KEPERGOK!

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Juli 2017
KEPERGOK!

Di penghujung bulan Ramadhan kemarin saya dan beberapa teman berencana untuk bertemu. Saya, Elis, dan Dety membuat janji untuk bertemu pada tanggal 27 Ramadhan sambil buka puasa bersama. Sebenarnya ada teman-teman lain yang juga mengajak untuk buka puasa bersama di tanggal yang sama. Namun saya sudah lebih dulu membuat janji dengan Elis dan Dety, maka saya tidak bisa ikut buka bersama dengan teman-teman yang lain.

Ada salah seorang teman saya, namanya Ardi. Saya dan Ardi gabung dalam beberapa grup yang sama di Line, mulai dari grup OSIS SMP, grup kelas di SMP, hingga grup kelas di SMA. Dia mengedarkan tulisan yang sama di grup-grup pada siang hari: Ada yang mau bukber dadakan gak?

Beberapa teman merespons ajakan Ardi di grup, tapi saya malah memilih tidak merespons Ardi (mohon maaf karena saya jadi silent reader :D)

Sore hari saya berangkat menuju tempat pertemuan yang sudah kami bertiga sepakati, yaitu sebuah tempat makan. Setelah menempuh jarak yang tidak begitu jauh, akhirnya saya bertemu dengan Elis dan Dety. Senang sekali bisa bertemu mereka berdua. Elis ini teman sejak kelas X. Walaupun hanya sekelas ketika kelas XI, tapi kami menjadi akrab hingga sekarang. Elis ini partner kerja zaman SMA—saya jadi koordinator seksi rohani di kepengurusan OSIS dan Elis jadi pengurus inti rohis (kalau tidak salah). Sedangkan Dety sendiri saya kenal sejak kelas VII. Dua tahun sekelas dengan Dety di SMP dan dua tahun di SMA, serta sama-sama ikut ekskul Taekwondo dan PMR. Dulu setiap selesai kegiatan PMR kami sering mampir ke warnet dan memilih paket dua jam, satu komputer kami gunakan berdua.

Ketika kami tiba di tempat makan, sebenarnya masih sepi. Banyak meja yang masih sepi. Kami memilih meja dengan empat kursi saja, karena kami hanya bertiga. Setelah kami duduk, salah seorang pegawai tempat makan menghampiri kami dan meminjamkan setumpuk daftar menu dari berbagai stand yang menjual makanan. Kami baru tahu bahwa sistem pelayanannya adalah pegawai tempat makan memberi setumpuk daftar menu, kemudian kami memesan kepada orang tersebut, nanti makanan akan diantar dengan nota pemesanan. Pembayaran dilakukan di satu kasir yang berada di dekat pintu masuk yang sekaligus menjadi pintu keluar.

Dety yang sekarang menjadi produsen jilbab ternyata tidak hanya janjian dengan saya dan Elis, tapi juga beberapa teman SMP dan SMA kami (saya bertemu Eva dan Dina) yang ternyata menjadi pembeli dari barang-barang yang Dety jual. Semakin lama tempat makan semakin ramai. Pegawai tempat makan jadi semakin sibuk. Yang kami bingungkan kemudian adalah tidak ada seorang pun yang menghampiri kami untuk menanyakan pesanan kami. Ketika Dety memanggil salah seorang pegawai tempat makan untuk memesan makanan, pegawai tersebut meminta kami untuk menunggu sebentar karena dia sedang melayani pembeli yang lain. Kami mengiyakan saja. Kami kemudian berbincang-bincang lagi.

Menjelang adzan maghrib, kami bertiga dikejutkan dengan kehadiran sosok yang tidak kami duga. Ardi, Lisna, dan Robby ternyata ada di sisi kiri kanan kami.

“Hayooo! Pada ngapain di sini? Geningan1 pada ngumpul di sini. Kok nggak ngajak-ngajak sih? Waaah, parah nih parah. Hahahaha...” Ardi nampak kesal sekaligus geli. Saya, Elis, dan Dety hanya bisa tertawa, sambil merasa sedikit bersalah (?).

“Loh kok pada di sini? Ardi bukannya ngajak kumpul di Alam Sunda ya?” akhirnya saya bersuara, walau pun tidak menjawab pertanyaan Ardi, malah bertanya balik.

“Penuh di sana,” kata Ardi singkat sambil menarik salah satu bangku yang kosong dekat kami. Saya kemudian menjelaskan bahwa sebelum Ardi woro-woro di grup, kami bertiga sudah duluan membuat janji dengan titik kumpul yang berbeda dengan yang Ardi sampaikan di grup, jadilah kami nampak seperti kepergok membuat acara sendiri yang lebih eksklusif.

Akhirnya kami berkumpul mengitari meja yang kecil. Rima dan Egi ternyata datang menyusul. Sampai terdengar adzan maghrib, tidak ada seorang pun pegawai tempat makan untuk melayani pesanan kami padahal kami sudah meminta dua kali. Tapi selalu ada hikmah dari hal yang kurang menyenangkan sekalipun. Kalau saya, Elis, dan Dety jadi pesan makanan, mungkin akan merasa nggak enak kepada teman-teman yang lain karena makan duluan. Selain itu, kalau teman-teman yang lain pesan makanan juga, tentu akan bingung bagaimana makannya karena meja kami berukuran kecil sedangkan di tempat makan tersebut sudah tidak ada meja yang kosong.

