Nenek & Hari Bersalju

Nenek & Hari Bersalju

Hidayah Rahmad
Karya Hidayah Rahmad Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 25 Januari 2018
Nenek & Hari Bersalju

Timeline FB pagi ini diwarnai update kondisi cuaca kota Seoul yang dingin pada winter tahun ini. Konon mencapai minus 15 derajat celsius. Yah kota itu, kota yang pernah aku hirup udaranya selama bertahun-tahun dan hampir lima tahun lalu aku meniggalkannya. Saat musim dingin mencapai puncaknya pesona Si Putih yang menyelimuti wajah kota selalu menjadi pemandangan menarik untuk diabadikan kebekuannya. Beberapa foto yang diunggah teman hari ini seolah menggugah kerinduanku akan rasanya dan segala yang pernah ditemui di sana. Begitulah rasa, meski telah bertahun berlalu begitu mudah untuk diudar dan diulang kembali. Begitulah rasa, urusan dengannya memang tidak melulu akur dengan waktu. Seberapa lamanya dia terpendam, ketika setitik puzzle-nya memanggil dia kan cepat hadir dan bercerita.

Ada sebuah cerita menarik yang pernah aku lewati saat winter di sebuah tempat pinggiran Ibukota Seoul  kurang lebih lima tahun yang lalu. Dan sampai sekarang aku masih ingat betul setiap detailnya. Awal bulan Februari waktu itu suhu di kota ini tercatat rekor terendah selama hampir satu dekade terakhir yaitu sampai menyentuh 18 di bawah nol derajat. Situasi ini membuat semua orang terlihat tidak nyaman dengan segala aktivitasnya. Semua orang terlihat tak bisa bersabar dengan pacuan langkah kakinya. Akupun saat itu berjalan setengah berlari seakan sedang berkejaran dengan orang-orang di depanku. Suhu dingin benar-benar menutupi keindahan kota ini yang biasanya selalu dapat menarik perhatianku untuk menikmati di setiap sudutnya.

Setelah beberapa menit  berjalan sampailah aku di depan station subway biasa aku menunggu kereta ke arah pusat kota Seoul. Waktu siang yang mulai menggelap, hari itu memang tak seramai biasanya. Aku mendaki anak tangga yang tertutup oleh salju, sambil kuperhatikan butirannya terserak oleh langkah kakiku. Hari itu Si Putih memang turun begitu lebat, ancaman kebekuan yang dia terbarkan kepada setiap yang ada di permukaan bumi begitu terasa.

Suara alarm station tanda kereta datang memacu langkahku semakin cepat. ”Jangan sampai aku harus menungu kereta selanjutnya!!”  pikirku dalam hati. Aku tak sanggup klau harus menunggu dalam kedinginan lebih lama lagi. Tapi memang langkahku tak secepat laju lokomotif Seoul Metro siang itu. Ketinggalan kereta dan terpaksa menahan rasa dingin lebih lama lagi adalah kenyataan  yang harus dihadapi.

Di tengah suhu dingin yang menusuk aku berdiri di depan mesin penjual tiket sambil menenggelamkan separuh kepalaku pada syal hitam yang melingkar di leherku. Sejurus tatapan mataku tertuju pada  seorang nenek tua yang duduk di sudut pintu masuk stasiun.

Nenek itu.. sepertinya aku pernah melihatnya..” gumamku dalam hati sambil mengingat-ingat wajah wanita tua itu.

Yah, nenek itu yang biasa berjualan di pasar Annyang..” yakinku saat itu.

Sesekali kuperhatikan dia merapatkan syal yang melekat di lehernya sambil menghela nafas panjang diikuti uap yang keluar dari sela-sela bibirnya. Terbayang olehku berapa lama dia telah duduk di sana dan betapa tersiksanya seharian melawan tusukan hawa dingin sambil menjajakan jualanya. Aku mulai merefleksikan kondisi itu pada diriku sendiri. Jika aku yang ada di sana jangankan dalam hitungan jam, bilangan menitpun akan mudah membuatku menyerah.

