Tak selamanya menangis membuatmu tampak lemah :)

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Januari 2017
Tak selamanya menangis membuatmu tampak lemah :)

Bagi beberapa orang, menangis adalah satu hal yang memalukan. Terkadang saya pun merasa begitu. Namun pada suatu saat, ternyata saya justru menangis di hadapan teman saya. Bukan hanya satu, bahkan saya pernah menangis di tengah kehadiran 10 orang teman. Tadinya saya berusaha untuk tidak menangis karena merasa apa yang saya rasakan adalah suatu hal kecil yang tidak perlu saya tangisi, meyakini bahwa di luar sana banyak orang yang memiliki masalah lebih besar dan mereka tetap tidak menangis.

Sekitar satu tahun yang lalu saya mengalami kejadian yang 'agakmenampar'. Dalam suatu rapat dengan dihadiri sekitar 10 orang, saya berhadapan dengan seorang wanita yang saya anggap sangat mengerikan saat itu. Terucap sedikit kekeliruan yang membuat dia bebicara dengan keras dan berkata tidak akan peduli lagi dengan apa pun projek kami saat itu. Itu benar-benar membuat saya terkejut. Setelah rapat itu selesai, saya dan seorang teman (W) masih tetap shock dengan yang sudah terjadi beberapa menit yang lalu. Kami berdua menagis di salah satu sisi kampus, sedangkan yang lain kembali ke ‘markas’. Entah kenapa sejak kejadian itu kami berdua menjadi antipati dengan perempuan itu, dan tidak ingin berurusan dengan dia lagi. Dia menimbulkan sebuah trauma bagi kami berdua.

Satu yang berbeda antara saya dan teman saya adalah, dia bisa dengan jujur menunjukkan antipatinya terhadap wanita itu, sedangkan saya tidak bisa. Saya malah bersikap biasa saja seolah tidak pernah ada kejadian apa pun yang melukai kami dulu. Namun bagi saya hal ini justru lebih menyeramkan dibandingkan dengan menampilkan wajah sebal tanpa harus berpura-pura. Saya membayangkan jika ada orang lain yang berperilaku baik terhadap saya namun nyatanya dia sebal setengah mati kepada saya tanpa tau kesalahan dan atau kesalahpahaman yang ada di antara kami.

Selama beberapa bulan saya berusaha untuk memaafkan segala hal buruk yang pernah terjadi dengan wanita itu dan saya pikir hal itu berhasil. Namun ternyata saya salah. Saya baru benar-benar mengetahuinya sebulan yang lalu, ketika saya menangis di di tengah 10 teman saya.saya tidak lagi merasakan mereka sebagai teman, tapi lebih dari itu. Mereka adalah keluarga saya yang kami ciptakan bersama.

Saat itu, kami berkumpul dan berencana membuka segala rahasia yang pernah ada. Yah setidaknya mengutarakan unek-unek jika memang ada. Beberapa orang menyampaikan unek-unek dan rahasianya. Hingga akhirnya G meminta saya untuk berbicara, apa saja. Tadinya saya tidak ingin menyampaikan apa pun, karena tidak ada yang mengganjal. Namun G terus mendesak saya. Sambiil tetap menunggu saya berbicara, L membantu dengan memberikan sedikit clue. Dia memberi pancingan dengan mengucapkan kejadian saat saya dan teman saya menangis bersama malam hari setelah rapat dengan wanita menyeramkan itu.

Baiklah, saya putuskan untuk menyampaikan bagaimana perasaan saya saat itu. Ternyata tidak mudah menyampaikan hal yang sudah saya tutup itu. Bahkan saya tidak bisa berbicara karena sudah ingin menangis. Akhirnya saya menangis sambil menceritakan hal buruk itu. Saya ingat lagi perasaan sedih ketika orang-orang berkata sinis. Saya sempat bilang bahwa mungkin kejadian itu adalah salah satu kejadian buruk yang mungkin tidak pernah akan saya lupakan, namun saya tidak menyalahkan siapa pun atas pengalaman buruk ini. Saya menangis beberapa saat dan yang lain tetap diam mendengarkan.

Setelah beberapa saat, kami mengakhiri pertemuan kami kala itu. Yang saya sadari keesokan harinya adalah perasaan saya menjadi lebih ringan dan di dua hari berikutnya saya justru mulai lupa dengan pengalaman buruk itu. Saya sangat heran dengan yang terjadi pada saya. Saya rasa, menangis malam itu membuat saya bisa mengeluarkan duri dalam hati, mengungkapkan ketidaknyamanan perasaan saya selama beberapa bulan ke belakang. Saya baru menyadari bahwa sebelum tangisan saya malam itu saya belum sembuh dari perasaan terluka saya. Saya baru menyadarinya ketika perasaan saya menjadi jauh lebih baik setelah tangisan itu.

Saya senang karena malam itu G memaksa saya untuk berbicara mengenai hal apa pun.

Jadi, tidak ada yang salah dengan menangis. Jika dengan menangis perasaanmu menjadi lebih baik, maka menangis saja. Itu adalah satu hal manusiawi. Jika ada temanmu yang perasaannya sedang tidak baik, maka kamu bisa bantu untuk meringankan perasaannya. Tapi tidak perlu memaksanya menangis seperti G memaksa saya. Mengeluarkan duri dalam hati bisa melalui berbagai cara. Bisa saja dengan berteriak kencang di satu tempat terbuka, dengan melakukan olahraga, atau sekedar berjalan santai sambil mendengarkannya berbicara.

 

Semoga yang perasaannya sedang tidak baik bisa segera merasa lebih baik. Untuk kalian yang perasaannya baik-baik saja, semoga selalu bahagia. :)

 

sumber gambar: http://she-fha.blogspot.co.id/2011/07/first-love-crazy-little-thing-called.html

  • view 104