Kemelut Cinta Nalia

Hida Padni
Karya Hida Padni Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 April 2016
Kemelut Cinta Nalia

            Nalia masih menutup rapat pintu kamarnya. Masih dengan kedua mata yang basah dan memerah, serta gelapnya ruang kamar yang sembunyikan rona kesedihannya. Di langit-langit kamarnya masih melayang sosok Janan. Berputar dan berganti seiring dengan kenangan yang menari-nari indah dalam ruang hatinya. Kenangan indah yang berakhir dengan tangis kesedihannya.

            Nalia memegang erat tangan Janan. Begitu pun Janan. Keduanya berdiri mengenggam erat cinta yang telah sejak lama mereka bina. Lima tahun bersama, dan kini keduanya dihadapkan pada kenyataan pelik yang menghadang cinta mereka. “Pokonya, aku Cuma mau nikah sama Janan! Bapak  gak bisa dong, seenaknya nentuin calon suami Nalia!” Nalia mengerang dalam isaknya. Janan semakin erat memegang tangan Nalia. Matanya tak kalah memerah dan berkaca dari Nalia. Ada beban berat yang tiba-tiba saja membuat dadanya begitu sesak. Bahkan ia sulit bernafas.

            Pak Mustofa tatap wajah putrinya, lalu berganti pada sosok Janan yang tundukkan wajahnya. “Tolong tutup kembali pintunya,” kata ayah Nalia, memberi isyarat agar Janan segera pergi, namun tetap dengan nada bicara sopan dan halus. Berharap dua orang di hadapannya itu mengerti. Nalia telah sejak lama ia jodohkan dengan Raka, anak Faisal sahabatnya. Dan pembicaraan itu sudah lama terjadi dari semenjak Raka dan Nalia masih kecil. “Dan kalau kamu memang peduli dengan Nalia, saya minta, jangan dekati Nalia lagi!” tanpa Nalia dan Janan sadari, mata Pak Mustofa berkaca. Sebenarnya hatinya sungguh tak tega. Namun keadaan tak memberinya pilihan. Janji tetaplah janji. Jauh sebelum Nalia dan Janan berikrar saling setia untuk saling mencintai, Pak Mustofa bersama sahabatnya, telah jauh lebih dulu berjanji, bahwa kelak Nalia akan menikah dengan Raka.

            Hati Nalia hancur seketika. Dadanya bergemuruh dan matanya tak hentinya berkaca, ketika dirasakannya genggaman tangan Janan perlahan melemah dan akhirnya lepas. Laki-laki yang dicintainya itu pergi dan lenyap di balik pintu rumahnya. Sementara Nalia, entah kenapa ia tak kuasa mengejarnya. Hanya bisa memandang kepergian kekasihnya dengan airmata.

            Satu bulan berlalu sejak malam itu. Tanpa pernah sekali pun Janan muncul di hadapan Nalia. Tanpa sekali pun Janan menghubungi Nalia. Bahkan meski berulangkali Nalia coba menghubunginya, Janan seolah tak lagi ada. “Waduh, si Anan belom pulang tuh. Udah dari berapa hari. Katanya sih, pergi ke Jogja ke rumah temen.” Kata ibu Janan ketika Nalia coba ke rumahnya.

            Nalia tahu ibu Janan berbohong. Namun ia merasa tak sanggup berkata apa-apa dan langsung pergi begitu saja. Jika Janan memang tak ingin menemuinya, maka ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Nalia pergi meninggalkan rumah Janan dengan wajah muram. Begitu pula dengan Janan. Matanya berkaca menatap kepergian Nalia. Mengikuti tiap langkahnya yang perlahan menjauh lalu hilang dari pandangnya. “Kenapa tidak coba kalian bicarakan baik-baik si Nan?” ucap ibunda Anan. Diremasnya bahu anak laki-lakinya itu dengan perlahan.

            “Entahlah, bu. Anan juga gak ngerti.” Jawab Anan. Suaranya yang sendu membuat sang ibunda tak tega dan langsung membenamkan kepala Anan dalam peluknya. “Yang tabah ya, nak.” Ibunda ikut terisak.

