Senja di Tenda Jingga

Hida Padni
Karya Hida Padni Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 April 2017
Senja di Tenda Jingga

Orang bilang cinta itu layaknya sebuah jembatan. Menghubungkan dua hati yang berseberangan, menyatukan dua jalan yang bertentangan. Bagi Samsul sendiri, cinta itu ibarat senja. Karena senja selalu jadi yang mempertemukannya dengan Selena. Karena senja, selalu jadi jembatan yang menghubungkan waktu keduanya.

            Samsul yang disibukkan dengan bermacam tugas sekolah dan persiapannya menjelang UAN, selalu harus pulang sore menjelang maghrib. Tapi tiap kali ia pulang dari rutinitas padatnya, Samsul selalu masih penuh semangat memacu motornya. Seolah semua lelah yang ia temukan seharian, tak cukup untuk menjatuhkannya. Senyum tak hentinya mengembang mengiringi desiran angin yang menerpanya sepanjang jalan. Dan seperti biasa, ia menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah caffe tempel bernama Tenda Jingga. Letaknya yang diapit jalan raya dan persawahan luas, membuat Sam bisa menyaksikan keindahan langit sore, yang menampilkan paras keemasan langit dan sang surya yang berpadu di ufuk barat cakrawala. Karena keistimewaan senja yang tersaji itulah, si pemilik caffe menamainya Tenda Jingga. Bagi Samsul sendiri, Tenda Jingga adalah sebuah titik temu dimana ia bertemu Selena. Dan di Tenda Jingga pula, Sam terus menanti Selena, gadis yang sangat dicintainya.

            “Udah mas, disamperin aja kalo mas emang suka…” kata Mas Ardi, menggoda Samsul yang belakangan selalu saja hanya memandangi Selena dari jauh, tanpa pernah lagi mencoba mendekatinya. “Kalo mas nyerah di sini, ntar nyesel loh…!?”

            Sam hanya keluarkan tawa kecil, lalu menyesap coklat panasnya sambil tak melepas pandangannya dari Selena. Gadis itu baru saja terlihat dan tengah berjalan bersama dua temannya. Seperti biasa, ia melayangkan senyum kecil ke arah Sam, lalu kembali mengobrol dengan temannya sebelum akhirnya menghilang. Lenyap bersama sebuah mobil yang akan mengantar ketiganya ke tempat mereka bekerja.

            Sam mengenalnya beberapa minggu yang lalu, ketika ia tengah menikmati seduhan coklat panas di Tenda Senja. Gadis itu datang dengan membawa satu senyuman yang mekar menghias hari yang beranjak malam kala itu. “Samsul. Panggil aja Sam.” Kata Sam setelah sedikit berbasa-basi.

            “Selena. Temen-temen biasa manggil aku Lena.” Balas Selena.

            “Kalo gitu, boleh aku tetep manggil kamu Selena aja?”

Selena sunggingkan senyum, lalu menjawab, “Boleh kok. Terserah kamunya aja. Aku nggak begitu peduli selama itu masih bagian dari namaku”

            Mereka berbagi sedikit cerita, lalu berpisah begitu saja. Sayangnya, dalam pertemuan yang singkat itu, Sam tidak sempat meminta nomor hp Selena. Dan sejak saat itu, mereka tak pernah lagi berada satu atap di Tenda Jingga.

            Sam tidak menyerah. Ia benar-benar telah jatuh cinta pada sosok Selena. Dan ia bahkan tak mengerti alasannya. Karena itu Sam selalu saja menyempatkan diri mampir ke Tenda Jingga, berharap Selena juga akan kembali datang dan duduk di sampingnya.  Namun pertemuan yang Sam harapkan, tak kunjung kembali terulang. Selena tak pernah lagi kembali datang. Gadis itu hanya berdiri di seberang jalan untuk sesaat, lalu kemudian menghilang. Menurut Mas Ardi si empunya Tenda Jingga, Selena bekerja paruh waktu di sebuah mini market, guna bisa terus melanjutkan sekolahnya. “Emang dia sekolah dimana mas?” tanya Sam. Namun sayangnya, Mas Ardi hanya gelengkan kepala seraya berkata, “Waduh, saya malah nggak tau sampe sejauh itu loh mas…”

