LOVE OF THE LIGHT-eps. 02

HENKIS MAO
Karya HENKIS MAO Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Maret 2017
LOVE OF THE LIGHT-eps. 02

Bingkai Nostalgia

~Sisi Lain SISKA, wanita Mungil dan Periang~

 

Embun pagi amatlah sejuk tuk dipandang, nyanyian kicau burung pipit terdengar merdu membangunkanku dari mimpi indah semalam. Namun suara musik terdengar cukup tajam ditelingan dan akupun keluar untuk melihatnya. Ketika membukakan pintu, akupun terkejut..

“Araa…ngapain kamu sis”

“gabung neh, senam pagi”

“apa gak mencolok dengan pakaian itu”

“nie Jakarta Nona, jadi tenang aja”

“kamu, aja. Aku mau mandi”

“yaudah, oh ya. Itu di meja aku dah siapin sarapan kesukaan kamu”

“OK”

Waktupun berlalu, matahari sudah semakin tinggi dan jam menunjukan pada angka 07:00, aku bergegas berganti pakaian, dan siska masih asik senam sambil berjemur dengan milly kucing Swedia kesayangannya. Selain cantik siska pecinta binatang, ia lebih suka kucing karena kucing menurutnya hewan yang dekat mudah dimengerti.

“wah, udah cantik neh,”

“kok kamu belum siap-siap sis”

“Santai, jadwal interviuw kamu kan jam 10:30, ini baru jam 7: 30. masih banyak waktu bell”

“terserah, cuma kalo kita datang ditempat tes lebih awal, kita engga akan terjebak macet sis”

“bener juga, Hari ini kayanya- Jakarta Padat kendaraan, Ok dech, aku mandi dulu. Tunggu yah.”

Memeng kenyataan bahwa kota metropolitan ini tidak dipungkiri dari Kebisingan dan kemacetan. Aku sering melihat beberapa berita-berita mencengangkan yang terjadi Di Daerah istimewa ini, mulai dari politik, ekonomi sampai dunia entertaimen juga menjadi trending Topik yang cukup hangat dimasyarakat kampung sepertiku.

Kami bergegas untuk pergi dan siap berangkat menggunakan sepeda motor ninja kawasaki yang dibeli siska tahun lalu.

Dengan jaket kulit hitam, celana super ketat, siskapun melaju cukup kencang sehingga membuatku takut setengah mati.

“bisakah gak pake Kebut Jubur demplon”

“Apa…gak denger neh”

“buka Helm kamu dulu”

“entar dulu nanggung, Tuh bentar lagi Lampu merah”

Kami berhenti dilampu merah, cukup lama sekitar 20 detik. Siskapun membuka kaca helmnya.

“Kenapa Kempot,”

“Kamu bawa motor kaya dikejar Maling aja”

“maaf, habis kalo aku bawa motor ama kamu, inget dulu aja”

Dulu sebelum siska menjadi pramugari maskapai, dia adalah pembalap liar (JOKI) ketika SMA, hanya saja beda kelas denganku, aku Kelas IPA dia IPS. Dan setiap jam istirahat aku selalu diajaknya ngebuly, ngompasin adik kelas bahkan sering ikut tauran antar sekolah yang berada disekitar didesaku.

Dikampungku siska amat disegani dia adalah gadis yang paling cantik, Baik dan kadang sangat Jail ketika diluar desa, tidak ada satupun preman yang berani muncul dihadapanya, kecuali mendadak butuh pertolongan pada ayahnya yang menjadi Kepala desa Lurah kampungku, yang memang ayahnya adalah seorang Jawara yang disegani.

kalau siska lewat digank sempit kampung, preman yang tadinya sedang bersantai dan duduk dipos ronda langsung menyapa seraya memberi hormat.

karena mereka mengetahui siska adalah anak dari Lurah Kampung yang tersohor, Para preman dan jawara menyebut siska dengan julukan Serigala dari Banten. Namun dibalik kenakalannya, tersimpan sisi penyayang terhadap keluarganya.

Dia sangat menghormati ibu dan ayahnya, dia bukan gadis manja yang selalu bergantung pada orangtuannya, walaupun orangtuanya merupakan orang yang mapan dikampungku, tapi dia selalu berusaha untuk bisa madiri.

Setiap libur sekolah aku selalu diajaknya untuk jualan singkong, ubi dan sayur-mayur dipasar Labuan.

