You Make me Cry

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Desember 2016
You Make me Cry

Tanggal 17-18 Desember kemarin saya dan teman-teman BEM KM pergi ke Pandeglang, tepatnya ke Tanjung Lesung. Tanjumg Lesung adalah satu dari sekian pantai yang dimiliki Pandeglang. Agenda kami adalah untuk melaksanakan misi terakhir dari sebuah perjalanan yang panjang selama setahun ini, yaitu LANDING. Mengusung tema ‘perjalanan luar angkasa’ BEM KM kini siap untuk mendarat. Tugas langit sudah kami selesaikan. Ada sekitar 100 dari 160-an pengurus BEM KM yang ikut farewell ini. Kemdik sendiri alhamdulillah bisa full team, 11 orang datang semua meskipun tidak semuanya berangkat bersama. Ari, Dana, Ifah, Insan, Golbi, Rio, dan Alfi ikut kloter 1 yang berangkatnya hari Sabtu pukul 3 dini hari. Yoga, Wike, Lilis, dan Wulan ikut kloter 2 yang berangkat pada Sabtu siang. Mba Wulan ini seharusnya ikut kloter 1, tapi menjelang waktu keberangkatan dia masih belum datang ke ATM Center (tempat berkumpul untuk keberangkatan). Ditelepon berkali-kali tidak diangkat. Dikirimi pesan via Whatsapp ternyata hanya centang 1, mungkin paket internetnya sedang dimatikan. Akhirnya diputuskan supaya Wulan ikut kloter dua saja.

Kami sholat subuh di rest area. Setelah sholat subuh Alfi bilang bahwa Wulan tadi menelepon (eh, atau ditelepon ya? Lupa). Katanya dia kesiangan. Suara telepon yang berkali-kali itu tidak terdengar, katanya. Mungkin ‘radar’nya Wulan ikut nonaktif ketika Wulan tidur. Padahal dia sudah prepare segalanya untuk ikut pemberangkatan kloter 1 ini. Kami melakukan dzikirpagi bersama dipimpin oleh bapak Momogi. Ini salah satu poin baik dari perjalanan kami.

Sekitar jam 6-an kami sampai di alun-alun Serang. Kami diberi misi untuk membentuk kelompok kecil (5 orang) dan sarapan bersama kelompoknya. Alfi melihat patung macan putih (benar-benar putih tanpa corak apapun) dan ingin foto di depan patung setelah sarapan. Setelah sarapan dan foto di depan patung macan albino (?) kami melanjutkan perjalanan. Memasuki kabupaten Pandeglang, ingatan saya tentang KKNP seperti bangkit lagi. Membaca tulisan Cadasari, Cigadung, Mengger, ah... Rindu sekali berpetualang di tempat ini. sampai pertigaan Mengger ternyata kami belok ke kiri, ke arah Cimanuk. Yah wajar saja karena rasanya tidak mungkin sulit ke Tanjung Lesung melewati Pulosari dan tanjakan Banganga-nya dengan bus kami yang full seat.

Sebenarnya saya ingin tetap terjaga selama perjalanan hingga sampai di TKP, tapi ternyata tidak bisa. Belum melewati kecamatan Cimanuk saya sudah tidur. Saya bangun ketika sudah dekat daerah Panimbang. Melihat rawa-rawa dengan banyak pohon bakau. Ifah dan Dana sempat bertanya tentang pohon apa yang ada di sana dengan daun-daunnya yang kuning. Saya sendiri tidak yakin pohon apa yang mereka maksud. Tidak jauh dari tempat ini Haekal (ketua pelaksana farewell) mengucapkan “selamat datang di jalan Tanjung Lesung”, padahal mah saya tau Tanjung Lesungnya masih jauh, yang dekat tu pantai Carita yang di Labuan. Terbukti ternyata sekitar dua jam setelah Haekal mengucapkan selamat datang itu barulah kami benar-benar sampai di penginapan yang sudah dipesankan panitia. Wkwkwk...

Penginapan benar-benar terletak di dekat pantai. Dari dalam penginapan kami bisa mendengar suara deburan ombak yang kecil-kecil itu. Setelah pembagian kamar, ishoma, kami berkumpul lagi untuk bermain. Untuk pembagian kamar, entah kenapa anak-anak Kemdik tu secara alami selalu berkumpul. Tapi untuk urusan kamar ini mungkin memang sengaja satu kementerian ditempatkan dalam penginapan yang sama ya (tentunya perempuan dan laki-laki ditempatkan terpisah ya).

