Cinta Tanpa Nama

Hida Padni
Karya Hida Padni Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 April 2017
Cinta Tanpa Nama

Aku banyak mendengar cerita tentang hujan. Hujan yang mempertemukan  dua hati dalam satu cinta. Hujan yang membalut kenangan dengan luka. Hujan yang sembunyikan airmata. Entah sudah berapa banyak hujan menjadi saksi sebuah cerita. Dan hujan, juga menjadi saksi ceritaku tentang dia. Karena hujan selalu menjadi satu-satunya kenangan tentang sosoknya, yang acap kali selalu menggigil karena saat itu hujan terus mengguyur Kebumen dengan hebatnya. Di bawah atap gardu pos polisi, aku berlindung dari serangan hujan dan menunggu angkutan kota yang akan menjadi penyelamatku karena tengah diburu waktu. Aku tak ingin terlambat satu hari pun di minggu pertamaku praktek mengajar di salah satu SMA favorit di kotaku itu. Dan sejauh ini, aku tak terlambat satu hari pun hingga hari kelimaku. Dan aku tak ingin merusak rekorku, terutama di hari terakhir pekan pertamaku.

Gadis itu menggigil dalam balutan kemeja merahnya yang kuyup oleh hujan. Bibirnya yang menggaris tipis, memucat dan turut bergetar menahan rasa dingin yang menusuknya dengan bertubi. Aku tahu karena aku sendiri merasakan dingin yang sama.

Dadaku berdegup kencang ketika ia melempar satu senyumnya yang manis ke arahku, yang lalu aku balas dengan senyum canggung dan spontanitasku. Aku memberanikan diri bertanya, “Dingin yah, mba?” kataku datar. Mengusap wajahku yang juga basah oleh bulir-bulir hujan.

Gadis itu cuma tersenyum sambil mengangguk malu. Beberapa detik berlalu dan aku kembali memberanikan diriku, “Namaku Gading. Boleh saya tau nama situ?”

Sekali lagi, gadis merah itu cuma tersenyum sambil mengangguk malu. Aku pun hanya bisa diam membisu. Semakin canggung dengan sikapnya terhadapku. Dan entah bagaimana, aku berakhir hanyut menikmati sosok indah di hadapanku itu. Terpukau oleh rambutnya yang tergerai lurus dan panjang, yang mana nampak kaku oleh endapan air yang membuat benang-benang halus dan lembut itu justru nampak begitu berkilau. Ketika aku tengah sibuk mengagumi bening bola matanya yang bulat besar itu, sebuah angkot berhenti tepat di hadapan kami. Cetar suara kernet yang mengajakku untuk naik sangat mengejutkanku, hingga aku sempat terperanjat selama dua detik. Terbangun dari lamunanku, aku pun segera naik, namun sayang, gadis itu tidak ikut naik bersamaku. Namun kulihat ia melengos dan seperti mancariku. Dan aku hanya bisa memandanginya seraya tersenyum pada sosoknya dari balik jendela, hingga gadis itu semakin menciut dan akhirnya menghilang dari pandangku seiring angkot melaju.

Hari itu, aku berhasil meraih rekorku karena datang tepat waktu. Bel berbunyi, sesaat setelah aku mendudukkan diri di kursi kerjaku. Namun ada sesuatu yang kurang, yang kurasakan begitu mengganjal dalam diriku. Seperti menghimpitku dalam ruang kosong, dan menolak untuk membebaskanku. Aku terus saja terbayang akan sosok merah yang bahkan belum sempat menyebutkan namanya itu.

Satu  minggu berlalu, dan aku masih belum bisa mengenyahkan sosoknya dari pikiranku. Hingga akhirnya aku dan dia kembali bertemu. Lagi-lagi, hujan menguyup kami. “Perasaan, tiap kali kita ketemu, selalu turun hujan?!” ujarku, mencoba mencairkan suasana yang rasanya begitu canggung dan kaku. Kupikir gadis itu akan sekali lagi diam membisu, namun sekali ini dia bicara membalas ucapanku. “Bukan. Justru karena hujan, kita jadi bisa bertemu, kan?”

Tak hanya itu, ia bahkan melempar satu senyumnya ke arahku. Aku sejenak terkejut. Dan entah kenapa butuh waktu cukup lama untuk aku bisa mencerna dan memahami maksud dari ucapannya itu. Mungkin karena semata-mata perhatianku teralihkan sepenuhnya, oleh dentingan suaranya yang ternyata begitu lembut dan indah, seolah tanpa satu pun noise mengalir  di dalamnya. Seperti menekan satu tuts pada piano dengan lembut, hingga memperdengarkan satu bunyi yang halus dan memelodi indah.  Kami cukup banyak mengobrol sekali itu. Bahkan saat satu angkot berhenti untukku, aku justru membiarkannya begitu saja berlalu. Dia pun begitu. Terus menikmati waktu mengobrol denganku.

