LOVE OF THE LIGHT-eps. 05

HENKIS MAO
Karya HENKIS MAO Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Maret 2017
LOVE OF THE LIGHT-eps. 05

Teman Masalalu

~Mia Seorang Muslimah dari Kalangan Sederhana~

 

Suasana begitu Indah, bel sekolah berbunyi kencang, kulihat dari jendela kamar anak-anak sekolah dasar berjalan menuju tempat sekolahnya untuk menuntut ilmu dan belajar. Anak-anak itu begitu senang dan gembira. Mereka terlihat asik dan menyambut pagi dengan indah. Memang kontrakan siska tidak jauh dari beberapa sekolah dasar dan menengah atas.

 Siska bangun dan menyapakku dengan semangat. Dia duduk disampingku dengan membawakanku segelas teh hangat.

“bagaimana kondisi badanmu sis” ucapku sambil mengusap kening siska

“agak mendingan bell” ujar siska sambil menatapku

“syukurlah kalau begitu”

“iya, trimakasih”

Sesaat itu terdengar suara nada dering ponsel yang cukup keras disamping gelas teh manis yang kutaruh. Suara itu ternyata datang  dari ponsel handphoneku. Lalu kuangkat dan terdengar suara perempuan menyapa dengan lembut dan sopan.

“Halo” ucapku

“dengan ibu bella okta anggraini”

“iya betul saya sendiri”

“saya dari perusahaan Art Desain Grafis Jakarta Pusat”

“oh.. iya ibu, ada apa yah.?”heranku

“mulai besok anda sudah bisa bekerja diperusahaan kami, kami sudah melakukan analisis data yang diberikan oleh pak hendar, dan ternyata anda lolos menjadi pegawai baru diprusahaan art desain grafis jakarta pusat. Olehkarnanya besok pukul 08:30, silahkan anda melakukan Pendataan pegawai baru diruang bagian umum ADG. Mohon jangan sampai telat. Terimakasih atas waktunya, semoga harinya menyenangkan”

“sama-sama bu” sembari ku tutup telepon dengan sopan.

Betapa senangnya diriku sampai-sampai siskapun turut dalam kegembiraan karena aku mendapat pekerjaan diprusahaan art desain grafis Jakarta pusat.

“Cie..cie, akhirnya kamu keterima juga bell”

“iya neh, makasih yah sis udah suport aku”

“santai aja, jam berapa kamu masuk kantor,”

“Jam 08:30, aku harus pagi berangkatnya biar gak telat”

“nah gitu dong, kamu harus semangat dihari pertamu kerja, jangan loyo dan Kusut”

“emm.. aku boleh pinjem pakaianmu sis, buat besok”

“pake aja semuanya, kalo perlu kita borong tuh baju yang terpajang di mall-mall Jakarta yang lagi ada diskon 80%”

“Araaa….gak lebay juga kali”

Untuk merayakan keberhasilakku, Tanpa habis pikir siska ingin  mengajakku pergi kesuatu tempat, katanya masih disekitar Jakarta Utara.

“bell, besok kan kamu mulai kerja”

“terus,”

“aku mau ajak kamu ke suatu tempat”

“sekarang”

“iya, tunggu apa lagi”

“Okey dech, tapi kemana sis”

“No Comen”

Aku mengambil ponsel yang tergeletak dimeja tadi, dan siskapun mengambil jaket kulit serta tas yang selalu iya bawa kemana-mana, siska mengeluarkan motornya. Dan kamipun langsung berangakat.

Siska tidak berkata apa-apa dijalan raya, mungkin karena helm yang menutupinya atau ada hal yang dia tidak ingin aku tahu sebelum melihatnya. Siska memang wanita yang cukup misterius dia selalu membuat semua bertanya-tanya tentang setiap tindakannya. Kadang perkiraankku selalu meleset jika berbicara tentang tindakan siska tersebut. Perempuan dengan sisi misterius namun disegani lawannya.

Pernah terlintas dibenakku, sewaktu kami masih duduk dikelas 2 SMA. Dia sangat digemari oleh adik kelasnya, sampai-sampai ada seorang siswi IPA kelas 1 SMA yang mengidolakannya, dia adalah mia seorang gadis dari kalangan sederhana

Padahal apa yang ditiru dari siska, cewek yang selalu telat masuk, seragam cumplang-campling, kaoskaki warna-warni dan banyak tulisan Fuck di tas pinggangnya.

Aku juga tidak terlalu memikirkannya. Namun berbeda dengan mia, dia selalu senang jika berpapasan dengan siska, seolah-olah siska adalah Artis papan atas disekolah. Entahlah, sampai detik inipun aku tidak tahu mengapa itu bisa terjadi.

Ditengah perjalanan Siska pun mebelokan motornya dan berhenti disebuah kedai yang bernama sate khas sunda, dia turun dan menyuruhku untuk tetap dimotor. Cukup lama sehingga aku duduk disebuah pohon cemara yang sangat indah dengan suasana hati yang cerah.

