BENARKAH TERORIS ITU BUKAN BAGIAN DARI ISLAM??

BENARKAH TERORIS ITU BUKAN BAGIAN DARI ISLAM??

Hidayah Rahmad
Karya Hidayah Rahmad Kategori Agama
dipublikasikan 21 Mei 2018
BENARKAH TERORIS ITU BUKAN BAGIAN DARI ISLAM??

Sebuah foto keluarga pelaku peledakan bom di Surabaya muncul di beberapa media. Di sana terlihat, bagaimana dua perempuan kecil yang berkerudung, ibunya yang berkerudung panjang, lengkap dengan ayahnya yang hitam jidatnya. Dan konon menurut cerita dari salah seorang yang mengenal dekat dengan sang pelaku, bahwa sejak kecil sang ayah mengikuti kegiatan rohis semasa sekolahnya, lalu rajin mengkaji Islam, rajin shalat ke Masjid berjamaah dengan anak-anaknya. Pokoknya kehidupannya “islami”.

Beberapa orang merasa tidak dapat menerima kenyataan bahwa yang melakukan tindakan terorisme tersebut adalah orang yang tampilannya memang “islami”. Kemudian mereka mengemukakan sebuah teori konspirasi jika keluarga tersebut adalah orang yang dipersiapkan dan dibentuk oleh pihak di luar Islam untuk menghancurkan nama Islam itu sendiri. Atau orang yang digunakan oleh pihak lain sebagai alat untuk mencapai kepentingan tertentu. Lebih simplenya, mereka menganggap jika golongan pelaku ini adalah orang yang bertindak atas perintah orang lain dan bukan dari dorongan pemahaman ideologi yang dianutnya.

Akan tetapi, rekam sejarah kehidupan si Pelaku menceritakan hal lain yang tak dapat dibantah jika memang dia adalah bagian dari orang yang beragama Islam. Menganut ideologi Islam. Pelaku hampir selama puluhan tahun berkecimpung dalam kegiatan islam, menjalankan ajaran islam( sholat, puasa, ngaji). Rasanya sejarah keseharian semasa hidup pelaku akan dinilai terlalu lama untuk skala waktu teori konspirasi kamuflase yang bertujuan untuk sebuah kepentingan politik, agama, atau apapun itu yang terjadi di negeri ini. Apalagi jika dihubungkan dengan kepentingan politik belakangan ini tentunya akan menjadi hal yang tidak dapat diterima dengan melihat eskalasi politik sistem demokrasi Indonesia yang begitu cepat berubah. Mungkin kita akan bertanya adakah orang yang membuat konspirasi untuk sebuah kekuasaan di negeri ini dalam periode waktu puluhan tahun lamanya? Sedangkan penguasa yang bertahta di negeri saat ini adalah orang yang tak punya pengaruh atau bahkan mungkin tak pernah terdengar namanya sepuluh tahun yang lalu. Rasanya jauh dari kemungkinan itu, jadi berhentilah berfikir jika semua ini adalah sebuah konspirasi.

Dari fakta yang ada kita sulit untuk tidak mengakui bahwa pelaku teroris di Surabaya adalah orang yang menganut ideologi islam. Islam dibawa oleh Rasulullah SAW sebagai rahmatan lil aalamin. Akan tetapi ajaran islam yang kontekstual dapat ditafsirkan beragam oleh beberapa orang dengan ekspresi dalam bentuk amalan yang berbeda pula. Disinilah pentingnya mengkaji Islam dengan benar agar tujuan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam dapat terwujud dari amalan sholih para penganutnya.  Kita tak perlu takut mengakui jika ada golongan yang memang tersesat memahami islam di tengah kehidupan keberislaman kita. Itulah kenapa Sheikh Muhammad Abduh pernah mengatakan bahwa "Islam tertutup oleh umat Islamnya sendiri."

Pemikiran radikal adalah buah pemahaman Islam yang melenceng. Betapa banyaknya generasi yang masih belia di sekitar kita terjangkit pemahaman sesat ini. Tugas kita sesama umat Islam adalah merangkul dan memberikan pemahaman Islam yang benar terhadap mereka sehingga sel- sel radikalisme akan dapat ditekan perkembangannya. Sedangkan sikap tidak mengakui mereka sebagai bagian dari pemeluk Islam adalah menutup salah satu pintu terbukanya jalan kebaikan bagi mereka untuk kembali kepada Islam yang semestinya.

Jika mereka tersesat dalam memahami Islam sebagai agama, jalan mana yang akan dapat meluruskannya pada kebenaran selain dari pendidikan Islam yang benar itu sendiri.

Catatan Ramadhan.

180518
HnR

  • view 40