Anehnya, beberapa kali kami bertemu, belum juga aku mendengar ia menyebutkan namanya. Ketika aku coba menanyakan namanya untuk kedua kalinya, sebuah bus tiba-tiba lewat dengan teriakan klakson yang memekakkan telinga, tepat ketika gadis itu tengah menyebutkan namanya. “Telolet, telolet, teloleeet…!”

Aku sempat berteriak memaki. Namun suaraku lenyap ditelan gemuruh suara mesin serta bunyi klakson yang dibarengi desiran angin yang terbelah oleh bus yang melaju di tengah hujan itu. Gadis itu tertawa geli, dan telah melangkah pergi sebelum aku sempat berkata apa-apa lagi. Ia naik angkot yang datang tepat di belakang bus sialan tadi.

Di hari hujan berikutnya kami kembali bertemu. Hujan memang tengah sering mengguyur Kebumen saat itu. Dan kebetulan juga aku dan dia selalu bertemu di kala hujan mengeroyok kota kelahiranku itu. Aku coba menanyakan perihal namanya kembali, namun dia cuma gelengkan kepalanya. “Aku sudah menyebutkan namaku waktu itu, kan?” katanya, membuatku heran sekaligus penasaran. “Iya, sih. Cuman kan kamu tau sendiri. Kemarin itu ada bus sialan yang sok pamer klaksonnya gitu!” desisku. Masih kesal dengan kejadian waktu itu. Namun mendadak ada satu tanya lain yang menggangguku. “Eh, aku heran. Kenapa tiap kali aku ketemu kamu, pasti sedang hujan!?”

Gadis itu memandangku sejurus, membuatku segera melempar mukaku dari tatapannya yang seolah mampu menembus segalanya. Kini ia ganti suarakan tawa kecilnya. Memperlihatkan putih dan rapihnya barisan gigi-giginya, yang beradu bersama bibir tipisnya yang menggaris dengan manisnya.

“Kok malah ketawa?” aku makin penasaran dengan sikapnya. Lalu gadis itu hentikan tawanya. Tangannya menjulur, membiarkan tetesan-tetesan hujan jatuh di pangkuan tangannya yang berjemari lentik dan halus. “Kamu tak akan pernah bisa menemukanku tanpa hujan, Gading.” Ujarnya perlahan. Semakin membuatku tidak mengerti akan sosoknya. Aku ingat beberapa kali pernah aku coba mencarinya saat hujan tak mengguyur bumi, namun aku tak pernah berhasil menemukannya. Tak peduli seharian aku menunggunya, ia tetap tak menunjukkan sosoknya. Seolah memang seperti yang diucapkannya. Bahwa tanpa hujan, aku tak akan pernah bisa bertemu dengannya. Dan lagi, kenapa dia bersikeras tidak mau aku tahu namanya!? Rasanya sungguh tak adil bagiku. Dia tahu namaku, sementara ia sendiri menolak menyebutkan namanya padaku.

“Kamu beneran pengin tahu nama aku, Gading?” kata perempuan berparas cantik itu seraya tersenyum padaku.

Dadaku mendadak berdegup lebih kencang dan tak beraturan. Bagaimana dia seolah tahu apa yang aku pikirkan?! Matanya kembali sejurus menatapku. Namun kali ini aku tak menghindar. Kucoba balas memandangnya dengan tak berkesiap. Mencoba menyelidik arti di balik sorot matanya yang mengundang sejuta tanya. “Namaku…” ia mulai menyebutkan namanya. Namun mendadak langit riuh bergemuruh. Kilat menyambar tiga kali dalam sekejap dan membawa teriakan Guntur yang seolah hendak merobek langit. Aku sangat terkejut, takut, bahkan kakiku bergerak melangkah surut. Tapi ketika mataku kembali tertuju pada gadis itu, senyumnya kembali menenangkanku. Menguatkanku. “Sepertinya, memang belum saatnya kamu tau namaku, Gading.” Kali ini senyumnya terkulum dalam lipatan bibirnya. Aku semakin penasaran. Ketegangan mulai merambat ke sekujur tubuhku sementara hujan mulai menghilang secara perlahan.

Ia pun mulai mengayunkan kakinya, melangkah menghampiri angkot yang berhenti untuknya. Namun aku bergegas mencegahnya. “Tunggu!” sergahku. Dan angkot itu segera pergi berlalu. Sebelumnya kami selalu berpisah dalam iringan hujan. Namun kali ini, aku ingin terus bersamanya hingga hujan bosan membasuh dunia. Aku ingin tahu, apa yang sekiranya mungkin terjadi padanya ketika hujan tak lagi membasuh bumi. “Kau bilang, aku tak akan pernah menemukanmu tanpa hujan, kan?” langkahnya terhenti. Aku tak berniat membiarkannya pergi. “Kalau begitu, aku ingin lihat. Apa kau akan menghilang bersama hujan, hingga aku tak pernah menemukanmu tanpa hadirnya diantara kita.”

