Aku Bukan Nurbaya

Hida Padni
Karya Hida Padni Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Mei 2017
Aku Bukan Nurbaya

Hari mulai beranjak sore, daun-daun melambai tertiup semilir angin yang kian dingin di rantingnya, sementara langit perlahan menguning tanda senja sebentar lagi tiba. Dan Sheila masih sibuk di depan meja kerjanya, di tengah ruang kantor yang hanya tinggal dirinya dan setumpuk pekerjaan yang belum juga membiarkannya istirahat dan pulang. Ingin sekali rasanya gadis itu melempar semua yang ada di depan matanya lalu menghambur entah kemana. Sudah lebih dari lima menit matanya fokus melihat ponselnya, menanti balasan sms dari Wawan yang tak juga ada kabar seharian. Hatinya wasawas tak keruan, pikirannya sulit untuk fokus pada pekerjaan dan itulah alasan mengapa ia masih duduk di kursi kerjanya saat yang lain telah pulang ke rumah mereka masing-masing. Belum lagi tiga surat undangan pernikahan yang diterimanya pagi tadi, yang artinya ia harus merogoh kantong untuk tiga kali kondangan yang dalam sebulan ini telah cukup menguras keuangannya.

“Pengeluaran melimpah ruah, wah, wah wah...” tulisnya pada akun facebooknya kala itu. Sebagai guru yang masih berstatus wiyata, harus menghadiri acara kondangan lima kali dalam satu bulan itu sungguh berat baginya. Belum lagi masalah yang harus ia hadapi seiring bertambahnya usianya pada bulan lalu, dengan kado termegah sebuah pertanyaan dari ibu dan ayahnya. “Kapan?”

Sebuah pertanyaan yang sederhana namun berkesan luar biasa bagi gadis seumuran Sheila yang hampir dua tahun merampungkan pendidikan S1-nya. Sementara kedua orang tuanya telah terang-terangan menentang hubungannya dengan Wawan. Dan sudah lebih dari dua minggu ia merasa kalau hubungannya dengan Wawan sedikit renggang.

Sheila nyaris geram menunggu namun tak juga ponselnya berdering untuknnya, Wawan tak juga membalas kesepuluh pesannya hari ini. Rekor baru, kemarin empat kali Sheila sms baru Wawan balas dan lusanya lagi enam kali sms baru Wawan memberinya tanggapan dan itupun singkat.

Semua bermula ketika malam dua minggu yang lalu salah seorang sahabat ayahnya berkunjung ke rumah Sheila. Hujan cukup deras ketika itu, dan ibunya menyuruhnya menyajikan kopi untuk sahabat ayahnya yang bernama Pak Maring.

“Oh, Sheila. Sudah besar sekarang ya?” ujar Pak Maring sembari tertawa kecil. Sheila yang tak merasa mengenalnya memasang wajah heran di balik senyum ramahnya. “Kamu pasti gak ingat, kan? Dulu saya itu sering kesini. Waktu kamu masih SD kalau gak salah. Masih imut-imut beringus pokoknya. Lah kok sekarang malah sudah jadi cantik gini...” Ujar Pak Maring lalu ganda tertawa. Sheila cuma bisa mengangguk canggung lalu permisi kembali ke kamarnya. Kembali asyik bersms ria dengan Wawan kekasihnya. Bercanda dan saling bercerita mesra serasa mereka duduk bersama. Namun lamat-lamat pembicaraan antara ayahnya dan Pak Maring mengusiknya.

“Jadi bagaimana? Apa kita langsung atur saja hari dan tanggalnya?” kata ayah Sheila.

Suara mereka memang tidak cukup jelas terdengar hingga Sheila terpaksa menempelkan telinganya diantara sela-sela pintu agar lebih bisa menangkap pembicaraan keduanya. Pak Maring menjawab, “Jangan buru-buru begitu, Tam. Kenapa gak kita atur saja dulu biar keduanya bisa ketemu. Dan lagi, kita juga harus membicarakan ini dulu dengan anak-anak kita biar ke depannya gak ada masalah.”

“Alah kalau soal itu sih, gak usah dipikirkan, Maring. Anakku pasti setuju. Sheila itu selalu nurut sama omongan bapaknya. Santai saja.”