            Nalia berjalan dengan langkah perlahan. Wajahnya yang memproyeksikan rona lusuh, tertunduk tak memperhatikan jalan yang sebenarnya cukup ramai orang berlalu lalang. “Kring kring kring!” sekelompok pengendara sepeda melaju dengan cepat, tepat di sampingnya dan hampir saja menabraknya.

            “Hoy, jalan yang bener!” teriak salah seorang pengendara memaki. Nalia terus melanjutkan langkahnya yang tak terarah, dan bahkan tak mengindahkan perkataan pengendara tadi. Namun sebuah kenangan menyembul dan membuat matanya kembali mengkristal. Kenangan saat dulu ia dan Janan sering bersepeda di taman. Kenangan penuh tawa yang membuat Nalia menjulurkan tangannya dan memercepat langkahnya. Ia mulai berlari-lari kecil. Lari mengejar dan berusaha menangkap bayangan yang nyata dalam angannya. Sebuah kenangan yang berakhir menjadi sebuah mimpi. Ia terus berlari. Berusaha mengejar kenangan indahnya seperti orang gila. Nalia terus berlari dalam isaknya, dalam peluk kesedihannya, hingga akhirnya sosoknya lemas tak berdaya.

            “Masih pusing?” tanya seseorang. Nalia membuka kelopak matanya perlahan dan mendapati seorang laki-laki tampan di hadapannya. Ia segera terhenyak. Bangun dan mendapati dirinya ada di sebuah pembaringan. Sebuah ruangan yang mirip dengan ruang tempat ia menunggu ibunya yang sakit di rumah sakit, lima tahun yang lalu. “Saya…,” Nalia kebingungan. Ia sama sekali tidak ingat apa yang telah terjadi pada dirinya. “Apa yang terjadi sama saya? Kenapa saya ada di sini? Trus, anda ini siapa?” berbagai pertanyaan muncul dan melayang-layang dalam benak Nalia. Namun kesemuanya itu segera terjawab.

            “Saya Dokter Azka. Mbak barusan pingsan di jalan. Untung ada orang yang baik hati mau nganter mbak ke klinik saya.” Terang laki-laki itu. Dokter muda berparas tampan itu tersenyum.

            Wajah Nalia memerah. Kini ia ingat, apa yang terjadi pada dirinya. “Maaf. Saya jadi merepotkan pak dokter.” Ucap gadis itu seraya merapihkan rambut serta pakaiannya yang nampak berantakan dan kacau. “Apa saya sudah boleh pulang, pak?” tanya Nalia.

            “Oh, tentu.” Sahut Dokter Azka. “Mbak ini baik-baik aja kok. Barangkali, mbak Nalia kecapean dan butuh banyak istirahat, biar gak pingsan mendadak kayak barusan tadi itu.”

            “Makasih dokter.” Nalia tersenyum. Entah kenapa perkataan dokter Azka terdengar sangat melegakan. Ya, ia butuh istirahat. Istirahat dari memikirkan masalah demi masalah yang bertumpuk di otaknya. “Kurasa, Janan juga sama.” Batin Nalia.

            Nalia kemudian pulang dengan diantar dokter Azka yang kebetulan ada urusan di tempat yang searah dengan rumah Nalia. Mereka banyak mengobrol selama dalam perjalanan. Nalia pun menceritakan masalah yang tengah dialaminya. Entah kenapa, ia merasa nyaman begitu saja terbuka pada dokter muda itu. Mungkin karena usia mereka yang sebenarnya tidak terpaut terlalu jauh. Dokter Azka pun menyimaknya dengan seksama. Ia bahkan memberi beberapa nasihat untuk pemecahan masalah yang Nalia hadapi.

            “Sekali lagi, makasih pak…” Nalia merasa canggung. Tiba-tiba ia sungkan memanggil dengan sebutan pak dokter.

            “Panggil saja Azka. Gak pa-pa, kok.” Dokter muda itu tunjukkan barisan gigi-giginya yang putih dan rapih. “Saya justru suka kalau Nalia mau manggil nama saya. Lagian, sebenarnya usia kita gak begitu beda jauh juga.”

