Pendekar Santri : Senja Dimakam Ibu (1)

Heru Priyanto
Karya Heru Priyanto Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Maret 2016
Pendekar Santri : Senja Dimakam Ibu (1)

Satu : Senja Dimakan Ibu

?

?

Jum?at petang sudah menjadi tradisi bagi keluarga Bapak Cholik untuk melakukan ziarah kubur. Sejak dari kakek telah ditanamkan untuk senantiasa menyempatkan diri menziarahi orang terkasih yang telah tiada. Seperti sore ini, bersama mentari yang mulai memerah. Aku dan Bapak bergegas meningalkan rumah menuju pemakaman ibu. Rasanya baru seminggu yang lalu kami mengunjungi makam ibu, tapi rasa kangen itu telah seperti perposahan lama.

Ibu, kata ayah sosok wanita yang sederhana dan bersahaja. Pandai mengaji dan suaranya sangat merdu ketika melantuknan Ayat suci Al Qur?an. Ilmu membaca al qur?an dengan baik ia peroleh dari kakek yang juga seorang guru ngaji di desa tempat ibu berasal. Ayah waktu pertama ketemu ibu ketika ada tugas KKN dari kampus tempat ayah kuliah. Waktu itu ayah membantu mengajar ngaji di surau yang kakek urus.

Ayah, jika kita jadi meninggalkan kota ini, kita akan berpisah jauh dengan ibu. Ucapku sambil berjalan mengikuti ayah dari belakang.

Ya untuk sementara Delta harus bisa memendam rindu itu, sahut ayah sambil terus berjalan memasuki makam.

Ini menjadi senja terakhir saya dan bapak sebelum pindah tugas. Saya ingin menikmati saat terakhir ini dengan sebaik ? baiknya, karena belum tahu kapan lagi aku akan bisa mengunjungi makam ibu lagi. Tidak telalu jauh kami melangkah memasuki area makam telah dapat kami lihat makam ibu yang nampak ditumbuhi rumput baru. Seminggu yang lalu telah saya bersihkan, namun rumput telah tumbuh dengan cepat. Hujan sangat membantu pertumbuhannya.

Bapak segera mengabil sapu lidi disudut makam untuk membersihkan area makam ibu, sementara saya dengan tangan mencabuti rumput satu persatu. Memang tidak terlalu banyak rumput yang telah tumbuh, namun cukup membuat tanganku terasa pegal. Setelah selesai membersihkan makan aku dan bapak segera duduk berhadapan disisi barat makam ibu. Kata bapak, kalau ziarah duduk disisi barat akan seperti berhadapan dengan ibu.

Bapak memimpin berdo?a, saya hanya mengikuti dengan kata amin. Dalam hatiku ini seperti sesuatu yang sangat berat, saya yang belum pernah melihat wajah ibu secara langsung merasakan adanya ketidak relaan untuk berpisah.

Ibu, Delta pamit. Hari ini mungkin menjadi hari terakhir delta mengunjungi ibu. Dan belum tahu kapan lagi delta akan bisa mengunjungi ibu. Tapi delta tidak akan pernah lupa untuk mendo?akan ibu dari tempat baru delta. Ibu, do?akan delta juga semoga nanti ditempat baru bisa mendapatkan teman yang baik seperti Ari. Kelak ketika delta ada kesempatan ke kota ini, yang pertama akan saya kunjungi adalah ibu. .... tak terasa air mata ku meleleh membasahi pipiku. Sejenak kulihat wajah bapak, juga nampak ada satu dua butir air mata yang jatuh.

Delta, ayo kita pulang, masih ada barang yang musti kita kemasi. Ajak bapak.

Iya pak, sahutku sambil berdiri.

?

Sampai dirumah, ternyata ada Ari, sahabat kecilku yang telah menunggu. Tubuhnya yang kecil dengan sarung selalu ia kalungkan di badan itu membuatku selalu ceria menjalani hari. Tak terlihat kesehidihan di wajah Ari. Dia memang anak yang periang. Tak ada kamus sedih dalam dirinya. Hiburan yang menarik bagi seorang teman. Tak kusadari ari langsung menubrukku, seketika tangisanya pecah.

Ari yang tak pernah ku lihat menangis itu, kini tumpah juga air matanya. ...

Delta, kamu jangan pergi, tinggal disini saja. Bersama saya, biar bapakmu saja yang pergi... dengan suara tidak jelas Ari, mengungkapkan sesuatu yang membuatnya sedih.....

Melihat kelakuan Ari membuatku tak bisa berkata apa apa, saya pun merasakan sedih. Namun harus gimana lagi. Bapak adalah satu satunya keluarga yang saya miliki untuk saat ini. Keluarga yang lain sangat jauh. Dan rasanya tidak mungkin berpisah dengan bapak. Perlahan saya jelaskan ke Ari bahawa meski jauh saya tidak akan pernah lupa dengan Ari, saya akan sering kirim kabar dan pasti akan berkunjung ke sini lagi.

Sudah lah ri, jangan begitu. Seharusnya ini menjadi perpisahan yang indah. Sela ku sambil terus mengemas barang.

Oh ya ri, saya mau nitip sesuatu apakah kamu mau menjaganya?? Tanyaku.

Untuk kamu, yang ada padamu akan juga pasti menjadi milikku yang akan aku jaga sebaiknya. Tegas Ari.

Baiklah, saya percaya itu....

Memangnya kamu mau nitip apa, ta? Tanya ari.

Saya belum ngerti kapan akan kembali kesini lagi, satu hal yang tertinggal disini itu adalah makam ibu, seminggu sekali saya membersihkan makam ibu. Apakah kamu bersedia menjaga makam ibuku??

Oh itu, dengan senang hati saya akan melakukan apa yang kamu titipkan sebaik ? baiknya.

Trimakasih ya Ri, saya sudah tidak khawatir lagi nanti makam ibu akan tidak terawat.

?

Aku kemudian mengambil sebuah, kotak yang berisi dua lempengan ukiran terbuat dari kayu. Lempengan itu saya buat ketika dulu bermain di padepokan mang Ujang.

Ri, kamu masih ingat dengan ini?

Ya masih dong..

Ini aku berikan ke kamu satu, yang satu untukku. Semoga kita akan terus menjadi saudara selamanya.

?

Suasana menjadi sendu kembali, tak pernah kurasakan perasaan seperti ini. Waktu telah semakin larut. Semua persiapan telah selelasi. Tinggal berangkat besok pagi. Kami harus pagi pagi sekali sesuai dengan jadwal tiket yang telah kami pesan.

?

Bersambung.....

  • view 215