TolongMenolong

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Maret 2017
TolongMenolong

Aku kenal seorang senior di jurusanku. Sebut saja M. Dia adalah seorang mahasiswa pasca sarjana yang sedang melaksanakan penelitian. Kami menggunakan satu laboratorium yang sama. Aku sudah sering melihatnya sejak aku baru masuk jurusan (tingkat dua), hanya saja belum tau bahwa dia adalah kakak tingkat dari jurusan yang sama. Ternyata dia dua tahun di atasku. Dia sangat pintar. Sering menjadi asisten praktikum di beberapa mata kuliah.

Aku baru benar-benar mengenalnya beberapa bulan ini. Aku masih ingat percakapan pertama kami. Saat itu aku sedang kebingungan untuk mengolah secara statistik data penelitianku. Aku sudah bertanya kepada seorang senior juga yang sedang membantu proyek dosen di lab, namun dia kurang yakin dengan jawabannya dan menyarankanku untuk bertanya kepada senior M. Akhirnya aku bertanya kepada senior M. Dengan bantuannya kemudian aku bisa menyelesaikan urusanku soal mengolah data tersebut.

Lama-kelamaan kami semakin akrab. Dia jadi sering bertanya sesuatu kepadaku, seperti apakah ada dosen yang sudah datang ke lab jika aku lebih dulu tiba di lab, atau pertanyaan-pertanyaan remeh tentang apa saja.  Dia sering menitipkan barang-barangnya kepadaku jika hendak pergi sholat atau beli makan, mulai dari tas, handphone, laptop, hingga barang-barang penelitiannya.

Yang kusadari kemudian adalah dia cerdas, tapi tidak mahir mengungkapkan keinginannya. Dia begitu lancar berbicara tentang apa saja yang berkaitan dengan penelitian atau hal-hal ilmiah, tapi di luar itu, kurasa dia agak kesulitan. Aku tau dia sedang melakukan pengamatan yang merupakan bagian dari penelitiannya, dan objek yang harus diamati cukup banyak sehingga akan menghabiskan waktu yang lama. Dia pernah bertanya kepadaku, “Ari penelitiannya tentang apa?”

“Kedelai, kak.”

“Oh... Yang penelitiannya tentang padi cuma Jonas ya?”

“iya, kak.” Sebenarnya ada temanku yang lain yang penelitiannya tentang padi juga, tapi dia sudah lulus.

“Kenapa kak?” tanyaku lagi.

“Yah, berarti yang bisa bantuin saya pengamatan cuma Jonas ya?” Dari kalimatnya itu sebenarnya ada beberapa kemungkinan yang kudapat. Yang pertama adalah dia meremehkan orang-orang di lab bahwa selain yang penelitian tentang padi berarti tidak bisa membantunya, tapi aku yakin bukan itu maksudnya. Yang kedua adalah sebenarnya orang ini ngasih kode untuk minta tolong dibantu, tapi harus basa-basi dulu nggak jelas.

“Hmmm...” aku tidak bisa menanggapi.

“Kakak pengamatannya banyak?” tanyaku akhirnya sambil berjalan menuju malai-malai padinya.

“Ya lumayan,” jawabnya sambil menghitung bulir-bulir padi.

Akhirnya aku menawarkan bantuan. Aku heran, kenapa tidak to the point saja untuk minta bantuan. Toh kalau bicara baik-baik tentu aku bantu kalau aku bisa. Kasihan dia, mungkin merasa tidak enak minta bantuan sehingga bingung untuk menyampaikannya.

Aku jadi ingat malah ada seorang temanku yang kalau minta tolong itu terlalu lancar bilangnya, bahkan jadi kata ‘tolong’nya itu tertinggal. Sebut saja U. Baru saja kemarin, dia tiba-tiba datang ke lab kami dan meletakkan barang-barang souvenir untuk dibagikan ke teman-teman satu jurusan yang wisuda. Dia tipe orang riweuh.

“Eh neng Ari, bisa kali bantuin saya ngebungkus barang-barang,” dia asal banget memanggilku dengan sebutan ‘neng’.

“Oh... bilangnya yang bener dong, U,” kataku kalem. Ya seperti yang kubilang sebelumnya, aku mau bantu siapa saja kalau aku bisa, tapi ya bilangnya yang benar. Jangan sok nyuruh-nyuruh nggak enak. Dia sudah sering begitu ke temanku yang lain.

“Ehem, neng Ari, tolong bantuin saya ya bungkus barang-barang ini,” katanya lebih lembut (?), memperbaiki ucapannya. Dia ini sebenarnya baik dan pintar, hanya kalau riweuhnya sedang kumat pasti jadi gitu, lupa menyertakan kata ‘tolong’. Kemudian aku bantu dia melipat kertas-kertas yang akan dibagikan.

Kembali lagi ke senior M. Setelah dia menjawab “yah lumayan,” temanku malah bersuara “tuh kak, si Ari mau bantuin.”

Ya memang aku berniat membantu, tapi si senior M ini malah bilang “nanti saja, Ri. Kalau sudah di bagian timbang-menimbang. Ini masih kakak hitung, nanti malah bingung.

“Serius nih nggak mau kubantu? Kalau nanti-nanti malah aku nggak tau bisa bantu atau enggak, soalnya mungkin aku ngerjain penelitianku juga.”

“Iya, nanti saja,” jawabnya.

Dan seperti yang sudah kusampaikan, ternyata aku tidak bisa membantunya di waktu-waktu berikutnya karena ketika dia memberi kode lagi untuk dibantu, aku sedang sibuk mengerjakan skripsi yang dikejar deadline sebelum ujian akhir skripsi. Sebenarnya aku merasa tidak enak karena sudah menawarkan jasa membantu, tapi ternyata malah tidak bisa. I really am sorry.

Hingga suatu malam, ketika aku baru tiba dan akan menginap di lab dengan teman-temanku yang lain, aku melihat senior M sedang melakukan sesuatu dengan padi-padinya. Kusapa dia tapi dia tidak seheboh biasanya. Ternyata dia begitu lelah karena sudah berkegiatan dari pagi hingga malam (begitu yang dia ceritakan kepadaku). Dia sudah tidak memberi kode minta dibantu, mungkin sudah lelah karena aku sering tidak menanggapi kodenya itu. Yang kemarin-kemarin itu bukannya aku tidak mengerti, hanya saja aku sedang tidak bisa membantunya, serius!

Akhirnya aku tawarkan jasa membantu. Mungkin itu adalah pertama dan terakhir kalinya aku membantu dia melakukan pengamatan, karena setelahnya aku tidak melihat dia melakukan pengamatan lagi.

Hikmah dari kejadian ini adalah:

  1. Saya percaya bahwa jika kita membantu orang lain maka ketika kita membutuhkan pertolongan, Allah akan kirim bantuan melalui orang lain. Maka jika kita bisa, jangan ragu-ragu menolong orang lain.
  2. Berbicaralah yang baik jika memang ingin meminta bantuan orang lain. Biasakan disertai dengan ‘tolong, maaf, dan terikma kasih’.

 

sumber gambar; http://gardapena.blogspot.co.id/2015/09/tolong-menolong-dalam-islam.html

  • view 66