Setelah games, kami punya waktu luang untuk melakukan apa saja dan berkumpul lagi pada pukul 9 malam setelah rombongan kloter 2 datang. Sore hari saya, Ifah, Alfi, Dana, Insan, dan Golbi jalan menyusuri pantai sambil mencari kerang-kerang yang unik. Golbi berusaha mengajari saya dan Alfi melempar batu yang bisa loncat di atas air, tapi tetap tidak bisa. Kami hanya mencapai skill ‘hampir bisa’. Sampai besoknya Golbi masih berusaha mengajari saya tentang melempar batu ini (terima kasih, Gol). Kami berbagi cerita tentang berbagai hal dan berfoto. Ada Fajar juga yang menyusuri pantai, dia berjalan lebih jauh dari kami. Rasanya aneh ketika kami berkumpul dan tidak membicarakan hal apapun tentang proker. Kami mendengar cerita Golbi yang katanya dulu dia tidak tau caranya tertawa dan sampai sekarang tidak tau caranya tersenyum. Just do it naturally, Gol :)

Ketika kami masih duduk-duduk, Fajar kembali dengan membawa kayu besar yang katanya akan dipakai untuk api unggun nanti malam. Dia jalan duluan smabil menggeret batang pohon itu sehingga meninggalkan bekas di atas pasir. Beberapa meter dia berjalan, dia berbicara agak keras “hei, ini aku buatkan jejak ya untuk jalan kalian kembali ke penginapan.” Hahaha... Terima kasih, Fajar.

Setelah sholat isya dan makan malam saya, Ifah, Dana serta Alfi memutuskan untuk berdiam di dalam penginapan. Ternyata banyak yang kelelahan setelah perjalanan tadi. Banyak yang masuk angin. Saya minta tolong ke Sasa untuk menanyakan rombongan kloter 2 sudah sampai mana, Sasa bilang ‘sudah dekat, kak.” Benar saja, tak sampai 5 menit saya mendengar suara bus di luar penginapan. Alhamdulillah mereka sudah datang. Wike, Lilis, dan Wulan ditempatkan di penginapan sebelah penginapan kami.

Setelah pukul 9 kami diminta berkumpul. Ada semacam awarding night untuk pengurus BEM KM, mulai dari pengurus BEM KM terayo, tergerak, terinspiratif, termisterius, termelankolis dan 3 ter- lainnya, tergercep, terdrama, dan 5 nominasi lainnya yang tidak saya ingat. Golbi dan Rio masing-masing dapat nominasi tergercep dan terdrama sesuai dengan yang saya vote. Huahaha... Wike, Lilis, Wulan, dan Yoga gabung dengan kami tidak lama kemudian. Senang sekali kemdik bisa kumpul lagi. Kemdik sepertinya menang nominasi paling banyak. Selain Rio dan Golbi, dapat juga nominasi menteri terdaebak (Insan), bendahara terdaebak (Wulan), staf terdaebak (Golbi lagi), dan kementerian terdahsyat (atau apa ya? Lupa). Ifah tidak menang nominasi sesmen terdaebak, tapi untuk kami Ifah is the best sesmen ever. Kami tidak mengerti bagaimana sistem penilaian BPH sampai kami bisa menang banyak nominasi , tapi kami syukuri itu.

Acara selesai setelah selesai pembacaan nominasi dan menyanyikan beberapa lagu. Warga kemdik kemudian berkumpul. Tertawa bebas karena tidak menyangka bisa menang segini banyak nominasi. Hahaha... Dengan menarik 3 karpet kami duduk melingkar dan melanjutkan sesi ‘1 jam lebih dekat’ yang belum tuntas. Jatahnya Dana, Wike, dan Yoga untuk bercerita. Saya sambil agak (?) tiduran di pangkuan Lilis karena merasa sakkit perut, sepertinya kembung. Sambil mendengarkan cerita Dana dan Wike ternyata saya sempat tertidur beberapa detik. Sampai pukul 12 tengah malam Insan memutuskan untuk mengakhiri sesi malam ini. Yoga belum sempat bercerita tapi masih bisa kami lanjutkan besok. Seharusnya kami juga bertukar surat antar warga Kemdik, tapi ternyata ada yang belum selesai buat, maka ini ditunda juga. Ifah malah sudah tertidur di pangkuan Wulan. Dia masuk angin juga.

