Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 16 Januari 2017   20:28 WIB
Silaturahmi membawa rezeki? masa sih?

Rezeki itu tidak selalu mengenai uang dan uang. Karena bagi saya setiap apa yang saya dapatkan, saya raih dan saya terima merupakan rezeki dari Tuhan. It doesn’t matter  kecil atau besarnya rezeki tersebut. Alhamdulillah sejauh ini saya rasa Tuhan telah memberikan saya berlipat-lipat ganda rezeki yang baik. Orang tua, keluarga, teman merupakan rezeki yang tak tertandingi bagi saya. Eits, jangan lupa bahwa ada rezeki yang tak henti-hentinya diberikan Tuhan yakni oksigen yang membuat kita bernafas atau di kenal dengan O2. O2? Duh sepertinya sudah lama sekali saya tidak mendengar rumus kimia oksigen ini, terakhir kali saya gunakan waktu saya masih duduk di bangku SMA. Haha. Well lupakan tentang rumus kimia itu.

Sadar atau tidaknya kita, ketika kita bertemu dengan seseorang atau sekumpulan orang maka ada banyak hal yang tiba-tiba terjadi pada diri kita. Biasanya kita akan mendengar kisah-kisah mereka, mengetahui kehidupan mereka dan mengambil pelajaran dari cerita-cerita mereka. Dalam hal ini khususnya, kita akan mendapat rezeki yang tidak kita sangka-sangka. Ketika kita memulai perkenalan dengan seorang atau yang biasa kita sebut menjalin silaturahmi maka akan ada banyak pintu yang terbuka untuk diri kita. Salah satu pintunya yakni pintu rezeki.

Khususnya saya, saya biasanya seringkali menyapa teman-teman saya baik melalui dunia maya ataupun dunia nyata. Dengan sekedar menyapa “hai” baik langsung maupun tidak yang ternyata menghasilkan rezeki yang tak terduga.

Rezeki itu ternyata berasal dari comment yang saya tuliskan pada sebuah postingan akun Facebook teman saya. Postingan tersebut merupakan sebuah foto makanan khas dari daerahnya, Tegal laka-laka. Lengkap dengan segenap caption yang panjang mengenai detil informasi dari makanan tersebut. Diposting pada tanggal 15 Januari 2017 pukul 07.33 pagi lengkap dengan nama tempatnya yakni Jl.Kaligung, panggung.

Sebenarnya saya kerap menyapa teman saya ini dengan obrolan yang tidak jauh-jauh mengenai perkuliahan. Sampailah pada hari itu ketika saya melihat ia mengunggah sebuah foto makanan khas kota “inyong” tersebut. Dari sana saya hanya iseng menggoda ia lalu menulis di kolom komentar:

skrg dah jadi presenter acara kulinerkah Bib? Haha”.

“Hahahha, mumpung ditegal da sekalian promosi kota kelahiran”. Balasnya.

Lalu saya teringat dengan salah satu jajanan khas kota tersebut yakni Olos. Dengan santainya saya membalas komen tersebut “kalo balik Jogja jgn lupa bawain aku olos ya Bib, blm jadi-jadi dr kemarin haha.”

Keesokan paginya, 16 Januari 2017 sebuah pesan masuk melalui aplikasi sosial media hits saat ini yaitu Line. Saya tidak menghiraukan pesan itu, namun pesannya berkali-kali dan seketika langsung saya lihat karena saya pikir itu pesan yang penting.

P

P

P

Isi pesan tersebut dengan di awali pertanyaan “dimana da?”

Ya dimana lagi saya berada sepagi ini pikirku kalau tidak di Pondok. Haha. Ternyata eh ternyata Bib Salim yang menanyakan saya ada dimana. Tidak lain dan tidak di sangka bahwa ia benar-benar membawakan saya Olos dan akan mengantarkan Olos tersebut ke Pondok. Seketika saya langsung bangun dari tempat tidur, cuci muka dan mengenakan mukenah “ukhti-ukhti” saya untuk turun menjemput rezeki saya itu.

Ah saya berasa bangun dari mimpi. Saya pikir ia masih di kotanya karena ini liburan semester. Saya pikir ia tak akan membawa Olos tersebut seperti biasanya ia lupa membeli. Sejenak saya berpikir, ini iseng-iseng berhadiah atau silaturahmi benar membawa berkah?

Bagi saya, anak rantau yang sedang kesepian di Pondok karena di tinggal teman-teman, Olos menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri. Saya ditemani makanan kecil-kecil cabe rawit itu seharian ini. Kecil sih tapi berarti. Bagi saya bahagia itu sederhana, duduk di depan laptop di temani makan-makanan ringan.

By the way, Thankyou Bib Salim Jamalullail. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu. Percaya deh dengan QS. Ar rahman:60 yang bunyinya “Hal jazaa 'ul ihsaani illal ihsaan”. Is the reward for good (anything) but good?  Tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan pula.

At last, Silaturahmi itu bukan semata-mata hanya dengan sesama manusia. Ketika kita mampu menjalin silaturahmi yang erat dengan Tuhan yang Maha Kuat maka rezeki kita akan berlipat-lipat. Yakini saja hadits ini, semoga bermanfaat!

“Man ahabba ayubsatha lahu fi rizqihi wa yunsa a lahu fi atsarihi falyashil rahimah”.

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. (HR.Bukhari)

Karya : Herwinda Marta