            Waktu seolah tidak berpihak pada Sam. Berulang kali ia mencoba mendekati Selena, tapi selalu saja gagal. Di satu hari, Sam menunggu Selena tidak di Tenda Jingga, melainkan di pinggir jalan tempat ia biasa melihat Selena bersama dua temannya. Cukup lama Sam berdiri menunggu kehadiran gadis pujaannya, namun hingga senja menghilang, Selena tak kunjung datang.

            Di hari berikutnya, Sam berhasil menemui Selena. Namun sekali itu, Selena terlihat sangat terburu-buru, hingga Sam pun tak sempat berkata apapun. Selena langsung berlalu masuk ke dalam mobil yang telah menunggunya bersama dua orang temannya. Bahkan ia pun tak sempat membalas lambaian tangan Sam yang mencoba menyapanya.

            Sam hampir saja putus asa, ketika akhirnya ia menemukan Selena di sebuah mini market. Dengan luapan rasa gembira karena berhasil menemukan Selena, Sam yang berdiri di depan tempat Selena bekerja pun langsung menghambur masuk untuk menemuinya. “Selena!” serunya. Namun begitu Sam melangkah masuk dan berdiri di depan Selena, terang sekejap hilang. Semua mendadak menggulita, bahkan sebelum Selena sempat menyadari kehadiran Sam di hadapannya. Mati lampu. Dan Sam kembali kehilangan Selena. Bahkan ketika lampu akhirnya kembali menyala, Sam tak juga menemukan sosoknya.

 

***

 

            Orang bilang cinta itu layaknya sebuah jembatan. Menghubungkan dua hati yang berseberangan, menyatukan dua jalan yang bertentangan. Selena percaya, cinta itu seperti senja. Mempertemukan rembulan dan sang surya, dalam satu balutan keindahan waktu yang memisahkan keduanya.

            Sore itu Selena serasa telah menemukannya, sosok yang diharapnya memang Tuhan ciptakan hanya untuknya. “Samsul. Panggil aja Sam.” Kata pemuda itu sembari mengulurkan tangannya. Bukan untuk berjabat tangan, melainkan untuk menerima tangan Selena dengan telapak tangan terbuka, persis seperti saat seseorang mengajaknya berdansa di sebuah pesta. Dan butuh waktu lebih dari lima detik bagi Selena untuk segera membalas uluran tangan Sam dan berkata, “Selena. Temen-temen biasa manggil aku Lena.” Ucapnya. Wajahnya mendadak terkembang, berseri dan menghadirkan sepasang rona merah di pipinya yang langsung ia sembunyikan dengan menempelkan gelas minumannya. Bibirnya menggaris tipis manis, membentuk satu senyuman yang meriak di balik lengkungan gelas berisi coklat panas yang mulai mengalir masuk ke dalam mulutnya.

            “Kalo gitu, boleh aku tetep manggil kamu Selena aja?”

Selena sempat terkejut, sebelum akhirnya berhasil menguasai diri dengan satu senyum kecilnya. “Boleh kok.” Jawabnya. “Terserah kamunya aja. Aku sih nggak begitu peduli selama itu masih bagian dari namaku.”

Sam tertawa kecil kemudian berkata, “Kamu suka nongkrong di sini juga?” tanya cowok tampan bermata lebar itu. Selena turunkan gelasnya baru menjawab, “Kadang-kadang….” Katanya. Ia kembali tersenyum, lalu balik bertanya, “Kamu sendiri?”

            “Nggak terlalu sering juga, sih… “ Sahut Sam. “Tapi aku suka tempat ini. Entah kenapa… aku nyaman aja duduk di sini sore-sore, sambil menikmati seduhan coklat panas Mas Ardi. Iya nggak mas?”

