Array
(
    [data] => Array
        (
            [post_id] => 41385
            [type_id] => 1
            [user_id] => 20952
            [status_id] => 1
            [category_id] => 13
            [project_id] => 0
            [title] => Air Terjun Tesbatan yang Mempesona
            [content] => 

     

Suasana liburan kali ini terasa begitu berbeda, Saya merasa begitu senang karena memiliki waktu yang cukup panjang untuk bersantai di rumah. Berbeda dengan teman saya Rina, ia tampak tidak begitu ceria, baginya libur atau tidak sama saja karena ia harus tetap membantu ibunya berjualan.

Ia mungkin remaja satu-satunya yang jarang menikmati masa remaja, waktunya lebih banyak dihabiskan untuk membantu sang ibu mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari. Rina adalah anak dari keluarga yang kurang mampu sehingga tidak ada kata liburan dalam hidupnya. Aku yang sudah lama mengenal dan bersahabat dengannya itu merasa kasihan. Rencananya, liburan kali ini saya akan mengajak sahabatku itu dan teman- teman lain untuk berlibur di air terjun Tesbatan.

Keesokan harinya saya bertekad pergi ke rumahnya untuk bermaksud meminta izin kepada ibunya.

“Tanta, besok beta mau ajak Rina jalan-jalan..,”

“memangnya bosong mau Pi mana? tanya Ibunya.

“Kotong mau pi air terjun Tesbatan.."

“Iya, mau jalan-jalan… tapi tanta sonde ada uang, karmana?”

“Sudah sonde apa-apa tanta, yang penting sekarang tanta su kasih ijin Rina untuk jalan-jalan…”

“Ia sudah, hati-hati di sana e?”

“Ia tanta , tenang sa…”

Setelah mendapatkan izin dari orangtua Rina, aku pun langsung beranjak pulang menuju rumah. Aku juga mengajak teman-teman yang lain untuk pergi ke air terjun. Mereka sangat senang dan bersedia ikut ke tempat itu. Mereka juga penasaran dengan air terjun itu. Keesokan harinya teman-teman semua sudah datang berkumpul di rumahku, lalu kami bersiap-siap untuk beranjak menuju Tesbatan dengan menggunakan empat sepeda motor. Kami hanya membawa makanan ringan di tas kami untuk makan di sana.

Setelah itu kami memberanikan diri menuju lokasi. Dari Pasir Panjang tempatKu tinggal, kami melajukan sepeda motor melintasi Jalan Timor Raya ke arah Soe. Ketika sampai di pertigaan Pasar Oesao, kami mengambil arah kanan menuju Oekabiti. Dari persimpangan masih menyisahkan jarak sekitar dua puluh dua kilometer lagi. Setelah memasuki jalan itu perjalanan cukup melelahkan, karena melintasi jalan khas perbukitan yang berkelok – kelok serta kondisi jalan banyak yang rusak.

Pemandangan sepanjang jalan berupa perbukitan yang gersang. Di tepi kanan dan kiri jalan ialah jajaran pepohonan yang pada saat itu hanya berupa batang dan ranting yang ditinggal daunnya yang berguguran karena kemarau. Akhirnya setelah satu setengah jam perjalanan, sampai juga kami di Desa Tesbatan. Kami sempat kebingungan mencari lokasi air terjun karena tidak ada sama sekali penunjuk lokasinya. Setiap menemui simpang, Kami bertanya kepada penduduk sekitar.

Berdasarkan informasi yang kami dapat, setelah sampai di Tugu Desa Tesbatan kami mengambil arah kanan lalu memasuki jalan perkampungan hingga berjumpa dengan gapura yang menjadi tanda pintu masuk ke Air Terjun Tesbatan. Dari gapura tersebut ada jalan berbatu sepanjang lima ratus meter. Setelah perjalanan panjang, akhirnya sampai juga kami di titik awal menuju air terjun.

Sesampainya di sana sudah ada petugas penjaga motor ataupun mobil pengunjung. Untuk motor hanya dikenakan Rp 2.000, sedangkan mobil Rp 5.000. Kami berjalan memasuki hutan dengan jalan setapak yang sempit sehingga kami harus berhati-hati. Kalau tidak nanti bisa jatuh ke bawah jurang. Hanya beberapa menit saja kami pun sampai di Air Terjun Tesbatan di tingkat yang paling atas. Rasa lelah sepanjang perjalanan akhirnya langsung terbayar ketika menyaksikan keindahan air terjun yang memiliki beberapa tingkat ini.

Awalnya kami hanya ingin melihat – lihat sambil mengabadikannya dengan kamera. Namun jernihnya air dengan warna hijau kebiruan dan sejuknya suasana di sana, membuat kami pun tergoda untuk mandi di kolam alami yang terbentuk di bawah air terjun.

“ Mety foto b dolo, kayaknya foto di sini bagus ni. Lu foto beta habis baru beta foto lu lai,.” Pintaku pada Mety. Setelah selesai berfoto-foto, Kami masuk kedalam kolam untuk mandi.