 Siska yang aku kenal sangatlah istimewa bagiku. Kami begitu dekat. Kami selalu meluangkan waktu bersama, belajar bersama dan bermain bersama.

ketika aku dalam masalah dia selalu hadir dan paling bisa diandalkan untuk memecahkan berbagai kesulitan yang aku hadapi waktu dulu.

Aku memang dibesarkan dari keluarga sederhana yang tidak berkecukupan, ayahku seorang petani dan ibuku pengrajin kain batik. Aku satu-satunya putri sulung kesayangan mereka berdua.

Dilahirkan menjadi gadis sederhana tidak membuatku berhenti meneruskan pendidikan. Karna bagiku pendidikan amatlah penting, aku bisa mengetahui dunia karna pendidikan yang disampaikan oleh guru yang sayang padaku.

Setelah lulus sekolah, aku mendapatkan Beasiswa untuk kuliah di IAIN kota Serang. Dan siskapun Meneruskan untuk masuk ke Sekolah Tinggi Maskapai Indonesia. Aku mendapatkan gelar Sarjana Humaniora.Dan akhirnya kami berdua lulus dengan predikat sangat baik.

5 tahun kami berpisah, akhirnya aku bertemu kembali dengan nuansa yang berbeda. Siska begitu Cantik. Ada sisi yang berubah Namun wataknya masih tetap aku kenal setiap detik. Dia wanita yang sangat mengerti sepenuh hati. Dia tidak pernah mengeluh saat aku membutuhkannya.

“woy.. bangun..”

“araa.. kita dimana”

“ah. Kamu, baru dibawa ngebut aja, udah Pules tidurnya”

“sakit neh pegangin kamu dijalan”

“maaf dech, aku gak tau kok bisa ketiduran dimotor, padahal itukan bahaya”

“yaudah cepet masuk tuh ke sana, aku cuma bisa nganter sampai gerbang ini”.

“terus. Kamu mau kemana.??”

“paling, nunggu kamu di Caffe itu”

“Awas aja kalo ninggalin”

“santai aja kali. Selagi kamu tes, aku mau godain Cowo-cowo yang lagi nongkrong tuh disana, hehe” sambil ketawa jahat.

“Awas jangan bikin onar, jangan bikin keributan”

“bisa diatur manis.”

Siskapun meninggalkanku dan menuju ke arah Caffe disebrang Perusahan yang aku lamar.

Aku berjalan masuk dan dengan sopan bertanya pada securyt yang sedang berjaga.

“maaf pak, saya sedang ingin melakukan Tes Interviu diprusahan Art Desain Grafis ini, Bolehkah saya menuju lokasi tes”

“emm…gitu, kalau begitu nona saya antar menghadap bapak madi sebagai Asisten HRD Rekruitmen perusahaan kami.

Kamipun menuju ke depan kantor perusahaan dan akupun dipersilahkan masuk kedalam ruangan tes interviuw.

“silahkan masuk”

“terimaksih pak”

“kalau saya bisa bantu, ada gerangan apa anda ke sini”

“saya bella pak, saya mau tes interviuw diperusahaan ini”

“emm.. gitu, kalau tidak salah nama anda Bella Okta Anggraini”

“iya pak”

“Kebetulan ada gurubesar perusahaan kami yang merekomendasikan anda untuk bekerja disini, dia juga selaku dosen pengajar anda dikampus IAIN, namun mohon maaf, kami tidak memberikan toleran kepada anda walaupun memang pada dasarnya anda direkomendasikan untuk posisi yang dibutuhkan perusahan, nilai Prestasi tidak cukup dan tidak menjamin seseorang bisa berkarier, tekad dan kemauan yang kuat harus selalu ada dibenak kita sebagi pegawai. dimana kita mampu untuk berjuang sehebat mungkin dan tidak pantang menyerah.”

“terimakasih pak, atas nasehatnya”

“ok kita lanjutkan untuk wallinterviuw”

“Iya”

Aku terus menjawab pertanyaan dari pak madi, tidak ada keraguan dalam hatiku untuk menjawab setiap poin-perpoin pertanyaan yang cukup sulit, mulai dari dasar Pekerjaan, keluarga, asmara sampai pada Gaji yang ditawarkan perusahaan.

1 Jam pun berlalu waktu sudah menunjukan jam 12:00 Wib, aku sadar telah menjawab semua pertanyaan yang begitu asing detilangaku. Dan pak hendar menatapku denga sangat serius. Sehingga membuat jantungku berdetak lebih keras, pucat sudah tentu, keringat dingin sangat sulit untuk dibayangkan. Kami terdiam. Pak hendar membuka bukunya dan menulis sesuatu yang akupun tidak tahu apa yang ditulis.