Aku tertarik  untuk mendekat kepadanya dan melihat apa yang dijualnya saat itu. Aku tak mampu menyembunyikan rasa iba  ketika kulihat dari dekat dan kudapati guratan di wajahnya menandakan betapa payahnya dia bergelut dengan hari-harinya. Aku berfikir,  jika di negeri sana orang seusia dia pasti tinggal menikmati hari tua ditemani anak dan cucu dalam kehangatan keluarga. “Tapi ni Korea Bro jangan kau bandingkan dengan kondisi di negeri sana..”  dalam sekejap kata-kata yang muncul di kepalaku itu menganulir pemikiranku sendiri.

Di negeri ini kebanyakan orang terbiasa bekerja sampai tua..iya sampai tua. Bahkan ada yang mengatakan semakin tua mereka semakin giat dalam bekerja, karena saat yang mereka miliki untuk berusaha tidak akan banyak lagi sebelum akhirnya tertidur lelap dalam kebanggan karena tidak menjadi bagian yang menyusahkan orang lain. Mereka ada yang jadi satpam, yang bersihin jalanan, atau pemungut sampah. Dan mereka tak akan pernah berhenti dan berdiam meskipun saat keadaan sedang sulit di musim dingin seperti ini sekalipun.

Ini berapa Nek?” Sambil kupegang gunting kuku, satu diantara barang dagangan seperti sisir, cotton bud, ikat rambut yang si nenek jual siang itu.

“3,000 Won.”  jawab si nenek sembari senyumnya berbinar sambil melihat ke arahku.

Jawaban si nenek membuatku menghitung hitung dalam hati, seandainya dalam sehari nenek itu mampu menjual 20 diantara macam barang yang dijualnya, keuntungannya mungkin hanya cukup untuk makan sehari saja. Sedangkan di tengah cuaca dingin seperti ini rasanya mustahil menghentikan langkah 20 orang hanya untuk membeli barang yang mudah mereka  dapatkan di  minimart dekat apartemen mereka tinggal. Akhirnya kuambil satu gunting kuku itu dan aku berikan pecahan uang lebih kepada si nenek itu. Tetapi nenek itu menolak seraya berkata kepadaku ”Aku akan menerima sebatas harga satu gunting kuku itu nak, Selagi masih muda kumpulkan banyak uang gunakan baik-baik.” akupun hanya mengangguk sekenanya. Jawaban nenek itu membuatku kehabisan kata-kata.

Kupegang tangannya kuucapkan terimakasih sambil kulihat wajahnya yang sayup dan akupun beranjak darinya karna tak ingin kutumpahkan airmata ini di hadapanya. Sepertinya nenek penjual gunting kuku itu begitu sadar bahwa kakinya berpijak di putaran roda kehidupan yang kencang, jikalau dia tidak keras berusaha untuk berlari maka harus bersiap untuk digilasnya.

Yaa Rabb..Terkadang Engkau ajari hambamu dengan ayat-ayatmu yang tak mudah untuk kami pahami, tetapi hari itu Engkau buat hamba mengerti dengan caraMu. Betapa banyak jiwa-jiwa yang Engkau berikan keteguhan hati walaupun mereka dipandang rapuh oleh mata dunia sehingga mereka mengharamkan tangannya menengadah ke atas. Mereka yang hatinya yakin akan pertolongan dan kepastian nikmatMu akan mencukupinya. Dan betapa banyak jiwa-jiwa yang engkau penuhi rasa syukur sebagi hiasan kehidupnya sehingga matanya tertutupi dari kilauan rayu dunia.

Dari apa yang terlihat, Engkau buat kami sadar jika bumi tempat kaki ini berpijak telah memberikan yang cukup sebagai nikmatMu bagi mereka yang engkau kayakan akan rasa syukur. Tetapi seluruh yang dikandung bumi tak akan pernah menjadikan kenyang bagi mereka yang berjiwa tamak dan rakus.

Hari itu aku belajar makna kegigihan dan kebersyukuran dengan melihat jiwa-jiwa yang pandai menjaga marwah dirinya dan senantiasa merasa tercukupi oleh setiap karunia tuhannya. Semoga Allah senantiasa mudahkan kita menemukan rasa syukur di setiap keadaan yang melekat dalam kehidupan kita saat ini.  Aamiin.

Thumbnail diambil di sini

HnR  240118

  • view 43