LOVE OF THE LIGHT-eps. 03

HENKIS MAO
Karya HENKIS MAO Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Maret 2017
LOVE OF THE LIGHT-eps. 03

JAWARA

~Serigala dari Banten~

 

Waktu sudah menunjukan jam 06:30 sore, matahari sudah hampir tenggelam namun kami belum sampai tujuan, karna terdesak macet total. Siska berinisiatif untuk memotong jalan.

Tadinya aku menolak namun karena cuaca semakin dingin dan terlihat awan mendung akupun setuju.

Kami masuk disebuah gank sempit yang berada disekitar jalan umum yang kami lalui tadi. Tak habis pikir ternyata ban motor yang kami duduki banya kembes.

“kok berhenti sis”

“gak tau neh, kayanya ban motornya betus bell”

“tuh kan apa aku bilang, mana udah jam 09:30 neh”

“kamu turun dulu gih, kita cari bengkel dulu”

“yaudah mungkin dipersimpangan jalan tersebut ada bengkel yang masih buka”

“jangan hawatir, gak perlu takut selama ada siska disini”

“terserah kamu aja, yang penting kita nyampe kosan dengan aman”

“okey dech”

Akupun turun dan menuntun sepeda motor bersama siska, kami berjalan cukup jauh sehingga membuat kami lelah.

“istirahat dulu sis, aku capek tau”

“yah, baru juga 1 mil udah ngedrop”

“kamu kan robot, tiap hari makan batre”

“ara…”

“ada air gak”

“tuh, dibagasi”

“Mobil kali, Bagasi”

“hahaha”

Aku tetap tenang walaupun kami dalam kesulitan apapun, selama ada siska pasti hasilnya selalu baik, aku tau siska lebih peduli terhadapku, namun aku tidak mau membebaninya dengan situasi-situasi seperti ini.

“kayanya disana ada bengkel, kalo begitu kamu tunggu disini dan aku akan tanya dulu kesana”

“eh tapi”

“udah tenang aja,”

Aku meninggalkan siska dan berjalan menuju sebuah ruko kosong dipersimpangan jalan sepi dan terlihat beberapa pemuda sedang asik nongkrong dan bermain kartu.

“maaf”

“iya,”

“apakah disini ada bengkel”

“emm…kalau begitu aku akan tunjungkan bengkelnya,”

“iya terimakasih”

“mari, ikutin aku”

Salah seorang pemuda tadi mengantarku kebelakang ruko tersebut terlihat jalan setapak dan aliran sungai kecil, aku tidak hawatir karena siska tidak begitu jauh dari pandanganku, namun tiba-tiba perasaanku seolah-olah tidak karuan dan aku mulai curiga saat 3 orang pemuda tadi mengikutiku dari belakang. Jumlah pemuda tersebut ada sekitar 10 orang, 1 orang mengantarku 3 orang mengikutiku dari belakan dan 6 orang lagi masih ada diruko tersebut.

“kok, lewat sini” ucap siska agak takut

“biar lebih dekat aja” tegas pemuda itu

“emm.. gitu”

Kamipun sudah sampai disebuah bengkel kecil diujung aliran sungai, terlihat juga beberapa orang, tua maupun muda sedang membetulkan sepeda motor.

“kita sudah sampai,”

“kalo begitu aku akan mengambil motor dulu” ucap bella

“Entar dulu manis”

salah seorang pria memegang tanganku dan menariku kegrombolan pemuda yang sedang duduk, akupun tersungkur jatuh ke motor yang sedang diperbaiki montir.

“uh…kalian mau apa”

“hehehe, kami mau bersenang-senang denganmu disini”

“Awas aja kalau kamu dekati aku”

“santai aja, kami gak bakalan macem-macem, asal kamu mau minum ini” sang pria menyodorkan gelas yang berisi air berwana coklat keunguan.

