#Cerita4 Jebakan Manis

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Februari 2017
#Cerita4 Jebakan Manis

Hari ini adalah hari ketiga ulangan kenaikan kelas. Anggi keluar kelas setelah berkutat dengan soal fisika yang tidak terlalu disukainya. Tidak lama kemudian, Desi menyusul Anggi segera keluar kelas karena sudah menyelesaikan soal-soal ulangannya. Anggi dan Desi bersahabat sejak SMP. Bahkan hingga duduk di bangku kelas X mereka masih bersahabat dan nampaknya persahabatan mereka semakin erat.

Sistem ulangan di sekolah Anggi dan Desi agak unik, yaitu setiap kali ulangan, ruang kelas akan ditempati oleh sebagian adik kelas, dan sebagian kakak kelas. Jadi jika dalam satu kelas terdapat dua puluh meja dengan dua orang dan dua bangku pada setiap meja, maka meja tersebut akan ditempati oleh seorang siswa kelas X dan seorang siswa kelas XI, atau seorang siswa kelas XI dengan seorang siswa kelas XII. Anggi dan Desi yang sekarang masih kelas X melaksanakan ulangan kenaikan kelas dengan siswa kelas XI.

Ulangan kali ini sangat horor bagi Anggi, bahkan lebih horor dibanding ulangan mid semester lalu. Bukan mengenai soal-soal ujiannya, namun tentang kakak kelas yang berada satu ruangan dengannya. Anggi kelas X-2 ditempatkan dalam satu ruang kelas dengan siswa kelas XI-IPA 1. Di kelas XI-IPA 1 ini terdapat orang-orang usil dan jahil yang senang menggoda Anggi. Beberapa  siswa kelas XI-IPA 1 yang ada di kelas ini tahu bahwa Anggi sedang ‘dekat’ dengan salah satu kakak kelas dari kelas tersebut. Bayu namanya. Untung saja ulangan kali ini Anggi tidak berada dalam satu ruangan yang sama dengan sang kakak kelas karena pada ulangan mid semester lalu Anggi berada dalam satu ruangan yang sama dengan Bayu selama ulangan, hanya saja pada saat itu mereka belum saling kenal.

Ruang kelas hampir sepi ketika Anggi dan Desi memutuskan untuk pulang setelah saling bertukar buku catatan untuk persiapan ulangan esok hari. Namun setelah beberapa langkah, Desi berhenti. Dia melihat buku catatan milik seseorang tergelatak di dekat pintu kelas.

“Eh ini ada buku, Nggi.” Mereka berinisiatif untuk mencari tahu nama sang pemilik buku dengan membuka buku tersebut.

“Waaah, tulisannya bagus ya, Des.”

“Heh, bagus bagus, ini buku orang ketinggalan. Kasihan kalau mau dipakai belajar besok. Ini buku punya kak Sasa,” kata Desi setelah melihat nama sang pemilik buku di halaman pertamanya.

“Kak Sasa mana ya, Des? Jangan-jangan dia sudah pulang,” Anggi dan Desi celingak-celinguk mencari orang yang dimaksud.

“Nah itu kak Sasa, Nggi! Ada di depan koperasi sekolah.” Ternyata Kak Sasa ada di depan koperasi dekat gerbang sekolah, bersama tiga laki-laki lainnya. Jarak koperasi dan kelas di mana Anggi dan Desi berada tidak terlalu jauh, hanya sekitar tiga puluh meter. Tapi, tunggu dulu! Sepertinya Anggi kenal dengan tiga orang lainnya yang bersama kak Sasa. Di sana ada kak Rifki yang merupakan pacar kak Sasa, ada kak Dimas yang merupakan teman sekelas kak Sasa dan kak Rifki, serta... kak Bayu. Dia di sana juga. Mereka berempat sedang tertawa bersama, mungkin sedang membicarakan suatu hal lucu. Melihat ada kak Bayu di sana, seketika Anggi gugup. Selalu begitu jika melihat kak Bayu. Mungkin gugup karena salah tingkah.

“Ayo, Nggi. Kita anterin buku ini ke kak Sasa. Tuh mumpung orangnya belum pulang. Kasihan kalau dia nggak bisa belajar untuk ulangan besok.”

Ketika Desi akan melangkah menuju koperasi, Anggi memegang pergelangan tangan Desi dan menahannya.

“Em... gimana kalau kita panggil aja kak Sasa supaya dia ke sini?” tanya Anggi ragu-ragu.

“Ish, kamu kok gitu sih? Itu namanya nggak sopan. Lagian kan sekalian kita pulang, Nggi.”

“Hem, tapi... a-aku...” sebelum Anggi menyelesaikan kalimatnya, Desi sudah berkata lagi.

“Duh, lama kamu mah. Yuk ah, biar kita sekalian pulang.”

“Ta-tapi, aku nggak mau bawa buku itu. Kamu saja ya yang bawa. Terus sekalian kamu yang kasih buku itu ke kak Sasa.”

“Iya, Nggi, iyaaa.”

Desi melangkah pasti sedangkan Anggi melangkah ragu-ragu. Dia tetap memegang tangan Desi supaya tidak segera sampai di depan koperasi.

“Eh, ada Anggi sama Desi. Kok belum pulang?” tanya kak Sasa ketika dua perempuan itu sudah sampai di depan koperasi. Pertanyaan yang terlontar seperti pertanyaan basa-basi karena nampaknya dari tadi sepertinya kak Sasa juga melihat Anggi dan Desi saat masih di depan kelas.

