Tersesat di Jalan yang Benar

Ari  Hilfa
Karya Ari  Hilfa Kategori Lainnya
dipublikasikan 10 April 2016
Tersesat di Jalan yang Benar

“Kalian tersesat di jalan yang benar!”

Seorang kakak tingkat mengucapkannya di dalam sebuah aula yang dijadikan sebagai suatu acara penyambutan untuk mahasiswa baru. Aku menjadi salah satu peserta dalam acara tersebut. Terdengar aneh bagiku saat pertama kali diucapkan oleh sang senior. Seperti sebuah doktrin yang memaksakan pemahaman bahwa kita harus menerima keadaan, hanya saja paksaan itu dilakukan secara halus. Semakin lama, semakin sering disiarkan, aku semakin sering mendengar kalimat itu. Terbiasa dengan kalimat itu rupanya membuatku (dan mungkin semua orang yang juga tersesat) lupa bahwa kami tersesat.

Saat ini aku adalah mahasiswa tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi negeri, jurusan Agronomi dan Hortikultura (AGH). Kami-mahasiswa tingkat satu menjalani perkuliahan seperti SMA kelas 13 karena pelajaran yang dipelajari memang mengulas pelajaran SMA, hanya saja dipelajari lebih dalam. Di semester dua, ada mata kuliah interdepartemen, yaitu mata kuliah yang mulai menjurus pada prodi jurusan masing-masing. Aku sendiri yang merupakan mahasiswa Agronomi justru mendapat mata kuliah Dasar-Dasar Komunikasi. Hal ini membuatku bingung, kenapa bukan mata kuliah Dasar-Dasar Agronomi.

Kami mulai mempelajari mata kuliah yang berkaitan dengan jurusan masing-masing pada semester tiga. tidak menyangka bahwa ada banyak praktikumyang dilakukan di lapang. Hampir setiap pagi (lima hari dalam seminggu) kami melaksanakan praktikum di lahan percobaan, bergelut dengan tanah, pupuk, cangkul, ember, tanaman perkebunan. Akhirnya aku berkenalan dengan mata kuliah Dasar Agronomi (sebut saja Dasgron). Ini adalah praktikum pertama kami (mahasiswa Agronomi), dengan ukuran lahan ukuran sekitar 7 m x 10 m dikeroyok hingga 10 orang. Tak lama kemudian kami menjadi terbiasa dengan kegiatan mencangkul, memupuk, menyiangi gulma, menyiram, baik itu perempuan mau pun laki-laki. Semakin lama menjalani kegiatan praktikum dan kuliah, kami semakin sadar bahwa praktikum Dasgron itu tidak ada apa-apanya, hanya pemanasan. Rupanya di semester berikutnya banyak praktikum yang lebih menantang. Jumlah mahasiswa AGH yang banyak membuat hari-hari kami selalu ramai.

Hari-hari kami selalu riweuh dengan berbagai laporan praktikum dan tugas. Kami belajar untuk memahami karakter setiap orang dengan cara kami masing-masing. Berada di jurusan ini membuat kami belajar tentang kebersamaan, tapi di waktu yang sama kami juga belajar tentang kemandirian. Jumlah mahasiswa AGH yang termasuk banyak membuat kami hampir selalu bersama di kampus, mengerjakan banyak hal bersama. Mulai dari praktikum jam 7 pagi di lahan, kuliah hingga petang bahkan malam, dilanjut dengan kerja kelompok atau kumpul organisasi yang tak jarang hingga melewati jam (maaf) bego. Sampai jam 2 dini hari di kampus, mengungsi di salah satu kosan/ kontrakan teman untuk mengerjakan tugas, belajar bersama menjelang ujian.

Dan sekarang ketika sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir, masuk semester 8 kebanyakan dari kami sudah tidak ada kuliah, hanya tinggal fokus pada penelitian. Jarang bertemu mereka membuatku merasa aneh. Ada yang kurang setiap kali aku ke kampus (meski pun masih datang ke kampus setiap hari). Hari demi hari berlalu, ternyata aku merindukan banyak hal. Aku rindu bertemu teman-teman, rindu lelahnya praktikum dan kotornya pakaian terkena tanah dan keringat, rindu mengerjakan laporan, bahkan rindu begadang. Rupanya aku sering kali mencari alasan supaya bisa bertemu dengan teman-temanku itu. Kini kami selalu saling membantu dalam menyelesaikan tugas akhir ini. Ketika bisa membantu penelitian teman, di situ lah aku bisa ketemu mereka. Beberapa hari yang lalu, aku membantu salah seorang teman yang sedang penelitian di tempat praktikum yang letaknya hampir paling belakang kampus. Walau hanya bertemu beberapa orang, tapi aku senang bisa ketemu mereka. Pun mereka membantuku untuk penelitian, padahal mereka mempunyai kesibukan yang sama-bahkan lebih terkait penelitian mereka masing-masing. Aku terharu, sungguh.

Sebagai mahasiswa fakultas pertanian, jarang di antara kami yang waktu penelitiannya hanya satu bulan. Jika pun ada, hanya beberapa. Kebanyakan dari kami melaksanakan penelitian sekitar 3-4 bulan, termasuk aku. Bahkan jika penelitiannya gagal dan harus mengulang, bisa jadi 8 bulan. Di situlah kesabaran dan strategi mahasiswa AGH diuji. Bacaimana caranya merencanakan penelitian, kuliah, organisasi, yang mana jika salah mengatur jadwal, maka lulusnya bisa jadi sangat telat.

Hingga ratusan hari kulalui bersama teman-teman terbaik, aku lupa bahwa dulu aku sempat merasa tersesat-meski pun di jalan yang benar. Tidak pernah menyesal berada di jurusan ini. Ini adalah rencana terbaik dari-Nya untukku untuk belajar bagaimana cara memberi makan dunia. Menempatkanku di tengah-tengah mahasiswa AGH. Mereka adalah salah satu keluarga terbaik yang pernah ada. tidak sempurna, tapi justru ketidaksempurnan itu yang membuat semua orang bisa saling melengkapi, menggenapkan kesempurnaan tersebut.

Setiap orang mungkin pernah merasakan apa yang kutulis ini, menganggap bahwa ini adalah hal yang biasa saja. Bagiku ini adalah bagian hidupku yang sangat luar biasa. Aku hanya ingin menuliskan nama mereka, selalu tahu bahwa kami pernah berjuang bersama dan paham bahwa kami ada di jalan yang benar, mengemban tugas besar untuk memberi makan dunia.

 

Keluarga Lotus

Agronomi dan Hortikultura 49

FEED THE WORLD!

  • view 103