Mudik Lebaran

Hidayah Rahmad
Karya Hidayah Rahmad Kategori Lainnya
dipublikasikan 11 Juni 2018
Mudik Lebaran

Di penghujung bulan Ramadhan kita dapat melihat fenomena tahunan perpindahan manusia secara besar-besaran dari dan menuju berbagai pelosok di negeri ini. Ya, Mudik Lebaran adalah sebuah tradisi yang telah berlangsung puluhan tahun lamanya di negeri bernama Indonesia ini. Konon jumlah orang yang melakukan Mudik Lebaran setiap tahunnya di Indonesia sekitar lebih dari 30 juta orang. Mudik Lebaran mungkin adalah salah satu migrasi manusia terbesar di dunia meski tak sebesar Chunyun  yang terjadi di China. Chunyun adalah tradisi mudik dalam rangka merayakan Imlek sekaligus liburan bersama keluarga yang dilakukan setiap tahun penduduk China. Tradisi ini dikenal sebagai migrasi temporer-tahunan paling akbar di dunia.

Mudik lebaran adalah sebuah fenomena yang  menggambarkan bagaimana seorang manusia  itu adalah makhluk yang memiliki nilai keterikatan pada asal usulnya. Kampung halamannya. Tempat dimana tersimpan banyak nilai nilai berharga pada manusia tersebut. Nilai itu tertanam kuat dalam jiwanya. Sehingga dimanapun mereka berkelana dan menjelajah sudut dunia, namun ketika waktu untuk pulang itu tiba mereka akan kembali meski berat usaha yang harus dilalui.

Begitu besar upaya seseorang untuk dapat Mudik dan mencapai tempat bernama “rumah ” itu.  Mereka mengeluarkan biaya yang tidak murah untuk selembar tiket transportasi, menempuh perjalanan berjam-jam atau bahkan berhari hari, bergelut peluh di jalanan, atau bersabar dengan kemacetan yang kadang tak terprediksi. Bahkan terkadang resiko besar pun dipertaruhkan oleh mereka yang ‘memaksa’ diri dengan alat transportasi seadanya dan menomorsekian-kan aspek keselamatan dirinya sendiri. Namun semua gambaran kesusahan dan ketidaknyamanan untuk dapat mudik itu tak pernah membuat orang urung melakukannya. Karena perjalanan pulang  adalah lelah yang selalu dirindukan.

Lantas, ada apakah kiranya di tempat asal itu? Untuk alasan apa mereka menempuh jarak ratusan atau bahkan ribuan kilometer itu? Adalah niatan untuk berbagi segala hal dengan mereka yang ada disana. Berbagi nikmat dalam sepotong kebahagian yang dikais dari tanah rantau, atau sekedar cengkerama hangat dalam tukar cerita cinta dengan mereka yang istimewa.
 
Kalaulah dia seorang Ayah, tentunya tak ada waktu yang lebih membahagiakan dibandingkan saat berkumpul dengan anak dan istri tercintanya. Sambutan senyuman mereka adalah sebuah penghargaan terindah atas kerja keras dan ikhlasnya. Jikalau dia seorang anak, pastilah demi sebuah keridloan  Allah melalui usapan lembut tangan seorang Ibu yang mendarat di kepalanya. Bukankah itu adalah modal utama dia melangkah meraih segala cita? Dan jika dia seorang saudara tentu untuk membangun jalinan silaturahim  dengan sesama dan mengharap keberkahan hidup akan hadir dari upayanya.

Kepayahan mereka bukanlah sebuah kesia-siaan, semua mereka lakukan demi sebuah momen indah disaat berbagi kebahagiaan dalam kebersamaan dengan orang terkasih di hari yang istimewa.


Selamat mudik lebaran saudaraku semua, semoga Allah melindungi kita sampai bertemu  keluarga tercinta di kampung halaman.


180611    -HnR-

Thumbnail  diambil di sini.

  • view 52