“Iya kak, tadi tukeran buku catatan dulu untuk belajar nanti, hehe...” jawab Desi dengan senyuman misterius. Anggi terlalu gugup untuk berbicara apapun.

“Oh iya kak, ini bukunya tertinggal di depan kelas,” kata Desi sambil menyerahkan buku yang dipegangnya kepada kak Sasa.

“Terima kasih ya, Desi dan Anggi,” suara kak Sasa lagi, terdengar tidak terkejut bahwa buku catatannya tertinggal di depan kelas tadi. Setelah itu kak Sasa dan Desi berbicara beberapa hal lain dengan kak Sasa, Anggi tetap hanya diam. Dia merasa terlalu awkward dengan situasi ini. Anggi kemudian ingin sedikit melirik ke arah tiga laki-laki lain yang ada di dekat kak Sasa. Sekilas matanya melihat kak Rifki yang sedang berbincang dengan kak Dimas. Kemudian dia melirik ke laki-laki berikutnya, dia terkejut. Mata mereka berdua beradu pandang. Ternyata kak Bayu sedang menatap Anggi sambil tersenyum. Anggi tidak bisa bereaksi apapun. Terlalu gugup. Dia masih melihat kak Bayu. Kemudian dia menangkap bibir kak Bayu yang bergerak, seperti berbisik ‘bagaimana tadi ulangannya? Bisa?’ namun Anggi tidak yakin bahwa kak Bayu bertanya kepadanya.

“Hah?” refleks suaranya terdengar meski pelan, semacam meyakinkan dirinya bahwa kak Bayu bertanya kepadanya. Atau mungkin untuk memperjelas pertanyaan kak Bayu. Kak Bayu masih tersenyum. Kemudian dia berbicara agak kencang sehingga Anggi yakin bahwa kak Bayu benar-benar bertanya kepadanya, “bagaimana tadi ujiannya? Lancar?”

“I-iya...” jawab Anggi sambil mengangguk samar. Anggi masih tidak sadar dengan keadaan di sekitarnya hanya dengan mendengar suara kak Bayu. Masih dengan keheranannya, kemudian dia merasa ada yang menarik lengannya.

“Yuk, Nggi, kita pulang. Kakak-kakak semua, kami duluan ya.”

“Iya, hati-hati ya kalian,” kata kak Sasa, kak Rifki, dan kak Dimas.

Anggi seperti setengah diseret oleh Desi saat berjalan menuju gerbang sekolah. Dia sempat menengok ke arah kakak-kakak kelasnya sebelum benar-benar pulang. Anggi melihat kak Bayu yang ternyata masih melihat ke arahnya sambil tersenyum. Dia melihat kak Bayu berbicara tanpa suara “jangan lupa makan ya,” kemudian tersenyum kembali ke arah Anggi. Anggi mengangguk sekilas dan sedikit tersenyum. Kemudian Anggi dan Desi menaiki angkutan umum yang lewat depan sekolah menuju rumah mereka.

*** 

Flashback beberapa jam sebelumnya sebelum ulangan dimulai.

Desi mendapat pesan dari kak Sasa

Kak Sasa: Des, nanti pulang sekolah ada acara nggak sama Anggi?

Desi: nggak kak. Eh tapi aku nggak tau, apakah Anggi nanti ada acara lain sepulang sekolah atau tidak. Kenapa, kak?

Kak Sasa: Tolong tanya ke Anggi dong, Des. Tapi jangan bilang kalau aku yang tanya.

Desi: Ok, kak. Tunggu bentar ya.

Beberapa menit kemudian...

Desi: kak, Anggi bilang dia nggak ada acara apapun hari ini. setelah ulangan hari ini mau langsung pulang katanya. Kenapa sih kak?

Kak Sasa: Des, aku mau minta tolong dong. Aku lihat Bayu beberapa hari ini agak murung. Mungkin karena sudah beberapa hari ini tidak melihat Anggi. Wkwkwk...

Aku, Rifki, dan Dimas berencana untuk mempertemukan Bayu dan Anggi. Nanti sepulang sekolah aku akan menaruh buku catatanku di depan ruang ulangan kalian. Kalian harus menemukan bukuku ya, dan buat seolah-olah bukuku tertinggal. Aku, Rifki, Dimas, dan Bayu akan menunggu di depan koperasi sekolah. Nanti kalian antar buku itu ke aku. Kamu nanti ngobrol sama aku, Rifki ngobrol sama Dimas, so Bayu bisa ngobrol sama Anggi. :D

Desi: Ah, got it! I can make it works, kak. Tapi urusan Anggi ngobrol sama kak Bayu, aku nggak begitu yakin. Anggi pasti akan sangat gugup dan jadi gagap, kak. Dia nggak akan bisa ngomong apapun di depan kak Bayu. Huahaha...

Kak Sasa: Hihihi... Parah kamu, Des, ngatain temen sendiri. tapi kita coba dulu aja ya. Biar si Bayu nggak ngamuk terus kayak angin puting beliung..

Desi:Ok, kak. See you.

Kak Sasa: See you (emot smirk)~

 

 

sumber gambar: http://jeqweb.com/gambar-kartun-anak-sekolah/

  • view 196