Sampai di situ, Sheila mulai merasa tidak enak dengan arah pembicaraan keduanya. Dan semakin ia mendengarkan semakin hatinya serasa sakit tak terbilang. Jatungnya berdegub kencang dan matanya tak lagi kuat menahan butiran-butiran hangat yang membuat pipinya basah. Baru ketika Pak Maring telah berpamitan, Sheila beranikan diri keluar dari kamarnya dan menghadap ayahnya.

“Pokoknya Sheila gak mau!” ujar gadis itu lantang.  Namun ayahnya terlihat tak begitu peduli dengan yang diucapkan putri tunggalnya. Ia berlalu begitu saja dari hadapan Sheila. “Ayah itu gak berhak menentukan siapa yang ingin Sheila nikahi.”

Dan tiba-tiba, sesuatu melayang disusul bunyi pecah yang cukup keras.

PYAARRR!

Sheila terkejut setengah mati dan bungkam seketika. Dipandanginya pecahan gelas yang berserakan di dekat kakinya. Belum pernah ia melihat ayahnya semarah itu sampai memecahkan sesuatu. Dengan suara yang membahana ayah Sheila kemudian berkata, “Kamu mau menikah sama tukang lukis yang gak jelas itu. Iya!? Memang apa yang bisa si Wawan kasih ke kamu dengan lukisan-lukisan dia yang gak pernah laku itu, Sheila? Mau dikasih makan apa kamu sama dia, hah!?

“Ayah melakukan ini karena sayang sama kamu. Karena peduli sama masa depan kamu, Sheila. Jadi diam dan ikuti apa kata ayah. Mengerti kamu!?”

Selama dua hari Sheila terus dipusingkan dengan keputusan sepihak yang dilakukan ayahnya. Belum lagi ibunya juga mendukung pilihan ayahnya dan membuat situasinya semakin terpojok hingga tak punya pilihan selain mengangguk mengiyakan. Dan karena itulah hubungannya dengan Wawan menjadi kacau seketika. Bahkan walaupun Sheila telah coba menjelaskan bahwa ia berkata setuju hanya sekedar untuk menenangkan situasi di rumahnya, hubungan mereka tak lagi setenang sebelumnya. “Aku berkata seperti itu, itu cuma agar ayah sama ibu itu gak berisik terus tiap hari bahas persoalan yang sama melulu tiap saat. Tiap berhadapan muka sama anaknya yang sudah jelas-jelas gak ingin dijodohkan. Ini tahun berapa dan abad berapa semua orang juga tahu. Perjodohan itu sudah gak jamannya lagi dibudayakan. Tapi ayah sama ibu tetap saja kolot!”

“Tapi bersamaan dengan itu, giliran kamu yang nyakitin perasaan Aku, Sheil.” Ujar Wawan. “Dan justru itu yang paling sakit. Gak peduli entah kamu berpura-pura atau memang sudah niat kamu buat menerima perjodohan itu.”

“Tapi Wan...” Sheila tak mampu membalas ucapan Wawan. Tidak dengan raut muka sedih yang diperlihatkan kekasihnya saat itu. Rona yang melukiskan perasaan Wawan dengan sempurna, meski tanpa sedikitpun tinta yang menjelaskan isi hatinya.

Dan semenjak itu, Wawan tak lagi mau mengangkat telpon dari Sheila, bahkan sms pun tak selalu dibalasnya. Pemuda itu terus saja melukis dan melukis, menumpahkan semua pekat yang meliuk-liuk di hati dan pikirannya.

