Ulang Tahun yang (Tak) Terlewat

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Lainnya
dipublikasikan 17 April 2016
Ulang Tahun yang (Tak) Terlewat

Masih ingatkah kamu enam tahun yang lalu? Aku masih ingat, 23 Februari 2010. Aku membuat sebuah rumus aneh kala itu. 23; angka 2  diambil dari tanggal kelahiranku yaitu 27 dan angka 3 diambil dari tanggal 13, tanggal kelahiranmu.  Dan kemudian dengan rumus yang sama, aku membuat penghitungan mengenai bulannya. Bulan Februari, 02, kombinasi antara 12 dan 04. Mungkin hanya aku yang menganggap bahwa tanggal itu istimewa.Kita menjadi sepasang kekasih. Sungguh menggelikan bagiku untuk memikirkannya kembali. Hubungan konyol masa SMA. Kita baru saja mengenalnya. Masih begitu polos dengan segala kecanggungan yang ada. Berpapasan di jalan setapak menuju kantor guru, berada di satu ruang ujian (ulangan semester), berada di satu angkot yang sama ketika berangkat sekolah. Ah, masa SMA memang tak pernah ada habisnya untuk dibicarakan.

Beberapa minggu kemudian, tanggal 13 April adalah tanggal kelahiranmu. Mungkin kamu tidak tahu bahwa sejak tanggal 1 April aku sudah kebingungan memikirkan hadiah untukmu. Bahkan aku bingung, apakah aku harus memberimu hadiah atau tidak. Hampir setiap hari aku membahas hadiah ulang tahun untukmu pada orang yang sama, seorang teman yang sama-sama tidak punya pengalaman tentang hal semacam ini. Tapi dia teman baikku. Hanya dia yang kupercaya untuk membahas hal semacam ini. Kemudian jika aku jadi memberimu hadiah, apa yang harus aku berikan. Sahabatku itu kemudian menyebutkan jam tangan, topi, hingga dompet sebagai hadiah ulang tahunmu. Sungguh itu adalah pemikiran remaja polos yang masih tidak tahu apa-apa tentang urusan asmara. Besar raguku untuk memberi hadiah padamu saat itu, entah mengapa.

Akhirnya kala subuh, 13 Februari pukul 5 pagi aku hanya mengirimimu pesan singkat yang ternyata tidak cukup singkat. berharap menjadi orang pertama yang menyampaikan selamat ulang tahun. Banyak doa yang kucantumkan di sana untukmu, padahal seharusnya tidak aku cantumkan. Seharusnya aku simpan semua doa-doa itu, biar hanya aku dan Dia yang tahu. Kemudian kamu membalas pesanku. Ucapan terima kasih dengan simbol senyum di ujungnya.

Sembilan bulan setelahnya, kita memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Kita sama-sama tahu alasannya meskipun tidak ada seorang pun di antara kita yang membahas alasannya. Sejujurnya hingga hari ini aku masih penasaran dengan alasanmu, masih ingin tahu dari dirimu langsung. Tapi tak apa. Mungkin memang sebaiknya aku tidak tahu supaya tidak terluka. Biar saja langit yang menyimpan alasanmu.

Bulan Desember, hari ulang tahunku. Ternyata kamu memberi ucapan. Kamu membalas perlakuanku waktu itu, hanya menyampaikan pesan lewat layanan pesan singkat, dan ternyata isinya memang singkat. Sederhana, namun tetap santun. Ku kira kamu tidak akan melakukan hal itu, mengingat hubungan kita tidak sama lagi seperti saat kamu ulang tahun.

Di bulan April tahun berikutnya, aku kembali bingung. Bukan mengenai hadiah ulang tahun, tapi kini mengenai ucapan selamat. Apakah aku harus memberi ucapan selamat ulang tahun? Jawabannya tentu tidak. Kemudian aku ganti pertanyaannya menjadi: apakah aku perlu mengirimu pesan sebagai balasan atas pesanmu di bulan Desember lalu? Akhirnya aku kirim pesan kepadamu, tentunya dengan kata-kata yang jumlahnya lebih sedikit dari bulan April tahun lalu. Kamu masih membalas pesanku. Ternyata beberapa tahun kemudian kamu masih mengirimiku pesan singkat di hari ulang tahunku. Dan itu pula yang aku lakukan di beberapa bulan April berikutnya, sebagai balasan pesan-pesanmu di beberapa bulan Desember.

Tapi di bulan April kali ini, aku tidak mengirimu pesan. Padahal kamu masih mengirimiku pesan di bulan Desember lalu. Maaf...

Bukannya aku tak ingat. Sungguh, setiap hari aku ingat hari ulang tahunmu. Kuharap kamu tidak menanti pesan dariku. Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan tentangku. Kita sudah terpisah jarak yang cukup jauh. Aku hanya sedang belajar untuk lebih menjaga hati, tidak ingin kembali terlempar pada masa lalu kita. Karena kita tahu, mengenai perasaan, urusannya selalu tidak mudah. Karena masa lalu hanyalah sesuatu yang berada di belakang kita. Kuharap kamu tidak berburuk sangka. Kuharap aku tidak membuatmu berburuk sangka. Meskipun aku tidak menyampaikan hal ini padamu, entah bagaimana caranya, semoga suatu hari nanti kamu bisa tahu mengenai hal ini.

Selamat ulang tahun untukmu. Selamat mencapai angka 23 tahun. Selamat menempuh hidup baru di dunia pasca kampus. Selamat bekerja. Selamat mengamalkan ilmu. Selamat berjuang. Semoga ...... (isinya rahasia! Silahkan isi sendiri! ^^)

 

*sumber gambar: http://insenia-id.blogspot.co.id/2014/05/7-hal-yang-identik-dengan-ulang-tahun.html