LOVE OF THE LIGHT

HENKIS MAO
Karya HENKIS MAO Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Maret 2017
LOVE OF THE LIGHT

Chapter One

 JAKARTA 2016

~Awal Dari Jalanku~

 

Dalamnya air laut tidak sedalam inginku untuk membuktikan padanya bahwa Wanita ini mampu besar dan menjadi Seniman Grafis yang dikenal diseluruh Dunia.

Saat Melangkah pergi, aku tau ini berat bagi ayah dan ibuku. Namun inilah aku. Seorang wanita muda yang penuh energi yang siap menyambut hari baru untuk mengejar Cita dan Cinta. Walapun aku tidak tahu harus melangkahkan kaki kemana. Namun aku yakin Ada Cahaya yang menuntunku dan membawaku kedunia yang penuh dengan kebahagian. Kekuatan hati yang membawaku, kebesaran jiwa yang memegang tanganku. Dan ke sabaran hati yang selalu aku jaga untuknya, untuk seorang pria yang berlabuh dihatiku dan diapun yang membuat aku mengeluarkan air mata begitu banyak.  Hanya satu yang ada dibenakku…yaitu aku inginkan Dia, seorang pria yang kukasihi dan kucinta yang telah pergi bersama wanita lain, untuk mengejarnya aku harus besar dan berkembang menjadi wanita yang disegani dan dibutuhkan olehnya.

Jam sudah menunjukan 03:00 Waktu Indonesia Bagian Barat, aku duduk disebuah halte bis jurusan Labuan-kalideres. Kedua orangtuaku selalu mendampingiku walaupun usia sudah cukup dewasa. Namun rasa haru membuatku tertegun, kulihat Air mata mengalir dari wajah ibu dan ayahku dan mereka memelukku hingga akupun tak henti mengusap air mataku sendiri. Hari-hari yang bahagia bersama ayah dan ibu cukup indah. Aku hanyalah seorang gadis kecil dimata keduanya. Mereka tidak membebaniku, mereka sosok pigur sejati dan merekalah yang kudamba dalam hati dan sanubariku selmannya. Tibalah mobil yang kutunggu datang, Bis berwarna Hijau muda seolah inginkan aku masuk dalam nuansa kesedihan atas dasar perpisahan dengan kedua orang yang membesarkanku. Akhirnya kamipun berpisah. Mobilitupun berangkat, namun aku tetap melihat ayah dan ibuku dari jauh, sampi tak terlihat lagi oleh bola mataku. Akupun duduk dibangku sebelah kanan dengan 3 kursi, masih dalam keadaan kosong. Karna kami stay diterminal Tarogong terminal yang berada didaerah labuan. Perjalanan cukup panjang, hingga akhirnya, muatan bis hampir penuh, mahasiswa, anak sekolah sampai dengan pegawai swastapun ikut berbaur dalam satu bis, ada pedagang asongan dan pengamen jalanan yang mencari nafkah. Saat ini bulan Januari, aku pergi ke Jakarta untuk bertemu sepupuku yang berada dikomplek Kebun Graha Indah. Dia seorang Pramugari di Perusahaan Pesawat terbang AIR LINE Ternama. Katanya hari ini dia libur. Dan akhirnya akupun dijemput dikalideres. Aku belum pernah ke Jakarta, aku hanya melihat kota metropolitan itu dari televisi butut dirumahku. Kota itu ternyata cukup indah dan sangat modern.  Akupun turun dari bis dan menunggu jemputan dihalte. Kulihat dari jauh seorang wanita Muda memanggilku, iya, dia ternyata Siska, sepupuku yang cantik sudah dari tadi menungguku, walaupun 5 tahun tidak bertemu, namun dia sangat mengenalku lebih dekat. Aku sampai terkejut melihatnya. Dia tetap cantik nan imut dengan pakaian yang ngehit dijakarta. Aku sangat senang, begitupun dengan siska.

Kamipun akhirnya tiba disebuah kontrakan yang disewa siska, ia bergegas masuk namun diluar terdengar langkah kaki yang begitu cepat seraya memanggil siska, aku menoleh kebelakang, kulihat seorang pria tampan berpostur tinggi mengenakan kemeja merah memanggil siska,

“siska” ujarnya

Siska terhenti dan diapun memegang tanganya seraya berucap.

“maaf, kemarin aku tidak datang dihari ulang tahunmu”

Siska tidak berkata sesuatu kepadanya. Namun dibenakku ada yang berbeda dari lelaki ini dia tidak tahu harus berkata apalagi. Siska masuk kedalam dengan sedikit murung, Dia menatapku sesekali. Aku hanya bisa menyaksikan pemandangan yang pilu dari keduannya, siska terhenti didalam pintu sambil memegang tanganku untuk segera masuk. Pria itu tetap menunggu didepan pintu hingga akhirnya diapun pergi meninggalkan kami.

Aku bertanya tentang pria itu padanya, namun siska tidak menjawab malah mengalihkan pembicaraan.

“bagaimana kabar orangtuamu, Bell”

“cukup baik, mungkin surat-surat yang kukirim sudah cukup jelas”

“emm…kau memang Cewek Tomboy,” siskapun tersenyum.

Aku masih hawatir padanya, siska memang lebih muda dari padaku, umurnya saat ini berusia 21 tahun dan aku berusia 22 tahun. Walaupun kami terlihat bersodara namun kami lebih senang mengenal sebagai teman. Kami selalu bercerita tentang cita-cita yang tingi, mimpi yang indah dan pria idaman yang begitu tampan untuk dinikahi.

Mataharipun sudah terbenam jauh diupuk barat, bintang bermunculan dan bulan menghiasi keduannya, antara malam dan rasa kesunyian. Siska datang menghampiriku dengan senyum dibibirnya yang manis. Dia membawakanku segelas teh manis hangat.

“besok aku masih libur, jadwal maskapai perjalanku ke Perancis lusa nanti, Bagaimana kalau kita jalan-jalan keragunan.”

“boleh, tapi aku ada tes interviuw diperusahan Art Desain Grafis Jakarta Pusat”

“owh, yaudah, entar aku dech antar kamu kesana, kebetulan disana juga ada kosan temenku, lumayan, sambil rehat aja”

“Terserah, yang penting engga ada Cowo,”

“Jangan muna dech, kamu mau Jomblo terus”

“emang siapa juga yang Jomblo,”

“emm..mikirin cowo gak jelas itu, yang ninggalin kamu entu. Siapa tuh aku lupa, iay…Puun..”

“kak Desun maksudnya”

“iya..cowo Cungkring itu” siskapun tertawa.

“aku gak mikirin dia lagi, aku dah Move On”

“cie….yang Move On, sini siska Peluk”

“TE GERA BAE,” (dalam bahasa sunda).^_^

“ara…..” :)

Waktupun menunjukan jam 10:00 siska dan Bela akhirnya masuk kedalam rumah dan bersiap untuk tidur. (Bersambung)

 ***

  • view 105