Ketika Mimpi Mengutarakan Hati

Hezy Zamira
Karya Hezy Zamira Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Februari 2018
Ketika Mimpi Mengutarakan Hati

KETIKA MIMPI MENGUTARAKAN HATI
          Berseragam putih abu-abu terasa sangat menyenangkan dari apa pun juga. Masa remaja menuju masa dewasa. Banyak teman baru, suasana baru dan bahkan cowok-cowok keren yang ada di sekolah. Awal memasuki masa ini, selalu dihantui dengan ketakutan yang luar biasa. Membayangkan ekspresi wajah-wajah seram kakak kelas dan masa orientasi siswa yang sangat banyak aturan. Kaos kaki dengan warna yang berbeda, tali sepatu dari tali rafia beda warna dan tas yang terbuat dari karung goni serta diselingi dengan permainan yang konyol bagi siswa baru dan sangat lucu bagi kakak senior. Masa orientasi siswa pun akhirnya selesai, siswa baru bisa bernafas lega pada akhirnya. Memulai segalanya dengan serba baru, dari seragam, sepatu, tas dan buku.
          Namaku Vera Arsynta. Aku adalah salah satu murid baru di SMA Muhammadiyah 4 Palembang. Aku sangat suka bergaul dan sangat cepat dekat dengan orang baru yang kukenal. Dan aku punya satu teman yang paling dekat denganku dan sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Namanya Angelie John, tapi aku biasa memanggilnya Angel. Angel adalah teman masa SDku, Angel juga keturunan darah Inggris dan Indonesia. Tiada istilah tanpa tawa diantara kami berdua. Segala sesuatu sangat lengkap saat kami berdua bersama. Kami berdua bisa dibilang sangat kompak, karena ketika orang melihat Angel sendiri mereka akan bilang dimana ada Angel di situ ada Vera. Tidak dapat dipisahkan kecuali ajal menjemput.
          SMA Muhammadiyah 4 Palembang, tempatku sekolah sekarang. Sekolah ini lumayan luas, mempunya lapangan basket, lapangan futsal, lapangan volly dan mushola. Teman-teman kelasku sangat menyenangkan.
          Suatu hari, setelah selesai masa orientasi siswa. Aku sempat mengagumi seorang siswa. Namanya Gino, dia sekelas denganku di kelas X. Gino sosok pria yang menurutku lumayan manis dan alim. Dadaku rasanya sesak dan jantungku berdegup dengan sangat kencang. Pelan-pelan perasaanku mengagumi dan berubah menjadi diam-diam menyukainya. Aku merasakan yang namanya cinta pertama disaat menjalani putih abu-abu. 
          “ Cie sepertinya sahabatku ini sedang menyukai seseorang.” Ucap Angel
          “ Ha ? Enggaklah Angel. Mau fokus sekolah dulu.” Ucapku sembari mengeluarkan buku dari dalam tasku.
          “ Bener nih, gak mau cerita sama gue lagi.” Sambung Angel seolah dia ingin membujuku untuk menceritakan semuanya.
          “ Iya deh gue akui, gue suka sama Gino.” Jawabku malu-malu
          “ Sejak kapan lo suka sama dia Vera ? Apa yang membuat lo suka sama dia ?” 
          “ Sejak pertama kali kita masa orientasi siswa. Karena menurut gue dia itu manis dan alim.”
          “ Seriusan nih ?”
          “ Iya serius lah.”
          Suatu hari Angel mengajakku ke kantin, tapi saat aku dan Rini mau keluar dari kelas, hampir saja aku bertabrakan dengan Gino. Aku tidak berani untuk melihat wajahnya itu.  Aku merasa gugup dan rasanya bibir ini hanya bisa tersenyum tidak jelas. Aku langsung bergegas dan menarik lengan Angel.
          “ Ehem ehem.” Ledek Angel.
          “ Ih apaan sih Ngel” Jawabku datar.
          “ Seneng gak tadi, lihat deh si Gino senyum sama lo Ver. Cie ada yang lagi jatuh cinta nih.”  Kata Angel
          “ Ah lo ini,  enggak kok biasa aja.” Jawabku malu-malu.
          Tidak banyak yang aku tau tentang Gino. Aku hanya tau bahwa Gino sesosok cowok yang mudah bergaul dan mempunyai otak yang cerdas. Tapi, yang aku dengar dari temanku yang lain, bahwa Gino itu pintar dan fasih dalam membaca ayat suci Al-Qur’an.
                                                                 *****
          Tidak terasa satu tahun telah berlalu, aku dan Angel naik ke kelas XI dan saatnya untuk memilih jurusan apakah IPA yang setiap hari akan sibuk menghitung angka atau IPS dengan penghafalan dan pembisnis. Aku dan Angel sepakat memilih jurusan IPA. Ketika memasuki kelas XI IPA I. Aku dan Angel langsung mencari tempat duduk yang tepat agar setiap hari aku dapat melihat Gino dengan jelas. Keinginanku itu pun akhirnya terwujud. Bangku yang aku tempati dengan Angel bersebelahan dengan bangku Gino.
          Tugasku selain belajar dengan tekun bertambah lagi yakni aku harus selalu terlihat pintar di depan Gino. Urusan dengan penampilan itu sangat tidak penting. Karena, bagiku prestasi paling penting. Aku pun selalu masuk juara kelas, begitu pun dengan Angel. Bahkan pada saat pembagian kelompok belajar, Gino sekelompok denganku dan Angel dan beberapa teman yang lainnya. Saat ini Gino ikut dalam ekskul volly di sekolahku. Bila sudah saatnya bertanding, aku mulai stress karena satu hari tidak melihatnya. Aku hanya bisa berdoa agar hari itu cepat berlalu. 
