksudku adalah kami sudah menyiapkan potongan buah yang lain untuk beliau, bukan yang sebesar itu karena kami tidak berencana atraksi memotong buah di depan kelas.

“Oh. Oke. Kita mulai saja presentasinya. Silahkan.” Wajahnya sempat agak terkejut. Mungkin malu dengan jawabanku, tapi beliau bisa segera menguasai diri. Lagi pula sepertinya tidak ada yang mendengarkan percakapan kami karena audiens sibuk masing-masing sebelum presentasi dimulai. Ketika pemateri dari kelompokku sedang menyampaikan materi, temanku yang paling ujung mengoper potongan buah tersebut untuk diberikan kepada pak Fikri.

“Pak, ini yang buat bapak.”

“Eh, sudah, nggak usah. Saya batuk, puasa makan yang masnis-manis dulu.” Mungkin beliau kepalang malu karena ucapannya tadi, jadi dia konsisten untuk menolak.

“Serius nggak mau, pak? Yang besar ini memang rencananya nggak kami potong, kami nggak bawa pisau.” Kataku sambil menunjuk melon di atas meja dekatku.

“Iya, buat kalian saja. Makasih.” Akhirnya kami bagikan ke audiens potongan buah tadi.

Setelah presentasi itu, pak Fikri tidak mengajar di kelasku lagi karena praktikum tersebut ada di semester 7 dan setelahnya sudah tidak ada kuliah. aku sudah mengambil semua mata kuliah dan yang tersisa adalah penelitian dan mengerjakan skripsi di semester 8. Aku masih melihat pak Fikri sesekali di kampus. Aku selalu senang melihat pak Fikri memakai kemeja lengan pendek, celana bahan, dan sepatu pantovel. Padahal semua dosen laki-laki juga memakai pakaian begitu di kampus, tapi entah kenapa selalu berbeda bagiku jika pak Fikri yang berpakaian seperti itu. Dia lebih keren dari dosenku yang lain!

Aku sudah menyelesaikan skripsi dan kini tengah menunggu hari wisuda. sambil menunggu wisuda dan panggilan kerja, aku membantu dosenku untuk mempersiapkan sebuah seminar dan konverensi. Aku berkantor di laboratorium yang sebelumnya kugunakan untuk penelitian.

“Eri di lab sampai jam berapa hari ini?” Seorang dosen bertanya sambil berjalan ke arahku.

“Kayaknya sampai jam 4 sore, bu. Kenapa, ibu? Ibu hari ini di lab sampai jam berapa?” Aku sedang mengumpulkan kontak orang-orang balai untuk dihubungi.

“Nah, saya mau pergi sekarang. Ada urusan. Pak Fikri mau ambil poster dan benih ke sini. Saya titip ke Eri, ya. Nanti saya kasih tahu pak Fikri untuk ambil barang-barang di lab, supaya ketemu Eri saja.”

“Oh, iya, bu. Nggak apa-apa.” Ibu dosen ini kemudian menunjukkan mana-mana saja yang akan diambil pak Fikri nanti.

Aku sedang menekuni laptop hingga kemudian terdengar sebuah suara, “permisi, bu Wina ada?”

“Nggak ada, pak,” jawab mahasiswa lain yang ada di lab bersamaku. Aku duduk membelakangi pintu masuk sehingga tidak tahu bahwa pak Fikri datang. Setelah mendengar suaranya, barulah aku menoleh ke arahnya. Dia datang dengan seorang dosen muda lainnya.

“Eri...”

“Bapak mau ambil benih, ya?” Tanpa sengaja aku menyela ucapannya. Seharusnya aku biarkan dia menyelesaikan ucapannya dulu. Aku takut dianggap tidak sopan. And again, sepertinya dia ingin mencari orang yang bernama Eri. Kan kalau aku biarkan, dia bisa tahu bahwa akulah yang bernama Eri.

“Iya. Barangnya yang mana ya?”

“Ini, pak.” Aku berjalan ke tempat disimpannya poster dan benih. kuperhatikan pak Fikri sesekali, barangkali dia butuh bantuanku. Tapi sepertinya tidak.

“Oke, saya bawa ini, ya.” Dia menunjuk barang-barang bawaannya dan melangkah pergi meninggalkan aku.

***

“Jadi kamu ‘nggak’ ngantor kemarin karena ikut seminar?” Aku bertanya kepada Desi, mengonfirmasi info yang kudapat dari status WA-nya yang menampilkan foto gedung untuk seminar. Desi juga membantu dosennya di kampus, tapi dia jauh lebih dulu ‘ngantor’ dibanding aku yang baru beberapa minggu.

“Iya. Aku diajak mas Fikri jaga stand prodi.”  Sebenarnya aku cemburu mendengar cerita Desi yang menunjukkan betapa akrabnya mereka berdua. Tapi aku bisa apa, aku bukan siapa-siapanya pak Fikri at all. Mau marah-marah atau bilang “kamu jangan dekat-dekat pak Fikri” pun nggak bisa.

Belum habis cerita tentang pak Fikri, Desi lanjut bicara tentang pak Fikri dan Bu Laras yang sering dijodoh-jodohkan oleh para dosen senior.

“Ya menurutku memang cocok sih. Sama-sama pintar. Umurnya sepantaran. Lagi pula dosen muda yang belum menikah kan tinggal mereka berdua. Pas deh.” Oke, baiklah. Aku yang mengatakan hal ini. Aku pura-pura biasa saja ketika bicara, padahal mah ada yang sakit di dalam hati. Aku penggemarnya, tapi aku realistis, tahu diri. Beliau berdua memang lebih cocok. Aku yang hanya remah biskuit harusnya jadi sesuatu yang lebih keren terlebih dahulu sebelum berfikir akan bersanding dengan pak Fikri.