Memang sudah sejak lama hubungannya dan Sheila tak mendapat restu dari kedua orang tua Sheila. Namun Wawan berpikir, selama Sheila percaya padanya, pada apa yang bisa dicapainya untuk cinta mereka, apapun kan dilakukannya untuk bisa terus bersama dengan wanita yang begitu dicintainya. Wawan sangat sadar bahwa sekedar cinta tidak bisa memberi mereka kehidupan yang mereka inginkan. Sekedar cinta tidak serta merta memberi mereka makan yang cukup tanpa adanya usaha nyata untuk mendapatkan itu semua. Terlebih dengan cara pikir kedua orang tua Sheila yang menganggap dirinya orang tak berkecukupan. Bahkan gelar sajarana yang didapatnya dengan susah payah selama empat tahun, belumlah cukup untuk menjamin Pak Tamim akan merestui hubungannya dengan anaknya. Apalah arti sebuah gelar besar jika mencari restu cinta saja ia tak kuasa? Uanglah gelar yang sesungguhnya. Setidaknya itu yang menjadi pakem orang-orang di desanya, termasuk orang tua Sheila. Bahkan keluarga Wawan sendiri pun memandang dirinya sebelah mata karena tak memiliki penghasilan yang cukup untuk membuat mereka bangga.

Meski marah dengan sikap Sheila, diam-diam Wawan pun mencari tahu perihal laki-laki yang dicalonkan ayah Sheila. Pak Maring yang disebutkan Sheila ternyata orang yang cukup terpandang di kota mereka dan merupakan pemilik sebuah yayasan sekolah bernama Gardena Boarding School yang cukup terkenal diantara semua sekolah swasta bahkan negeri sekalipun. Dan anak laki-lakinya, bekerja sebagai guru sekaligus pengawas di sekolah yang dibesarkan oleh ayahnya tersebut.

“Haaah,” Wawan bersandar di kursinya dengan nafas berat terhembus dari mulutnya. Dibiarkannya segelas es kelapa muda pesanannya tetap di mejanya, hingga buliran-buliran air es menyentuh dan membasahi meja bagian bawah gelasnya. Cukup lama terdiam, Wawan kemudian mengambil ponselnya dan melihat beberapa hasil lukisannya yang sempat ia jepret untuk disimpan di galeri. Didi sahabatnya mencoba menghiburnya namun sia-sia, Wawan sama sekali sedang dalam kondisi tak bisa diajak bercanda.

“Mba Sri, lemon tea tambah lagi satu, ya.” Seru Didi, meminta gelas keduanya sementara gelas Wawan masih saja tak tersentuh. Bahkan kini pemuda itu justru membenamkan separuh wajahnya ke meja.

“Kamu tahu, Di?” ucapnya tiba-tiba, masih dengan kepala terbenam di atas meja. “Si Akbar itu, ganteng. Sudah begitu dia itu punya apa yang gak pernah aku miliki, Di. Yang mungkin gak akan bisa Aku kasih ke Sheila.

“Kamu tahu apa itu, Di?”

Didi hanya menggeleng, sambil berusaha tetap menikmati lemon tea-nya.

“UANG!” sahut Wawan. Kepalanya mendadak terangkat dan pemuda itu perlahan tertawa.

“Hush, jangan gitu, Wan. Gak semua bisa kebahagaiaan itu bisa dibeli dengan uang loh. Kan kamu sendiri yang pernah ngomong gitu?”

Didi sampai merasa tak enak, orang-orang di sekitar mereka mulai melihat ke arah mereka karena terusik suara tawa Wawan. Didi cuma bisa nyengir dan beringsut malu, namun tiba-tiba seseorang menabrak kursi tempatnya duduk.

“Eh, maaf, maaf.” Kata orang tersebut. Didi yang sempat terkejut rupanya mengenal orang tersebut dan langsung menyapanya.

“Pak Azka, kok bisa ada di sini?” tanya Didi.

“Loh, kamu ternyata Di?” sahut orang bernama Azka tersebut. Keduanya kemudian sama tertawa dan saling bersalaman. Mereka sempat berbasa-basi sebelum akhirnya Azka berlalu pergi menuju tempat duduknya. “Sudah dulu ya, Di. Itu saya sudah ditunggu sama teman-teman saya di meja sana. Dulu waktu masih SMA saya sama teman-teman kan rajin nongkrong di sini, jadi kita memutuskan untuk mengadakan reuni di tempat ini hitung-hitung sedikit bernostalgia.”

“Oh, pantes.” Kata Didi, lalu Azka pun berlalu dari hadapan mereka.

“Siapa sih?” tanya Wawan. “Kalau sering nongkrong di sini, berarti kemungkinan kita satu SMA.”

