Saat Kita Dipertemukan

Hidayah Rahmad
Karya Hidayah Rahmad Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 November 2017
Saat Kita Dipertemukan

Takdir pertemuanku denganmu berawal dari sebuah pesan singkat dari seorang Abang sekaligus orang yang kuanggap sebagai guru dalam banyak hal di hari kedua Syawal 1438 H. Seperti puluhan pesan lain yang aku terima pada hari itu, sekedar tanya kabar dan pastinya ucapan selamat lebaran. Namun di pesan selanjutnya si Abang selipkan sebuah pertanyaan singkat yang cukup mengejutkanku “Saudara minta dicarikan jodoh, Antum Siap? “. Deg…betapa terkejut jantung ini membaca pesan itu. Meski pesan dan tawaran seperti itu bukan yang pertama aku terima. Namun lagi-lagi aku selalu dikejutkan oleh hal seperti ini. Ibarat murid tiba-tiba disuruh ujian tanpa kisi-kisi. Semuanya serba tak terprediksi. Seketika  berbagai perasaan muncul berkecamuk dalam dada. Mengingat rekam sejarah urusan yang satu ini dengan perantara si Abang ini beberapa kali berujung  Su’ul khotimah. Ditambah lagi pada hari itu diri masih dalam proses pemulihan mental akibat pertanyaan “Kapan nikah..?”  yang meneror tanpa ampun selama seharian safari lebaran ke beberapa rumah saudara. Dan aku yakin dengan posisimu sekarang ini mungkin hal yang sama juga engkau terima jadi tak perlu aku ceritakan bagaimana rasanya. Sakitnya nggak tau ada dimana..^^

Kembali mataku tertuju pada layar handphone dan melihat pesan si Abang yang belum sempat terbalas itu. Kemudian aku merasa seperti ada keyakinan yang mengatakan jika pesan si Abang tersebut mungkin pertolongan Allah pada hambanya yang teraniaya oleh aksi teror kata-kata yang sadis itu. Akhirnya tanpa berfikir panjang dan seperti ada kekuatan yang menuntun jariku untuk mengetik satu kata empat huruf caps lock lengkap dengan tanda seru “ SIAP !”. Hanya beselang menit satu kata itu melesat membalas pesan mengejutkan itu.

Sesaat setelah balasan pesan itu, aku terima sebuah file berisikan lembaran halaman medeskripsikan tentang dirimu. Aku baca tulisan itu, kupegang daguku bersama satu anggukan mantap kurasakan satu keyakinan yang muncul dari dalam dada ini kepadamu. Keyakinan itu semakin kuat setiap kali kusebut namamu dalam munajatku pada sang pemberi petunjuk. Sejak saat itu aku memperoleh keyakinan besar jika dirimu adalah orang yang pantas untuk aku upayakan.

Ada sebuah terori sederhana yang kau yakini sampai saat ini, jika sesuatu itu memang Allah takdirkan menjadi bagian hidup kita, tanda pertama yang mungkin kita rasakan adalah adanya nilai yang tak biasa saat mata pertama kali menemukannya dan hati akan berusaha menampung dalam ruangnya. Dan mungkin saat itu telah kutemukan tanda itu dalam dirimu saat pertama kali diri ini dekat denganmu.

Telah berulang kali aku berikan nama kepada Ibuku, orang yang biasa aku jadikan penimbang untuk menakar kepantasan wanita yang akan aku pilih menjadi teman hidup. Beragam tanggapan telah aku terima. Dari sekian nama yang pernah aku berikan, ada yang dia acuhkan, ada yang dia ragukan dan ada pula yang dia takutkan jika aku sampai hati memilihnya. Namun sepertinya namamu baginya adalah pengecualian dari semua itu. Kamu adalah satu-satunya nama yang mendapatkan jawaban satu kata "IYA" tanpa koma darinya ketika aku perlihatkan gambar wajahmu dan kujelaskan siapa dirimu tak lebih dari satu paragraf tulisan yang aku pegang saat itu. Jawabannya semakin meyakinkanku jika kamu memang istimewa dan bernilai tidak biasa untukku.

Seminggu setelah itu kita mulai saling berkomunikasi, bertukar fikiran dan saling menyelami dalamnya hati satu sama lain. Kau mengajakku diskusi dalam beberapa hal rumit yang mungkin hanya sekedar mengujiku atau memang benar -benar karena keingintahuanmu akan siapa aku. Aku jawab jujur sebisa yang aku mampu, dan aku tau mungkin kamu masih ragu saat itu.

Saat kau posisikan aku duduk berhadapan dengan kedua orangtuamu, aku merasa bahwa diriku tak lebih dari seorang pemuda dengan modal kenekadan yang siap menerima konsekuensi apapun untuk mengambil alih tanggung jawab atas dirimu dari mereka yang menjadi pelindung  seumur hidupmu. Aku terima pertanyakan ini dan itu. Waktu tiga jam penuh deg-degan, rikuh dan kekakuan itu akhirnya pun berlalu. Aku meng-'iya'-kan pertanyaan walimu ketika menguji kesungguhanku. Namun Kau pinta aku menunggu seminggu untuk sebuah jawaban darimu. Waktu seminggu yang setiap detik, menitnya terasa berputar begitu panjang.

