#Cerita5 Pesan Rahasia

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 3 bulan lalu
#Cerita5 Pesan Rahasia

“Sini, dek. Namanya siapa?”

“Ara, bu.”

Ini adalah guru lesku. Bu Sari namanya. Bu Sari adalah seorang wanita yang usianya sebentar lagi memasuki angka lima puluh tahun. Dia sangat baik, lemah lembut, dan ceria. Banyak anak yang senang belajar dengannya, bisa dilihat bahwa muridnya lebih banyak dibanding beberapa guru les di sini. Padahal kadang bu Sari bisa jadi sangat galak pada beberapa anak yang bandel. Tapi anak-anak itu tetap senang  belajar dengan bu Sari.

“Ibu juga punya anak yang sekolah di sekolahmu. Satu tahun lebih tua dari kamu. Orangnya tinggi, agak gelap, cuek banget. Biasanya pulang sekolah mampir ke sini. Paling sebentar lagi dia datang.”

“Namanya siapa, bu?”

“Namanya...” belum sempat bu Sari menjawab pertanyaanku, terdengar langkah seseorang yang terburu-buru. Berdiri di depan pintu ruang kelas sambil bersandar, wajahnya merah penuh keringat.

“Assalamualaikum!”

“Waalaikumsalam,” jawabku dan bu Sari bersamaan. “Nah, ini dia. Panjang umur, kamu. Lagi diomongin loh padahal.”

“Apa? Mama ngomongin aku?” tanya sang anak.

“Ini nih, Ra, anak ibu. Namanya Irfan. Persis seperti yang ibu bilang tadi, kan?”

Aku tidak bisa menjawab pertanyaan bu Sari. Hanya nyengir sebagai tanda bahwa aku setuju dengannya. Dia memang tinggi, lebih dari rata-rata anak laki-laki di sekolahku. Sedikit gelap, mungkin karena dia sering main bola di lapangan sekolah saat istirahat. Cuek, bisa kulihat dari penampilan dan caranya berbicara meski ini adalah kali pertama melihatnya. Tapi dia tidak seburuk itu. Wajahnya... ehm, manis.

“Ini murid mama, Fan. Namanya Ara. Dia sekolah di sana juga. Kelas 7-A juga loh.”

“Oh...” jawabnya ringan tanpa minat.

***

Ketika aku naik kelas ke kelas 12, mas Irfan masuk kuliah. Sekarang setiap minggu aku belajar di rumah bu Sari.

“Ibu di rumah sendiri?”

“Nggak. Ada mas Irfan. Nggak tau tuh dari tadi diem di kamar. Dia mah sibuk sendiri dengan komputernya. Oh iya dek, alhamdulillah, mas Irfan keterima kuliah di Malang, dik.”

“Alhamdulillah. Masuk jurusan apa bu?”

“Jurusan Matematika, dek. Doain ya mudah-mudahan kuliahnya di sana lancar.”

“Aamiin... Nanti dia pindah. Ibu juga pindah ke Malang.”

“Hah??? Ibu pindah ke Malang juga?”

“iya dek. Kasihan papanya mas Irfan sendirian terus di Malang. Lagian biar bisa lebih mudah memantau mas Irfan,” jawanya sambil tersenyum. “Nanti kalau kamu main ke nenek yang di Madiun, kapan-kapan main ke Malang ya.”

“Iya bu. Ibu juga nanti main-main ke sini loh ya. Nanti nginep di rumah Ara saja.”

“Iya dek, insya Allah.”

Tak lama, setelah perbincangan kami, bu Sari benar-benar pindah ke Malang. Aku sedih karena tidak bisa bertemu di hari saat bu Sari pindah. Hari itu aku sekolah dan rasanya tidak mungkin untuk membolos. Setelahnya, aku sering mengirimi bu Sari pesan singkat (sms). Bu Sari selalu membalas pesan-pesanku. Ternyata bu Sari sangat cerewet jika bercakap-cakap melalui sms, bahkan setelah aku masuk kuliah dan menjadi seorang mahasiswa.

Ara: Assalamualaikum. Bu Sari bagaimana kabarnya? Sedang apa bu?

Bu Sari: Waalaikumsalam. Alhamdulillah, ibu sehat, sayang. Kamu apa kabar? Nih ibu lagi ngajar anak-anak TK.

Nah, satu lagi yang aku agak heran dari bu Sari. Belakangan ini setiap aku mengsms beliau, beliau sering menyebutku sayang. Padahal sejak dulu beliau tidak pernah memanggilku sayang. Selalu dek, atau langsung menyebut namaku, Ara. Tapi aku tidak keberatan dipanggil sayang oleh bu Sari.

Ara: Wah, ramai dong bu. Muridnya ada berapa?

Bu Sari: Iya ini ramai sekali. Ibu samapi pusing nih. Pada senang lari-lari di sini. Hihihi...

Kamu lebaran ini ke rumah nenek yang di Madiun nggak, dek?

Ara: Kurang tau, bu. Ayah masih sibuk kerja.  Kemungkinan lebaran kali ini Ara tidak ke rumah nenek yang di Madiun. Ibu berlebaran di mana tahun ini?

Bu Sari: Ibu mah lebaran di sini aja sayang. saudara yang lain lagi pada pingin main ke Malang, katanya.

Kamu belajar yang bener ya dek. Jangan kayak mas Irfan. Kerjaannya rapat terus, ikutan BEM.

Pulang malem terus. Kemarin saja dia sakit gejala tipes.

Ara: Oh iya bu? Lah kok bisa sakit? Terus sekarang gmana bu? Sudah sembuh?

