(Pura-pura) tak melihatmu...

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Lainnya
dipublikasikan 15 Mei 2016
(Pura-pura) tak melihatmu...

Kemarin malam, aku berjalan pulang sendirian. Jalanan lengang meski tidak benar-benar sepi. Entah dari jarak berapa meter, aku sudah bisa mengenali sosokmu. Semakin dekat, aku semakin yakin bahwa itu adalah kamu. Kita berada di dua sisi jalan yang berbeda. Berseberangan, berlawanan arah. Aku tak tahu kemana tujuanmu malam itu. Dengan jaket yang sering kamu gunakan, kamu berjalan pelan. Aku gugup! Aku hanya menatap lurus jalanan. Berpura-pura tak melihatmu. Itu adalah refleks yang selalu aku lakukan jika melihatmu. Jangankan melempar senyum, menggerakkan kepala sekedar untuk memandangmu pun aku tak berani. Setelah sekian bulan tak melihat sosokmu, kemarin aku melihatmu lagi. Aku tak pernah menyangka bahwa akan melihatmu lagi di jalanan sekitar kampus. Aku yang masih berstatus mahasiswa dan kamu yang tidak, rasanya aneh mendapati kamu berada di sini lagi. Aku tahu bahwa saat aku lebih memilih untuk melihat apapun selain kamu, kamu justru melihat ke arahku.

Aku melakukannya lagi! Berpura-pura tak melihatmu. Mungkin kamu tak tahu, aku selalu takut membuatmu menjadi orang yang berburuk sangka. Maaf...

Dulu ketika kita masih sama-sama menjadi mahasiswa, entah siapa yang lebih dahulu menemukan. Apakah aku yang lebih dahulu melihatmu, atau kamu yang lebih dulu melihatku. Ketika aku akan menyeberangi sebuah jalan yang lumayan ramai, menanti kendaraan lewat, tiba-tiba kamu berada di samping kiriku. Aku kaget. Refleks aku segera pindah ke samping kanan, berusaha membuat jarak yang lebih besar. Aku tahu kamu pasti menyadari itu. Aku sendiri tak mengerti kenapa aku malah melakukan hal seperti itu. Seolah-olah menghindarimu karena rasa tidak suka. Bukan itu yang terjadi. Hanya saja, aku selalu gugup jika melihatmu! Sejak SMA, sejak kamu membawakan kamus ke kelasku. Bahkan setelah kita tak lagi menjalin hubungan, perasaan itu ternyata tidak berubah.

Bagaimana perasaanmu ketika aku selalu bersikap seperti tak melihat atau bahkan tak mengenalimu? Sungguh aku tak bermaksud melukai perasaanmu. Jika kemudian kamu sakit hati karena perbuatanku, aku tak tahu bagaimana cara menyembuhkannya. Banyak yang aku dan kamu tak saling ketahui. Mengenai perasaan...

Apakah aku boleh -lagi-lagi- berharap bahwa suatu hari nanti kamu bisa tahu hal ini entah bagaimana caranya?

Semoga kita semua selalu ditunjukkan cara yang baik untuk menyampaikan perasaan. :)

 

sumber gambar: https://ftyar.wordpress.com/2011/09/25/berpapasan/

  • view 203