“Lama iya”

“oh gak, itu apa sis” kulihat siska membawa bayak ketringan besar yang berjumlah duapuluh biji”

“kamu bisa kan bawanya”

“iya,” aku hanya mengangguk tanpa menanyakan sesuatu apapun.

Kami membagi menjadi dua, limabelas ketring ku pegang dengan tanganku dan lima lagi ditaruh diatas tengki motor sambil kupegangi takut jatuh.

Jam sudah menunjukan 12:00 siang, tidak lama kemudian akhirnya kamipun tiba disebuah rumah yang begitu terpelosok dikawasan Jakarta Utara, rumah itu begitu sederhana namun ramah lingkungan. Diluar terpampang pelang kayu kecil yang bertuliskan Taman Pintar Cahaya Cinta.

Aku dan siskapun turun dari motor yang kami tumpangi tadi sambil memikul ketring yang sudah dibeli siska diperjalanan, kamipun melangkahkan kaki menuju rumah tersebut. Siska membuka pagar kayu dan akupun mengikuti siska dari samping kananya.

Rumah itu berada dipinggiran sungai cisadane, dan terlihat cukup kecil dibandingkan dengan kontrakan siska yang begitu besar.

“assalamualaikum” tutur siska mengucapkan salam

“waalaikum salam” terdengar lantunan salam dari dalam rumah sembari terbuka pinti dengan perlahan.

Lalu keluarlah seorang perempuan cantik memakai Jilbab berwarna merah muda dengan sangat rapih dan membuat hati nyaman saat memandangnya.

“teh siska” dia tersenyum kepada kami berdua

“siang mia, apa kabar neh. hehe” ujar siska sambil memeluk mia didepanku.

“teramat baik teh imut, wah teteh nambah cantik aja”

“kamu juga sama, berbeda dari tahun sebelumnya, kamu lebih peminim”

Mendengar nama itu aku terkejut membayangkannya, ternyata wanita ini adalah mia, adik kelas disekolah kami dulu.

“oh iya, kamu tau siapa yang disebelahku”

“emmm… sepertinya gak asing” mia terlihat merenung netapku

“ayo tebak” ucap siska memukul pundakku.

“Owh…kamu kan, teh Bella Okta Anggaraini” mengulurkan tanganya kepadaku

“iya, kamu pasti Mia Nurhasanah.” aku membalasnya dan kamipun bersalaman

“ayo silahkan masuk teh siska dan teh bella”

“makasih” ucap kami berdua.

“mau minum apa neh” ujar mia dengan lembut

“jangan repot-repot,” ucapku memotong

“Air putih aja mia, kayanya teteh haus neh”

“OK teh” mia menuju ke dapur dan mengambilkan kami air putih.

Kulihat rumah ini begitu sejuk dan nyaman, terlihat beberapa lemari buku dengan papan bord didekatnya, poster anak-anak, ayat-ayat Al-qur’anpun menghiasi rumah dengan keindahan kaligrafinya. Terpampang juga bingkai bingkai pelajar disisi kanan pintu masuk ke arah dapur.

Tidak hanya itu meja yang terbuat dari kayu jati untuk belajarpun masih berada disatas lantai dengan buku Tajwid yang masih dalam keadaan terbuka. Seperti habis melakukan praktek pengajaran.

“kok sepi sekali, mana anak-anak”

“mereka sedang melakukan shalat dhuhur dimushola terdekat teh, bentar lagi juga dateng”

“Owh… gitu”

“memang ini tempat apa mey”

Dari dulu aku selalu memanggil mia dengan sebutan Mey-mey karna dia blasteran tionghua, ayahnya dari sunda ibunya dari tionghua. ayahnya bekerja sebagai supir angkot jurusan labuan-carita-jiput, ibunya seorang petani dikebun ayahnya siska, mereka berdua sangat mengenalku.

Setiap kali kami pulang sekolah, ayah mia selalu menunggu didepan gerbang sekolah dan mangajak kami pulang bersama. Terlebih ibunya mia sangat baik kepadaku dan siska, setiap kali panen jagung, ubi, singkong dan sayur-mayur, kami selalu diajak ke pasar labuan untuk membantu dan menjualnya. Sehingga uang jajanku pun semakin bertambah. Jika sudah tertukumpul siska lebih banyak menabungkan uang tersebut dikas sekolah atau dia menitipkan kakenya untuk disimpan. Siska sangat rajin menabung, dirumahnya banyak sekali ccelengan dari tembikar dan kayu yang berisi uang muai dari uang receh, ribuan, hingga ratusan. Berbeda denganku, uang yang selalu aku kumpulkan selalu habis untuk keperluan sekolah dan biaya tambahan sehari-hari.

