#Cerita2 Menanti dan Mencari

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Juni 2016
#Cerita2 Menanti dan Mencari

Siang ini aku terjebak dalam suatu rapat yang tidak aku pahami. Tadi pagi saat baru saja tiba di kantor, mbak Nisa-atasanku memintaku untuk menemaninya menghadiri rapat di satu perusahaan yang akan menjadi rekan kerja kami untuk mengadakan suatu acara. Seharusnya rapat ini dihadiri oleh rekanku yang bernama Nadia, namun dia sedang cuti karena sedang melanjutkan kuliah S2 sehingga aku harus menggantikannya. Sebagian pekerjaannya kini menjadi tugasku. Ketika pikiranku sedang berkelana memikirkan tugas-tugas yang sebenarnya lebih penting untuk kuselesaikan, suara yang keras memanggilku kembali ke rapat ini.

“Jadi bagaimana menurut mbak Nisa? Apakah ada pendapat mengenai konsep ini?”

“Kami akan diskusikan terlebih dahulu dengan atasan kami, pak,” jawab mbak Nisa.

“Baiklah, akan saya kirim notulensi rapat ini via email. Saya rasa cukup sampai di sini dulu rapat kita kali ini. terima kasih atas kehadiran rekan-rekan semua. Selamat siang.”

Akhirnya kami bisa pulang setelah berjam-jam berada di kantor ini. Aku dan mbak Nisa segera melangkah keluar gedung, mencari kendaraan umum untuk kembali ke kantor kami. Ketika kami baru saja tiba di lobi kantor setelah keluar dari lift, ada sebuah suara yang menghentikan langkah kami.

“Mbak Nisa, tunggu!”

Aku dan mbak Nisa segera mencari sang pemilik suara. Ternyata lelaki yang tadi memimpin rapat itu yang memanggil. Kalau tidak salah, namanya pak Ivan. Di sampingnya ada seorang lelaki yang tadi ikut rapat bersama kami. Dia hanya diam mendengarkan percakapan pak Ivan dengan mbak Nisa, sama sepertiku.

“Iya, pak. Ada apa?”

“Bisakah saya mendapat alamat email kantor mbak Nisa?”

“Oh iya pak, sebentar saya tulis dulu,” kemudian mbak Nisa mengambil buku kecil dan pulpen yang selalu ada di dalam tas, memberikan alamat email dan nomor kantor.

“Ini, pak,” katanya seraya menyerahkan kertas kecil itu kepada pak Ivan.

“Terima kasih. Nanti akan saya kabari jika ada hal-hal lain yang berkaitan dengan proyek kita. Oh Iya, yang datang bersama mbak Nisa ini siapa namanya?”

“Saya Hana Aulia, pak. Biasa dipanggil Hana.” Kemudian dia menjabat tanganku sambil tersenyum dengan pandangan lurus tepat menatap mataku.

Mbak Nisa hanya mengangguk. “Kami pamit dulu, pak Ivan. Selamat siang,” kata mbak Nisa mengakhiri pertemuan kami hari ini.

***

“Yang tadi itu siapa, mbak?” tanyaku pada mbak Nisa setelah kami duduk di dalam taksi.

“Pak Ivan, maksudmu?”

“Yap.”

“Dia itu semacam penanggungjawab dari perusahaannya untuk proyek kita. Seharusnya ini adalah tanggung jawab Nadia, tapi karena dia sedang cuti, maka proyek ini dilimpahkan kepadaku dan kamu, Han. Beberapa minggu ke depan aku dan kamu akan banyak berhubungan dengan perusahaan tadi.”

“Oo, begitu ya, mbak.” Mbak Nisa hanya tersenyum dan mengangguk.

***

Setelah beberapa kali bersama mbak Nisa bertemu dengan pak Ivan dalam rapat proyek kami, kali ini aku harus bertemu dengan pak Ivan sendirian tanpa mbak Nisa. Dia sedang sakit sehingga tidak bisa pergi bersamaku untuk menghadiri rapat rutin kami.

“Mbak Hana, ini daftar keperluan pengisi acara yang perlu disediakan oleh perusahaan mbak Hana. Silahkan dibaca dahulu.” Aku segera menerima kertas yang berisi berbagai keperluan pengisi acara. Ketika aku sedang membaca list tersebut, aku merasa ada yang memperhatikanku. Ketka kuangkat wajahku, ternyata pak Ivan sedang memperhatikanku. Awalnya aku biarkan saja dan melanjutkan membaca. Namun lagi-lagi aku merasa pak Ivan memperhatikanku. Kuangkat wajahku lagi, dia masih memandangku. Aku jadi gugup.