Selepas waktu dzuhur tepat seminggu kemudian aku terima  pesan panjang sebagai pengantar sebuah keputusanmu. Berulang kali aku membacanya sampai aku yakin diriku tak salah mengartikan barisan kata-kata yang membuatku begitu gembira siang itu. Kau berkeputusan menjadikan diri yang penuh kekurangan ini sebagai pemimpin untuk kehidupanmu. Kau telah jatuhkan pilihan untuk sebuah urusan besar dalam hidupmu. Entah atas pertimbangan apa keputusan itu kau ambil, mungkin hanya dirimu dan Allah yang tau. Aku hanya berharap Allah pantaskan diriku atas pilihanmu untuk menerimaku.

Hari itu,  Masjid jami’ kotamu yang indah menyaksikan ketika aku ikrarkan perjanjian yang kuat itu. Allah telah bukakan tabir takdir yang tertulis untukku di lauhul mahfudz bahwa dirimu adalah jodohku.  Kini aku ingin mengajakmu merayakan kebersamaan ini. Akan kubawa engkau tamasya dalam kehidupanku, dan aku pun mencoba minikmati hidup dalam kehidupanmu. Keadaan yang harus kita terima, saat kita dipertemukan dalam begitu banyaknya perbedaan yang ada. Menyamarkan segala perbedaan itu agar dapat ternikamati dalam keselarasan pastinya tidaklah mudah dan mungkin butuh waktu. Ini adalah proses panjang yang harus kita jalani untuk dapat merasakan bahwa kehidupanku adalah bagian dari hidupmu, begitu pun sebaliknya. Saat kita benar-benar merasakan apapun yang ada diantara aku dan kamu adalah kita, KEHIDUPAN KITA. Begitulah para pendahulu kehidupan ini berwasiat. Entah dalam bulan, tahun, atau berapapun bilangan tahun yang harus kita lalui untuk mewujudkan keselarasan itu, selama bersamamu menempuh panjangnya waktu itu bagiku mungkin akan terasa baik-baik saja.

Sesingkat itu aku mengenal, meyakini dan memilihmu untuk menjadi teman dalam hidupku. Kuterima dirimu dengan penuh syukur sebagai jawaban doaku dalam panjangnya penantian yang menguji. Kuharap janganlah kau ragukan aku karena singkatnya waktu yang kau miliki untuk mengenalku. Karena jauh sebelum aku menemukanmu Allah telah sandingkan namamu dan namaku dalam ketetapan yang pasti jauh sebelum bumi melatari pertemuan ini. Sekali lagi jangan kau ragukan aku karena sebelum kau menemukanmu telah kusiapkan cita-cita besar untuk membersamaimu sepanjang waktu yang Allah akan berikan kepadaku.

Di awal kebersamaan denganmu saat kuucap permohonan dan kusentuh keningmu, semoga Allah memberikan kebaikan kepadaku seperti kebaikan yang telah Allah karuniakan untukmu. Dan Allah berikan perlindungan untukku dari segala keburukan yang ada pada dirimu. Begitu indahnya orang-orang sholih terdahulu mengajarkan permohonan ini.

Istriku.. Sebagai seorang suami aku tak akan menjanjikan apapun untukmu. Saat ini yang pasti aku dapat merasakan, Allah telah tiupkan rasa kasih sayang yang semakin besar tahap demi tahap tumbuh dalam hati ini mengarah kepadamu. Perasaan yang hanya Allah berikan bagi mereka yang Dia persatukan dalam perjanjian kuat dan suci. Dan selama rasa itu ada, yang dapat diri ini lakukan untukmu adalah berusaha untuk terus dapat memberi. Dan aku akan selalu berusaha dalam setiap cara dan upayaku yang sederhana untuk dapat berhasil melengkungkan bibir di wajahmu sehingga aku temukan senyummu terhias di sana. Saat itu akupun akan tersenyum dengan kebahagiaanku sendiri.

Istriku.. Semoga engkau menjadi ahli syukur jika kehadiranku di sisimu menjadi penambah nikmat yang Allah karuniakan kepadamu, atau kau dapat bersabar saat teman terdekat dalam hidupmu ini Allah jadikan cobaan bagi dirimu. Karena kita tidak diciptakan sempurna, baik dan buruk ada di sana melengkapi segala ketidaksempurnaan itu. Kemampuan menerima keduanya penuh rasa syukur adalah benteng terkuat yang akan menjaga keutuhan bangunan rumahtangga ketika riak riak keraguan mulai mengikis.

Terakhir, kalau boleh aku harus meminjam kata-kata manis yang melegenda dengan sedikit menambahkan kata padanya aku ingin sampikan ini kepadamu, “ Mulai hari ini aku ingin menjadi orang selalu ada untukmu dalam kebersamaan sehidup dan sesyurga karena kebersamaan di dunia ini terlalu singkat untuk aku lalui bersamamu. ” Insyaallah.

HnR

That day, Malang,  09/11/17

  • view 95