Senja Dimakan Ibu (3)

Heru Priyanto
Karya Heru Priyanto Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Maret 2016
Senja Dimakan Ibu (3)

Jam dinding menunjukkan pukul 7.45 ketika sebuah sedan putih memasuki halaman rumah pak kholik. Nampak jelas bahwa itu adalah mobil penjemput yang akan membawa keluarga pak kholik meninggalkan kota ini. Setelah memarkirkan mobil di depan rumah, seseorang berbaju batik keluar dari mobil sambil menyungingkan senyuman hangat. Pak kholik yang telah menunggu sejak tadi, berjalan keluar menemui tamunya. Nampak sekali keakraban diatara mereka menandakan sudah dekatnya hubungan keduanya.

Delta yang masih menyelesaikan makannya, mencoba untuk mempercepat agar segera dapat bergabung dengan ayahnya. Tak berselang lama, namapak Ari juga datang kerumah itu. Dia masih mengenakan seragam sekolah, mungkin ijin pulang cepat untuk melepas sahabat terbaiknya itu untuk yang terakhir kalinya.

Pak Kholik mengajak pak Santoso untuk masuk kedalam rumah sekedar minum kopi sebelum akhirnya nanti berangkat. Bi Siam telah siap dengan kopi dan sedikit cemilah khas. Duduk di teras sambil memperhatikan pak sopir mengangkuti barang yang akan dibawa kedalam mobil.

Kopi yang nikmat sekali pak, pasti bapak akan sangat rindu dengan kopi ini, ujar pak santoso setelah menyeruput kopi pertamanya.

Betul sekali pak. Jawab pak kholik ringkas.

Oh ya pak, nanti kata komandan bapak langsung kemarkas menghadap beliau, katanya ada satu hal yang ingin diberikan. Sela pak Santoso.

Okelah, komandan yang satu itu memang sangat beda. Tekas pak kholik mengenang.

?

Nampak di dalam Ari asik membantu Delta mengangkat barang yang akan dibawa. Tak banyak hanya satu tas ransel dan beberapa buku. Dalam perjalanan, jika sudah ada buku tak perlu dikhawatirkan.

Ri, gimana sudah bilang ke Sri? Tanya delta berusaha mengalihkan perhatian Ari yang dari tadi nampak kesedihan.

Ah, ngapain sih ta, nanya itu. Bukan memberiku sesuatu saat terakhir malah nanya itu, guman Ari nampak malu.

Bukan begitu ri, Sri itu baik. Dan kamu itu harus memperjuangkan dia. Jangan sampai lepas. Tegas delta.

Jika, kamu sudah pergi tak perlu ada yang aku khawatirkan ta, saingan terberat saya cuman kamu. Jawab Ari sambil manyun.

?

Delta tertawa mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Keduanya memang punya satu teman perempuan yang selalu ada diantara mereka. Namun, delta sangat ngerti jika ari sayang banget sama Sri. Sri itu bukan nama sebenarnya. Cuman semacam panggilan kode yang hanya mereka berdua yang tau.

Deting jam dinding telah menunjukkan pukul delapan. Sudah waktunya Pak Kholik dan Delta berangkat. Karena masih harus ada sedikit seremonial di kantor. Maka sebisa mungkin harus tepat waktu sesuai rencana. Ari dan Delta berpelukan untuk yang terakhir kalinya. Bi Siam salaman dengan Pak Kholik juga untuk yang terakhir.

Sampai ketemu lagi sahabatku, jaga dirimu baik ?baik ya. ucap lirih Delta kepada Ari.

Terlihat mata Ari berkaca kaca, delta meyakinkan Ari untuk tidak menangis karena akan sangat jelek sekali wajahnya kalau nangis. Setelah mereka masuk ke mobil, pak sopir segera menjalankan sedan putih itu ke arah kantor. Dalam perjalanan tak banyak obrolan yang terjadi didalam mobil. Mungkin masih terbawa suasana sehingga lebih memilih untuk diam.

Hamparan sawah tanaman padi yang mulai menguning juga seolah turut mengantar kepergian mereka. Ke elokan alam yang akan sangat dirindukan. Delta memandang dengan baik baik dari balik kaca mobil. Burung pipit yang bergerombol mencari makan, asab di gunung nan jauh disana menjadi hiburan terakhir kota ini. Meski ini sebuah kota, namun alamnya masih sangat pedesaan. Petani menggarab sawah dengan berbagi tanaman. Namun yang paling banyak didominasi oleh tanaman padi yang kian menguning. Panen padi adalah? sesuatu yang menyedangkan di kita ini.

Sekitar tiga puluh menit berlalu, sedan putih telah memasuki area kantor. Tak nampak ada perbedaan yang berarti. Sedan terus melaju menuju halaman depan. Pak kholik dan pak santoso keluar dari mobil menuju ruangan komandan, sementara delta masih dimobil yang berjalan kembali menuju aula utama. Sesampainya diaula delta keluar dari mobil dan langsung masuk ke aula. Sebuah seremoni kecil akan dilaksanakan pada pagi ini, untuk melepas pindah tugasnya ayah delta. Beberapa orang yang di ruangang itu telah mepersiapan segala sesuatu yang diperlukan. Delta menyalami beberapa orang itu dengan takdzim.

Setelah mengambil posisi duduk ditempat yang telah disediakan, delta nampak sibuk dengan buku yang ada didalam tasnya. Tak berselang lama, rombongan pak kholik dan komandan nampak memasuki aula. Beberapa orang nampak dengan sigam menyambut mereka. Tepat pukul sembilan acara seremoni kecil itu dimulai. Tak ada yang istimewa dalam acara itu. Hanya beberapa laporan, penandatanganan surat tugas dan saling tukar cindera mata.

Sektiar limabelas menit acara singkat itu telah usai, para tamu dan semua yang hadir segera diarahkan ke jamuan makan perpisahan. Sudah jadi tradisi di kantor itu jika ada yang pindah tugas maka akan ada jamuan makan perpisahan. Satu jam mereka berada di kantor. Setelah semua? dirasa telah cukup. Pak kholik segera berangkat menuju bandara.

  • view 108