“Ok. Cukup sampai disini, tanya jawabnya”

“Iya”

“Kemungkinan besok kami akan menghubungi anda, semua ketentuan kelulusan tes ini tergantung dari pernyataan anda apakah sesuai dengan harapan perusahan kami, tapi anda harus tetap optimis, walaupun seumpama anda tidak termasuk dalam kategori pegawai yang kami cari”

“apapun yang terjadi, saya siap untuk tetap semangat”

“Bagus, Selanjutnya ini, kartu nama saya. Silahkan kirim SMS Balik untuk mengetahui hasil dari tes ini, saya tunggu”

“baik pak. Dan saya mohon pamit pak”.

Kemudian kutinggalkan ruangan dan menuju keluar, kusapa pos scurity yang mengantarku tadi dengan ramah. Namun tak terlihat siska menunggu digerbang perusahaan Art Desain Grafis. Lalu ku cari dia dicaffe, dan terlihat motor ninja merah terparkir dicafe tersebut. Ternyata dia sedang tertidur lelap dimeja caffe.

“Woy, Kebakaran-kebakaran”

“ukh…Dimana-dimana, air-air mana. Mamah tolong siska..tolong..tuhan jangan ambil siska, siska belum meliied…..huhuhu” siska terperanjat bangun dengan wajah Pucat.

“hahaha Cadel, kamu inget mati juga” bella tertawa bahagia.

“sialan, dasar Bellong”

“Lagian tidur nyampe keringetan gitu, dengan wajah polos udah gitu ngiler, terus gak liat tempat lagi,.Masa tidur dimuka umum”

“ah..yang penting aku kan gak bikin onar”

“Tuh liat, Pengunjung ngeliatin kamu aja dari tadi.”

“udah seh, mending kamu duduk daripada ceramah, gimana.?”

“Apanya?”

“Hasilnya, Keterima”

“Gak tau, besok entar aku dihubungi sama pihak perusahaan”

“owh gitu, mau makan Apa, pilih aja menunya”

“Emang kamu belum pesan sesuatu”

“belum, kan aku nunggu kamu, biar kita bisa makan bareng, tuh menunya dimeja, kamu mau makan apa bell”

“apa aja yang penting Halal”

“Mas..mas..” ujar siska memanggil.

“iya mba, pesan apa?” jawab pelayan dengan sopan

“Saya minta, ini dan itu”

“ok, mohon menunggu” pelayanpun meninggalkan siska dan Bella.

Siska bangun dari tempat duduknya, dan mengajakku untuk pergi menemui temannya. Selanjutnya kamipun bergegas menuju sepeda motor yang terpakir untuk pergi, kulihat dia tetap cantik dengan postur tubuh yang pasti membuat semua pria akan jatuh hati jika berpapasan dengannya.

”sekarang kita mau kemana sis”

“Monas”

“Loh kok, ke monas”

“kan udah aku bilang, ke temenku dulu, so dah lama engga kesana, kebetulan dia lagi cuci mata disono, Sekalian kamu tau tuh, apa itu monas”

 “ih…emang siapa juga yang gak tau tugu itu, siapa nama temanmu itu, “Sri latifah”

“apa dia juga pramugari”

“No, entar juga kamu tau, sekarang cepet naik dan pake helmnya”

“Okey, tapi jangan ngebut-ngebut yah, soalnya aku paling ogah kalau dibonceng sama kamu”

“Cemen”

“Biarin”

Kamipun langsung bergegas dan tancap gas, beberapa menit kemudian sampailah kami ditugu Monas, tugu kebanggaan bangsa Indonesia. Yang menjadi simbol Perjuangan bagi orang-orang sepertiku, aku selalu bangga pada negriku. Ilove Indonesia.  

kami didik untuk menjadi generasi yang harus membangun jatidiri bangsa. Menjadi Generasi terdidik dan pelopor bagi putra-putri bangsa Indonesia.

“yah…ngelamun, udah turun Bell”

“emm…cerewet kamu”

“kamu itu kalau lagi dibonceng aja, suka ngelamun engga jelas”

“maaf, aku selalu takjub dengan hal-hal yang menarik perhatian Pikiranku”

“makanya, punya cowok dong, biar Otakmu gak digodain kutu buku terus”

“ah..kamu juga Jomblo”

“Araa..”

Tiba-tiba seorang wanita muda muncul dihadapan kami, yang ternyata dia adalah Sri latifah.

“siska”

“weh.. teh sri”

“apa kabar neh?”

