Laki-Laki dengan Kebaikannya...

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 November 2016
Laki-Laki dengan Kebaikannya...

Ah, perasaan itu hadir lagi. Perasaan sedih saat harus berpisah. Begitu berat ketika kami harus saling melepaskan, membiarkanku menyelesaikan apa yang harus kuselesaikan. Sebuah amanah orang tua untuk menyelesaikan pendidikan di kota lain.

Perasaan itu bukan tak pernah muncul. Perasaan itu selalu ada setiap kali kami harus berpisah, hanya saja entah mengapa, pagi ini ketika dia berkesempatan untuk mengantarkanku kembali ke tempat aku menuntut ilmu, perasaan itu rasanya muncul lebih kuat. Sama seperti empat tahun lalu ketika untuk pertama kalinya dia harus melepasku menuntut ilmu, menjadi seorang perantau meski jarak yang ditempuh tidak begitu jauh. Bukan hanya aku yang merasakannya, dia juga pasti begitu. Bisa kutebak dari suaranya yang sedikit bergetar dii setiap akhir kalimatnya. Bahkan dia begitu sedikit berbicara padaku di sepanjang jalan.

Setelah menahan rindu berminggu-minggu, kami  bisa saling melepas kerinduan di setiap akhir bulan. Mungkin aku lebih beruntung daripada teman-teman yang lain karena jarak yang perlu kutempuh  tidak terlalu jauh jika aku ingin bertemu dengannya. Bukan masalah jarak, hanya saja terkadang aku merasa tidak memiliki cukup waktu luang untuk pulang ke rumah orang tua karena sering kali di akhir pekan aku masih disibukkan dengan kegiatan kampus. Pernahkah kalian mendengar ‘tidak ada orang yang terlalu sibuk, yang hanya adalah orang yang tidak pandai mengatur waktu’? mungkin seperti itulah aku. Tidak pandai mengatur waktu.

Pagi ini dia mengantarku. Kami mengendarai motor. Sebelum berangkat, dia bertanya padaku, memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal. Setelah kujawab dengan pasti bahwa tidak ada yang tertinggal, kami ditemani ibu dan adik kecilku menuju motor yang berada di samping rumah. Dia menyerahkan sebuah helm padaku untuk kupakai. Helmnya masih bagus. Tidak ada goresan sedikitpun di permukaannya. Sedangkan dia sendiri menggunakan helm yang sudah mulai butut. Banyak goresan yang tampak kasar. Ada beberapa stiker yang sudah kusam. Kacanya sudah agak susah untuk dibuka/ diangkat. Helm itu memang sudah lama sekali digunakan olehnya, seingatku.

Ketika kutawarkan untuk bertukar helm, dia bilang tidak usah. Padahal kurasa sang pengemudi harus lebih nyaman menggunakan helm demi keselamatan kami bersama. “Tidak apa-apa, pakai helm ini saja”, katanya setelah kutawarkan berkali-kali untuk bertukar helm. Aku berpamitan kepada ibu dan adik kecilku sebelum benar-benar berangkat. “Segera pulang ya, mba”, kata ibuku, bahkan sebelum aku tba di kota tempatku menuntut ilmu. Selalu begitu. Kuingat, laki-laki itu juga mengatakan hal yang sama dengan ibuku jika sedang tidak bisa mengantarku.

Laki-laki itu, ayahku...

Orang yang dengan kelembutan di balik sifat tegasnya selalu membuatku rindu untuk bertemu. Orang yang selalu mengutamakan keselamatan dan kenyamananku dibanding dirinya sendiri. Orang yang dengan dengan ikhlas melepas putrinya untuk pergi dari rumah, menuntut ilmu ketika sebelumnya selama tujuh belas tahun berada dalam satu rumah yang sama setiap hari. Orang yang mendadak jadi pendiam, sering termenung seorang diri dua minggu sebelum keberangkatanku empat tahun lalu. Kemudian kami sama-sama belajar tanpa satu sama lain. Sama-sama menahan rindu demi keberhasilan putrinya. Inilah yang harus kami tanggung.

Dalam jangka waktu tertentu ayahku selalu menanyakan apakah aku mengantuk selama perjalanan mengantarkanku. Dia menarik tanganku supaya masuk ke dalam saku jaketnya yang besar di sisi kiri dan kanan tubuhnya. Udara pagi selalu begitu dingin di sepanjang jalan dari rumah kami menuju tempat tujuan kami, kosan...

Setibanya kami di depan bangunan kosanku, ayah bilang akan langsung kembali pulang. Tidak usah turun dulu untuk istirahat. Kutawarkan untuk duduk sebentar dan minum, tapi ayah tidak mau. Berkali-kali kubujuk untuk istirahat barang sebentar, berkali-kali pula ayah bilang tidak mau. Akhirnya kutanya kenapa tidak mau, ayah jawab “kasihan lihat mba di sini. Kalau kelamaan di sini nanti malah ayah bawa mba pulang lagi. Nggak, deh. Ayah langsung pulang saja,” katanya. Aku tidak bisa menahan ayah untuk istirahat sebentar sebelum pulang setelah mendengar jawabannya.

“Ya sudah kalau begitu, ayah hati-hati di jalan ya,” pesanku. “Iya”, jawabnya singkat. Kucium tangan besarnya yang hangat sebagai tanda penghormatan dan rasa sayang kepada ayah. Dia mengusap puncak kepalaku lembut. Ayah mengucap salam kemudian memutar arah motor untuk kembali pulang. Kupandangi ayah sampai ujung jalan hingga tidak terlihat, barulah kemudian masuk ke dalam kamar.

Ya Rabb, lindungilah selalu ayahku. Berilah selalu kesehatan. Berilah aku kesempatan untuk bisa membahagiakannya. :)

 

sumber gambar: http://ketahui.com/lihatlah-kesetiaan-ayah-ini-kepada-sang-anak-mengharukan

  • view 193