Namun hal itu tidak membuatku sedih, karena siska selalu membantuku dalam berbagai kesulitan, padahal aku sering menolak bantuannya. Tapi siska selalu memaksakan kehendaknya untuk menolongku dari kesusahan. Yah…mungkin sudah menjadi wataknya.. itulah siska yang aku kenal.

kemudian mia melanjutkan ucapannya.

“ini adalah tempat belajar anak-anak yang miskin, untuk belajar disekolah mereka tidak cukup biaya. Jangankan untuk bayar iuran, buat makan aja susahnya minta ampun, aku membuka tempat ini karena aku selalu ingin melihat anak-anak kecil yang tidak mampu bisa mempunyai pendidikan sama derajatnya seperti kita teh bella, mereka juga ingin mendapatkan ilmu, namun tetap saja faktor ekonomi menjadi sebuah hambatan dan tantangan bagi mia sendiri. Berkat teh siska impian mia mendirikan taman ini terwujud.” tutur mia dengan tersenyum ke arahku

“udah… jangan dibahas. Malu tahu, nie belum apa-apa mia, entar kalo teteh dah pulang dari eropa, teteh bakal ajak anak-anak jalan-jalan ke ancol”

“teteh sangat baik ke mia dan anak-anak, makasih untuk semuanya teh siska”

Tiba- tiba terdengar suara langkah kaki yang begitu banyak dari luar. Dan ternyata mereka adalah anak-anak didik mia yang baru datang dari mushola”

“asalamualaiku”

“waalaikumuslam” jawabku dan siska

Kami menuju keluar ruangan dan kulihat betapa bergembiranya anak-anak didik mia, dengan gemilap air whudu yang masih menempel diwajah dan tangan mereka.

“teteh. Apa kabar.” sorak-sorai anak-anak sambil memeluk siska dengan penuh kebahagiaan.

“Araaa…..heee, kalian udah pada gede yah, udah pada makan belum neh”

“belum teh siska” jawab anak-anak dengan sangat bersemangat.

Rasa bahagia juga menyinari hatiku, tak pernah terpikir aku harus bertemu teman lama di Jakarta, pesona dari anak-anak didik mia membuat hati ini semakin bergairah untuk mengejar cita dan anganku. Tekad yang kupegang masih sama seperti ketika aku menginjakan kaki di tanah jakarta ini. Impian kini semakin dekat dan terasa sudah menggapai tanganku.

Walau aku harus kehilangan seorang yang aku kasihi untuk selamanya. Namun ada teman-teman yang masih menyayangiku dan menjadi jalan cintaku untuk terus berjuang menggapai mimpi-mimpi indah.

Aku belajar dari sini, dari sepupu dan teman lama, mereka berdua mempunyai pelangi hidupnya yang indah. Tanpa lelah mia memberikan wawasan ilmunya untuk anak-anak Indonesia yang ingin merasakan suasana sekolah, siskapun sama. Dia terus berjuang menjadi yang terbaik dan ingin diakui oleh keluarganya.  

Aku masih jauh dari cahaya pelangi mereka berdua. siska dan mia sangatlah memahami jati diri dan potensinya masing-masing, namun aku akan terus berjuang mengapai cahayaku sendiri, Cahaya yang menuntunku ke jalan kebahagian.

Mataharipun sudah hampir terbenam. Jam menunjukan 04:57, kamipun harus segera pulang dan berpamitan kepada mia dan anak-anak taman pintar cahaya cinta.

“wah…dah sore neh, teteh mohon pamit yah”

“loh kok mau pulang, kenapa engga nginep aja disini teh siska”

“Nanti aja mey, aku gak mau repotin kamu, lagian besok aku harus nganter sijenong ini keprusahaan, kebetulan dia udah keterima di Prusahan Art desain Grafis Jakarta Pusat”

“oh hebat, prusahaan itu cukup ternama di Jakarta, kalo gitu, jangan sungkan untuk main kesini jika ada waktu luang, rumahku terbuka buat teh siska ama teh bella”

“sip dech, kamu juga harus hati-hati”

“iya teh, aku belum sempat memberitahu teteh”tegas mia.

“soal apa,” jawab siska sambil menaiki sepeda motor

“kebetulan selain mengajar aku juga keterima menjadi model busana muslimah, disalah satu Majalah Islami Jakarta Utara”

“selamat yah, kalo ada cowok yang macem-macem sama kamu kontek aja teteh, jangan ragu. Nomer hape teteh ada kan”

“iya ada, aku selalu sipan di hape, emm… jangan lupa entar lihat mia di majalah yah”

“Pasti mey, kami pergi dulu, asalamualikum” tuturku berpamitan

“walaikummusalam” jawab mia sembari tersenyum

Kamipun melepas kepergian dengan anak-anak Taman pintar cahaya cinta, mereka terlihat sedih dan melambaikan tangannya dibalik pagar taman. Dan terdengar teriakan dari kejahuan.

“teteh, hati-hati dajalan” (bersambung)

 ***

Dilihat 72