Jangan hanya Takut Terluka, Takutlah juga Melukai Orang Lain

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Lainnya
dipublikasikan 06 Oktober 2016
Jangan hanya Takut Terluka, Takutlah juga Melukai Orang Lain

Ketika kamu sedang bersenda gurau dengan temanmu, dia berbicara tanpa kontrol karena merasa sudah biasa melakukan hal itu dengan teman sendiri, mengejek, mencela kekurangan fisik, menyebutkan perilaku buruk yang pernah dilakukan. Temanmu melakukan hal itu dengan ringan tanpa memikirkan perasaanmu yang mungkin saja tersinggung dengan perkataannya.

Ketika seseorang ingin mengambil suatu barang yang ada di dekatmu dan tidak bisa menjangkaunya, dia memintamu mengambilkan barang tersebut untuknya tanpa mengucapkan ‘tolong’ dan setelahnya tidak mengucapkan terima kasih. Mungkin pada hari biasa kamu akan merasa biasa saja ketika tidak mengucapkan kata ‘tolong’ dan ‘terima kasih’, namun karena satu dan lain hal hari itu menjadi tidak biasa, kamu merasa sebal dengannya karena sudah terlalu sering menyuruh sehingga kamu memutuskan tidak akan membantunya lagi.

Ketika kamu bekerja dalam sebuah tim dan kamu melakukan sebuah kesalahan yang menurutmu begitu kecil, tapi seorang rekan memarahimu begitu besar di depan rekan tim yang lain. Kamu menjadi begitu malu dan marah. Kemudian kamu keluar dari tim, tidak muncul lagi sehingga jatah pekerjaanmu menjadi pekerjaan anggota yang lain.

Ketika kamu mempercayakan suatu barang pada seorang temanmu untuk sementara waktu dan akan mengambilnya lagi tak lama kemudian, temanmu berbohong dengan mengatakan bahwa kamu tidak menitipkan barang tersebut padanya dan mungkin kamu menitipkan pada teman yang lain atau malah meninggalkannya di suatu tempat karena lupa. Kamu sudah mencarinya sepanjang hari dan masih tidak menemukannya padahal barang tersebut akan digunakan karena sangat penting. Ternyata ketika kamu sedang mencarinya, temanmu justru tertawa karena ternyata dia berbohong, barang itu benar ada padanya. Kamu merasa kesal padanya karena bercanda tidak pada waktu yang tepat.

Ketika kamu berbincang dengan satu atau beberapa temanmu, kamu sedang berbicara dan beberapa kali temanmu memotong pembicaraan, tentu kamu merasa sebal. Kamu jadi tidak berniat melanjutkan pembicaraan karenanya. Akhirnya di sisa pembicaraan kamu hanya diam namun juga tidak memperhatikan temanmu. Temanmu itu kemudian bertanya ‘kenapa, kok diam?’, kamu jawab ‘tidak apa’, sambil tersenyum masam.

Ketika kamu bertanya kepada seorang teman, temanmu itu malah menjawab ‘cari saja di internet’ dengan sikap acuh tak acuh. Bukan jawaban seperti itu yang kamu inginkan karena sebenarnya kamu ingin berdiskusi dengan temanmu itu. Kamu harus menelan kembali berbagai pertanyaan yang sudah sampai di ujung lidah, dan hanya manjawab ‘baiklah’. Mungkin setelahnya kamu kapok dan tidak akan bertanya lagi padanya.

Itu semua hanya beberapa gambaran bagaimana sebal dan kesalnya kamu karena beberapa hal yang mungkin orang lain anggap remeh, namun tidak bagimu. Orang-orang itu mungkin tidak sadar bahwa yang dilakukannya adalah melukai, tanpa tau seberapa dalam luka itu, tanpa tau seberapa parah levelnya. Bisa saja kamu hanya gemas, sebal, kesal, marah, kecewa, bahkan hingga benci. Dan orang tersebut mungkin tetap tidak tau.

Setiap kita tentu pernah terluka. Entah itu karena perbuatan atau perkataan, entah itu sengaja ditujukan kepada kita atau pun tidak. Namun tanpa disadari, mungkin kamu juga pernah melakukan hal itu pada orang lain.

Mungkin kamu pernah mengejek, mencela kekurangan fisik, menyebutkan perilaku buruk yang pernah dilakukan seseorang. Bisa saja orang itu tersinggung dengan perkataanmu, tapi kamu tidak tau.

Mungkin kamu pernah kesulitan mengambil suatu barang yang ada di dekat temanmu. Kamu memintanya mengambilkan barang tersebut untukmu tanpa mengucapkan ‘tolong’ dan setelahnya tidak mengucapkan terima kasih. Bisa saja karena satu dan lain hal dia merasa sebal kepadamu karena sudah terlalu sering menyuruh sehingga dia berniat tidak akan membantumu lagi, tapi kamu tidak tau.

Mungkin kamu pernah bekerja dalam sebuah tim. Ada salah seorang anggota tim yang melakukan sebuah kesalahan kecil, tapi kamu memarahinya begitu besar di depan rekan tim yang lain. Dia menjadi begitu malu dan marah. Tapi kamu tidak tau.

Mungkin kamu pernah dipercaya oleh seorang teman untuk menjaga suatu barang dan akan diambil tak lama kemudian. Kamu berbohong dengan mengatakan bahwa dia tidak menitipkan barang tersebut dan mungkin menitipkan pada teman yang lain atau malah meninggalkannya di suatu tempat karena lupa. Dia mencarinya sepanjang hari dan masih tidak menemukan, padahal barang tersebut akan digunakan karena sangat penting. Kamu justru tertawa karena berbohong, ternyata barang itu benar ada padamu. Dia merasa kesal padamu karena bercanda tidak pada waktu yang tepat, tapi kamu tidak tau.

Mungkin kamu pernah kamu berbincang dengan satu atau beberapa temanmu, kamu terlalu antusias sehingga beberapa kali memotong pembicaraan teman. Dia merasa sebal sehingga tidak berniat untuk melanjutkan pembicaraan karenanya. Akhirnya di sisa pembicaraan dia hanya diam  namun juga tidak memperhatikanmu. Kamu bertanya ‘kenapa, kok diam?’, dia bilang ‘tidak apa’, sambil tersenyum masam. Dan kamu tidak tau itu.

Mungkin seseorang pernah bertanya padamu, namun kamu malah menjawab ‘cari saja di internet’ dengan sikap acuh tak acuh. Bukan jawaban seperti itu yang diinginkannya karena dia ingin berdiskusi denganmu. Dia harus menelan kembali berbagai pertanyaan yang sudah sampai di ujung lidah, dan hanya manjawab ‘baiklah’. Mungkin setelah itu dia kapok, tidak akan bertanya lagi padamu, tapi kamu tidak tau.

Tulisan ini saya buat untuk menjadi pengingat bagi diri saya sendiri, supaya bisa menjaga perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain. Supaya bisa saling menjaga perasaan. Kita tidak akan pernah tau bahwa mungkin saja kita pernah melukai hati orang lain begitu dalam. Tidak semua orang bisa menjelaskan bahwa hatinya terluka. Tidak semua orang bisa memperbaiki hati yang hancur. Tidak semua orang bisa menyembuhkan hati yang sakit. Tidak semua orang tau bahwa ia telah menyakiti hati yang lain.

“Cintailah saudaramu sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri” :)

  

sumber gambar: http://www.liataja.com/2014/09/sejarah-boneka-danbo-dan-foto-lucu.html

  • view 352