#Cerita1 Lelaki dan Tiga Karunia Tuhan

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Mei 2016
#Cerita1 Lelaki dan Tiga Karunia Tuhan

Fadhil melangkah besar-besar menyusuri jalan setapak menuju salah satu bangku taman. Butir-butir keringat mulai muncul di sekitar dahi dan leher menunjukkan bahwa lelaki itu sudah berjalan cukup lama demi menemui seseorang. Sore ini Fadhil berencana bertemu dengan seorang wanita istimewa. Dengan jas kerja bewarna hitam yang disampirkan di bahu, kemeja bewarna biru yang lengannya digulung hingga siku serta dasi yang direnggangkan, Fadhil mempercepat langkahnya menuju tempat yang dijanjiikan. Lelaki itu menuju sebuah bangku bercat hijau panjang yang berada di bawah pohon pinus besar. Dari jarak sepuluh meter Fadhil dapat melihat seseorang sudah menempati bangku yang dia tuju.

“Maaf ya, aku telat. Jalanan macet sekali tadi,” kata Fadhil dengan nafas terengah.

Wanita tersebut tersenyum. Dia kemudian menepuk pelan bagian bangku yang masih kosong di sebelahnya, sebagai tanda meminta Fadhil untuk duduk. Wanita tersebut lebih muda beberapa tahun dari Fadhil. Fasha namanya.

“Iya, tidak apa-apa. Lagian abang tidak terlambat kok. Hanya saja aku datang lebih cepat dari waktu yang kita sudah kita sepakati,” jawab wanita tersebut, masih tetap tersenyum kepada Fadhil.

Fadhil kemudian menempati bagian yang masih kosong pada bangku tersebut. Dia menengadahkan kepala menghadap langit dan memejamkan mata, berusaha untuk mengatur nafasnya supaya lebih tenang dan stabil. Cahaya matahari di sore hari tidak lagi menyilaukan mata. Ditambah suasana yang tenang dan teduh karena naungan pohon pinus, membuat Fadhil nyaris tertidur setelah beberapa menit terdiam masih memejamkan mata jika saja tidak ada suara yang memanggilnya.

“Bang? Abang Fadhil...? Abang tidak tertidur, kan?”

“Hmmm...”

“Bang, jangan tidur di sini! Aku sudah jauh-jauh ke sini dari rumah nenek, susah payah merayu Cica dan Tasya supaya mau dijaga mba Nana, kemudian sekarang aku hanya jadi pajangan cantik yang menemani abang tidur di sini!?”

Perlahan mata Fadhil terbuka. “Bagaimana kamu bernegosiasi dengan Cica dan Tasya?”

Wanita muda tersebut membuang nafas kasar sebelum menjawab pertanyaan Fadhil.

“Aku bilang kepada mereka bahwa aku akan pergi dan akan membawakan mereka boneka panda berukuran besar yang filmya baru saja muncul di bioskop.”

“Jadi kamu akan membelikan mereka boneka?”

“Bukan aku, tapi abang.”

“Hah? Maksudmu?”

“Abang harus membelikan mereka boneka setelah ini! Aku kan tidak punya uang,” kata Fasha sambil tersenyum misterius.

“Yah, pantas saja aku punya firasat buruk tentang ini. Ternyata kantongku akan dirampok orang. Hahaha...” dan mereka kemudian tertawa bersama. Perlahan tawa keduanya mereda. Suasana di sekitar mereka kembali tenang. Samar-samar terdengar suara serangga dan burung-burung kecil. Taman itu masih sama sejak sepuluh tahun yang lalu. Letaknya yang di pinggir kota. Rumput-rumput hijau membentang sebagai alas, pohon-pohon rindang sebagai payung, semburat jingga cahaya matahari yang terbenam membuat keduanya terdiam dan menikmati keheningan mereka masing-masing. Tempat ini selalu nyaman bagi siapa pun yang mengunjunginya.

“Bang, masih ingat saat kita bermain di taman ini ketika masih kecil?” Tidak mendengar jawaban apa pun, Fasha segera menoleh ke arah Fadhil. Dia sedang memejamkan matanya sembari tersenyum.

“Abang! Kok senyum-senyum begitu?”

“Sssst! Jangan berisik, Sha!” Fadhil berucap tanpa menoleh ke arah Fasha.

“Kamu tahu, tidak, apa yang paling aku syukuri hingga saat ini?”

Fasha menggeleng.

“Ada tiga hal, Sha.”

“Apa itu?”

“Yang pertama adalah waktu pagi.”

“Ceritakan padaku, bang!”