Kami puas bermain air dan ada teman yang mengabadikan foto waktu kami bermain air. Kami beranjak keluar dari kolam tersebut menuju ke bawah pohon untuk makan camilan sambil berfoto-foto lagi.

Sebelum pulang kami memilih untuk menyusuri air terjun satu per satu tingkatnya.

“Kotong pi lihat Air Terjun yang lain lai ko, air terjun disini ada tiga aa…

Ho na kotong jalan pi lihat su soalnya su sore ni.”

Akhirnya kami pun pergi untuk menyusuri air terjun satu per satu tingkatnya.

Air Terjun Tesbatan memiliki tiga tingkat. Air terjun pertama (atas) adalah air terjun yang paling mudah dan paling ramai didatangi oleh banyak orang karena posisinya yang berada persis di sebelah jalan setapak sehingga mudah untuk dilihat. Air terjun kedua di bagian tengah, bagi kami adalah air terjun yang paling indah dan memiliki dinding yang lebar. Namun butuh usaha untuk melihatnya dari dekat, yakni dengan menuruni jalan setapak di pinggir sungai yang sangat terjal. Tapi kami nekat untuk menuruni jalan itu karena kami ingin sekali melihatnya dari dekat.

Akhirnya usaha kami tidak sia-sia, kami bisa sampai pada tempatnya walaupun kaki kami semua sakit tapi kami senang sekali bisa melihat air terjun yang airnya hijau-kebiruan dan jernih itu dari dekat. Orang-orang yang datang ke tempat itu tidak ada yang mandi, mereka hanya bisa melihat dan berfoto-foto saja . Bagi kami air terjun yang kedua ini sangat mempesona. Dan kami pun mengabadikan dengan berfoto-foto. Yang terakhir air terjun ketiga (bawah) yang memiliki tinggi sekitar tiga meter.

Setelah puas menyelusuri semua tingkatan air terjun, Kami memutuskan kembali pulang.

“We karmana kotong pulang su ko, su sore ni. Samua ju su puas to. Su mandi, su foto-foto, baru su kaliling samua tampat yang ada di sini to. Ho na kotong pulang su nanti kalau ada waktu baru kotong datang disini lai aa. Ho na kotong pulang su.”

Kami pun bersiap-siap dan beranjak untuk pulang.

Sepanjang perjalanan pulang kami kelelahan karena baru pertama kali kami ingin jalan-jalan menyusuri air terjun yang sangat indah itu. Kami merasa puas dan bahagia karena setelah sekian lama kami ingin sekali melihat air terjun Tesbatan itu seperti apa, Akhirnya hari ini juga kami bisa melihatnya secara langsung.

Dalam perjalanan pulang kami bercerita-cerita tentang indahnya air terjun Tesbatan itu. Pada pertengahan jalan tiba-tiba ada segerombolan anak pemuda yang menghampiri lalu mengganggu kami.

“Wiiih dong pung gaga-gaga lai, dari mana ni oow..

“Nona bisa minta nomor ko?

“Awiiiih dong diam-diam sa oow.

“Na kotong daluan ee..daaaaaaa,” goda pemuda-pemuda itu.

Kami pun tak merespon gerombolan anak muda yang mengganggu kami, karena kami takut pada mereka sehingga kami hanya memilih untuk diam dan tak mau menjawab pertanyaan mereka. Akhirnya mereka mendahului kami.

Kami berbincang-bincang dalam perjalanan.

“Aweeee itu nyong dong pu parah lai, iih co ganteng na bae. Hmmm yang dibalakang yang pake motor beat baju hitam tu ganteng aa.”

“Ho dia sandiri yang ganteng ma yang laen dong ni standar sa,” Ujarku.

“Wiihh bosong ni mulai su.

“Hehehe biasa, tau to?

“Na sudah bosong jang omong dong lai dow.

“Ho kotong son omong dong lai,” timpal Mety.

Kami diam sejenak dan menikmati perjalanan pulang.

Setelah satu setengah jam perjalanan pulang, kami tiba kembali di rumahku. Kami masih beristrahat sambil bercerita-cerita tentang kejadian yang kami alami dalam perjalanan menuju ke tempat tujuan hingga tiba di air terjun Tesbatan dan perjalanan pulang ke rumah. Kami juga melihat-lihat foto dan mengirim ke teman-teman yang lain untuk dijadikan kenangan. Sesudah itu teman-teman saya memutuskan untuk berpisah atau pulang kerumah mereka masing-masing.

 

 

 


[slug] => air-terjun-tesbatan-yang-mempesona [url] => [is_commented] => 1 [tags] => None [thumb] => file_1515479992.jpg [trending_topic] => 0 [trending_comment] => 0 [total_viewer] => 42 [issued] => 0 [author] => Maria Herlina [username] => herlin_mariana [avatar] => file_1513236436.png [status_name] => published [category_name] => Cerpen [type_name] => article [kode_multiple] => [total_comment] => 0 [total_likes] => 0 [created_at] => 2018-01-09T13:39:52+07:00 [updated_at] => 2018-09-29T08:15:33+07:00 [deleted_at] => ) [process_time] => 32.130063ms [status] => 200 )