Menyentuh Tepat Di Hatinya

Hendro Noor Herbanto
Karya Hendro Noor Herbanto Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 04 Maret 2016
Menyentuh Tepat Di Hatinya

Menyentuh Tepat Di Hatinya

Oleh: Hendro Noor Herbanto
?
?
Sesungguhnya pada diri Rasulullah SAW terdapat banyak teladan yang baik yang dapat kita contoh di dalam mengarungi kehidupan sehari-hari. Baik di dalam ibadah yang bersifat pribadi maupun di dalam ibadah sosial kemasyarakatan.

Pada suatu ketika di salah satu sudut pasar dekat rumah Nabi, ada seorang Yahudi yang berprofesi sebagai pengemis. Pengemis wanita tersebut sudah berusia lanjut dan ia tidak dapat melihat karena matanya yang buta.

Setiap hari sang nenek pengemis itu selalu berkata-kata kepada setiap orang yang ditemuinya di pasar, "Wahai semua orang, janganlah engkau dekati Muhammad, apalagi menuruti apa yang dia katakan, karena dia itu orang gila, pembohong dan tukang sihir. Apabila kalian mendekatinya maka kalianlah yang nanti akan dipengaruhinya."

Suatu ketika Rasulullah SAW pergi ke pasar karena ada keperluan. Beliau berjalan masuk ke salah satu sudut pasar dimana sang nenek pengemis buta itu berada.

Nabi melihat serta mendengar pengemis tersebut berkata-kata yang tidak pantas kepada beliau. Akan tetapi beliau tidak marah dan mendiamkannya saja, bahkan beliau tidak tega untuk meninggalkan pengemis tersebut seorang diri. Akhirnya beliau mendekatinya dan memberi makanan tanpa berkata sepatah kata pun.

Sejak saat itu, setiap pagi Rasulullah SAW selalu berkunjung ke pasar terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas lainnya untuk menyuapi makanan yang beliau bawa dari rumah yang telah Aisyah, istri beliau siapkan. Sedangkan pengemis tersebut tidak pernah tahu bahwa yang memberi makan dan menyuapinya itu adalah Nabi Muhammad SAW.

Demikian yang beliau lakukan setiap pagi, bermingu-minggu, berbulan-bulan dan bertahun-tahun serta menjadi kebiasaan sampai dengan beliau wafat.

Setelah Rasulullah SAW wafat, otomatis tidak ada lagi yang membawakan makanan kepada pengemis itu. Hingga pada suatu ketika Abu Bakar RA berkunjung ke istri Rasulullah SAW yang juga merupakan anaknya seraya berkata, "Wahai anakku Aisyah, adakah kebiasaan Rasulullah semasa beliau hidup yang belum aku kerjakan?"

Aisyah berkata, "Wahai ayahanda, ada kebiasaan yang selalu beliau kerjakan di pagi hari." "Apakah itu?" Tanya Abu Bakar RA. "Setiap pagi Rasulullah selalu berkunjung ke pasar Madinah dan membawa makanan untuk seorang nenek pengemis Yahudi buta yang ada di sana." Jawab Aisyah.

Singkat cerita, keesokan harinya Abu Bakar RA membawakan makanan untuk pengemis buta tersebut.

Pada saat Abu Bakar RA mulai menyuapinya, si pengemis bertanya, "Siapakah anda?" "Aku adalah orang yang biasa menyuapimu." Jawab Abu Bakar RA. "Bukan, Anda bukanlah orang yang biasa memberiku makan," jawab pengemis buta itu. "Apabila ia datang kepadaku, ia selalu menghaluskan makanan dengan tangannya terlebih dahulu sehingga makanannya halus, lalu ia berikan dengan menyuapinya kepadaku sehingga mudah untuk aku kunyah."

Tak terasa air mata menetes di pipi Abu Bakar RA dan berkata, "Benar, bukan aku yang biasa mendatangimu, aku adalah seorang sahabatnya. Yang biasa mendatangimu telah tiada, dia lah Muhammad."

Pengemis buta itu pun menangis tersedu-sedu mendengar penjelasan dari Abu Bakar RA, kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghina, mencaci maki dan memfitnahnya, namun tak pernah sekalipun beliau memarahiku. Bahkan selalu datang setiap pagi membawakanku makanan dan menyuapinya dengan tangan beliau sendiri, sungguh begitu mulia akhlak beliau."

Pengemis buta itu pun tersadarkan akan kekhilafannya selama ini, lalu ia mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Abu Bakar RA.

Coba anda bayangkan, apakah ada manusia seperti Nabi Muhammad SAW yang sanggup untuk tidak marah ketika mendengar cacian dari orang yang ditolongnya setiap hari?

Adakah manusia yang sanggup untuk bersabar dan selalu menebar kasih sayang tanpa pamrih kepada orang yang tiap hari menghinanya, bahkan selama bertahun-tahun hingga beliau meninggal dunia?

Rasulullah SAW tahu bahwa pengemis buta tersebut hanya belum tahu ajaran yang beliau sampaikan. Beliau hanya mengajarkan akhlak tanpa berkata-kata dan hanya perbuatan yang baik saja yang selalu Beliau kerjakan.

Ya, inilah keteladanan Rasulullah SAW, sampai bertahun-tahun Beliau menebar benih-benih kasih dan sayangnya sehingga nenek pengemis Yahudi yang buta tersebut baru menyadarinya setelah beliau wafat dan berserah diri dikarenakan keteladanan akhlak Beliau.

Ya, ternyata Rasulullah SAW hanya mengajarkan dan mengajak kita semua umatnya untuk "menyentuh tepat di hatinya" kepada siapa saja, tanpa memandang status, suku, agama, ras dan antar golongan, serta tanpa paksaan dan tanpa kekerasan.

Semoga bermanfaat?.wallahu a'lam bishshawab
?
?
Salam Hangat,
Hendro Noor Herbanto
Penulis | Komposer | Praktisi Perbankan
?
Ditulis @ Cileungsi Bogor - Indonesia - 12 November 2015?
?
? See more at:
http://hendronoorherbanto.com/menyentuh-tepat-di-hatinya-detail-11453
?

  • view 176