            Yang ditanya hanya tersenyum disertai seriak tawa kecil, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya ─ melayani dua orang pelanggan yang baru saja datang. Sementara Selena, pandangannya melengos ke arah langit-langgit tenda, menerawang dan mencuri sedikit fantasi langit di atasnya. Ia berusaha memilah kata yang ingin diucapkannya. Mencari serangkaian kalimat yang dirasanya sempurna. “Kalo aku… suka nongkrong disini bukan Cuma karena coklat panasnya yang enak.” Kata Selena tujuh detik kemudian. Gadis berrambut lurus panjang itu menghela nafas. Wajahnya nampak melukiskan satu rona bahagia yang tersampaikan pada Sam. “Aku suka pemandangan di sini. Kalo aku lagi ada waktu, aku selalu kesini…  duduk nikmatin coklat panas, sambil memperhatikan langit di ujung sana.” Selena arahkan pandangannya pada langit emas dan sang surya yang menuju tenggelam di ufuknya.

            “Senja?” tanya Sam. Selena mengangguk tanpa melengos ke arah pemuda di sebelahnya. Ia begitu menikmati kanvas keemasan yang melukiskan sosok mentari yang segera tenggelam di ujung pandangnya. Dan ketika ia akhirnya kembali beralih pada Sam, ia terkejut mendapati pemuda di sebelahnya itu, ternyata tengah ikut terbawa dirinya. Memandang senja, hingga tak sedetik pun matanya teralih dari keindahannya. Selena tersenyum, menyangga kepalanya dan ganti menikmati rona yang dimainkan wajah Sam yang sedang khusuk terpukau oleh senja. “Kenapa senja?” tanya Sam, membuat Selena terkejut dan segera memalingkan mukanya. Kembali pada senja.

            Selena gugup untuk sesaat. Bibirnya bergetar ragu dengan apa yang akan diucapkannya. “Emm, gimana yah?” ucapnya nerves. Sepasang matanya memejam untuk sedetik lamanya. Berusaha mengambil alih semua system yang mengendalikan tubuhnya, lalu membayangkan hamparan keemasan yang indah membentang dengan setitik terang matahari yang bersinar anggun diantaranya. Dan jauh dari tempat sang surya bertahta, dilihatnya rembulan temaram dengan sosoknya yang hanya terlihat separuh. Menatap rindu pada sang surya dan seolah ingin mengejarnya, untuk kemudian memeluknya. “Menurutku senja itu waktu paling romantis diantara semua waktu yang kita punya. “ ucap Selena pada akhirnya. “Aku nggak begitu mengerti alasannnya sih. Tapi… aku suka sekali melihat senja. Apalagi, kalo melihat ada kalanya rembulan menampakkan diri sebelum matahari mengatup. Seneng banget. Rasanya seperti mereka dipertemukan oleh senja. Indah sekali. Senja itu… buatku seperti cinta. Mempertemukan dua hati yang saling mencintai, meski tidak untuk saling memiliki.”

Sebuah rona muram mendadak menguasai wajah cantik Selena, sesuatu yang tak ikut terbidik perhatian Sam. Ia sibuk mengikuti arah pandang Selena, memperhatikan senja yang hampir menenggelamkan sang surya sepenuhnya.

            “Ohya?” kata Sam kemudian. Ia bahkan sama sekali tidak menghadap Selena. Tetap memaku pandangannya pada keindahan Senja yang semakin menyaga. “Menurutku nggak begitu juga, sih… lagian siapa bilang matahari jatuh cinta sama rembulan!? Mitos dari mana itu?”

            “Nggak ada!” Selena sunggingkan senyum tipisnya. Kini keduanya saling beradu pandang. “Itu Cuma pandangan pribadiku aja tentang senja. Perkara kamu atau siapa mau mempermasalahkannya… its oke. Silakan. Aku sama sekali nggak keberatan, kok. Dan kamu bukan orang pertama yang bilang gitu ke aku.”

            Sam tertawa yang langsung mengundang tanya Selena. “Kamu sendiri? Gimana pendapat kamu tentang fenomena senja?”