“Ehem,” aku membersihkan tengggorokan supaya tidak terdengar gugup, “saya rasa semua ini bisa kami sediakan, pak.”

“Baik. Kalau ada yang ditanyakan, silahkan mbak Hana menghubungi saya,” katanya masih dengan tatapan intens menatapku. “Bisa saya minta nomor handphone mbak Hana?” Aku sedikit tercengang mendengar pertanyaannya. “Supaya bisa lebih mudah berkoordinasi,” jelasnya karena mungkin melihat wajah bingungku.

“O-oh, tentu saja.” Aku segera menyebutkan nomor handphoneku. Tak lama, handphoneku berbunyi.

“Itu nomor handphone saya. Silahkan disimpan.”

“Iya, pak. Kalau begitu saya pamit dulu. Terima kasih. Selamat siang.” Baru kusadari ternyata di ruang rapat yang tidak terlalu besar ini tinggal kami berdua saja di sini.

“Hati-hati di jalan.”

Aku segera melangkah keluar. Baru berjalan beberapa langkah, pak Ivan memanggilku.

“Mbak Hana, tunggu!”

“Iya, pak Ivan. Ada apa?”

“Jangan panggil saya ‘pak’ lagi. Panggil saja Ivan.”

“Saya tidak bisa, pak. Rasanya tidak sopan kalau hanya memanggil nama. Lagian sepertinya pak Ivan lebih tua daripada saya.”

“Kalau begitu panggil saja ‘mas’ atau ‘abang’. Semua anak buah saya selalu memanggil begitu.”

Aku spechless. Aku hanya mengangguk kaku.

“Saya permisi dulu, ehm... mas Ivan.”

***

Setelah rapat terakhir kala itu yang diakhri perbincangan absurd, nama dan wajah pak-eh mas Ivan selalu muncul di otakku. Sejujurnya sejak pertama kali aku melihatnya, ada sesuatu darinya yang menarik perhatianku. Penampilannya sederhana. dia memiliki mata yang teduh. Sering kali aku terganggu ketika kami sedang berdiskusi karena dia selalu menatapku intens dengan matanya yang teduh itu. Tatapannya menunjukkan keseriusan dalam mendengarkanku. Selain itu, dia selalu mengakhiri perkataannya dengan senyum. Cara berjalannya yang santai namun penuh percaya diri, bahasa tubuhnya yang luwes. Ah, entah sejak kapan aku bisa mendeskripsikan dirinya.

Selain itu, tidak lama setelah aku mengetahui nama lengkapnya, aku mencari informasi mengenai dirinya. Sangat mengejutkan bahwa dia berasal dari daerah yang sama denganku, yaitu Cianjur -meskipun aku bukan asli orang Cianjur, SMA yang sama, bahkan jurusan di kampus yang sama! Dia adalah kakak kelas yang beberapa tahun lebih tua dariku. Suatu kebetulan yang luar biasa! Cukup kuketahui saja. Aku tidak berani menanyakan kebenaran bahwa ia berasal dari Cianjur, dan seterusnya, khawatir ketahuan bahwa selama ini begitu mencari tahu tentang dirinya. Oh, segala persamaan ini membuatku mencari alasan-alasan konyol bahwa mungkin kami berjodoh.

***

Hari H proyek kami akhirnya tiba. Aku merasa sangat lelah karena dua hari ini sebentar-sebentar mas Ivan memanggilku melalui handy talky (HT) untuk mengerjakan sesuatu. Aku merasa heran kenapa mas Ivan ini selalu menghubungiku dan tidak orang lain saja yang dipanggilnya. Sempat sengaja aku menitipkan Htku pada rekan yang lain supaya bisa istirahat sejenak, aku malah dimarahi oleh mbak Nisa. Dia menghampiriku dengan membawa HT yang tadi sengaja kutinggalkan.

“Han, kamu tuh ya! Harusnya standby dengan HT, dong supaya mudah dihubungi kalau ada apa-apa!” atasanku ini terkadang sangat baik dan lemah lembut, namun bisa juga menjadi galak kalau sedang hactic.

