Komunitas Reyog Ponorogo Sampaikan Nota Keberatan

Komunitas Reyog Ponorogo Sampaikan Nota Keberatan

Official News
Karya Official News Kategori Budaya
dipublikasikan 10 Agustus 2018
Komunitas Reyog Ponorogo Sampaikan Nota Keberatan

JAKARTA - Sekumpulan Organisasi masyarakat penggiat kesenian Reyog Ponorogo di Jakarta tengah menyampaikan nota keberatan atas pembuatan dan pemakaian atribut Reyog Ponorogo pada perhelatan Asian Games 2018, bertempat di Kantor INASGOC, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (6/8/2018) sekira pukul 10.30 WIB.

Menurut Wakil Ketua Komunitas Reyog Ponorogo (KRP), Suparno Nojeng, berdasarkan fakta lapangan adanya pembuatan dan penggunaan property Reyog Ponorogo berupa replica Dadak Merak yang terbuat dari bahan utama papan.

“Dadak Merak adalah property utama dalam seni pertunjukan Reyog Ponorogo yang berupa kepala harimau yang dirangkai dengan burung merak yang bertengger diatasnya, kemudian digunakan dengan cara digigit oleh pemain Dadak Merak (Pembarong) dan diletakan diatas kepala seperti memakai topeng” ungkapnya melalui press release kepada media ini.

Dikatakan Suparno, tentunya fakta ini merupakan pokok permasalahan yang menjadi sumber keberatan kami selaku warga Poronorogo yang tinggal di Jakarta sekaligus penggiat seni budaya tradisi Reyog Ponorogo di Jakarta yang tergabung dalam Komunitas Reyog Ponorogo (KRP).

Adapun dasar keberatan yang disampaikan KRP kepada INASGOC adalah, pertama, Reyog Ponorogo telah memiliki kekuatan hokum sebagai Hak Cipta Seni Budaya Tradisi dari Kementerian Hukum dan HAM RI bernonomor 026377 tanggal 11 Februari 2004 yang dimiliki oleh masyarakat Ponorogo.

Kedua, Reyog Ponorogo telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan nomor register 192859/MPK.F/DO/2013 tanggal 16 Desember 201.

Ketiga, saat ini ReyogPonorogo tengah diperjuangkan untuk memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Dunia dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).

Suparno Nojeng menambahkan, berdasarkan 3 (tiga) di atas, kami menganggap bahwa pembuatan atau penggunaan property Reyog Ponorogo berupa replika Dadak Merak yang terbuat dari bahan utama papan merupakan tindakan yang sangat tidak tepat dari INASGOC.

Berikut alasan mendasar penilaian kami dari Komunitas Reyog Ponorogo (KRP), menyampaikan nota keberatan adalah:

1.Tindakan INASGOC sangat bertentangan dengan penghargaan terhadap kekayaan budaya tradisi khas Indonesia.

2.Asian Games 2018 adalah ajang pertemuan para delegasi olahraga antar negara se–Asia. Dalam kegiatan ini seharusnya justru digunakan untukmempromosikan segala aset kekayaan bangsa dan negara, salah satunya adalah kekayaan budaya.

3.Dalam rangka mempromosikan aset kekayaan budaya, seharusnya dilakukan dengan cara yang lebih mendekatkan kepada para pemangku kepentingan dan dilakukan dengan cara-cara yang lebih berbudaya.

Namun demikian, kami siap memberikan dukungan penuh demi perbaikan pelaksanaan perhelatan bangsa ini. Hal ini disampaikan karena kami memiliki seluruh asetReyog Ponorogo baik berupa: property Reyog Ponorogo lengkap dan Pemain Reyog Ponorogo lengkap.

“Dengan aset ini, kami siap untuk berpartisipasi agar penyajian Reyog Ponorogo sebagai kekayaan budaya bangsa Indonesia dapat tampil maksimal dalam perhelatan Asian Games 2018, yang pada akhirnya dapat mempromosikan kekayaan budaya Indonesia dan meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia di tengah-tengah pergaulan bangsa di Asia,” pungkasnya mengakhiri.

  • view 27