            “Um… nggak ada hubungannya sama cinta. Senja hanyalah peristiwa alam biasa… dimana matahari berada pada posisi condong dari bumi. Dan oleh karena posisi kemiringan matahari itulah, cahaya matahari jadi lebih lebar, sehingga menembus lapisan atmosfir bumi yang lebih tebal. Dan dalam kondisi seperti itu, maka hanya warna kuning dan merah lah yang dominan diserap oleh atmosfir, hingga sedikitnya cahaya terpantul sebagai warna keemasan.”

            “Wow, nggak nyangka, ternyata kamu ini orangnya realistis, yah?” Selena memuji, tapi sedikit kecewa dalam hati. Karena Selena punya kenangan tersendiri tentang senja. Karena senja mengingatkannya pada sosok yang sangat dicintainya. Sosok yang tak lagi bisa ia memilikinya.

            “Loh, mati lampu, yah?” ucap Sam tiba-tiba. Selena langsung terperanjat mendapati sekelilingnya mendadak gelap gulita. Dan gelap, menyembunyikan paras Selena yang berubah temaram dan segera berlalu pergi.

Selena segera berlari keluar tenda tanpa menghiraukan Sam yang berusaha mengucapkan sesuatu. Ada sesuatu yang membuatnya terburu-buru. Namun baru tiga langkah ia keluar tenda, Selena menghentikan langkahnya. Ia berpaling ke arah  Sam. Matanya menyorot menembus gulita, membidik sosok pemuda seusianya yang masih duduk di balik tirai jingga. Ia terlihat kebingungan, dan berusaha mencari seseorang yang sepuluh detik lalu masih duduk di sampingnya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam diri Selena. Sesuatu yang membuatnya melangkah pergi dari sisi Sam, bersama sekeping rasa yang mulai menghantuinya.

Pertemuannya dengan Sam membawa perubahan bagi Selena. Sam mengingatkannya akan Heli. Orang yang selama ini mengisi hati Selena. Mereka yang juga dipertemukan oleh senja, namun dipisahkan oleh perbedaan yang mengekang cinta mereka. Orang tua Heli yang berasal dari keluarga kaya, melarang Heli untuk berhubungan dengan Selena yang berasal dari keluarga tak berada. Dan demi memisahkan keduanya, ibu Heli bahkan sampai mengirim Heli ke London dengan dalih melanjutkan pendidikannya. Dan mereka tak pernah cukup berdaya untuk menentang perbedaan mereka. Heli pergi, dan tinggallah Selena seorang diri. Duduk menatap senja, menanti Heli yang tak juga kembali.

Selena terlalu disibukkan dengan kehidupannya yang terbagi dua. Di satu sisi ia adalah seorang pelajar yang harus segera siap menghadapi UAN, dan di sisi lain ia harus bekerja untuk bisa terus melanjutkan sekolahnya.

Setiap sore menjelang senja, Selena harus berangkat bekerja. Bersama dua temannya yakni Bintang dan Mega, Selena berdiri di halte tempat mobil yang akan mengantar mereka datang menjemput mereka. Dan saat itulah dilihatnya Sam. Pemuda itu tengah duduk di Tenda Jingga, menyesap coklat panas sambil tersenyum memandang ke arahnya. Bibir Selena menggaris tipis secara otomatis. Namun segera setelahnya, Selena kembali memalingkan muka. Seraut wajah lain melintas di benak Selena dan membuatnya takut melihat Sam.

Di sore berikutnya, ketika Selena kembali akan berangkat bekerja, Sam berdiri di seberang jalan. Ia melambai ke arahnya ─ dan tentu saja, Selena pun sontak tersenyum padanya. Namun sekali lagi, segera ia memalingkan wajahnya. Selena sempat terkejut saat dilihatnya pemuda itu berusaha menyebrang jalan dan setengah berlari menuju ke arahnya. Namun ia teselamatkan oleh mobil yang saat itu datang menjemputnya.

