Jumat, Hujan, Bu Muf dan Akhir Tahun

Herwinda Marta
Karya Herwinda Marta Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Desember 2016
Jumat, Hujan, Bu Muf dan Akhir Tahun

There’s something different with me and my self with the end of this year. Di mulai dari perjalanan Subuh Jumat ini dengan di iringi syair rintikan air dan gemuruh alam oleh Tuhan serta di bawah payung hitam bertuliskan Dauky milik teman. Seperti biasa, masuk musholla sholat sebelum subuh dua rakaat berharap menjadi orang terkaya, karena yang saya ketahui bahwa orang yang melaksanakan sholat qobliyah subuh 2 rakaat kekayaannya melebihi dunia dan seisinya. Ada yang spesial hari ini, selain hari kesukaan saya (jumat), nyanyian alam kesukaan saya (hujan), dan jumat akhir tahun 2016 yakni akan hadirnya Ibu Muf, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Komplek.IV yang saya tempati 3 tahun terakhir di Jogja untuk memberikan nasihat-nasihat yang biasanya selalu bersumber dari Tafsir Al-Qur’an, dan hadits.

Biasa bagi kami, anak pondok mendengar nasihat-nasihat beliau yang begitu menenangkan hati. Nasihat yang datang biasanya bersumber dari suatu permasalahan yang terjadi. Jika berbicara mengenai masalah jarang mengaji, jarang jamaah Subuh, maghrib, dan Isya itu merupakan hal yang lazim terjadi. Namun, ternyata ada hal lain yang terjadi. Ada sesuatu yang mengganggu pikiran beliau karena mendapatkan laporan bahwasanya Pondok Komplek.IV terlalu bebas. Anak-anaknya sering pulang malam, tidak tahu aturan menginap di tempat teman, dan bertemu seseorang di depan toko bangunan. Well, bagi mahasiswa hal-hal tersebut merupakan hal yang biasa, sederhana, dan tidak mengganggu siapapun. Namun, karena tinggal di sebuah dusun, dimana warga sekitar pondok merupakan warga asli yang memiliki pandangan tersendiri bagi dusunnya dan hal tersebut tidaklah sama dengan pandangan mahasiswa masa kini yang kemudian menjadi sebuah permasalahan.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Bu Muf menyampaikan sebuah hadits yang intinya bertakwalah kamu dimanapun kamu berada. Dalam hal ini, beliau menjelaskan bahwasanya dimanapun kita, apapun yang akan kita lakukan, akan selalu melakukan hal yang baik-baik jika kita bertakwa kepada Allah. Maka ketika kita melakukan suatu hal yang tidak baik dan menurut kita hal tersebut tidak menjadi sebuah masalah, itu merupakan sesuatu yang akan menimbulkan kerugian bagi diri kita sendiri. Entah mengapa, setiap mendengar nasihat-nasihat beliau hati saya selalu tersentuh dan malu. Kalimat-kalimat yang beliau sampaikan begitu halus memasuki qalb. Sebagai seorang manusia, tentulah saya seringkali melakukan kesalahan. Sebagai hamba Allah, tentulah saya tidak dapat jauh dari yang namanya dosa-dosa. Dan sebagai seorang mahasiswa Psikologi, tentulah saya seringkali memaknai setiap apa yang saya jalani.

Kehidupan itu sama halnya dengan hujan yang turun. Terkadang hujan itu rintik manis, gerimis, atau bahkan deras bergemuruh angin. Pun hujan pada saat matahari terang benderang dapat mendatangkan sebuah pemandangan nan indah dipandang mata. Konon, jika hal itu terjadi berarti ada bidadari yang sedang mandi. Apapun itu, dengan adanya pemandangan tersebut setiap orang yang memandangi akan menjadi senang sepanjang hari. Sama halnya dengan kehidupan, ada banyak hal yang telah kita lakukan dan rasakan baik itu pahit, asin dan manis. Hal tersebut sangat tergantung pada diri kita sendiri ingin merasakan rasa apa dan yang mana. Setiap rasa memiliki makna dan cerita. Sama halnya dengan hujan, setiap rintik yang berbunyi di atas genting memiliki tarian dan ke syahduan.

Bu Muf berpesan kepada anak-anaknya untuk menjadi anak yang sholehah dan nafiah. Carilah ilmu yang manfaat dan berkah. Serta persiapkanlah dirimu untuk menjadi istri sholehah. Hidup di pondok hanya makan tempe dan tahu tak mengapa. Karena pada dasarnya para Nabi dan Kyai selalu hidup dalam kesederhanaan. Sama halnya dengan yang saya yakini, Innamaal usri yusra. Beliau mengatakan bahwa setiap kesusahan yang kita lewati, pasti akan ada jalan yang memudahi. Yakinlah jika dapat hidup dengan prihatin akan mendatangkan kebahagiaan yang sejati.

Setengah jam berlalu, Bu Muf menutup majlis subuh itu dengan meminta kita untuk melantunkan syair ampunan kepada Allah.

Astaghfirullah robbal baroya, Astaghfirullah minal khotoya sebanyak tujuh kali serta Al I’tiraf sebanyak tiga kali. Seketika rasanya air mata mengalir seperti hujan subuh tadi. Tangan menjadi dingin seperti kabut pagi. Aku menunduk dan bertanya pada Ilahi. Duh Gusti, kenapa hati ini terlalu sedih? Ah, jawabannya ada pada dirimu sendiri.

  • view 460