Seharusnya pukul 4 kami sudah berkumpul untuk sholat subuh berjamaah, tapi saya sendiri baru bangun pukul 04.30.  itu pun dengan bantuan Alfi yang membangunkan saya karena bunyi alarm dari ponsel saya. Setelah bebersih, sholat subuh, pukul 06.15 kami berkumpul sambil membawa kado yang sebelumnya sudah disiapkan masing-masing. Kami senam ringan dan kemudian ada games lagi. Sekarang kelompoknya digabi berdasarkan ranah kementerian (minat bakat, pelayanan, biro, dan kebijakan). Ada Kemdik, Menpora, Apsenbud, dan PSDM di dalam ranah minat bakat. Anak-anak minat bakat ini sepertinya yang paling heboh, paling tidak terkondisikan. Kasihan MC yang teriak-teriak untuk mengarahkan kami. Huahaha... Permainan yang dilaksanakan yaitu tarik tambang.

Seusai tarik tambang, kami diminta untuk mengambil alat tulis dan foto diri yang sudah ditugaskan juga sebelumnya. Setelah membawa alat tulis, kami duduk melingkar. Kami diberi kertas yang sudah diberi doubletape dan diminta untuk menempelkan foto di kertas tersebut. Setelah diberi nama dan keterangan kementerian, kertas diedarkan ke kanan kami dan kami mengisi komentar apapun terkait orang dalam foto tersebut. Melakukan hal ini selalu menyenangkan. Entah siapa yang memulai, foto orang-orang mulai tidak jelas. Banyak yang disabotase. Mulai dari ditambah kumis, jenggot, gigi yang dicoret-coret, dan lain-lain. Foto saya juga disabotase, tapi nggak parah. Malah jadi tambah lucu.

Setelah kertas itu kembali pada sang empunya dan selesai mengisi semua kertas warga, kami diberi nomor dalam kertas kecil yang ternyata merupakan nomor kado yang kita dapat. Saya sendiri dapat hadiah dari Alfi. Langsung tau kado itu dari Alfi begitu melihat bungkusnya J

Dilanjutkan dengan sarapan yang agak telat, kemdik tetap berkumpul. Sarapan bersama di pinggir pantai. Insan masak mie asal Korea (sam*ang) yang sedang terkenal itu. Dia juga bawa beberapa goodiebag, binder, stiker, dan tas kecil yang merupakan kenang-kenangan dari BEM KM. Entah kenapa saya merasa Insan--satu-satunya dari Kemdik yang jadi panitia farewell—selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kami di farewell ini. Yah, dia memang selalu begitu sejak awal perkenalan saya dengan Insan. Setelah sarapan, Insan, Wike, Yoga, Lilis, dan Wulan naik banana boat. Sambil menunggui mereka, saya dan Dana mainan pasir. Ketika lagi ngoprek pasir, terdengar suara Ifah dari pantai. Ternyata dia sudah basah kuyup. Diceburin Uus, katanya. Padahal Ifah mencetuskan ide stay dry yang kemudian menginspirasi saya dan Dana supaya tetap kering juga. Kemudian saya bantu Ifah untuk kembali ke penginapan.

Kami semua kemudian mandi dan membersihkan dari karena pukul 12 siang harus check out. Setelah selesai dan memasukan tas ke dalam bus, kami berkumpul lagi, melingkar lagi. Danang memberikan kata-kata terakhirnya di BEM KM. Suasana menjadi sedih. Setelah Danang kemudian Mogi, selanjutnya adalah Haekal yang berbicara. Haekal berbicara dengan suara bergetar. Dia seperti menangis, tapi saya tidak bisa melihat air matanya. Haekal berbicara tentang momen-momen di BEM KM, tentang orang-orang keren dan strong di BEM KM, tentang segala pengorbanan, segala pencapaian, dan segala kebahagiaan di BEM KM. Satu per satu kami mulai menangis.