***

Selepas seminar dan konverensi yang aku bantu, bertepatan dengan panggilan kerja di daerah ibukota. Aku kemudian bekerja di sana. Sebenarnya aku merasa dunia kampus adalah tempat yang paling nyaman. Toh bekerja di dunia kampus tak mesti menjadi dosen. Toh berada di kampus bukan berarti aku harus menjadi mahasiswa lagi. Tapi memang rezekiku adalah bekerja di Jakarta, di tempat yang memang sangat aku inginkan, yang tempat dan posisi kerjanya selalu aku sebut dalam doa.

“Ri, kamu dulu kuliah di Bogor?” Bimo, salah satu rekan kerja bertanya kepadaku yang terhitung masih anak kerja di kantor.

“Iya. Kenapa, Mo?”

“Kamu kuliah di jurusan A?”

“Iyaaa! Kok tahu?”

“Kenal pak Fikri, dong?” Dia malah balik bertanya kepadaku.

“Iya, iya! Aku tahu. Kok kamu tahu beliau?”

“Dia kan kakakku. Hahaha...”

“Serius?!” aku tidak percaya. Sulit sekali mempercayai Bimo saat ini.

“Serius! Nih foto kami, kalau kamu nggak percaya.” Dia mengeluarkan ponsel pintarnya, membuka fitur Galeri, menunjukkan beberapa foto mereka.

“Dia mau nikah akhir minggu ini.”

“Hah?” bukannya aku tidak mendengar yang Bimo bilang, tapi saking kagetnya aku tidak bisa berkata yang lain.

“Dia nikah minggu ini. Kamu datang ya.”

“Aku kan nggak diundang. Lagian pak Fikri mungkin nggak kenal aku. mahasiswanya kan banyak.”

it’s ok. Aku yang undang kamu.”

“Nggak mau, ah. Nanti aku sendirian di sana malah kayak anak hilang.”

“Nanti aku temani.”

“Kamu kan pasti sibuk bantu acara nanti.”

“Selow. Pokoknya kamu datang ya. Aku tunggu.” Sebenarnya aku tidak mengiyakan undangan Bimo, tapi Bimo orang yang sulit dihindari. Dia akan menerorku untuk datang. Ah, aku lupa bertanya siapa pengantin wanitanya.

***

Aku memutuskan untuk datang ke pernikahan kakaknya Bimo a.k.a pak Fikri. Dari kemarin aku mengingat-ingat momen kuliah hingga beberapa bulan ke belakang. Tentang melon hingga benih dan poster. Aku yakin bahwa aku sekedar suka, tidak lebih. Walaupun di dalam hati sempat muncul perasaan ‘yah, pak Fikri nikah... :(’, sekali lagi aku bilang aku adalah manusia yang realistis. Aku terima pak Fikri menikah dengan orang lain, sama seperti aku terima Hamish Daud yang bertunangan dengan Raisa. Jodohku sudah Dia siapkan, dan yang perlu aku lakukan adalah berusaha untuk selalu memperbaiki diri supaya bisa mendapat jodoh terbaik. Pak Fikri ataupun Hamish Daud bukan yang terbaik untukku.

Aku mengirim pesan kepada Bimo bahwa aku sudah sampai di lokasi resepsi. Tak lama, Bimo muncul. Dia tersenyum lebar.

“Sudah datang dari tadi?”

“Baru saja kok.”

“Mau ketemu pengantinnya dulu, atau makan dulu? Eh tapi pengantinnya lagi ganti kostum. Hahaha... Mending makan dulu. Mau?”

“Boleh,” aku mengangguk. Kami makan sambil berbincang tentang pernikahan kakaknya.

“Kamu kayaknya capek banget.”

“Bangeeet! Aku nggak nyangka, mempersiapkan pernikahan semelelahkan ini. tapi aku jadi tau bagaimana riweuhnya persiapan untuk menikah, terutama menjelang hari H. Aku jadi tahu apa-apa saja yang perlu kita siapkan untuk pernikahan nanti.” Kata ‘kita’ yang Bimo ucapkan ini merujuk pada siapa ya?

“Oh gitu ya...” Aku bingung mau menanggapi bagaimana.

Setelah selesai makan, pengantin ternyata sudah duduk di singgasananya. Bimo mengajakku salaman dengan pengantin. Kami mengantre beberapa saat. Selama mengantre, aku memperhatikan pengantin wanitanya. Aku yakin pengantin wanitanya bukan bu Laras. Aku tidak kenal dia. Nanti akan aku tanyakan ke Bimo.

“Kak, kenal dia nggak?” tanya Bimo kepada pak Fikri ketika kami sudah berada di depan pengantin. Jarinya menunjukku.

“Hmmm... Mahasiswa bimbingan bu Wira, kan ya? Yang kemarin bantu di seminar dan konferensi. Eri, bukan ya?”

“Iya, pak. Saya Eri. Hehe... Selamat atas pernikahannya, pak. Semoga langgeng.”

“Iya, terima kasih Eri.” Pak Fikri kemudian beralih kepada adiknya, “kok kenal dia, Bim?”

“Dia yang nanti nikah sama aku,” jawabnya mantap. Aku bagai disambar petir.

 

 sumber gambar: https://www.shutterstock.com/image-vector/cartoon-character-shy-cute-girl-blush-563904970?src=Wl_D4xHmbpgw9tXCHjPHjQ-1-43

 

 

  • view 38