“Namanya Azka. Dia itu dokter langganan ibu. Kalau di rumah ada yang sakit, pasti ke dokter Azka periksanya. Dan setahu aku dia memang kakak kelas kamu di SMA sih, Wan. Cuma beda jauh saja angkatannya. Eh, iya. Aku dengar dari ibu katanya dia juga ada masalah yang sama kayak kamu loh, Wan. Orang tuanya berniat menjodohkan Pak Azka sama anak sahabat ayahnya.”

Baca cerita lengkap Dr. Azaka dalam cerpen sebelumnya yang berjudul Kemelut Cinta Nalia.

Tapi Wawan sama sekali tak mengindahkannya. Bahkan mungkin tak lagi didengarkannya. “Masih muda, dokter pula...” gumamnya, kembali tenggelam dalam kemuramannya.

 Di lain tempat, keadaan Sheila pun tak jauh lebih baik. Sementara hubungannya dengan Wawan tak juga membaik, ayahnya dan Pak Maring diam-diam telah mengatur pertemuan antara Sheila dan putra Pak Maring, Ali Akbar.

“Panggil Ali boleh, Akbar juga boleh.” Kata putra Pak maring, memperkenalkan dirinya dengan sopan. Wajahnya bundar dan tubuhnya sedikit berlemak dengan rambut cepak keriting dan kacamata bertengger di atas hidungnya. Sama sekali lain dari yang Sheila bayangkan tentang sosok putra Pak Maring yang meski sudah separuh baya namun masih terlihat gagah dan sesigap anak muda.

Sesuai ucapan ayahnya, Sheila pun menurut ketika Ali yang lebih suka dipanggil Akbar itu mengajaknya berkeliling kota dengan mobilnya. Meski begitu, Sheila tak banyak bicara sepanjang perjalanan. Hanya menjawab pertanyaan Akbar atau menyahut seperlunya dan diam selebihnya.

Dengan sikap Sheila yang seperti itu, Akbar hanya tersenyum kemudian terawa kecil yang tentunya membuat Sheila heran bahkan sedikit ilfeel. “Sepertinya benar dugaan Aku selama ini. Sebenarnya kamu gak setuju kan dengan rencana perjodohan kita?

Sheila sesaat melirik tajam ke arah Akbar, seperti tadi, laki-laki di sampingnya itu membalasnya dengan senyum dan tawa kecilnya. Sheila membuang mukanya, kembali memandang lurus ke depan, lalu berganti ke lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki yang dilewati mobil mereka.

Sheila hembuskan nafasnya dalam sekali ledakan. Terbaring lemas menatap langit kamarnya yang tentu saja tak berbintang. Bukan rembulan, hanya pijar lampu 5 Watt temannya menghabiskan sisa malam hampanya tanpa kabar kekasihnya. Dia juga tak bisa begitu saja bercerita kalau seharian jalan dengan Akbar sebagai perkenalan awal mereka.

Dan di tenngah segala rasa lelah yang menyerangnya, datang chat dari sepupunya. “Jadi gimana kencan perdananya, Sheil?” kata Satriani yang belakangan memang hobi banget meledeknya soal rencana perjodohannya.

Sheila hanya tertawa satir, enggan meladeni sepupunya yang kalihatan hepi banget melihatnya susah. “Ulin cantik, kamu ini kalau gak mau bantu mendingan diam, deh. Aku benar-benar capek dengan semua ini dan gak tahu harus gimana. Wawan juga dari kemarin belum balas chat Aku. Jadi plis jangan buat Aku makin pusing, oke?”

Sheila nampak kecewa. Ia sempat berharap bahwa yang masuk tadi balasan chatnya dari Wawan.

“Sebenarnya gampang kok Sheil. Kamu tinggal bilang saja ke cowok itu, cerita kalau kamu itu sebenarnya gak mau dijodohin. Masa iya itu cowok masih tetep ngotot nikahin kamu kalau tahu kamu itu gak setuju dengan rencana perjodohan kalian.”

“Ya, memang gampang. Dan masalahnya, itu cowok kucrut sudah tahu kalau aku itu sebenarnya gak setuju dengan semua kegilaan ini. Dan dia cuma ketawa gak jelas nanggepinnya.” Tandas Sheila.