            Nalia menggangguk dengan canggung, dan Dokter Azka pun mulai menjalankan kembali mobilnya. Nalia masuk ke rumahnya dengan senyum lega. Ia merasa beban masalahnya sedikit lebih ringan setelah tadi ia sempat membicarakannya dengan seseorang. Tanpa ia sadari, bahwa jauh di balik punggungnya, Janan menatapnya dengan dada berdegub kencang dan mata mulai berkaca. Ia melihatnya. Ia melihat bagaimana Nalia turun dari mobil Dokter Azka dengan wajah ceria. Lain dari Nalia yang ia lihat begitu terbebani dan kusut, ketika kekasihnya itu beranjak dari rumahnya dua jam lalu. Padahal ia sengaja jauh-jauh menyusulnya, seperti yang disarankan oleh ibundanya. Namun yang ia temukan lain dari yang diharapkannya. Ia menyaksikan bagaimana Nalia turun dari mobil seorang dokter muda dan terlihat akrab dengannya.

            Janan kembali ke rumahnya membawa seraut wajah kecewa. Dan ketika ibunya bertanya, Janan hanya angkat dua bahunya seraya berkata, “Gak ketemu, bu. Mungkin lagi sibuk barangkali.”

            Janan masuk ke kamarnya dengan lusuh dan tak bersemangat. Dihempaskannya tubuh letihnya di atas kasurnya yang nampak berantakan. Seprey yang kusut, bantal yang tak tertata, juga aneka barang milik Janan yang berserakan di atasnya. Sudah sejak ia pulang dari rumah Nalia untuk bicara pada ayah kekasihnya itu, hidup Janan seolah tak terurus. Janan yang rajin dan suka kerapihan, berubah menjadi Janan yang malas dan bahkan jarang mandi.

            Hari itu hujan turun mengguyur dengan hebatnya. Nalia menggigil dalam balutan hujan dan berdiri di depan pintu rumah Janan. Tangannya terus memainkan nada-nada tak beraturan yang beradu dengan daun pintu rumah yang sudah tak terhitung berapa kali diketuknya. Tetap tak ada jawaban. Nalia berseru memanggil, dan masih tak ada jawaban. Hingga rasa lelah membuatnya tersungkur bersama rintih pilunya.

            Nalia sedang asik mendengarkan lagu-lagu kesukaannya sambil membaringkan diri di atas kasurnya. Ia melakukan tepat seperti yang Dokter Azka sarankan. Istirahat. Mejaga jarak dari masalah. Berharap menemukan solusi dengan melihat apa yang dihadapinya dari jarak yang cukup jauh dari itu semua. Ia sudah merasa nyaman dan cukup tenang selama beberapa hari. Sampai akhirnya pintu kamarnya terbuka dan mimpi buruk kembali menyambanginya. Bahkan kali ini menggigitnya. “Nalia.” Pak Mustofa berkata perlahan. Dari sikapnya, Nalia tahu ayahnya berusaha menyampaikan sesuatu. Ia pun bersiap karena apapun itu, pastilah bukan sesuatu yang ingin didengarnya. Ia tahu hal itu dari menilai sikap ayahnya yang sangat berhati-hati dalam berbicara. “Semua sudah ayah siapkan.” Sang ayah membelai rambut Nalia dengan lembut. “Minggu depan, kamu nikah sama Raka.”

            Kilat dan Guntur datang silih berganti. Mengiringi tangis Nalia yang kembali menggemuruh. Tangannya dengan sigap langsung meraih ponselnya dan menghubungi Janan. Tidak aktif. Nalia pun bergegas mengambil jaketnya dan menghambur diri. Berlari di bawah hujan, hingga akhirnya ia bertemu dengan Dokter Azka yang memberinya tumpangan sampai ke rumah Janan.

            Sang dokter usapkan handuk kecilnya pada wajah basah Nalia, lalu memakaikan jaketnya pada tubuh mungil yang menggigil itu. “Sudahlah Nalia. Mungkin Janannya lagi gak di rumah.”

            “Tapi…,” isak Nalia kembali membuat wajahnya basah. “Aku… aku sayang dia, Azka.”