Bu Sari: Ya nggak gimana-gimana, cantik. Sekarang mah udah sembuh, alhamdulillah. Pokoknya kamu jangan sampai telat makan, jangan terlalu sering bagadang. Harus sering olahraga juga.

Ara: Iya, bu Sari :)

***

Mas Irfan POV

Ara: Iya, bu Sari :)

“Kamu kenapa, Fan? Kok senyam-senyum sendiri sambil mandangin handphone mama?”

“Eh, nggak kok, ma. Ini, aku lagi mainan game.”

Game apa?” mata ibu menyipit. Dia curiga padaku.

“Ish, mama. Mau tau aja urusan anak muda.” Aku segera pergi membawa handphone mama untuk menyelamatkan diri.

Tadi aku baru saja berbincang-bincang dengan Ara. Yaah, meskipun Ara pasti tidak tahu bahwa yang membalas pesan-pesannya selama ini adalah aku. Haha... sudah lama aku melakukan hal ini. meminjam handphone mama dan membalas pesan Ara. Terkadang bahkan aku yang terlebih dahulu mengirimi Ara pesan, berpura-pura menjadi mamaku.

Kalian pikir aku pengecut? Terserah kalian! Sampai saat ini aku belum berani mengungkapkan jati diriku kepada Ara. Aku menyukainya sejak pertama kali bertemu. Sejak kami masih sama-sama duduk dibangku SMP. Kala itu aku baru saja pulang sekolah dan langsung menuju tempat di mana mama mengajar. Dengan langkah besar-besar aku bergegas ke sana karena cuaca saat itu sangat terik. Aku bersandar di pintu kelas. Dengan nafas terengah, aku mengucapkan salam. Namun ternyata bukan hanya suara mama yang aku dengar. Ada suara lain yang menjawab salamku.

Sejak saat itu, aku selalu memperhatikan Ara. Baik di sekolah ataupun di tempat mamaku mengajar, aku selalu mencari keberadaannya. Ketika aku sedang asyik mengamatinya di tempat mamaku mengajar, tiba-tiba kepalanya terangkat dan mata kami bertemu. Mata bewarna cokelat terang dengan bulu mata yang lentik. Aku langsung mencari objek lain sebagai pelarianku. Kuharap dia tidak sadar bahwa aku selalu mengamatinya. Namun aku tidak bisa selalu memperhatikannya. Ada kalanya aku harus membantu mama mengajari muridnya yang masih kecil-kecil karena murid mama memang terbilang banyak sehingga tidak dapat memperhatikan Ara. Tapi bagiku itu tidak mengapa. Selain memandangi Ara diam-diam, kesenanganku yang lain adalah mengajar anak-anak kecil itu. Mereka semua sangat lucu.

Setelah lulus SMP dan masuk SMA, Ara tidak lagi belajar di tempat bimbel itu. Aku pun sudah jarang datang ke sana karena selalu pulang sore. Namun entah bagaimana bisa, di suatu siang di hari minggu, ketika aku sedang berada di dalam kamar, aku mendengar suara gadis yang kurindukan. Aku mencoba untuk mendengar suara itu demi mengetahui kebenaran pemilik suara. Ternyata dia benar Ara. Di beberapa minggu berikutnya, Ara selalu datang ke rumahku untuk belajar dengan mama. Ketika Ara datang, aku hanya diam di dalam kamar, mendengar dan merekam suaranya di dalam memoriku. Terkadang aku berusaha mengintip dari lubang kunci pintu kamarku untuk melihat Ara. Aku merasa kala itu menjadi seorang pengecut karena untuk berpapasan dengannya pun aku tidak berani. Sungguh payah. Ara hampir setiap minggu datang ke rumahku. Selama itu pula aku selalu diam mendengar suara Ara di balik pintu.

Kali ini aku dan Ara memang harus terpisah lagi. Aku diterima kuliah di Malang. Mamaku juga akan pindah. Sesungguhnya aku sangat ingin bertemu dengan Ara, mungkin untuk yang terakhir kali. Namun kata mama Ara tidak bisa datang karena dia sekolah. Setelah pindah ke Malang, Ara masih berkomunikasi dengan mamaku.

“mas Irfan, tolong cek handphone mama. Tadi bunyi, kayaknya ada sms masuk.”

Ketika kulihat, ternyata Ara!

“Ada pesan dari Ara nih, ma!” seruku.

“Dia bilang apa, mas?”

“Hmmm... dia nanya kabar mama.”

“Tolong bales dong mas. Mama lagi masak di dapur.”

Seketika aku gugup. Seolah-olah Ara ada tepat di hadapanku.

“Ja-ehm... jawab apa?”  aku mendapati suara sendiri serak karena gugup.

“Ya bilang saja kabar mama baik, alhamdulillah.”

“Terus?”

“Terserah kamu mau bales apa.”

Sejak saat itu aku sering membalas pesan Ara atas nama mamaku. Suatu kali aku tidak sadar memanggil Ara dengan sebutan sayang. Padahal mamaku biasanya memanggil Ara hanya dek. Astaga! Untungnya Ara tidak apa-apa dengan sebutan sayang yang awalnya tidak sengaja aku ketik. Selanjutnya Aku selalu menyebut Ara dengan sebutan sayang, atau cantik. Haha... Bahkan mamaku tidak tahu mengenai hal ini. biar saja menjadi rahasia aku, Ara, operator, dan Tuhan~

 

 sumber gambar: http://www.indotipstricks.net/2015/09/cara-kirim-sms-gratis-semua-operator.html

Dilihat 139