Dan di sore berikutnya, sesuai dugaan Selena, Sam kembali menantinya. Bahkan kali ini dilihatnya pemuda itu menunggunya di tepi jalan tempat ia biasa menunggu mobil yang akan menjemputnya. “Eh, kalian bedua bantuin aku yah. Plis… aku nggak mau ketemu sama itu orang…” rengeknya pada dua sahabatnya.

“Kenapa sih emangnya, Len?” tanya Mega. “Itu orang emang udah ngelakuin apa sama kamu? Kok keliatannya kamu parno banget sama dia?”

“Iya, Len. Padahal… kalo diperatiin, dia kan lumayan ganteng juga. Iya nggak Mee?” timpal Bintang.

“Duhh… bukan itu masalahnya yank…” kata Selena memelas. Gadis itu bersikukuh tidak ingin bertemu Sam. Karena itu, kedua temannya pun mengalah dan sepakat untuk membantu Selena menghindar dari Sam. “Oke. Kamu tunggu di sini dulu, dan baru boleh keluar kalo kita bedua udah kasih tanda, yah!”

Keduanya pun kemudian berjalan lebih dulu dan menunggu mobil tanpa Selena. “Tumben, mba? Temennya yang satu lagi kok nggak ikutan? Kemana?” tanya Sam. Bintang dan Mega pun dengan santainya menjawab, “Aduhh… kayaknya masih di belakang tuh…” kata Mega dan Bintang pun ikut menambahkan. “Iya, nggak tau kenapa. Kita juga lagi nungguin, nih.”

Sam pun dengan lugunya percaya pada keduanya, hingga saat akhirnya mobil yang menjemput datang, Selena pun berlari dengan terburu-buru seolah dirinya terlambat.

“Huff…” Selena hembuskan nafas lega begitu mobil yang dinaikinya mulai melaju dan sosok Sam semakin jauh dari pandangannya. Ia benar-benar terganggu dengan kehadiran Samsul. Karena melihatnya, mengingatkannya akan Heli.

“Oke, sekarang mendingan kamu tuh cerita. Apa alasan kamu sampe segitu hebohnya, cuma demi nggak mau ketemu sama itu orang, Lena!?” desak Mega. Tapi Selena tetap diam. Ia menolak untuk bercerita, bahkan kepada dua sahabatnya. Ia hanya menunduk tanpa berkata apa-apa. Ketika pandangannya akhirnya teralih keluar jendela, gadis itu berucap pelan, “Pliss… jangan sekarang…”

Mega dan Bintang sama saling pandang dan hanya bisa menuruti kemauan Selena. Namun tetap saja, sekeras apapun Selena berusaha menghindar, ia sama sekali tak bisa mengelak pertemuannya dengan bayangan masa lalunya.

Di suatu malam, ketika Selena tengah disibukkan dengan pekerjaannya di mini market, secara tidak terduga Sam muncul di hadapannya. “Selena!”

Suara itu mengiang dengan jelas di telinga Selena dan membuat gadis itu terperanjat. Melalui dinding cermin di atasnya, ia dengan jelas melihat Sam masuk ke dalam mini market dan menuju ke arahnya. Tubuh Selena mendadak serasa beku. Ia tak mampu bergerak sedikit pun, bahkan untuk sekedar menengok ke belakang.  Karena ia tahu, saat ia melakukannya, maka ia akan melihat bayangan yang paling ingin dienyahkannya. Namun gelap kembali menyambangi keduanya. Mati lampu. Selena kembali terkejut untuk kesekian kalinya. Bukan baru kali ini pertemuan mereka diiringi padamnya listrik. Terdengar suara Sam memanggilnya sekali lagi, namun Selena yang melihat kesempatan dengan padamnya listrik segera beringsut lari. Sembunyi dimana pun sekiranya Sam tak akan menemukannya.