Hari berlalu berganti minggu dan hubungannya dengan Wawan tak juga kembali seperti dulu. Sementara Akbar tetap coba mendekatinya meski selalu tak diacuhkannya. Segala chat yang dia kirim tak satu pun Sheila membalasnya, bahkan kegigihannya justru semakin membuat risih. Meski begitu Sheila sama sekali tak bisa berkutik tiap kali si Cowok kucrut itu datang ke rumahnya. Apalagi kalau bukan karena campur tangan ayahnya yang selalu memojokan Sheila. Dan Sheila, terlalu takut untuk berkata tidak di hadapan ayahnya. Cukup satu kali malam itu saja Sheila melihat kemarahan ayahnya. Belum lagi ibunya yang juga mendukung keputusan ayahnya. Dan ujung-ujungnya...

“Aku yang gak bisa kalau begini terus, Sheil. Memang menurut kamu gimana perasaan aku waktu aku lihat kamu, cewek aku jalan sama cowok lain. Bayangin Sheila!

“Hancur tahu, gak? Dan mungkin kamu gak akan pernah mengerti bagaimana rasanya. Oke ayah kamu benar. Aku gak punya apa-apa yang bisa menjamin aku bisa bahagiain kamu, Sheil. Karena bahkan buat makan sendiri saja aku masih bergantung sama keluargaku.”

Sayangnya hari tidak sedang hujan, tidak pula ada kumpulan awan petir bergumul di memainkan gaduhnya. Hari itu benar-benar cerah. Matahari bersinar dengan riangnya dengan barisan awan berarak membentuk pola terindahnya. Dan siapa mengira di hari yang benar-benar sempurna itu justru harus ada sebaris kalimat pilu yang menyakitkan. Sebaris kalimat yang terlalu sedih untuk diucapkan, namun terlalu sakit untuk tetap dibiarkannya terpendam. Perdebatan kecil mereka siang itu, ternyata harus berakhir dengan satu kalimat dari Wawan yang meruntuhkan segenap harapan yang selama ini masih terus coba Sheila pertahankan.

“Kita sudahan ya, Sheil...”

 Usai berkata demikian, Wawan pergi menghilang entah kemana. Yang pasti membawa segenap pilunya dan meninggalkan Sheila dengan setiap keping laranya. Gadis itu bahkan tak kuasa menghentikan laju air matanya. Suaranya terisak sepanjang ia mengemudikan motor matiknya. Dan di tengah kacaunya perasaannya itu, Akbar muncul tepat di saat Sheila melewati pintu depan rumahnya.

“Sheila, kamu kenapa, Sheil?” tanya Akbar panik. Namun kekhawatirannya hanya berbalas sikap dingin Sheila.

“Ini semua karena kamu tahu, gak!?” Sheila berkata lirih menahan perrih. Tangannya mengepal geram sementara matanya masih tak hentinya berlinang. “Dan kamu masih saja datang ke sini. Gak tahu malu.”

“Jaga ucapan kamu, Sheila!” ayah Sheila geram mendengar perkataan anaknya. “Dia ini calon suami kamu. Dan kamu tahu itu!”

Akbar diam tak berkutik. Sheila pun tak berkata apa-apa lagi. Hanya memperlihatkan wajah sedihnya lalu bergegas masuk ke kamarnya.

Tiga hari berlalu sejak saat itu. Tiga hari pula Sheila terus menerus mengurung diri di kamarnya. Tak terhitung berapa kali ia coba menghubungi Wawan namun tak juga Sheila menemukan harapannya. Ulin yang mendengar kabar tentang akhir hubungan sepupunya dengan Wawan berkunjung dan coba menghiburnya, tapi Sheila tetap mendekam dalam lingkaran pilunya.

“Mau sampai kapan sih Sheil, kamu gini terus. Nanti malah sakit loh...”

Sheila terkekeh. “Memangnya ada yang peduli kalaupun Aku sakit, Lin?”

“Ya jelas ada, Sheila. Memangnya kamu pikir Aku datang ke sini itu buat apa?”

“Bukannya buat minta duit arisan?” sahut Sheila yang langsung Satriani balas dengan senyum lebar.