“apa itu,”

“udah minum aja”

“aku gak mau” bella berontak

“Kalo Kamu gak minum kami akan berbuat kasar”

Aku gugup bercampur takut dan tak mampu melawan dari situasi seperti ini, kedua tangan dan kakiku dipegang oleh salah satu pria yang mengantarku tadi. Tiba-tiba entah dari mana suara itu, suara yang aku tidak asing mendengarnya.

“Woy, Bangsat. Lepasin temen gue,” tegas siska membawa Sepotong kayu degan berumuran darah diujung kayu tersebut.

Semua mata pria yang ada disitu tertuju pada suara tersebut yang ternyata suara itu datang dari siska.

“sis. Siska..tolong”..aku lari menghampirinya dan memeluk siska dengan erat.

“tenang, kamu aman didekatkku bell”

Lalu seorang pria dengan cepat lari kearah sisika, tanpa sadar tangan siska mengayunkan kayu yang dia bawa. Sehingga lelaki itu tak bisa menghindari hantaman dari kayu tersebut dan membuatnya tersungkur jatuh ke kerumunan pria yang sedang duduk.

“Bell, kamu cepet keluar kebetulan ditas gue ada hape, ambil terus telepon polisi, gue mau seneng-seneng dulu disini, hehehe” tegas siska meyakinkan

Siskapun menutup pintu dan bella berlari keluar ruko bengkel tersebut.

“elu…beraninya sama cewe” teriak siska dengan sedikit marah

Salah satu pria dengan postur tubuh yang cukup kekar datang mendekati siska yang masih membawa kayu.

“udahlah, lepasin tuh kayu. mending kamu temenin kita bersenang-senang” ujar peria tersebut

“gak tau diri,” ucap siska sambil membuka jaket kulitnya.

“temen-temen hajar gadis ini lalu kita buat dia merasakan keindahan surga”

“Okey bos”

Aku tidak begitu hawatir dengan keadaan sisika, namun yang aku hawatirkan adalah ketika dia sudah marah.

Akupun tidak tau apa yang terjadi didalam ruko itu, tapi melihat siska yang sedang marah, jangankan 12 pria tersebut, 20 serigalapun tidak akan selamat dari tinjunya. Siska yang aku kenal masih tetap seperti dulu sewaktu kita sekolah. Dia pernah membuat 100 siswa laki-laki babak belur seorang diri ketika tauran dan sisanya luka ringan. Sehingga dia selalu dikeluarkan dari beberapa sekolah. Jika aku tidak mengingatkannya mungkin dia bisa sudah menjadi ketua Yakuza Jepang.

Keterampilannya berkelahi membuatnya dijuluki Jawara dengan atau orang-orang memanggil siska Serigala dari Banten.

Jawara adalah sebutan bagi seseorang yang bisa bertarung, dulu dijaman kolonial dan emperialis bangsa asing di Banten. Beberapa Jawara menorehkan peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia khususnya di daerahku, mereka bersama dengan para kiyai dan santrinya mengusir para kaum kolonialis dengan golok dan ilmu kanuragannya. Sehingga sangat tidak asing kalo kota kami Banten terkenal dengan sebutan Jawarannya.

Tapi yang ada dibenakku adalah siska tidak membuat pria-pria itu diopname. Lalu secepatnya aku telepon posisi dan memberi petunjuk posisi kami.

Setengah jam aku diluar dengan ditemani oleh gelapnya malam dan suara bising dari jatuh, akhirnya kulihat suara pintu terbuka dengan perlahan. Dan kudengar langkah kaki yang ternyata siska sedang mengusap keningnya dengan kain putih. Lalu kuhampiri dia.

“sis.. kamu gak apa-apa.?”

Siska duduk dikursi tunggu bengkel dan masih berkeringat disekujur tubuhnya.

“kelihatannya gimana?”

