Selamat Ulang Tahun, Ibu :)

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Desember 2016
Selamat Ulang Tahun, Ibu :)

Kemarin, 9 Desember adalah hari ulang tahun ibu. Karena sedang berada di Bogor sedangkan ibu di Cianjur, maka aku hanya bisa mengucapkan selamat ulang tahun kepada ibu via telepon. Sambil berjalan pulang ke arah tempat kos setelah mengerjakan draft skripsi di laboratorium departemen, aku menelepon ibu. Kucoba hubungi nomor handphone ibu, tapi tidak aktif. Mungkin sedang di-charge. Akhirnya kutelepon nomor handphone adikku yang masih berumur 5 tahun itu. Tidak lama setelah nada sambung, akhirnya terdengarlah suara lucu adikku. Dia sudah bisa sedikit mengoperasikan ponsel agak jadul warisan dariku.

“Halo,” katanya.

“Assalamualaikum,” kataku.

“Waalaikumsalam,” jawabnya. Suaranya selalu lucu. “Mba Ari!” serunya.

“Hilfa! Lagi ngapain?” tanyaku.

“Lagi belajar,” katanya. “Mba Ari lagi di mana?”

“Ini lagi jalan mau pulang, habis dari kampus.”

“Mba Ari udah mandi? Udah makan belum?” itu adalah pertanyaan yang selalu muncul ketika aku meneleponnya.  Seperti sudah disetting default. Huehehe...

“Belum mandi, belum makan juga. Ini sambil meu beli makan dulu. Hilfa udah makan belum?”

“Udah dong. Makan sayap.” Sayap digoreng adalah lauk makan kesukaannya. Agak lama aku berbincang-bincang dengan Hilfa. Dia senang bercerita tentang teman-teman sekolahnya. Aku masih berjalan pulang. Sengaja berjalan pelan supaya tidak segera sampai tempat kos, uspaya bisa berlama-lama ngobrol dengan Hilfa dan ibu di telepon.

“Dek, ibu mana?” tanyaku.

“Ada, ini di samping Hilfa, lagi nemenin belajar.”

“Teleponnya kasih ke ibu sebentar dong, Fa.” Tak lama kemudian terdengar suara ibu.

“Iya Ri. Lagi di mana?”

“Lagi jalan, mau pulang bu. Tadi habis dari lab. Oh iya, selamat ulang tahun, ibu. Mudah-mudahan sehat terus ya.”

“Aamiin. Maksih yaa.”

“Kadonya nyusul ya, bu. Nanti kalau Ari pulang ke Cianjur.”

“Iya nggak apa=apa.”

”Ibu mau hadiah apa?”

“Ibu mah pengen sepatu aja.”

“Ya sudah, nanti kita beli ya bu, insyaAllah."

Berbicara dengan ibu selalu menyenangkan. Setelah berbincang-bincang tentang beberapa hal, akhirnya handphone direbut lagi oleh adikku. Dia ingin bercerita lagi. Tak lama, akhirnya telepon kami benar-benar selesai setelah dia mencium handphone yang dipegangnya karena tidak bisa menciumku. :)

Aku tidak menyangka bahwa aku bisa sebegitu sayangnya dengan ibu, lebih dari yang pernah kubayangkan sebelumnya. Kuliah ke Bogor memang banyak mengubahku. Banyak hal yang kemudian aku sadari setelah kuliah, setelah tidak tinggal bersama ibu karena harus tinggal berasrama dan kemudian menjadi anak kosan. Menyadari bahwa aku belum bisa membahagiakan ibu, belum bisa memberi hadiah terbaik untuk ibu.

Ibu selalu sangat senang ketika aku pulang walau hanya satu atau dua hari. Senang bertukar cerita kami masing-masing. Ibu selalu menyiapkan banyak hal sebelum aku kembali ke Bogor keesokan harinya.

“Mau bawa apa lagi, Ri? Mau bawa pepaya? Jajan apa? Mau bawa beras nggak?”

“Sudah, bu. Ini sudah cukup, biar nggak repot nenteng-nenteng tas banyak."

“Ibu tuh sering kepikiran sama Ari kalau di rumah lagi banyak jajan. Ari di Bogor punya jajan nggak ya? Makan apa ya?" katanya. Bagaimana aku tidak menyayanginya...

“cepet pulang lagi ya.” Kata ibu ketika aku pamit untuk kembali ke Bogor. Bahkan aku masih di halaman rumah, belum kembali ke Bogor, namun beliau sudah berpesan untuk segera kambali ke rumah.

Jangan pernah berpikir bahwa kita bisa membalas jasa ibu, karena sedikit pun kita tidak akan pernah bisa membalas kebaikannya.

Ya rabb, terima kasih atas segala karuniaMu, memberikan ibu yang sangat luar biasa. Berikanlah kesehatan selalu untuknya, permudahlah segala urusannya. Berikanlah aku kesempatan untuk bisa mebahgiakannya. :)

-----------------------------------------------------

sumber gambar: http://niningsyafitri.blogdetik.com/category/ibu/

  • view 415