Bak Raksasa di Jantung Borneo

Febri Hermawan
Karya Febri Hermawan Kategori Wisata
dipublikasikan 04 September 2017
Bak Raksasa di Jantung Borneo

Kuhimpit tas ranselku di antara dua kaki. Masker sudah terikat kuat pada leher belakang. Bus Damri pun perlahan melaju, laju, meninggalkan Putussibau. Jalan berbukit, naik dan turun. Perut mulai dikoyak akibat jalanan berkelok. Kadang mulus, kadang masih berbatu dan berlapiskan tanah merah. Sesekali bus harus mengantri lewat karena hanya satu jalur yang digunakan. Rupanya, di hadapan ada pengaspalan jalan dan pembuatan jembatan.

Tiga jam berlalu. Bus menepi di warung Budhe Sri, di Lanjak alias Batang Lupar. “Aku sudah sampai, setengah jalan!” batinku berteriak. Apak Medan, ayah angkatku, menarik senyum melihatku di antara celah kaca bus. Kuulurkan tangan sembari memberi sapa. Kami melangkahkan kaki, hendak menuju tepi pantai.

Kujumpai pusat ekonomi di pinggir jalan lintas utara ini riuh ramai. Pasar. Aku meminta izin kepada Apak untuk membeli kebutuhan pokok yang sulit didapat di danau. Kecuali ikan tentunya. Tak lama, kuhampiri Apak di tepi sungai, di samping jembatan. Tas kresek berisi kebutuhan perut kutumpahkan ke mulut fiber speed ‘perahu berbahan fiber’.

            Sepit, mereka menyebutnya, berjalan perlahan keluar sungai menuju “bak raksasa”. Perut pun dikocok selama menyusuri danau Luar di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) ini. Terik matahari begitu menyilaukan. Angin danau tak mampu dibahasakan dengan diksi “semilir”. Mata disuguhi pemandangan yang tak bisa dipungkiri: menakjubkan. Pulau Melayu dan pulau Sepandan terlihat mengapung di permukaan kala air pasang menyapa.

Selayaknya bak, ia menampung unsur benda cair. Airnya tawar, menggenang, menutupi lapisan tanah gambut khas Kalimantan. Hanya benda yang tinggilah yang tampak mencuat dari permukaan. Bak biasa tak berpintu, namun bak raksasa yang satu ini berpintukan sungai Kapuas, sungai yang membelah dua bagian kabupaten ini.

Melibas pintas, menyibak batas, menjadi destinasi menantang selanjutnya. Aku siap-siap membungkuk, menghindar dari dahan ranting yang menghalangi jalan buatan bernama “pintas Maat”. Rute ini begitu mengasyikan. Betapa tidak, dengan menyibak rimbunan pepohonan hutan tropis, sebuah perahu selebar 1,5 m bisa melintas. Teduh dan meneduhkan suasananya. Mesin 15 PK pun tak dijalankan dengan laju. Pegangan kendali cukup diputar sedikit agar perahu tetap berjalan perlahan.

Semakin ke dalam menyusuri hutan dan sungai, pasukan bekantan memamerkan kelihaiannya berpindah-pindah dari ranting satu ke ranting lainnya. Sayangnya, aku tak beruntung melihat orang utan. Deggg! Tiba-tiba, bagian bawah perahu terasa diseruduk sesuatu. “Itu bongkahan kayu. Kalau bukan, berarti ikan,” kata Apak. “Bisa juga itu buaya,” sambungnya. Ups!

Setibanya di sungai Batang Leboyan, aku disambut warga yang hilir mudik mencari ikan: ngabas bubu dan bekail. Liuk demi liuk sungai terlampaui, maka saatnya menyapa desa-desa di tepian sungai. Bertegur sapa dengan anak-anak yang sedang mandi di tepi lanting ‘rakit kayu di tepian sungai’ merupakan hal yang seru.

Perjalanan berakhir di desa Semalah, 2 jam kemudian. Aku turun dari sepit lalu melewati lanting dan menaiki tangga menuju rumah. Kuletakkan semua barang bawaan. Dari bilik jendela kayu, kulihat Umak Jul, ibu angkatku, juga beberapa warga sedang ngampur-ngampur ‘ngobrol’ di atas gertak ‘jalanan panggung terbuat dari kayu’.

 

***

Pak, aku ngimbai ngiga ikan bah!” ujarku kepada Apak. Aku pun ikut Apak mencari ikan di danau Semalah, dekat bukit Melingkung. Tampaknya, air di danau mulai agak mengering. Inilah saat yang tepat untuk mencari ikan untuk umpan ikan toman dan belida di keramba kayu depan rumah.

Tengah hari, aku ikut Wa Galung berjualan temet ‘makanan basah terbuat dari tepung terigu dan ikan yang dikukus” di long house ‘rumah betang’ kampung Dayak Iban. Sorenya, aku singgah dan bersantai sejenak bersama anak-anak di rumah singgah milik Dinas Perikanan yang berada di pulau Burung, di tengah-tengah danau Telatap.

Beranjak malam, bintang bertaburan di langit tinggi.  Terlihat Rico, muridku di kelas VI, berjalan menyusuri gertak dan menghampiriku. Ia  mengajakku untuk ikut ambil tikung ‘kayu tembesu tempat bersarangnya lebah’ di hutan bersama Apak. Tanpa pikir panjang aku pun mengiyakannya.

Aku pun mengakhiri hari dengan beristirahat di dalam kelambu. Di bawah tempat tidurku, sesekali terdengar suara ikan mengoyak air gambut, hingga akhirnya aku tertidur lelap.

***

Selang beberapa minggu di desa, aku harus ke kota lagi untuk sementara. Aku mendamba dering HP berjejalan masuk pesan singkat dari keluarga dan teman-teman. Maklum, selama di desa sulit untuk mendapatkan sinyal.

Berjalanlah kulu-kili ‘ke hulu dan ke hilir’ dengan mudahnya menaiki perahu jika air sedang pasang. Bersetapaklah kaki atau lebih baik pesan ojek offline untuk menyusuri danau yang mengering. Menyisakan sedikit lumpur yang mampu menumbangkan roda motor. Menampakkan serpihan kayu damar yang ramai diserbu ibu-ibu. Aku pun mengalaminya saat hendak menuju ke kota.

Pikirku, baik menaiki perahu maupun motor, keduanya menantang nyali. Menghadapi gelombang laut yang meninggi dan berapi-api, banyak-banyaklah berdoa untuk menenangkan batin. Menepililah di pulau terdekat. Mengambil jalur tepi juga bisa jadi pilihan. Sementara, menjajal ojek di danau tak akan membuat tenggelam. Cukup siapkan raga baik-baik. Saat terjatuh, maka nikmatilah.

Kurasa, Bumi Uncak Kapuas memamerkan bentang alam yang beragam. Dengan luas wilayah 31.162 km2, kabupaten Kapuas Hulu masih mempunyai tabungan destinasi lainnya yang layak untuk disibak. Dan beginilah caraku menikmati perjalanan selama setahun mencumbui bak raksasa beserta isinya di jantung Borneo. Jika orang-orang kulit putih saja berbondong-bondong ke tempat ini hanya untuk melihat orang utan atau sekadar melihat eksotisme kawasan danau Sentarum dari bukit Tekenang, mengapa kamu tak segera mengunjunginya?

  • view 25