Di saat seperti itu, tiba-tiba seseorang menepuk bahu Selena dan membuatnya terkejut. “Lena!” kata orang yang dari suaranya, ternyata Pak Guntur, Manager Selena. “Eh, iya pak?” sahut Selena terkejut. Sambil menyorotkan lampu senter ke muka Selena, Pak Guntur kemudian berkata, “Tolong kamu coba cek gensetnya di belakang, yah! Di sini biar bapak sama karyawan lain yang urus.”

“I, iya, Pak Guntur.” Selena tertegun. Sesaat tadi sempat terbayang wajah Sam, dan hal itu membuat mukanya nampak pucat. Selena sempat diam untuk beberapa detik lamanya, mencoba menarik nafas dalam sebelum akhirnya beranjak untuk menyalakan genset di ruang belakang. Dan begitu ia kembali, ia bersyukur tak mendapati sosok Sam di manapun.

“Huff…”

 

Akhirnya Selena bisa bernafas lega. Jam kerjanya telah berakhir dan toko telah di tutup. Ia dan dua orang temannya berdiri menanti mobil yang akan mengantar mereka pulang. Dan saat itulah, Mega dan Bintang kembali mendesak Selena untuk bercerita. “Lena.” Kata Mega mulai bicara. “Sekarang nggak pake tapi-tapian. Cerita ke kita, atau lain kali kita nggak bakal bantuin kamu lagi!”

Belum lagi Selena sempat menjawab, Bintang telah lebih dulu menimpali. “Cerita dong ke kita, Lena. Kalo kamu tetep diem gitu, gimana kita bisa bantuin masalah kamu coba? Kita barusan liat, gimana kamu lari ngehindar dari si Sam. Lagian kenapa sih, kamu nggak terusa terang aja  ngomong sama dia? Bilang, kalo kamu nggak mau dia gangguin kamu lagi. titik!”

Selena diam untuk sesaat, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan kedua sahabatnya yang bertubi itu. “Namanya Sam.” Kata Selena. Mega dan Bintang pun mendengarkan dengan seksama cerita sahabat mereka itu.

“Aku ketemu dia sekitar dua minggu yang lalu di caffe Mas Ardi. Aku juga udah cerita kan sama kamu bedua?” Selena pandangi wajah dua sahabatnya secara bergantian. “Jujur, kesan pertama aku tentang dia ─ baik. Maksudku… yah, aku nggak bener-bener kenal banget sama dia. Tapi, nggak tau kenapa dia itu selalu ngingetin aku sama Heli.”

“Heli?” sela Bintang. “Heli pacar kamu yang udah mati itu, Len?”

“Heli nggak mati, Bin. Aku bohong sama kamu bedua. Maaf…” gadis itu tertunduk lemas, sementara Bintang dan Mega mencoba meyakinkan Selena untuk meneruskan ceritanya.

“Ibu Heli nggak setuju dengan hubungan aku sama Heli. Dan dia sampe nyuruh Heli buat pindah jauh-jauh ke London, cuma biar anaknya itu nggak berhubungan lagi sama aku.”

Tanpa disadari, isak tangis mulai mewarnai cerita Selena. Mega segera meraih pundak gadis itu dan menenggelamkan kepala sahabatnya itu ke dalam peluknya. “Beraat banget rasanya, Mee… dan dia ─ Sam, tiap kali aku ketemu dia, aku tu selalu keinget Heli.”

Mega angkat kepala Selena dan menatap sejurus ke arahnya. “Perasaan, muka mereka sama sekali nggak sama kok, Len?”

“Iya, Lena. Kalo kamu bilang mirip, trus apanya dong dari mereka yang mirip? Yang aku liat, mukanya aja jauh banget!” timpal Bintang. Selena lepaskan pelukan sahabatnya dan mengusap sepasang matanya dengan ujung jarinya. “Bukan muka mereka yang sama, yank… tapi cara kami bertemu. Itu yang membuat mereka sama. Persis banget!”