“Dulu, saat abang harus masuk pesantren dan meninggalkan kamu, aku merasa sangat sedih. Padahal saat itu kita masih begitu kecil, aku baru tujuh tahun, dan kamu mungkin berumur lima tahun. Setelah berpisah dengan kamu, menurut salah satu ustadz di sana aku jadi anak yang selalu murung. Mungkin karena di sekolah tidak ada kamu, ya? Karena melihatku yang malas-malasan pergi ke sekolah, suatu pagi ketika matahari belum nampak seluruhnya, ustadz tersebut mengajakku pergi ke suatu bukit dekat pesantren. Bukitnya tidak begitu besar, sedang saja. Pohon-pohon di sana sangat tinggi sehingga sepanjang jalan kita akan selalu merasa teduh karena naungan dari pohon-pohon tersebut. Tidak ada jalan beraspal, hanya jalan setapak yang cukup dilalui oleh satu orang. Sepanjang jalan setapak akan ada rerumputan yang membuat celana kita kotor di bagian bawahnya setelah turun hujan karena cipratan air hujan yang mengenai tanah.

“Segala rasa lelah akan terbayar lunas ketika kita tiba di puncak bukit. Abang dapat melihat daerah Cianjur dan sekitar pesantren dengan jelas. Nampak sangat indah, Sha. Namun pada kesempatan itu bukan keindahan Cianjur yang ingin ustadz tunjukkan kepada abang. Abang diminta memejamkan mata dan menarik nafas perlahan, merasakan setiap udara yang masuk ke rongga hidung dengan halus. Mencium aroma pohon pinus yang sangat segar, merasakan udara yang bergerak lembut mengenai kulit dan memainkan anak rambut. Abang bisa merasakan embun pagi yang mengalir sejuk terasa di rongga hidung dan aroma pagi yang entah kenapa sejak saat itu selalu menenangkan dan juga membuat bersemangat untuk beraktivitas. Kita selalu bisa melakukan hal ini di mana saja, tidak melulu di daerah pegunungan.

“Kemudian setiap kali bangun sedikit lebih siang, abang akan merasa telah melewatkan sesuatu yang sangat penting-semacam energi untuk sepanjang hari- dan kemudian aku akan beraktivitas dengan tidak maksimal. Pun jika aku tidur setelah sholat subuh, seperti orang sakit rasanya ketika bangun. Sungguh rugi, Sha, jika bangun setelah subuh. Banyak hal tidak baik dari bangun siang dan tidur setelah subuh.

“Jika kamu tahu, ada yang mengatakan bahwa udara di pagi hari terasa lebih segar karena belum bercampurnya dengan nafas orang-orang munafik-nafas orang yang masih tidur nyenyak sehingga tidak bangun di waktu solat Subuh, meski terdengar sedikit kasar, namun aku setuju dengan kalimat itu.”

“Oh... pantas saja abang selalu bangun pagi sebelum terdengar adzan subuh, dan tidak tidur lagi setelah sholat subuh meskipun itu adalah hari libur dan abang tidak bekerja.” Fasha melihat ke arah langit, masih memahami segala perkataan Fadhil. Fadhil tersenyum sekilas melihat ekspresi lucu Fasha.

“Kemudian yang kedua apa, bang?”

“Yang kedua adalah hujan.”

“Mengapa abang menyukai hujan?”

“Hmmm... Antara tetes air dan tanah kering sebelum hujan, aku menyukai aroma yang muncul akibat pertemuan keduanya. Entah mengapa, rasanya begitu melegakan. Selain itu, hujan selalu membawa turun kenangan, baik yang menyenangkan maupun yang tidak.”

“Abang suka mengenang masa lalu?”

“Ya, kadang.”

“Bagaimana jika saat itu kenangan yang tidak menyenangkan yang dibawa turun oleh hujan?” tanya Fasha penasaran.

“Masih ingat ceritaku tentang seorang teman kantor yang dengan curang mengambil ideku untuk sebuah proyek besar?”

Fasha mengangguk.

“Dulu aku sempat merasa begitu kesal dan sakit hati ketika tahu bahwa ide yang kupunya ternyata dia sampaikan sudah dia sampaikan tanpa sepengetahuanku kepada ketua tim, seolah-olah dia yang memiliki ide tersebut. Ide yang dengan susah payah abang dapatkan, dengan mudah dia ambil dan klaim sebagai miliknya. Rupanya dia membaca catatan kecil yang abang simpan di atas meja kerja. Kemudian abang harus segera mencari ide yang baru dalam waktu yang begitu sedikit. Syukurlah kemudian abang mendapat ide baru untuk sebuah rancangan dengan bentuk yang lebih konkret untuk diwujudkan. Tuhan tentu memiliki rencana terbaik atas setiap hal. Ternyata ide yang dia sampaikan ditolak mentah-mentah oleh ketua tim karena dianggap sangat sulit untuk direalisasikan. Dia tidak mengetahui keseluruhan ide dan gagasan tersebut. Akhirnya justru gagasan dari abang lah yang diterima.