“Sekalian kan gak salah, Sheil...” celetuknya lalu nyengir dengan lugunya. “Ya sudah. Pokoknya Aku gak mau kamu terus-terusan ngurung diri dan sedih begini. Kamu harus setrong Sheila. Wake up. Buka jendela dan lihat itu di luar.

“Dunia masih belum berakhir. Kehidupan gak bakalan berhenti hanya karena satu kesedihan di hidup kamu, Sheil.”

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga hari terakhir, kamar Sheila akhirnya kembali tersentuh hangat mentari yang masuk dari jendela yang Ulin buka. Sheila bangkit dan melempari sepupunya itu dengan sebuah bantal. “Gila, silau tahu!”

Keduanya lantas sama tertawa dan perang bantal pun tak terelakkan. Pak Tamim yang mendengar suara gaduh dari kamar putrinya sempat terkejut dan hampir menumpahkan kopinya. Namun sesaat kemudian, senyum lebar tergaris di wajahnya dan kopi disruput pula dengan khidmatnya.

“Jadi akhirnya kalian putus juga?”

“Ya, kita putus. Dan sebagai informasi tambahan, itu semua berkat kamu dan ayah kamu yang sudah saaangat berjasa dalam merusak hubungan kita.

Akbar nampak tak percaya. Meski begitu, Sheila mengatakannya dengan santainya sambil menikmati milk shake coklatnya. Bahkan dari semenjak ia berkunjung ke rumah Sheila, sebenarnya Akbar telah merasakan ada yang berbeda dengan diri Sheila. Gadis itu nampak lebih ramah dalam menyambutnya, bahkan terlihat senang ketika diajaknya jalan.

“Hmm, tapi bukan berarti posisi kamu sudah aman ya,” lanjut Sheila. “Karena kalaupun sudah putus, terus terang perasaanku ke Wawan masih sama. Yah, sedikit beda sih. Tapi masih cinta.

Lagian kita bubaran bukan atas dasar kemauan kita sendiri kok. Dan justru harusnya aku makin benci ke kamu loh.”

“Lantas? Mau kamu apa sebenarnya Sheil?” tanya Akbar. Matanya menatap tak berkesiap pada gadis yang seharusnya menjadi calon bakal istrinya itu, seolah tidak ada satu pun yang ingin dilewatkannya.

“Mau aku sih dari awal juga sudah jelas.

“Aku mau kamu berhenti berharap aku akan ada rasa ke kamu, Akbar. Dan di sini justru kamu satu-satunya orang yang gak jelas maunya apa.

Sheila singkirkan gelas minumannya, melipat kedua tangannya di depan dada dan balas menatap lelaki di hadapannya. Hari ini gadis itu terlihat berani dan penuh nyali. “Dengan segala sikap penolakan aku selama ini, serta semua perlakuan aku ke kamu, mengapa kamu masih tetap berharap aku mau jadi istri kamu?

“Kamu mapan. Dan biarpun tampang kamu kurang tampan... aku yakin kamu gak akan kesulitan cari cewek yang mau sama kamu dan bahkan jauh lebih cantik dari aku. Tapi kamu tetap gigih ngejar aku. Atau jangan-jangan kamu anggap semua ini cuma permainan yang harus kamu menangkan, gitu?”

Keduanya saling pandang dalam diam untuk beberapa detik sebelum akhirnya Akbar membuka suara menjawab perkataan Sheila. “Cerita yang menarik. Buat film atau semacamnya dengan skrip seperti yang kamu katakan barusan. Kamu mungkin bisa dapat oscar, Sheila.

“Dan sepertinya, dalam cerita ini aku lah sang tokoh jahatnya. Tapi kamu salah, Sheil. Karena satu-satunya tokoh jahat dalam cerita kamu mungkin adalah diri kamu sendiri.”

Usai berkata seperti itu, Akbar bergegas bangun dan melenggang pergi. “Kita pulang Sheil. Minuman kamu juga sudah habis, kan?”