Golbi juga ikut berbicara di sana. Intinya dia bilang terima kasih atas bantuan, pengalaman, dan pelajaran dari BEM KM. Banyak teman-temannya yang nggak percaya dia ikutan BEM KM dan bahkan sekarang dia jadi menteri. Dia bilang “kalau saya nggak ikut BEM KM, paling sekarang saya jadi gelandangan.” Horrr. Bisa banget dia ngelawak di momen seperti ini meskipun saya yakin dia nggak bermaksud untuk melawak. Dia juga bilang dia sedih, tapi nggak tau bagaimana caranya menangis. Yah itulah Golbi. Dibalik wajah sangar kalemnya, dia punya sisi melankolis juga. Absolutely setiap orang pasti punya sisi melankolisnya masing-masing.

Setelah sesi sedih-sedih ini, kami bersalam-salaman. Tentunya yang perempuan dan yang laki-laki dipisah. Ternyata tangis kami tidak cukup sampai di sini. Ketika bersalam-salaman pun kami lanjut menangis. Yah waktu salaman yang dibutuhkan perempuan memang lebih lama. Selain jumlah kami yang memang lebih banyak, kami juga berangkulan lebih lama satu sama lain. Sesekali saya melihat ke barisan bapak-bapak BEM KM. Nampaknya tidak sedikit juga di antara mereka yang menangis. Para wanita di kiri dan kanan saya juga sudah menangis, bahkan si Lilis sampai sesengukan. Dana yang sebelumnya tidak pernah saya lihat menangis juga ikut menangis. Ketika barisan bapak-bapak sudah selesai dan barisan ibu-ibu tersisa sedikit, saya lihat Insan, Yoga, Rio, dan Golbi berjalan ke arah kami. Mereka mendatangi kami, mengucapkan maaf dan terima kasih secara personal. Saya sudah tidak bisa lagi berbicara, terlalu sesak untuk berbicara. Saya juga minta maaf dan mengucapkan terima kasih kepada mereka. Atas yang sudah terjadi, yang kami lewati bersama-sama. Seandainya mereka berempat perempuan, pasti sudah saya peluk satu-persatu dengan erat (mohon maaf untuk pengandaian ini).

Kami melakukan foto bersama dengan membawa spanduk farewell BEM KM. Setelah foto bersama, kami masuk ke dalam bus. Sengaja Kemdik masuk dalam 1 bus yang sama. Untuk surat yang tertunda, akhirnya kami bagikan di dalam bus. Sebenarnya penasaran ingin baca isi surat-surat mereka, tapi saya tahan sampai besok hari supaya bisa baca suratnya dengan santai.

Dear Kemdik...

Masa jabatan kita sudah selesai. Tapi banyak urusan yang belum kita selesaikan. Kalau ada yang bilang setelah farewell kita sudah tidak punya alasan lagi untuk bertemu, maka kita akan cari seribu alasan lain untuk berkumpul. Tidak perlu alasan yang logis, karena bahkan tidak perlu alasan untuk bertemu.

Kalian teman dan adik terbaik. Terima kasih untuk segala waktu yang kita jalani bersama. Rasanya akan sangat aneh ketika biasanya kita rapat kementerian setiap minggu dan sekarang tidak lagi. Rasanya aneh ketika yang kita bicarakan mostly tentang proker dan sekarang tidak lagi. Banyak hal yang tentunya akan sangat dirindukan. Mulai dari wording jarkoman, anum wording, poster, ISEE, IDEA, CC, Geencu, pulang malam bersama, sarung yang hilang, nota belanjaan, bully si bungsu, ucapan yang varokah, ngantor, makrab IM, tes TOEFL, dan lain-lain. Banyak hal begitu random dalam hidup kita setahun ke belakang.

Kalian memberi banyak pengalaman baru. Membuat saya tidak menyesal masuk BEM KM meski memang tidak selalu mudah berada di BEM KM ini. semoga kebersamaan kita setahun kemarin membawa manfaat bagi orang lain. Bermanfaat bagi kita sendiri.

Yang lanjut di BEM KM dan di BEM Fakultas, tetap semangat ya. Semoga di BEM KM Ayo Gerak ada ilmu yang bisa kalian bawa untuk dijadikan bekal dan amunisi setahun ke depan. Yang tingkat akhir, semoga lancar penelitiannya. Yang tingkat lanjut, semoga kita bisa segera lulus. Yang bungsu semangat terus yaa, jangan mau dibully lagi. Hehehe...

Saya bingung bagaimana mengakhiri tulisan ini. sukses terus yaa untuk semuanya. Sayang kalian karena Allah :)

 

#FAREWELL #AYOGERAK #TANJUNGLESUNG #KEMDIK #2016 #PANDEGLANG

  • view 130