“Aku pernah cerita kan sama kalian bedua, tentang gimana aku sama Heli pertama kali ketemu? Nah… kejadiannya itu sama persis, yank. Sore-sore menjelang senja ─ trus ada mati lampu segala…” desis Selena. “Mulanya aku itu biasa aja. tapi nggak tau kenapa, semenjak itu aku tuh bawaannya keingeeet terus sama Heli. Apalagi kalo ngeliat si Sam. Bahkan lama-lama tuh yah… aku merasa kalau keduanya itu makin mirip. Senyum dia, sikap dia, bahkan aku itu baru nyadar, kalau Sam juga suka coklat panas sama kayak Heli. Dan ini semua benar-benar membuat aku makin nggak bisa ngelupain Heli, yank…!”

Suasana perlahan hening begitu Selena selesai bercerita. Tak ada satu pun diantara ketiganya yang bicara, hanya isak tangis Selena yang masih bersisa, bagai sebuah ketukan tangga nada yang menghias kesedihan hatinya.

 

***

 

Orang bilang cinta itu layaknya sebuah jembatan. Menghubungkan dua hati yang berseberangan, menyatukan dua jalan yang bertentangan. Namun mencintai, tak selalu harus memiliki.

Selena duduk menyesap coklat panasnya di Tenda Jingga. Sore itu udara terasa segar dengan sedikitnya jumlah kendaraan yang melalu lalang, sementara langit yang bersih menampilkan panorama keemasan cakrawala dengan sang surya yang hampir tenggelam di ufuknya. Sesuatu yang membuat hari Selena serasa begitu sempurna. Melihat senja dan terbenamnya sang surya, melihat betapa bahkan sang surya yang perkasa pun, punya lawan yang tak bisa ia kalahkan. Sudah hampir seminggu ia tak melihat Sam. Dan entah kenapa, ada sedikit rasa kehilangan dalam kepergiannya yang tanpa kata tanpa berita. Ada rasa bersalah yang entah dari mana asalnya, hinggap begitu saja dalam lubuk hati Selena. Ia sadar, bahwa apapun yang telah terjadi dalam hidupnya, itu semua bukan salah Sam atau siapapun. Namun ada satu sisi dalam dirinya yang mengakui betapa ia sungguh tak berdaya. Dan kini, ia hanya bisa sayu menatap senja yang perlahan mulai kehabisan keindahannya. Malam. Merenggut begitu saja keindahan senja yang hanya punya sedikit waktu untuk mempertemukan rembulan dan sang surya. Lalu tiba-tiba, ada sesuatu yang dirasakannya aneh, janggal dan tak wajar. “Loh, mati lampu?”

Gelap. Tak ada satu pun terang cahaya yang menyala dalam redupnya senja yang mulai beranjak malam. Ini mengingatkannya akan sesuatu. Atau lebih tepatnya, seseorang…

“Aku heran,” terdengar seseorang berkata dan membuat hati Selena berdegup kencang. Ia kenal jelas pemilik suara yang terasa begitu dekat dengan dirinya itu. Ada rasa ingin berucap, namun seolah ada mantra yang mengikat lidah serta mulutnya hingga terkunci dengan sempurna. Kaku. Ia sama sekali tidak bisa bersuara. Hatinya berdegup labil dan parasnya memerah dalam gelapnya malam yang tanpa satu pun penerangan. “Kenapa tiap kali kita ketemu, pasti mati lampu!” kata orang yang tak lain adalah Sam.

Tiba-tiba ada sebuah nyala cahaya. Sam menyalakan sebuah lampu senter dan mengarahkannya tepal ke langit-langit tenda, hingga membiaskan warna merah keemasan dan membuat suasana sedikit terang. Dan kini, Selena dapat dengan jelas melihat sosok Sam yang telah duduk di hadapannya sambil tersenyum.” Sam?” akhirnya bibir Selena terbuka dan mampu kembali bersuara. “Ini…” Selena menatapp takjub pada cahaya keemasan yang ditimbulkan akibat benturan cahaya senter dengan tenda jingga.

“Sekedar buat jaga-jaga…,” kata Sam. “Habisnya, aku nggak mau pertemuan kita diganggu lagi sama acara mati lampu segala.”

