Rezeki Itu Mencarimu

Rezeki Itu Mencarimu

Herlina Fitri Astuti
Karya Herlina Fitri Astuti Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 22 September 2016
Rezeki Itu Mencarimu

Kisah ini tentang empat ekor anak kucing. Setelah kelahirannya, sebagaimana anak kucing lainnya, mereka akan dibawa induknya berpindah tempat. Kata orang, mereka akan berpindah sebanyak 7 kali. Entah maksudnya untuk mencari tempat persembunyian dari predatorisme dan kanibalisme, atau untuk mengajari anak-anaknya kehidupan perkucingan dan beradaptasi dengan banyak habitat. Hanya induk kucing yang tahu.

Sayangnya, baru sekitar 5 kali berpindah, induk kucing ditemukan tewas keracunan. Beberapa saat sebelumnya ia memakan tikus mati yang telah diracun. Dan karena masa menyusui memang meningkatkan selera makan, akhirnya dia menjadi sedikit lebih rakus daripada biasanya. Alhasil dia meninggal. Meninggalkan keempat anaknya yang masih bayi, masih menyusu, dan....entah dimana disembunyikannya.

Aku dan suamiku mencari di sekitar rumah, di loteng, di gudang,  bertanya ke tetangga dekat rumah, dimana tempat persembunyian empat anak kucing itu.  Mereka tidak tahu bahwa ibunya meninggal. Mereka mungkin kelaparan menunggu sang induk yang tak kunjung pulang. Sudah dua hari sejak kematiannya. Aku masih memikirkan nasib anak kucing itu. Mereka tak berdaya. Berjalan saja masih tertatih. Belum bisa mencari makan sendiri. Melompat saja belum mampu. Penglihatan mereka pun belum sempurna. Satu-satunya sumbermakanan mereka adalah air susu induk mereka yang sudah meninggal. Dan sedikit lemak tubuh yang tersimpan di bawah kulit. Tapi jika berhari-hari tidak makan minum, apakah mereka mampu bertahan? Ya Tuhan, selamatkanlah mereka... Berikan petunjuk dimana letak mereka... doaku dalam hati. 

Sehari kemudian, tetanggaku memberitahu bahwa ada yang tinggal di atas plafon rumahnya. Entah tikus entah kucing. Aku langsung kesana untuk melihatnya. Dan ternyata memang mereka, keempat anak kucing itu! Alhamdulillah... Aku benar-benar terharu. Akhirnya anak kucing itu ketemu :') Tapi letak anak kucing itu jauh di pojokan, dan mencapai kesana hampir mustahil. maka perlu dicarikan alat seperti jaring kupu-kupu yang besar dan panjang. Dibantu suamiku, akhirnya keempat anak kucing itu bisa diselamatkan. Dan keempatnya masih bermain-main seperti biasa, tak tahu apa-apa. Kami mengurusnya hingga sekarang.

Ada satu pelajaran berharga disini. Ketika  anak-anak kucing itu ditakdirkan hidup, maka Tuhan sendiri yang akan menjaga kelangsungan hidupnya. Tuhan sendiri yang akan mencukupi rezekinya. Bahkan sekalipun mereka tidak mencari (dan belum wajib mencari, karena masih dalam tanggungan induknya), maka Tuhan sendiri yang akan mengirimkan rezeki padanya. Aku sangat merasakan, bagaimana Tuhan memenuhi pikiranku tentang keberadaan anak kucing itu. Menggerakkan ragaku untuk mencari mereka. Menggerakkan hatiku untuk berwelas asih terhadap mereka. Aku memperhatikan bagaimana Tuhan menggerakkan tetanggaku untuk menyampaikan bahwa ada sesuatu di plafonnya (padahal dia bisa saja mengabaikannya), karena dia pun belum tahu makhluk apa yang tinggal disana. Bagaimana Tuhan menggerakkan hatiku dan suamiku untuk mengurusnya dan mencukupi kebutuhannya. Dan melalui tangan-tangan kami, Tuhan memberikan rezekinya kepada anak kucing itu. Pada saat yang sama, si anak kucing tak melakukan apa-apa, tak tahu apa-apa, tak berdaya, bahkan tempatnya tersembunyi. Tapi rezeki itu mencarinya hingga ke sudut plafon yang gelap dan sempit. Ada rezeki yang datang tanpa terduga, dan ada yang harus kita cari. Dalam kasus anak kucing ini, sejak mereka belum baligh dan belum mampu mencari rezeki sendiri, maka rezeki yang nya yang mendatanginya. Sementara kita, mengalami keduanya. ada rezeki yang datang sendiri, ada yang memang harus kita ikhtiarkan. Dan jika Tuhan berkehendak memberikan karuniaNya kepada makhlukNya, maka tak ada seorangpun yang bisa menghentikanNya. Dan jika Tuhan menginginkan bencana bagi makhlukNya, maka tak ada yang bisa mencegahNya. 

Maka masihkah kita, manusia, meragukan bahwa rezeki kita sudah dijaminNya? Meragukan bahwa kasih sayangNya meliputi setiap sendi kehidupan kita? Masihkah kita akan menepikanNya karena lebih mengejar harta? 

  • view 433