“terus apa yang terjadi”

“Liat aja sendiri”

Lalu ku buka sedikit demi sedikit pintu bengkel yang tadi ditutup oleh siska dari dalam, dan semua pria yang ada didalam bengkel terlihat kacau, tergeletak dilantai serta berumuran darah, sampai ada seorang pria yang tertindih oleh sepeda motornya. Sedangkan yang masih sadar terlihat memegang tangan dengan teriakan kesakitan, yang lainnya juga hampir sama. Semuanya terlihat seperti diterkam oleh serigala buas. Seolah oleh pria-pria itu baru masuk kekandang serigala.

Didalam bengkel seolah terlihat seperti arena tauran, semuanya begitu berantakan dan kacau.

“apa mereka Mati”

“Bodoh, aku cuma buat mereka pingsan aja”

“kenapa kamu lukai banyak orang”

“Jangan kikuk dech, lagian mereka sakitin kamu”

“aku dah telepon polisi bentar lagi datang, luka kamu gimana.?”

“cuma sedikit, kena goresan samaurai aja”

“Apa, Samurai”

“yaps. Berkat belati paman Obenk, aku bisa menghindari sabetannya”

Tiba-tiba dari kejauhan sekelompong orang datang, dan menggendong pemuda-pemuda yang sedang duduk dikios ujung jalan pas aku bertanya tentang bengkel.

“kami minta maaf, atas perbuatan pemuda-pemuda ini” ujar seorang peria muda.

Aku dan siska hanya terdiam tanpa ada jawaban.

“apakah yang di dalam bengkel juga temen kalian” ujar siska menunjuk kedalam.

“apakah mungkin, ada kelompok kami didalam bengkel ini” ujarnya dengan terkejut.

Lalu pria itu langsung membuka pintu dan matanya terfokus pada apa yang terjadi didalam bengkel. Pria itu sangat gemetar melihat kenyatanan dari teman-temannya yang begitu banyak harus menerima nasib mengerikan.

“i….iya, memang siapa yang melakukannya”

“aku,” jawab siska dengan lantang.

“tak ku sangka sebanyak ini bisa babak-belur oleh satu orang wanita, luar biasa” pria itu sangat takjub.

“kalo begitu, kami akan bertanggung jawab atas ketidak nyamanan ini, kami akan mengganti semua kerugian.

“gak perlu mas”

“saya cuma mau nambal ban”

“owh. Kalo begitu kami akan melakukannya. giring kesini” panggil pria itu kepada temannya.

“iya om agung”

“cepet kamu ganti ban dalam motor ninja gadis ini”

“ok om”

“tunggu sebentar yah”

Aku dan siska duduk dan menunggu perbaikan motor ninja kami. Akupun langsung membersihkan luka-luka bercak darah dipipi dan tangan siska.

“Jenong sakit tau, pelan-pelan napa”

“ih…kamu aneh, kena samurai gak, baru kena tisu basah aja udah meringis,”

“hahahah, Jenong-jenong” senyum siska

Senyum siska membuatku bahagia, dia sangatlah sempurna untuk ukuran seorang wanita, dia cantik, baik, pengertian dan pemberani. Dia bisa saja lari meninggalkanku ketika aku dalam masalah namun aku selalu yakin siska bukan orang semacam itu, siska sangat menyayangiku melebihi keluargannya.

Karena orang yang paling dekat semasa kecil adalah aku, sepupu sekaligus temannya.

Jampun sudah menunjukan 12:00, polisi tiba setengah jam kemudian, dan motorpun sudah selesai diperbaiki, kami berpamitan pada polisi. Dan agungpun yang siap bertanggung jawab atas kejadian ini.

Agung mengungkapkan bahwa dia tidak tahu menau tentang peristiwa ini, jika dia ada disini mungkin dia akan menghentikan tindakan buruk anakbuahnya.

Agung sudah berjanji, bila aku dan siska lewat dijalur ini, jangan preman tikuspun tidak akan menggagu kami. (next episode)

 ***

  • view 122