Akbar coba tetap tersenyum dan tetap cuek pada Sheila yang bertanya penasaran mengenai maksud ucapannya. Gadis itu baru diam setelah lebih dari dua km perjalanan mereka dan Akbar tetap tak memberinya penjelasan yang dimintanya. Hanya saja, ketika mereka sampai di depan rumah Sheila, Akbar berkata, “Hei, Sheila. Sesekali membiarkan tokoh jahat menang dan bahagia mungkin akan jadi akhir cerita yang menarik. Jadi, good luck, yah.”

Sheila masih tetap tidak mengerti maksud ucapan Akbar. Dan sebelum gadis itu sempat bertanya kembali, Akbar telah mulai melaju dan meninggalkan halaman rumahnya. Bagi Akbar, uang memang bukan masalah seperti kata Sheila. Mungkin ia bisa mendapatkan cewek mana pun yang jauh lebih baik. Dan kata-kata itu keluar dari orang yang benar-benar tulus dicintainya. Pada Akbar yang tanpa sepengetahuann Sheila, semula juga menentang keputusan ayahnya dalam rencana perjodohan mereka. Namun Akbar berubah pikiran begitu bertemu Sheila.

Sebelumnya, ketika menghadiri rapat pengadaan lomba antar sekolah yang dilakukan di Gardena Boarding School, Akbar kebetulan melihat Sheila yang tengah menunggu perwakilan dari sekolahnya yang ikut menghadiri rapat. Saat itu, dilihatnya Sheila yang dengan mudahnya bergaul dengan anak-anak dari kelas penyandang cacat keterbelakangan mental. Dan saat itu pula Akbar jatuh cinta. Karenanya meski tahu Sheila tak setuju dengan perjodohan mereka, Akbar tetap mencoba bertahan dengan segala bentuk penolakan Sheila. Bahkan meski tahu Sheila telah memiliki seorang kekasih, Akbar tetap menginginkan kesempatan untuk bisa mendapatkannya. Tapi saat mendengar berakhirnya hubungan Sheila dan kekasihnya, dalam hati Akbar merasa bersalah dan kehilangan niatnya untuk melanjutkan perjodohan mereka. Dan dengan tuduhan yang dilontarkan Sheila terkadapnya, rasa bersalah itu lenyap seketika. Berganti pilu yang berbalut sesak di dadanya. Pikirnya, semua orang sama inginnya memperjuangkan cinta mereka, hingga tanpa sadar menorehkan dalamnya luka. Luka yang ia torehkan pada Sheila dan kekasihnya, serta luka yang juga dirasakannya, semua lahir dari rasa ingin memperjuangkan cinta masing-masing mereka. Karenanya Akbar menyebut Sheila sebagai tokoh jahat dari cerita mereka. Karena bahkan setelah kebersamaan mereka yang mungkin tak begitu lama, Sheila tak bisa melihat betapa Akbar sungguh mencintainya dan justru melukainya. “Kesempatan yang sama, mungkin memang tidak datang pada cinta yang berbeda,” gumam Akbar seiring laju mobilnya meninggalkan Sheila yang berdiri keheranan dengan yang dikatakannya sebelum mereka berpisah.

Satu pekan berlalu dan akhirnya Wawan setuju untuk bertemu. Lebih dari sepuluh menit mereka hanya duduk saling diam di meja mereka. Bahkan Mba Sri, selaku pemilik Kedai Asri pun sempat bingung dengan yang dilakukan kedua pelanggannya tersebut.

Lama tak ada yang membuka suara diantara keduanya, Sheila kemudian mengulurkan tangannya. Wawan yang tidak mengerti maksud Sheila pun akhirnya turut mengulurkan tangannya. Keduanya berjabat tangan dan Sheila berkata, “Namaku Sheila.”

“Kurniawan, panggil saja Wawan.”

Keduanya tersenyum dan perlahan percakapan pun mulai terjalin diantara keduanya. Mba Sri cuma geleng-geleng melihatnya. Demikian pula dengan Ulin Satriani yang diam-diam mengikuti sepupunya dan sengaja duduk agak jauh dari keduanya.

“Jadi kita mulai dari awal lagi?”

 

 SEKIAN

 Baca juga cerpen saya lainnya: Segenggam Luka Di Penghujung Cinta, Hulu Telinga Muara Cinta, Cinta Tanpa Nama, Senja Di Tenda Jingga,

By: Hida

  • view 104