Aku yang sedang kelelahan tidak bisa menjelaskan apapun pada mbak Nisa. Baru saja membuka mulut untuk berbicara, HTku berbunyi lagi. Seperti mengerjaiku, lagi-lagi mas Ivan memanggilku.

“Mbak Hana bisa ke backstage sekarang? Ada yang menanyakan rundown acara setelah ini.”

“Iya pak Ivan, Hana akan segera menuju backstage.”

“Sip. Terima kasih, mbak Nisa.”

“Tuh sana, cepetan ke backstage!”

“Aku capek, mbaak...” kataku sambil memasang muka memelas pada mbak Nisa. Tapi ternyata tidak mempan.

“Sudah sana, cepetan. Nanti mas Ivan-mu nungguin!”

Fine! Oke! Awas ya mbak, setelah ini aku bakal minta makanan yang banyak karena aku kerja paling capek.”

“Hahaha... Iya, sudah sana.”

Ketika sudah ada di backstage, aku melihat mas Ivan sedang menjelaskan sesuatu pada salah satu pengisi acara kami. Menyadari kehadiranku, dia segera tersenyum menyambutku. Duh, senyumnya itu loh, nggak nahan. Secepat ia tersenyum, secepat itu pula senyumnya digantikan wajah heran.

“Ada apa, mas Ivan? Ada yang bisa saya bantu lagi?”

“Eh, mbak Hana sakit? Kok pucat begitu?” aku segera meraba wajah dengan kedua tangan.

“Ah, nggak kok. Saya baik-baik saja. Jadi apa yang bisa saya bantu nih, mas?”

“Oo-oh ini, tadi dia menanyakan rundown acara, tapi sudah saya jelaskan barusan.”

What?! Kalau dia bisa jelaskan sendiri, untuk apa memanggilku segala? Astaga!

“Mas Ivan kalau bisa menjelaskan sendiri, kenapa panggil saya...?” kataku hampir menangis, sungguh lelah dan kesal.

Mas Ivan meringis sambil mengusap tengkuk, sepertinya merasa bersalah.

“Maaf, mbak. Saya tadi tidak yakin. Tapi akhirnya saya jelaskan sendiri. Maaf ya. Mbak Hana lelah ya?”

Aku hanya menatap mas Ivan, tidak menjawab pertanyaannya. Sepertinya dia paham bahwa aku kesal.

“Sebagai permohonan maaf saya, setelah ini saya traktir mbak Hana. Bagaimana, mau?”

“Serius, mas?”

Dia hanya tersenyum dan mengangguk. Lagi-lagi menatapku dengan tatapan itu.

***

Ivan POV

Hana Aulia. Setelah beberapa kali bertemu, aku merasakan sesuatu yang lain padanya. Ketika dia datang untuk rapat dengan mengenakan jaket kampus yang sama dengan milikku, aku jadi curiga bahwa kami sama-sama berasal dari kampus yang sama. Aku mencari tahu data dirinya di internet. Bukan hal yang sulit saat ini untuk mengetahui data diri seseorang. Dia dengan kesantunannya saat berbicara, kesederhanaannya dalam berpenampilan, dan kemandiriannya dalam melakukan berbagai hal membuatku tidak bisa mengenyahkan bayangan Hana dalam otakku. Dia adalah wanita yang bisa mengalihkan diriku dari pekerjaan setelah sekian lama. Sampai saat ini aku selalu memanggilnya ‘mbak’ karena dia selalu memanggilku ‘mas’, bahkan sebelumnya dia memanggilku ‘pak’. Uh, itu membuatku seperti seorang laki-laki yang sudah tua. Padahal usia kami hanya berbeda beberapa tahun.

Aku ingat pertama kali menggenggam tangannya ketika berkenalan, pertama kali menghubunginya -meski untuk hal pekerjaan setelah memasang muka tembok untuk meminta nomor ponselnya, hingga tadi siang saat aku melihat wajah lelahnya ketika dia menuju backstage. Aku tahu bahwa dia mulai kesal menghadapiku. Aku selalu memanggilnya untuk menemuiku, memberinya banyak tugas yang sebenarnya bisa dikerjakan oleh orang lain, bahkan bisa kukerjakan sendiri. tapi entah mengapa aku selalu menyebut namanya, ingin melihat wajahnya lagi dan lagi. Aku selalu tersenyum ketika melihatnya. Namun tadi siang saat aku memanggilnya lagi karena ada yang bertanya mengenai rundown acara, sepertinya terjadi sesuatu yang aku tidak tahu. Yang menjawab panggilanku rupanya mbak Nisa, atasan Hana.

