Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Lainnya 11 Mei 2018   00:01 WIB
Rekam Jejak Din Syamsuddin Bursa Calon Wakil Presiden

Nama Din Syamsuddin mulai disebut-sebut dalam bursa cawapres. Kendati bukan berasal dari kalangan parpol, mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu dianggap memiliki preferensi tinggi untuk mengisi jabatan yang jadi rebutan banyak Ketua Parpol itu.

Penyebutan nama Din, utamanya dikaitkan dengan keberhasilan menginisiasi dan menyelenggarakan Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia di Bogor, awal Mei lalu. KTT yang membahas revitalisasi Islam Wasatiyyat (jalan tengah) itu menunjuk pada gerakan moderasi Islam sebagai agama yang ramah, damai, toleran dan antikekerasan.

Bagi saya, yang cukup lama mengikuti pemikiran dan kiprah Bang Din (sapaan karib saya), keterlibatan beliau pada forum-forum internasional seperti KTT di Bogor itu sebenarnya bukan hal baru. Sudah berbilang tahun Bang Din memprakarsai dan memimpin dialog antaragama dan peradaban, baik di tataran lokal, nasional maupun global. Bahkan, jauh sebelum Bang Din dilantik menjadi Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban (2017).

Rekam jejak Bang Din berkaitan dengan moderasi Islam atau Islam jalan tengah, barangkali bisa dirunut dari sejarah hidupnya yang ”berwarna”. Tidak banyak yang tahu, Din Syamsuddin adalah putra Sumbawa NTB yang dibesarkan di lingkungan ”kaum sarungan”, istilah yang menunjuk pada warga Nahdliyin yang diasosiasikan dengan Islam tradisional. Semasa menjadi pelajar di Tanah Samawa, Bang Din pernah menjadi Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Cabang Sumbawa (1970-1972).

Uniknya, setelah mondok di Pesantren Gontor lalu menjadi mahasiswa dan terlibat dalam kehidupan aktivis di IAIN Jakarta (kini UIN Jakarta), Bang Din justru aktif di lingkungan Muhammadiyah yang dikategorikan Islam modernis. Secara berurutan, beliau pernah mengemban amanah sebagai Ketua DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM, 1985), Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah (1989-1993), hingga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2005-2010 dan 2010-2015).

Bagi saya, poinnya justru di situ. Pergulatan pemikiran dan pilihan gerakan Bang Din yang khas, visioner, dan penuh warna, terbukti ikut mempengaruhi aktivitasnya di kemudian hari. Menjadi jembatan berbagai mazhab pemikiran keagamaan dan politik dengan menghidupkan iklim yang bersifat dialogis dan akomodatif. Jauh dari jebakan konfliktual.

Di ranah akademik, agama dan politik melekat pada pemikiran Bang Din. Hal itu antara lain tercermin pada disertasi beliau di Interdepartmental Programme in Islamic Studies - University of California, Los Angeles (UCLA) Amerika Serikat. Judulnya, 'Religion and Politics in Islam: The Case of Muhammadiyah in Indonesian’s New Order' (1991). Disertasi tersebut mengukuhkan reputasi akademik Bang Din yang tidak hanya mencerminkan kepakaran beliau di bidang pemikiran politik Islam, termasuk studi kemuhammadiyahan, tetapi juga menjadi aktor gerakan yang bergulat di lapangan.

Dalam peta pemikiran Islam, mengutip Mawardin (kahaba.net, 2016), Muhammadiyah adalah salah satu organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, bahkan dunia, yang dikenal progresif dalam gemuruh pembaharuan dan gelora ijtihad. Muhammadiyah juga identik dengan semangat purifikasi dari aneka takhayul, bid’ah, dan churafat.

Meski demikian, Muhammadiyah bukan tipe gerakan ”ekstrem” yang memakai kekerasan untuk memaksakan kehendak atau cara pikir golongannya. Juga bukan ormas yang suka mengkafir-kafirkan (takfiri) orang lain. Muhammadiyah mendorong dakwah yang terbuka, dialogis dan mencerahkan. Santun dan penuh cinta, serta kasih sayang. Karena itu, Islam moderat menjadi ciri khas Muhammadiyah sebagai salah satu jangkar utama NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Ketika Bang Din menjabat Ketua Umum PP Muhammadiyah selama dua periode, Muhammadiyah tampil sejuk dan dinamis. Tidak terlalu ketus dengan kearifan budaya lokal. Tradisi Nusantara yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam tetap dirawat secara proporsional, lalu diletakkan dalam bingkai ”Islam berkemajuan” sebagai bagian dari kontekstualisasi nilai-nilai Islam.

Pada 2005, ketika berlangsung Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang, kemenangan "kubu" Din Syamsuddin dianggap sebagai kemenangan anti-liberalisme yang, menurut beberapa kalangan, telah mementalkan sayap pemikir ”muslim liberal”. Namun, kala itu, Bang Din intinya hendak menegaskan sikap Muhammadiyah yang ingin mengambil ”posisi tengahan” yang secara teologis merujuk kepada al-Aqidah al-Wasithiyah. Posisi itulah yang kembali Bang Din gaungkan dalam KTT Ulama dan Cendekiawan Dunia di Bogor kemarin.

Moderasi pandangan Bang Din memang tepat di tengah perseteruan dialektis antara kutub liberalisme dengan kutub puritan di organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan itu. Namun, Bang Din menginginkan bahwa jalan tengah yang ditempuh untuk menyelesaikan masalah pemikiran adalah dialog pemikiran dalam suasana kekeluargaan

Tentu, masih panjang rekam jejak Bang Din yang menunjukkan kapasitas keilmuan, langgam kepemimpinan, dan keberpihakan beliau terkait masalah-masalah keagamaan, sosial dan politik. Secara pribadi, saya pasti akan makmum di belakang Bang Din apabila Allah swt menghendaki beliau benar-benar maju sebagai cawapres. Bukankah tidak ada yang mustahil dalam politik? (*)

Oleh : Faisal Haq ( Alumni Gontor, Wartawan Anggota PWI )

Karya : HERI HAERUDIN