Setelah sholat maghrib di tempat yang disediakan, kami memutuskan untuk sholat isya dan tarawih di mesjid terdekat, baru kemudian makan malam—jika memungkinkan. Oh iya, Elis ternyata tidak bisa bergabung dengan kami hingga malam karena katanya kebagian menjadi imam sholat (jamaah perempuan) di madrasah dekat rumahnya. Dia pamit pulang tidak lama setelah sholat maghrib.

Setelah sholat isya dan tarawih, kami makan di Alam Sunda (tempat yang sebelumnya hendak Ardi datangi tapi tidak jadi karena sangat ramai menjelang waktu buka puasa). tempat makan ini tidak jauh dari mesjid tempat kami sholat isya dan tarawih, bisa ditempuh dalam waktu sekitar 7 menit dengan jalan kaki. Alam Sunda sudah sepi ketika kami datang. Pegawai tempat makan ini bahkan sudah mulai membersihkan meja-meja. Kami makan sambil tertawa karena datang ketika tempat makan sudah mau tutup. Kami masih makan ketika Suci datang. Seingat saya tidak ada irisan antara himpunan kegiatan saya dan kegiatan Suci selama saya kenal dia. Hanya kelas yang bersebelahan selama tiga tahun di SMA, tapi karena Suci orang yang mudah akrab dengan orang lain, maka saya pun jadi kenal dengan Suci, dan teman-teman saya ini ada yang pernah sekelas dengan dia.

Belum cukup sampai di situ, ternyata setelah makan teman-teman saya masih mau melanjutkan pertemuan kali ini. Ingin makan eskrim, katanya. Saya yang tidak ada partner pulang ke rumah memutuskan untuk pulang duluan selagi masih banyak angkot. Saya pamitan pada teman-teman yang lain. Lisna dan Suci berbaik hati mau menemani saya cari angkot yang setelah ditunggu sekian menit tak kunjung hadir. Ternyata oh ternyata, sedang ada sistem Buka-Tutup jalan skala lokal, berlaku dalam rentang waktu singkat.

Ketika saya sudah di dalam angkot yang masih ngetem—karena sistem Buka-Tutup jalur, ada pesan masuk dari Dety. Katanya di tempat makan eskrim ada Nisa (teman SMP yang masih akrab hingga kini). Hari sudah malam, tapi saya mendapat sebuah penawaran: diantar pulang oleh Nisa asalkan saya turun dari angkot dan bertemu dia dulu. Yah, karena kangen sudah lama tidak jumpa, akhirnya saya turun dari angkot padahal angkot sudah penuh dan akan jalan (karena sistem Buka-Tutup akan dibuka ke arah rumah saya). Menjelang lebaran, jalanan tetap ramai meski sudah malam. Saya yang kesulitan menyeberang jalan kemudian dibantu pak polisi yang baik hati mau membantu saya menyeberang. Terima kasih pak polisi  :)

Saya bertemu Nisa di tempat makan eskrim.

“Ariiiii!”

“Nisaaaa!” Kami sama-sama menjerit kecil sambil berpelukan agak lama. Senang sekali bertemu Nisa.

“Loh kok Ari ada lagi?”

“Naha si Ari aya deui2?”

“Asaan tadi geus pamitan rek uih3...” Teman-teman yang lain malah heran melihatku kembali, padahal tadi sudah berpamitan mau pulang. Aku hanya tersenyum lebar, sesekali tertawa. Ternyata ada yang lebih mengherankan, yaitu Lisna dan Suci yang tadi mengantarku malah belum kembali. Sebelumnya Suci mengajak Lisna untuk mengantarnya membeli sesuatu.

Nisa datang bersama Rayyan. Jadilah kami berkumpul di tempat makan eskrim bersepuluh: saya, Rima, Nisa, Dety, Lisna, Rayyan, Egi, Ardi, Robby, dan Suci. Kami ngobrol ngalor ngidul hingga tempat makan eskrim tersebut menjelang tutup. Yah, walau pun pada akhirnya saya nggak pulang diantar Nisa, tapi tetap diantar.

I am happy for you all, guys. Untuk kabar baik kalian: kabar kalian yang sudah selesai kuliah dan sudah dapat kerja, untuk kabar teman-teman lain yang tidak bisa hadir di tengah-tengah kita, untuk pertemuan yang menyenangkan, untuk pembicaraan yang menyegarkan, dan untuk traktiran mulai dari teh dalam botol hingga eskrim. Perkataan ‘silaturahmi itu membuka pintu rezeki’ benar adanya :)

 Untuk yang belum selesai kuliah, semoga lancar dan segera selesai. Untuk yang belum kerja, semoga dapat rezeki pekerjaan yang baik. Untuk yang sedang menanti jodoh, semoga segera dipertemukan. Yang penting, semoga kalian selalu baik-baik saja. Sukses selalu ya :)

 

 

  1. Ternyata
  2. Kenapa si Ari ada di sini?
  3. Kenapa si Ari ada/datang lagi?

  • view 82