Rona muram kini jelas tergambar di wajah bulatnya yang basah. Bulir-bulir hujan berselancar di kulitnya yang halus dengan lincah, dan menyibak warna hatinya yang kurasakan mulai resah. Dan ketika hujan akhirnya benar-benar sirna, aku tersenyum lega menatap sosoknya. Tanganku masih merasakan kehangatan yang merayap dari saat aku mulai memegang tangannya. Dan tanpa sadar aku pun langsung memeluknya. Aku tertawa bahagia. “Syukurlah,” ucapku. Masih dengan tawa mewarnaiku. “Aku pikir, benar-benar akan terjadi sesuatu padamu begitu hujan reda.” Aku begitu bahagia, entah karena apa. Sesaat memang aku mengira sosoknya mungkin akan lenyap begitu saja seiring dengan hujan yang mereda. Hasil pemikiran yang bersumber pada sebuah fantasi gila.

Aku segera melepasnya dari pelukku, memandang wajahnya yang masih menampilkan warna diam yang sama, dengan sorot mata masih membuatku banyak bertanya. Aku terkejut melihat ada sebulir airmata di ujung kedua matanya. Tak tahu harus berkata apa, sampai akhirnya ia bicara, “Jangan mencari tahu hal yang memang tak seharusnya kamu tahu, Gading.” Tuturnya. Jari telunjuknya yang basah memaksa mulutku diam tak bicara. Aku sama sekali tidak mengerti maksud ucapannya. Ia melepas tanganku dan melangkah pergi begitu saja, tanpa aku bisa mengejarnya.

Dan sejak saat itu, aku tak lagi bisa bertemu dengannya. Tak peduli berapa kali aku coba mencarinya. Tak peduli hujan terus melanda, sosoknya tak lagi bisa aku menemukannya. Seolah dia tak lagi ada. Seolah dia benar-benar lenyap bersama hujan yang mereda.

***

 

Gerimis  yang menyapu Kebumen siang itu membawa kembali kenanganku. Ketika aku kembali berdiri di gardu pos polisi, menanti sebuah angkot yang akan datang menyelamatkanku dari dingin yang menusukku dengan bertubi. Tiga bulan berlalu, tanpa kami kembali bertemu. Dan selama itu, aku terus menyimpan rinduku. Selama itu aku terus menahan suatu gejolak yang perlahan namun pasti merayap dan ingin meledak dari dalam diriku. Kulihat seorang gadis berdiri tak jauh dariku. Di tengah gerimis yang perlahan menderu, sosoknya yang mengenakan kemeja merah, seketika mengingatkanku. Rambutnya yang panjang tergerai, melambai tertiup angin yang seolah memanggilku. Perlahan daun payung transparan yang meneduhkannya tersibak dan memperlihatkan parasnya yang elok padaku. Mulanya aku tak ambil peduli siapapun itu. Namun sosoknya yang berbalut kemeja merah benar-benar sangat mengejutkanku, hingga seketika menggerakkan langkahku. “Maaf. Saya salah orang.” Aku kecewa. Berjalan dengan langkah lunglai kembali ke bawah gardu polisi. Namun aku kembali dua detik kemudian. Aku bertanya, “Kalau boleh tau, mbak ini siapa, yah? Maaf tadi bikin kaget. Soalnya, mbak agak mirip sama orang yang saya kenal.”

Aku tidak terlalu mengharap jawaban yang bagus, namun aku sama sekali tidak mengira, ia akan melengkungkan garis bibirnya dan tersenyum padaku seraya berkata. “Ah, nggak pa-pa. Lagian, ini tempat kenangan kakak saya.” Katanya.

“Kakak?” heranku. Ada satu sisi di hatiku yang mulai bertanya dan menduga.

“Ya,” gadis itu mengangguk. “Dulu, kakak suka sekali tempat ini. Terutama saat hujan. Katanya, di sini ia biasa bertemu dengan orang yang sangat dicintainya.”

Hatiku mendadak berdegub kencang. Mungkinkah? Benarkah? Muncul tanya demi tanya dalam hatiku. Bibirku bergetar. “Lalu… se, sekarang, memang, dimana kakak kamu?”

Gadis itu kembali memperlihatkan senyumnya. Kali ini kulihat seakan berduka. “Sudah sejak lama, Tuhan mengambilnya.”

 

By: Hida

  • view 128