Senja Dimakan Ibu (2)

Heru Priyanto
Karya Heru Priyanto Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Maret 2016
Senja Dimakan Ibu (2)

Waktu seharusnya berjalan normal sebangaimana mestinya atau melambatkan diri agar aku lebih lama lagi menikmati suasani kota kelahiranku ini. Namun ternyata tidak, seolah ia semakin mempercepat gerak perputaranya. Sayup dikejauhan terdengar suara azan, penanda waktu subuh telah menjelang. Tak berselang lama, pintu kamar diketuk dengan nada yang sudah amat aku kenal. Itulah ketukan khas yang selalu membangunkanku mengajak ke surau. Bapak, selalu membangunkanku meski terkadang sulit untuk bangun, kesabaran dan nada ketukan khas itu menjadi kekuatan tak terlihat yang mendorongku untuk segera bangun.

Iya, pak saya merapikan baju dulu. Jawabku pendek.

Tidak seperti bapak, yang lebih cepat bangun. Sejak malam masih menunjukkan waktu sepertiga mala, beliau telah lama menahan dinginya air, mengambil wudhu lalu mengerjakan sembahyang Tahajud, Hajat dan berzikir sampai waktu subuh tiba. Dalam setiap kesempatan bapak selalu memberikan nasihat kepadaku, agar aku memiliki satu atau dua amalan sunnah yang bisa dilaksanakan secara terus menerus. Karena setiap orang sukses, pasti punya amalan sunnah yang tidak dikerjakan oleh orang lain. Keteladanan bapak dalam mencontohkan sholat sunnah tahajud belum juga mampu saya tiru. Namun, berkat bapak saya bisa melaksanakan sholat subuh setiap pagi dan sunnah sebelum subuh. Tak ada yang lebih kaya, dari orang yang senantiasa mengerjakan sholat sunnah sebelum subuh.

Kekayaan melebihi apa yang ada dibumi seisinya dan alam raya. Motivasi yang baik. Selepas mengambil air wudhu saya dan bapak berjalan bersama menuju surau al fajar, yang berjarak sekitar 200 meter dari rumah. Surau ini, selalu ramai oleh penduduk sekitar yang juga ikut berjamaah sholat subuh. Suasa seperti ini yang membuatku enggan meninggalkan kota kelahiranku ini. Ini saat terakhir menikmati subuh bersama.

Sejuk udara pagi menyambut wajah kami, saat memasuki surau. Sudah Nampak beberapa bapak dan ibu yang duduk berzikir didalam surau. Saya langsung mengambil shof paling depan kemudian melaksanakan sholat sunnah. Tak berapa lama, iqomah pun dikumandangkan. Tak banyak yang ikut jamaah pagi ini. Mungkin masih terlelap dalam mimpi mereka semua.

Setengah jam berlalu, khusuk dalam ibadah pagi. Saya dan bapak hendak beranjang pulang. Ketika Pak Ahmad, menghampiri kami. Senyumnya khas, ketua takmir itu mengulurkan tanganya untuk berjabat tangan.

Pak Kholik jadi berangkat pagi ini? Tanyak pak Ahamad.

Iya pak, do?akan kami selamat sampai tujuan, dan kami mohon maaf bila selama kita bertetangga banyak kesalahan yang kami buat. Jawab bapak.

Tidak ada yang perlu dimaafkan pak, semua sudah termaafkan dengan sendirinya, ngomong ngomong nanti naik apa ke bandaranya? Tanya pak ahmad

Nanti akan ada yang menjemput dari kantor pak, jawab bapak.

Saya masih memperhatikan percakapan kedua orang yang saya hormati itu. Umur keduanya tidak terlalu jauh selilihnya sehingga beliau akrab seperti teman sebaya. Saya ingin mencium tangan pak ahmad yang juga guru ngaji saya itu.

Mohon do?a restunya pak, semoga dimudahkan semuanya. Kata saya sambil mencium tangan pak ahmad.

Iya delta, Jaga bapakmu, jangan lupa ngajinya dilanjutkan. Beberapa jurus yang pernah saya ajarkan sering dilatih. Agar tidak kaku badanmu itu. Jawab pak ahmad.

Insya Allah saya akan mengingat pesan bapak. Jawabku.

Semoga kamu di sana mendapakan guru yang baik, teman yang baik. Pesan terakhir pak ahmad.

Amiin, jawabku.

?

Setelah percakapan itu,? saya dan bapak segera melangkah pulang. Masih ada waktu untuk sekedar sarapan teh sebelum jemputan datang. Jemputan dari kantor akan datang kerumah jam 8. Untuk selanjutnya berangkat ke Bandara dan menuju kota baru yang katanya berada di Jawa. Lokasi persinya baru akan aku ketahui setelah nanti sampai dikantor bapak. Karena mutasi kerja ini sifatnya acak.

Bi Siam, rewang dirumah yang kebetulah rumahnya hanya sebelahan dengan rumah kami telah menyiapkan sarapan pagi dengan sangat istimewa. Katanya ini adalah masakan terakhir yang akan kami makan. Masakan bi Siam memang sangat lezat, dan penuh selera. Atas pengabdiannya selama ini, rumah yang kami tempati ini oleh bapak di hibahkan ke Bi Siam dan keluarga. Agar tetap terjaga. Bi Siam sangat terharu atas apa yang dikatakan oleh bapak.

Saya akan menjaga rumah ini dengan sebaik baiknya pak, dan suatu saat jika keluarga bapak mau kembali lagi rumah ini masih tetap milik bapak, Kata bi siam.

Bapak hanya tersenyum mendengar ucapan cari bi siam. Saya terus makan masakan bi siam yang memang sangat lezat.

  • view 79