Bukan pernyataan gagal move on, serius!

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Lainnya
dipublikasikan 09 Januari 2017
Bukan pernyataan gagal move on, serius!

Bertemu denganmu enam tahun lalu adalah salah satu takdir Tuhan yang membuatku belajar banyak hal. Aku berusaha lebih giat belajar, berusaha menjadi siswa yang lebih aktif, bahkan berusaha lebih mendalami agama meski pun pada saat itu niatku belum benar-benar lurus. Tapi aku belajar banyak hal. Yang kurasa pada saat itu adalah kamu membawa banyak kebaikan untukku, meski pun terkadang kamu jadi sangat menyebalkan. Kita menjalin hubungan yang tidak semestinya, karena belum saatnya. Hubungan yang aneh, kata temanku. Kita tidak pernah benar-benar berbincang berdua, tidak pernah benar-benar jalan bersama. Bahkan jika aku atau kamu hendak saling meminjamkan barang, sering kali melalui perantara. Teman sebangkumu yang ternyata sedang ‘dekat’ juga dengan teman sekelasku.

Sering kali ketika berangkat ke sekolah aku berjalan di belakangmu, tanpa sengaja menghafal warna dan bentuk tas, sepatu, dan jaket yang kamu pakai ke sekolah.

Mungkin kamu tidak tau, ada semacam ‘alarm’ dalam diriku jika hal tersebut berkaitan denganmu. Aku sudah sering kali mengalaminya dulu. Jadi begini, setiap kali aku pergi di sekitar sekolah, misalkan ke toilet, kantin, ruang guru, atau lapangan basket, aku selalu degdegan jika tak lama kemudian aku bertemu atau berpapasan denganmu. Selalu! Entah kenapa hal itu bisa terjadi. Aku saja masih heran hingga saat ini.

Satu bulan, dua bulan, hingga sembilan bulan kita menjalin hubungan aneh ini. hingga suatu hari aku berdiskusi dengan seorang sahabat mengenai isu yang terjadi di rohis sekolah, tentang ‘pacaran’. Hal ini tentu saja berkaitan dengan aku dan kamu, karena kamu salah satu pengurus organisasi ini, dan aku pengurus OSIS yang mana bidang yang kuurus berkaitan dengan rohis sekolah. Aku sangat ingin tau bagaimana tanggapanmu tentang hal ini, namun aku tidak berani menanyakannya karena bagaimana pun sebenarnya aku tidak rela jika harus mengakhiri hubungan. Kufikir berkali-kali, kuakui bahwa yang kita jalani ini salah. Mungkin saja orang-orang mulai melakukan ‘pacaran’ karena meniru kita. Mungkin kita yang memberi contoh tidak baik kepada orang lain. Dalam proses berfikir yang singkat ini, aku sambil mempersiapkan diri jika kelak kita memang harus mengakhiri hubungan.

Suatu malam datang pesan darimu. Sedikit basa-basi seperti biasa, kemudian kamu bertanya padaku apakah sudah tau kabar mengenai isu yang ada di rohis sekolah. Aku jawab ‘ya, aku tau’. Aku tidak tau bagaimana keadaanmu saat itu, yang jelas aku sendiri sudah mulai gemetar, menyadari bahwa kamu yang akan memutuskan lebih dulu hubungan kita. ‘karena satu dan lain hal, sepertinya kita harus selesai di sini,’ katamu. Aku hanya menjawab ‘iya’. Kupikir setelah malam itu aku akan tetap baik-baik saja, namun ternyata tidak. Aku banyak berfikir, seharusnya aku lebih berani untuk menanyakan kabar tersebut kepadamu lebih dulu, seharusnya aku menanyakan alasanmu yang mejadi dasar selesainya hubungan kita. Aku sudah mempunya asumsi sendiri, namun bagaimana pun aku tetap ingin mengetahuinya langsung darimu. Seharusnya kita mengakhiri hubungan lebih awal supaya tidak terlalu banyak memakan perasaan. Itu adalah hal-hal yang kupikirkan kala itu.

Selesai masa SMA, ternyata aku dan kamu masuk universitas yang sama. Kamu masuk satu tahun lebih dulu karena satu tahun lebih tua dariku. Mungkin kamu tidak tau, alarm dalam tubuhku ternyata masih bekerja. Sejak dulu, melihatmu dari kejauhan saja sudah membuatku gugup. Hanya kamu yang membuatku begitu. Di kampus kita sudah sangat jarang berkomunikasi. Bahkan jika berpapasan denganmu, aku selalu terkesan ‘menghindar’ dengan menjauh darimu. Namun hal itu aku lakukan karena aku terlalu gugup hanya karena melihat atau mendengar suaramu.

Hingga kemudian, di awal tahun ini, aku dikagetkan dengan suatu undangan pernikahan yang beredar di media sosial. Undangan pernikahanmu dengan seseorang yang tidak kukenal. Aku mengalami ‘kaget dan tidak kaget’ pada saat yang bersamaan. Kaget karena tidak menyangka bahwa kamu akan menikah di umur yang masih muda untuk ukuran seorang laki-laki, dan tidak kaget karena kurasa kamu akan memilih wanita yang lebih anggun, yang lebih siap, dan yang lebih sepemikiran denganmu dibanding aku yang masih berstatus mahasiswa ini.

Dulu aku sempat berbincang dengan seorang teman yang lain, ‘bagaimana jika ada laki-laki yang datang kepadamu (untuk mengajak menikah) sedangkan kamu masih menunggu dan mengharapkan orang lain, yang mungkin adalah seorang dari masa lalumu?’. Pertanyaan itu sebenarnya aku tujukan untukku sendiri, namun karena aku tidak berhasil menjawab pertanyaan tersebut, maka kutanya pada orang lain. Rupanya temanku itu sama bingungnya. Kemudian aku mencoba memberi opsi padanya ‘apa mau menunggu orang dari masa lalu itu dan memastikan dia menikah lebih dulu sehingga kemudian kita bisa menikah dengan orang lain dengan lebih tenang tanpa memikirkan kemungkinan bahwa sang masa lalu itu ternyata ingin menikah denganmu juga?’. Setelah diam beberapa saat, kemudian dia menjawab ‘sepertinya tidak. Aku lebih baik menikah dengan siapa pun yang datang lebih dulu daripada menunggu sang masa lalu menikah duluan, terlepas bagaimana pertimbanganku untuk menikah. Bagaimana pun masa depan kelak, jika dia adalah jodohmu, tidak peduli seberapa jauh terpisah, tentu akan bertemu lagi. Tapi jika dia tidak bersamamu di masa depan, mungkin dia bukanlah jodohmu. Mungkin dia bukanlah yang terbaik untukmu.’

Aku setuju dengannya. Jika kemudian kita tidak bersama, tentu itu bukan masalah. Kamu memang baik, tapi kuanggap kamu bukan yang terbaik untukku. Mungkin kamu adalah ‘yang terbaik’ bagi yang lain. Ini bukanlah tulisan pernyataan aku gagal move on, serius! kutulis ini hanya karena aku ingin menyampaikan bahwa aku baik-baik saja kamu menikah dengan yang lain. Semoga segala sesuatunya lancar, segala sesuatunya berkah. :)

 

sumber gambar: https://www.pinterest.com/pin/60094976247922405/

  • view 80