“kelihatanya”

“cukup dari siska yang aku kenal, Cantik, imuts dan aduhai...hehe” sri tersenyum gembira

“Masa seh, aku kira badanku agak gemukan, padahal jarang diet”

“Emm… siapa itu”

“owh..ini sepupuku dari kampung”

Akupun berkenalan dengan sri latifah, dan ternyata wanita ini sangat sopan.

“salam kenal yah”

“iya”

“Emm…bagaimana kalo kita duduk disana sambil minum segelas Jus dingin”

Memang hari itu cuaca cukup panas, kamipun memesan Es jus dari pedagang yang berjualan disana.

Siska bercakap dengan lantang membuatku malu saja, dia memang tidak peduli dengan sekitarnya, mau ramai ataupun sepi semua terlihat sama dimatanya, sikapnya yang slengehan dan malehoy itu tidak membautnya malu, salting ataupun takut, baginya yang terpenting dia Enjoy, Santai serta bebas berekspresi sesuka hati terlepas dari kesuntukan dan rasa penat dibandara tempat kerjanya.

“Apa kamu sudah menikah” tanya sri menatapku”

Aku hanya sedikit tersenyum dan berucap pelan

“belum, teh”

“hahay, dia itu Jones teh Sri, jangankan Pria, anak teka aja lari kalo deket dia” canda siska

“hus..hus.. mungkin belum menemukan yang tepat sis, jodoh mah Tuhan yang ngatur, namun kita juga wajib jemput jodoh kita, enggak mungkin kita beli es, tanpa mendatangi pedagangnya”

“dia mah, mau jadi Perawan tua, teh sri”

“entar teteh cariin.”

“Hehehe, engga usah teteh, biar bella cari sendiri” bella hanya tersenyum melihat tingkah konyol sepupunya.

Sri latifah berasal dari pandeglang, tepatnya dikecamatan Pulosari. suatu daerah subur yang berada disekitar pegunungan Pulosari.

Usianya sangat jauh dari kami, dia berusia 32 tahun, dia adalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai 2 orang anak dan bekerja sebagai dosen disalah satu Universitas Ternama yang ada dijakarta.

Dari kejauhan terlihat seorang pria paruh baya menuntun anak kecil mendekati kami, yang ternyata dia adalah suami sri latifah.

“wah pada ngumpul disini” sapa iyan mashubi

“iya om” tutur siska sambil mencubit sindi putri kesayangan sri.

“Emm.. kalo yang ini, om baru lihat, temen kamu sis, siapa namanya”

“dia Bella Okta Om, sepupu siska dari kampung”

“Oh gitu, salam kenal yah”

“iya om” jawab bella dengan sedikit canggung.

“sudah pada makan belum nih” ucap iyan

“Barusan kami tadi sebelum kemari mampir disebuah caffe”

“Emm… kalo begitu om ajak sikecil ini pada makan dulu disana yah, lanjutuin aja ngobrolnya.”

“Okey”

Om Iyanpun meninggalkan kami bertiga, dan menuju kesebuah resto terdekat. Om Iyan juga dari tempat kami berasal, dia dilahirkan di kampung sikulan Kecamatan Jiput Provinsi Banten, namun letaknya cukup jauh dari kampungku. Dia bekerja sebagai seorang wartawan disalah satu satasiun tv lokal. Karna menurutku wajahnya tidak asing dimedia-media Cetak dan Online.

3 jampun berlalu, kamipun mengakhirnya percakapan dengan sri latifah dan bersiap untuk pulang kekontrakan. Kami berpamitan pada sri dan iyan, serta akupun mencium kening sindi dan akmal anak dari keduanya.

“maaf yah, kami engga bisa mengajak kalian kerumah”

“engga apa-apa teh, lagian aku dan bella masih ada tugas dikontrakan”

“iya teh, Entar kalo waktunya pas kita bakal main kok kerumah teteh”

“emm…kalo begitu, bawalah ini”

“Apaan itu teh”

“Kulub Dangder”

“Araa… kulub dangder”

“iya, sini bella yang bawa, terimaksih teteh udah membuatkan kita kulub dangder,”

“hati-hati berkendarannya sis, jangan ngebut-ngebut”

“teteh kaya baru kenal siska aja” canda siska

“udah buruan jalan” ujar bella

“iya jenong, Sabar, kan belum aku stater motornya”

“kalo gitu kita pamit dulu”

“okey, hati-hati, kalo udah nyampe rumah SMS sis”

“Iya teh”

…Kamipun meninggalkan keduanya dan menuju ke kontrakan. (Bersambung)

 ***

  • view 104