“Abang menyadari bahwa tidak baik memelihara kenangan buruk, termasuk segala rasa sakit hati. Abang tidak ingin selamanya hidup dalam kesakitan. Abang belajar untuk memaafkan segala kenangan buruk dan menyembuhkan sakit hati itu. Ketika hujan turun, aku akan memejamkan mata, memutar kembali kenangan buruk itu-apa pun yang membuat sakit- dengan baik, detail, tanpa ada yang terlewat. Setelah selesai, abang akan berujar bahwa aku tidak apa-apa, akan tetap baik-baik saja. Itu adalah kali terakhir aku mengizinkan diri sendiri untuk merasa sakit hati. Setiap orang tentu pernah melakukan kesalahan, namun abang bertekad untuk tidak melakukan hal yang sama sehingga membuat orang lain terluka dan merasakan sakit yang sama. Mungkin memang perlu waktu. Setiap orang tentu memiliki waktunya sendiri dalam berproses. Namun hal itu selalu berhasil padaku.”

Fadhil menoleh dan tersenyum ke arah Fasha. Ia mendapati bahwa perempuan itu sedang merenung. Mungkin Fasha tengah memproses dan mencerna setiap kata yang Fadhil ucapkan. Tak berapa lama, Fasha tersenyum ke arah Fadhil. Dia sudah memahami maksud kalimat tersebut.

“Aku juga menyukai hujan!” seru Fasha. “Memandangi hujan dari halaman rumah, jendela, balkon kamar, itu adalah hal yang sangat menyenangkan.”

“Jelas menyenangkan jika rumahmu tidak terancam banjir atau kamu sedang tidak dikejar deadline tugas. Iya kan?” Fadhil tersenyum jahil ke arah Fasha.

“Aku selalu menyukai gerimis. Setiap titik air hujan yang mengenai wajahku, entah mengapa selalu membuatku tenang. Titik hujan yang begitu halus itu seolah mengatakan bahwa aku tidak harus selalu menghindarinya. Kita selalu memiliki kesempatan untuk mengenal sesuatu lebih dekat, tidak terburu-buru untuk menghindarinya. Kita bahkan seharusnya bisa menari bersama hujan. Sayangnya, kebanyakan orang hanya bisa merutuki turunnya hujan. Aku tidak setuju. Terlepas dari berapa banyak hujan yang Dia turunkan di bumi ini, pasti akan selalu ada sisi positif yang bisa kita ambil dari hujan itu. Toh kita selalu membutuhkan air kan?”

“Iya, kamu benar. Selain itu, salah satu waktu tidak tertolaknya doa adalah waktu hujan. Maka daripada kita merutuki hujan yang turun, sebaiknya kita berdoa memohon ampun, memohon segala kebaikan atas turunnya hujan.”

“Aku setuju dengan abang,” Fasha mengacungkan jempolnya ke arah Fadhil dan tersenyum jenaka.

“Lantas yang ketiga apa, bang?”

“Kamu sungguh penasaran ya?” tanya Fadhil sambil tersenyum jahil.

“Ish! Aku serius, bang! Yang ketiga itu apa?”

“Teman-teman yang baik, termasuk kamu,” jawab Fadhil. Kening Fasha berkerut.

“Aku?” tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri menggunakan telunjuk.

“Tahukah kamu, Sha, bahwa teman-teman yang baik adalah rezeki yang tidak ternilai harganya? Teman yang baik adalah orang yang selalu mengajakmu dan mengingatkanmu dalam kebaikan, mengoreksi jika melakukan yang salah. Mereka adalah orang-orang yang selalu ada di dekatmu, baik dalam keadaan susah ataupun senang. Maka ketika mereka pergi kita tentu akan merasa sedih dan kehilangan.”

“Lantas, aku?”

“Kamu adalah adik sekaligus teman, Sha. Kadang kamu lebih dewasa daripada umurmu yang sebenarnya, bahkan jauh lebih dewasa dariku.”

“Maksud abang, aku sok tua?!”

“Hahaha... Kamu kok malah berfikir seperti itu? Itu adalah pujian dariku.” Fadhil mengusap puncak kepala Fasha yang tertutup jilbab. “ Kamu selalu punya cara sendiri untuk menegurku jika aku melakukan kesalahan. Selain pandai berperilaku, kamu juga pandai bertutur. Kamu selalu bisa menegurku melalui tutur kata dan tindakan yang kamu lakukan tanpa melakukannya sengaja untuk menyindirku. Membuatku belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Semoga kita bisa menjadi manusia yang pandai bersyukur dan bisa terus memperbaiki diri sehingga bisa memberi manfaat untuk orang lain di sekitar kita dan bahkan lebih luas lagi.”

Mereka berdua tersenyum satu sama lain.

 

 *akhirnya saya posting di sini... :3

sumber gambar: https://www.goodreads.com/author_blog_posts/5516484-kuakkan-faktanya