Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 22 Juni 2018   16:23 WIB
Menikahimu : Rezeki Cukup Untukku

Menikahlah, nanti Allah yang akan mencukupkan rezekimu.

Sepenggal kalimat diatas adalah ajaran yang selama ini sering aku dengar. Berkaitan dengan hal ini, pertama yang aku lakukan setelah menikah adalah untuk membagi keyakinan tersebut  kepada pasanganku. Dia yang akan menjalani hidup bersamaku. Karena tidak selalu setiap pemikiran dan apa yang tumbuh dalam hatiku seirama dengannya. Beruntunglah mereka yang memiliki pemikiran dan keyakinan yang sama sebelum dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Langkah hidupnya akan dinamis dan dinamikanya nyaman terasakan bersama.

Urusan penghidupan di hari-hari awal pernikahan terkadang menjadi tema pembicaraan utama setiap pasangan muda. Begitupun dengan kami. Mungkin sebagian dari kita waktu dimabuk cinta pra-pernikahan ada yang berfikir asal ada cinta hidup bersama pasti akan bahagia. Tapi setelah pernikahan itu terjadi, kita semua menjadi sedikit realistis dengan membenarkan petuah orang tua yang sering mampir di telinga kita. “Hanya dengan cinta tak akan bisa membuat perutmu kenyang.”  ‘Perut kenyang’  konotasi dari kecukupan segala kebutuhan dalam berkehidupan. Disinilah konsep meyakini janji Allah akan jaminan kelangsungan penghidupan serta bagaimana mengupayakannya harus bisa kami pahami dengan semestinya.

Jaminan penghidupan dari Sang Maha Pemberi Rezeki tidak dapat kami artikan sebagai sesuatu yang diterima tanpa upaya. Semata hanya karena kami telah menikah dan kami telah berdua. Melainkan Allah akan melebihkan kemauan dan kemampuanku sebagai hambanya yang telah menikah untuk menjemput rezeki dariNya sebagai upaya menghidupi orang lain yang tanggung jawab nafkahnya menggantung di pundakku. Dengan keyakinan di setiap penghujung upaya berlandaskan cinta itu, Allah akan siapkan rezeki yang akan mencukupi. Berapapun hasil yang tertangkap oleh usahaku. Berapapun nilai yang terhitung olehku. Tercukupi, selama itu didapat dari jalan dan cara yang baik, disitu insyallah ada keberkahan terselip di dalamnya. Itulah pemahaman kami akan jaminan rezeki yang Allah janjikan kepada kita bersyaratkan ragam upaya sejauh yang kita bisa.  

Hal terpenting dalam upayaku melayarkan biduk rumah tangga ini bersamnya adalah untuk tidak menyemai benih kekhawatiran akan kelangsungan jalannya. Tidak perlu khawatir akan masa yang mungkin kami tidak sukai, karena mungkin ada cinta dan asa yang mungkin dapat kami nikmati. Cukuplah kami berkeras tekad dalam mengupayakan karuniaNya. Kami sepenuhnya memahami bahwa mengupayakan rezeki pada dasarnya adalah bentuk penghambaan kepada Allah sebagai seorang hamba. Masalah hasilnya itu ada dalam kuasaNya. Kekhawatiran kami sedikitpun tak akan mengecilkan kuasaNya, begitupun kesungguhan upaya kami tak sedikitpun menambahinya. Namun, kebersyukuran pada setiap nilai yang kami dapati adalah faktor pengali dari jumlah nilai yang tak terbatasi. Berapapun nilainya cukup? Insyallah CUKUP!! Itulah yang kami yakini.

Sesungguhnya apa yang kami rasakan dalam pernikahan ini bukan hanya jaminan Allah akan kecukupkan rezeki dalam wujud materi semata sampai sejauh ini. Lebih dari itu, rezeki dalam bentuk kebahagiaan di setiap kebersamaan kami adalah karunia yang lebih dari sekedar mencukupi. Ada ketenangan di saat tangan saling menggenggam, ada syukur di setiap suap makanan yang diberikan, ada kebaikan di setiap huruf yang saling dilafalkan, dan ada kekhusyukan di setiap sujud dalam penghambaan. Bukankah semua itu rezeki terbaik yang lebih dari mencukupi ?

Dalam urusan rezeki ini aku berpesan kepadanya, jika saat ini kami telah berdua, Aku akan mengajaknya untuk yakin kepada Allah dalam keberduaan ini. Jika nanti kami bertiga aku akan mengajak mereka untuk yakin kepada Allah dalam kebertigaan itu. Dan jika nanti kami tumbuh menjadi keluarga yang lebih besar, Aku akan mengajak mereka untuk yakin kepada Allah bersama seluruhnya. Niscaya Allah tak akan meniggalkan kami di belakang do’a dan usaha ini. Dia yang akan memperjalankan kita kepada kondisi terbaik seindah lantunan do'a dalam setiap permohonan yang pernah kita langitkan. Yakinlah Allah begitu senang melihat hambaNya yang kuat dalam usaha dan pasrah dalam ketawakalan. Bersamanya aku ingin mendengar seolah Allah berbisik Kalian memang hambaku yang penuh keterbatasan, Kemarilah biar kudekap engkau dengan kekuasaan yang ada padaku.”  

Bersamanya aku membuktikan jalan pernikahan menjadi pembuka rezeki dalam berbagai wujud yang selalu membuatku tercukupi.  Jadi "Menikahlah, nanti Allah yang akan mencukupkan rezekimu."

220618  -HnR -

Karya : Hidayah Rahmad