          Gino pernah memberikanku harapan. Dia sering menatapku lama dan seolah berkata sesuatu kepadaku melalui tatapannya itu. Banyak hal yang dia lakukan dan membuatku banyak berharap dan air mata pun tidak pernah bisa tertahankan ketika aku mendengar dia pacaran dengan teman semasa SMPku. Angel ikut bersedih ketika mendengar kabar tersebut.
          Melalui akun instagramku, aku melihat foto Gino dan Felistia dan itu membuatku sangat sakit hati dan nyaris putus asa. Setiap selesai latihan volly, Gino selalu mengantarkan pacarnya itu pulang dan selalu lewat didepanku. Tapi matanya menatapku seolah ingin melihat kecemburuanku. Yang bisa aku lakukan saat melihatnya dengan Felistia bersama yaitu hanya tersenyum di hadapan mereka dan sebisa mungkin menyembunyikan  rasa sakit itu.
          “ Vera kamu yang sabar, mungkin dia belum ditakdirkan bersama dengan lo.” Ucap Vera sembari mengelus punggungku.
          “ Iya Angel, aku sabar.” Jawabku sambil menghapus air mataku yang mulai menetes dengan sendirinya.
          “ Sudah jangan menangis lagi.” Sambung Angel
          “ Iya.” Jawabku datar.
          Dua bulan pun berlalu, aku mendengar bahwa Gino putus dengan teman semasa SMPku tersebut yang pernah jadi kekasihnya Gino. Karena, ada sesuatu masalah. Felestia selingkuh dengan teman sekelasnya.
         “  Ver, sebenarnya ada yang mau gue kasih tau ke lo.” Ucap Angel.
          “ Apa yang mau lo kasih tau ke gue?” Tanyaku kaget dengan pernyataan Angel tersebut.
          “ Ver sebenarnya Gino suka sama lo sudah lama.”
          “ Tapi kenapa dia pacaran sama Felistia. Dan kenapa lo tau.” Ujarku kebinggungan.
          “ Iya dia hanya ingin membuktikan apakah lo benar-benar sayang sama dia.” Tegas Angel.
          “ Jadi, ketika dia selalu mengantarkan pulang Felis dia juga sengaja lewat di depanku.”
          “ Iya benar itu semua rencanaku dengan Gino.”
                                                               *****
          Tiba sudah di akhir SMA, aku sudah di kelas XII IPA I. Perasaan sayang pada Gino masih ada terukir dengan indahnya dihatiku. Angel selalu menuntunku agar aku tidak jatuh kembali ke dalam perasaan sakit hati. Aku sangat beruntung mempunyai sahabat seperti Angel, dia selalu menghiburku agar aku kembali dengan kebiasaanku bersaing dalam belajar dan hati tetap terpusat pada Gino.
          “ Katanya Gino suka sama gue, kenapa sampai sekarang dia tidak mengungkapkan perasaannya itu.” Kataku dengan nada sedih.
          “ Semua akan indah pada waktunya.” Jawab Angel.
          Ujian akhir sekolah aku lalui dengan baik. Nilai yang cukup memuaskan membuatku mendapatkan beasiswa penuh di salah satu Universitas yang biasa dijuluki Negeri Paman Sam. Itulah yang membuatku akhirnya pisah dari sahabatku. Aku pasti sangat merindukan sahabatku itu. Suka duka yang aku lalui selama tiga tahun membuatku sangat sedih. Ijazah telah aku dapatkan dan aku akan melanjutkan pendidikanku. Aku dan Angel saling berjanji untuk tidak melupakan satu sama lain. Begitu pun dengan Gino yang juga lulus. Tapi sayangnya pada saat pengumuman aku tidak melihatnya, kata teman-temanku, Gino tadi buru-buru karena dijemput oleh keluarganya setelah mendengar pengumuman kelulusan.
          Tiga tahun pun berlalu,  akhirnya aku telah menyelesaikan pendidikan kuliahku. Pada saat aku pulang ke Indonesia, Angel mengajakku untuk bertemu di taman kota. Aku melihat seseorang pria keren memakai kacamata dan membelakangiku, tepat di samping Angel.
          “ Siapa dia ? pacarmu?” Tanyaku kebinggungan.
          “ Eh bukan.”
          Tiba-tiba pria itu menyapaku.
          “ Vera lo masih ingat sama gue.”
          “ Gino.” Jawabku
          “ Iya gue Gino, apa kabarmu Ver?” Tanya Gino
          “ Gue pergi ke sana dulu ya.” Sambung Angel sembari pergi meninggalkan kami berdua.
          “ Ver ada yang mau gue omongin ke lo.”
          “ Apa ?” Jawabku
          “ Gue suka sama lo. Perasaan ini sudah lama gue pendam sejak SMA. Tapi saat inilah waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya. Kamu mau kan jadi kekasihku?” Tanya Gino
          “ Hem iya gue mau.” Jawabku
          “ Cie ada yang baru jadian.”  Ucap Dila yang datang menghampiri kami.
          Ternyata semua ini sudah direncanakan oleh Angel dan Gino. Gino adalah cinta pertamaku di masa putih abu-abu. Dari Gino aku belajar memahami, berkorban tanpa pamrih, meneteskan air mata, bersabar rajin belajar, dan mengembangkan bakatku. Tanpa dia sadari, dialah inspirasiku untuk menjadi yang lebih baik. Semua itu tidak sia-sia karena tiba waktunya keinginanku untuk bersamanya terwujud. Terima kasih Ya Allah, engkau telah mengirimkan seseorang seperti Gino dalam masa putih abu-abu.

  • view 134