            Azka tertunduk. Tangannya meremas bahu Nalia perlahan, berusaha mengerti perasaan gadis itu. Dan rasanya sungguh menyakitkan. Ketika seseorang berada pada pilihan sesulit yang Nalia hadapi. Azka seketika memeluknya. Tubuh kuyup menggigil Nalia yang bergetar dalam rintih kesedihannya.

            Nalia yang luluh pada bahu tegap Dokter Azka dalam tangisnya, membeliakkan mata melihat sosok Janan. Ia segera melepaskan diri dari pelukan Azka dan menghambur ke arah Janan. Namun Nalia segera hentikan langkahnya. Kekasihnya itu berdiri terpaku melihat dirinya dan Dokter Azka secara bergantian. Di bawah raungan hujan, payung hitam Janan terjatuh ke tanah. Dan kini air hujan menyatu bersama derai air matanya. Membentuk satu warna luka yang jelas terekspresi pada rona mukanya. “Pergi kalian!” ucap Janan lirih menahan perih.

            “Janan. Dengerin aku dulu. Ini gak seperti,” ucapan Nalia terputus. Janan keburu berseru. Berteriak. “Aku bilang pergi!”

            Dada Nalia seketika berguncang. Baru kali ini dilihatnya Janan semarah itu. Atau sedih. Ada linangan airmata yang dilihatnya diantara buliran hujan yang melentik di wajah kekasihnya. Nalia tertunduk. Dan sebelum ia kembali bereaksi, Dokter Azka telah lebih dulu berkata. “Nalia kesini karena dia sayang sama kamu, Janan. Minggu depan dia akan dinikahkan.”

            Janan diam memaku diri. Sama sekali tak bergeming dari tempatnya, dan membiarkan Azka membawa pergi Nalia begitu saja. Namun hatinya bergejolak. Tangannya mengepal menahan segala rasa yang siap meledak dalam dirinya. Teriakannya meraung, membahana di tengah hujan yang semakin deras menghunjamnya.

***

 

            Nalia tampil cantik dalam busana jawa yang memoles sosoknya dengan begitu anggun dan mempesona. Hanya, wajahnya yang masih berselaputkan mendung membuat sang ayah yang duduk mendampinginya terus tundukkan kepalanya. Tangannya dengan kuat  mencengkram lututnya yang tak juga mau berhenti bergetar. Ketika dulu ia berjanji dengan sahabatnya, ia sama sekali tidak tahu putrinya tidak akan bahagia dengan pernikahannya. Namun ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.

            Rombongan pengantin akhirnya tiba. Faisal sahabatnya datang menghampirinya dan mengajaknya bicara empat mata. “Demi kelancaran acara dan demi kebahagiaan anak kita, sebelumnya ada yang pengin saya omongin ke kamu Topa.”

            Di tempatnya, Nalia sama sekali tidak peduli pada apa yang ayahnya dan Om Faisal bicarakan. Ia memang sudah lama kenal dengan Om Faisal, tapi tidak dengan anaknya. Dan sebentar lagi ia akan menikahinya. Tanpa tahu apapun tentang sosoknya.

            Dokter Azka datang membawa sedikit senyum di wajahnya yang sedari tadi merona mendung. Azka telah banyak membantunya. Karena itu, kehadirannya sungguh sangat berarti baginya. “Tidak pa-pa Nalia. Semua akan baik-baik saja.”

            “Makasih banyak. Kamu udah banyak nolong aku, Az.” Mata Nalia sedikit berkaca.

            Tak lama kemudian, sang mempelai laki-laki pun tiba. Dengan rasa enggan, Nalia angkat kepalanya perlahan. Ia masih sulit menerima kenyataan. Namun ia sungguh terkejut melihat sosok calon pengantinnya. “Ja…” suaranya terbata. Tak sanggup melukiskan rasa terkejutnya dengan kata-kata. Di hadapannya, Janan berdiri tersenyum kepadanya. Ia berpaling pada Azka. Dan Azka menyambutnya dengan senyum seraya berkata. “Namaku Raeka Azka. Di rumah aku dipanggil Raka.”

 

 

By: Hida

  • view 111