Hana segera datang dengan wajah pucat, dahi penuh peluh, dan nafas tersengal. Aku yang senang karena akan melihat Hana mendadak cemas dengan penampilannya.

“Ada apa, mas Ivan? Ada yang bisa saya bantu lagi?”

“Eh, mbak Hana sakit? Kok pucat begitu?” dia meraba wajah dengan kedua tangannya. Kukatakan bahwa aku sudah menjelaskan apa yang tadi ditanyakan oleh seorang pengisi acara. Dia malah duduk lemas di kursi.

“Mas Ivan kalau bisa menjelaskan sendiri, kenapa panggil saya...?” suaranya agak bergetar seperti hendak menangis. Mungkin sudah begitu lelah. Aku jadi merasa bersalah padanya. Kasihan dia. Aku minta maaf padanya namun dia diam saja. Kutawarkan sebuah traktiran sebagai permohonan maaf dan di sini lah aku sekarang, di sebuah kafe sederhana. dia tidak bercanda saat bilang akan memesan banyak makanan karena begitu lelah mengerjakan tugas-tugas dariku. Aku sendiri tidak masalah. Ini adalah salah satu bentuk permohonan maafku karena sudah mengerjainya.

Kami berbicara mengenai banyak hal termasuk asal daerah kami masing-masing. Ternyata benar dia berasal dari daerah yang sama denganku. Bahkan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Kutanya saja sekalian di mana rumahnya. Aku ingin melakukan sesuatu yang sudah beberapa minggu ini terpikirkan olehku.

***

Akhirnya proyek tersebut selesai. Proyek berjalan dengan lancar. Terlebih acara tersebut diakhiri dengan makan bersama. Tepatnya Hana saja yang makan karena Ivan hanya memesan minuman. Hana memesan begitu banyak makanan. Tadinya ia hanya bercanda saat bilang akan memesan banyak makanan, tapi Ivan menanggapi dengan serius, sebagai bentuk permintaan maaf dan terima kasih atas hal-hal yang gadis itu telah kerjakan, katanya. Hana sedang melangkah menuju ruangan Ivan untuk menyelesaikan beberapa hal. Setibanya di ruangan Ivan, dia melihat beberapa orang tampak sibuk dengan laptopnya masing-masing. Segera saja Hana menuju loket yang berada di sisi lain ruangan Ivan dan stafnya.

“Permisi, mbak. Saya mau mengambil laporan proyek sebulan yang lalu, apakah sudah ada, mbak?”

“Sebentar ya, mbak Hana, saya tanyakan dulu.”

Hana sangat berharap bahwa Ivan akan keluar dari ruangannya dan menemui Hana seperti yang terjadi dua minggu yang lalu. Pada saat itu Hana hendak mengambil beberapa berkas, namun tidak ada karena terlewat untuk dibuat. Ivan meminta Hana untuk kembali dalam beberapa hari. Sebenarnya itu hanyalah akal-akalan Ivan supaya Hana datang lagi dan Ivan bisa melihatnya lagi. Tak lama kemudian wanita itu kembali dan membawa berkas-berkas yang Hana butuhkan.

“Ini berkas-berkasnya, mbak. Silahkan dicek dulu.”

“Oh, iya mbak.” Hana sengaja berlama-lama dalam memeriksa berkas itu. Dia ingin bertemu Ivan karena entah kapan lagi dia bisa melihat Ivan. Namun setelah selesai memeriksa berkasnya sampai tiga kali, orang yang diharapkan tidak juga muncul. Akhirnya Hana memutuskan untuk pergi.

“Mbak, ini berkasnya sudah lengkap. Saya terima, ya. Terima kasih.”

“Iya, mbak Hana. Sama-sama.”

Hana pergi meninggalkan ruangan Ivan dengan berat hati. Entah sejak kapan dia menyadari sesuatu. Ia jatuh hati pada Ivan. Ivan yang sedang bertugas di luar kantor selalu menantikan kedatangan Hana dengan segala kesederhanaannya. Mereka adalah dua orang yang saling tidak mengetahui, namun mereka saling menunggu dan saling mencari. Mungkin memang belum saatnya bagi mereka untuk bertemu lagi.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

sumber gambar: http://ronyramdhani.blogspot.co.id/2012/01/rapat.html

masih belum dapat gambar yang pas :'(

  • view 128