Sam tersenyum, lalu menjulurkan tangannya seperti saat pertama mereka bertemu. Namun kali ini Selena sedikit ragu untuk menyambut tangan Sam. “Aku nggak tau apa alasannya, tapi kayaknya emang butuh cara tersendiri buat bisa ketemu sama kamu Selena. Iya, kan?”

 “Sam. Aku…” bibir Selena bergetar. Ada banyak sekali yang ingin dikatakannya, namun ia tak tahu harus dari mana ia memulainya.

“Nggak masalah.” Kata Sam. Membuat Selena tertegun dan angkat kepalanya, menatap sejurus pada Sam. “Aku nggak begitu suka cerita tentang matahari yang jatuh cinta sama rembulan.” Ucap pemuda itu lagi. “Dan jangan dilanjutkan dengan keduanya yang hanya bisa bertemu saat gerhana. Itu cerita yang sangat menyebalkan, Selena. Tau kenapa? Karena aku itu nggak suka dengan cerita cinta menyedihkan semacam itu. Dan lagi… aku suka senja. Jadi jangan seenaknya ngrusak imej baik senja yang aku suka itu dengan cerita kamu yang ─ barusan aku nyebutnya apaan?.”

Selena keluarkan tawa kecilnya. Akhirnya, entah bagaimana ia bisa lepas dari kekakuan yang membelenggunya. “Menyedihkan,” ujar Selena, membuat Sam kemudian berseru spontan. “Ah, iyap. Bener banget. Menyedihkan…” Sam ikut tertawa. “Sangat menyedihkan!”

Keduanya saling beradu canda seputar senja untuk beberapa saat lamanya, sebelum akhirnya kemballi saling diam. Bersama memandang langit-langit tenda yang nampak indah oleh sorotan lampu senter yang Sam nyalakan. “Indah, kan?” ujar Sam. Selena mengangguk perlahan tanpa menepiskann pandangannya. “Sam, aku…”

“Aku tau.” Sahut Sam. Juga tanpa mengalihkan pandangannya.“Aku udah tau semuanya. Tentang Heli, juga alasan kenapa aku selalu saja nggak bisa ketemu sama kamu.”

Muka Selena merona merah. Kini ia bahkan tak sanggup bicara apapun. Hanya mampu pandangi wajah Sam yang masih juga menengadah. Pandangan mereka akhirnya bertemu, setelah kemudian Sam juga menatap sejurus ke arah Selena. Pemuda itu tersenyum lalu berkata, “Yah, kita semua punya masalah. Dan itulah yang namanya hidup. Tapi kita selalu punya pilihan, untuk terus maju atau diam dan tenggelam. Iya, kan?”

Selena diam. Kepalanya tertunduk tanpa ekspresi, lalu sedikit terangkat dan menatap tak berkesiap telapak tangan Sam yang masih menjulur terkembang menanti datangnya sambutan. “Jangan dilupakan. Karena jadi seseorang yang dilupakan itu sakit sekali rasanya. Dan aku akan coba menerima setiap hal yang menjadi bagian dari diri kamu. Termasuk masa lalu yang menenggelamkanmu.”

Kepala Selena terangkat lebih tinggi dan berhenti tepat di titik matanya bertabrakan dengan sorot mata Sam. Mata gadis itu mengkristal, lalu mengalirkan sebening cairan hangat yang menggaris sepasang pipinya yang halus. Tangannya menjulur dan meraih tangan Sam. Keduanya tersenyum, membuka tirai malam yang kembali terang oleh lampu-lampu yang berpendar bagai bintang yang menghias pertemuan mereka.

           

“Kamu tau nggak Selena?”

“Apa?”

“Rasanya, sekarang aku jadi makin suka sama senja. Bukan karena warnanya  yang terlihat elok… bukan juga karena cerita kamu yang nggak jelas itu. Aku suka senja, karena senja mempertemukan aku dengan kamu, Selena.”

“Ya, aku juga, Sam.”

 

By: Hida

  • view 132